Polemik Rumah Dinas Gubernur Banten Jilid 2

Museum NasionalAtut Tak Usah Dipaksa dan Rumah Dinas Jadi Museum

Kronologis gugatan masyarakat dan aksi massa mahasiswa  menolak Rumah Dinas Gubernur menyoal rumah dinas yang akan dibangun di Aula Setda Gubernur yang diambil dari Tahun Anggaran 2010, 6 milyard  dan Tahun Anggaran 2011 sebesar 10,45 m total sebesar Rp. 16,14 M dengan luas 1.654 m2 dan total lahan 39.324 m2,  sudah pernah menuai protes dan kritik pedas dari masyarakat sebab anggaran terlalu tinggi dan merusak bangunan BCB (Benda Cagar Budaya), baik oleh Pendiri Propinsi Banten UU Mangkusasmita (Sinar Banten 24 Juli 2010), BCW (Banten Corruption Watch) pada media lokal (cetak dan Banten TV) dan nasional oleh Teguh Iman Prasetya (Tempo, Selasa, 03 Agustus 2010)  dan paling akhir komentar BCW Eka Satia Laksamana (Berita Satu, Rabu, 02 Mei 2012),  Komunitas Sudirman 30, UMC (Untirta Movement Communnity), budayawan Muhammad Al Faris dan Indra Kusumah, dan banyak lainnya pada tahun 2010 sudah digempur habis-habisan dan tidak menuai hasil serta tidak bergeming untuk merubah kebijakan tersebut.  Sayangnya data kliping dan sejarah dari database koran lokal yang biasanya hadir di media on line tak ada lagi  dari 2011 ke bawah , saya menyayangkan sekali sebab jejak rekam sejarah dinamika  masyarakat sudah hilang. Sedangkan data base BCW kliping masyarakat pada blog dihacker dan hilang diambil maling yang datang ke rumah.

Kembalinya Kasus Rumah Dinas Gubernur

Kembalinya Kasus Rumah Dinas Gubernur marak di media lokal dan nasional disebabkan oleh berakhirnya masa kontrak pembangunan dan penataan kawasan Rumah Dinas sudah habis pada April 2012.  Tapi saya melihat ada yang sama dan yang berbeda dan bisa menimbulkan polemik diakhir.  Kronologis yang pertama, gugatan masyarakat agar rumah dinas secepatnya diisi oleh Atut Chosyiah dan tinggalkan rumah yang disewa 250 juta/tahun. Yang kedua, Atut Chosyiah kemudian menolak  disebabkan tak ada perlengkapan rumah tangga dan kerusakan pada rumah dinas.

Tarik menarik opini publik akhirnya ramai di media massa lokal dan nasional, bahkan terkesan memaksa agar segera  diisi Atut Chosyiah. Dampaknya kemudian dari aksi massa dan gugatan masyarakat lainnya di media massa, akhirnya menimbulkan disegerakan biaya perbaikan tapi akhirnya ditolak oleh aksi massa, dan berhasil. Keributan meluas dan berdampak bagi kekuasaan untuk merubah pada kebijakannya.  Sedangkan bagi kelompok pressure massa, memperluas gugatan pada dampak korupsi dan mark upnya, yang memang sudah pernah digugat pada tahun 2010 diawal akan membangun rumah dinas. Saya memprediksi hanya 1 m – 3 m untuk membangun rumah mewah dinas di tengah komplek elit perumahan masyarakat. Pendapat saya mungkin dibantah sebab adanya tambahan biaya penataan kawasan, tapi tak ada  yang siginifikan ditata ulang lebih baik dan tidak memerlukan biaya yang besar, bahkan rumput saja tidak dipotong dibiarkan meranggas dan liar, keluhan dari Sekda Muhadi sendiri, selain keluhan rumah dinas yang rusak menandakan bahan bangunan berkualitas rendah dan tak layak pakai sebab tidak adanya peralatan rumah tangga.

Polemik  Rumah Dinas Gubernur

Tekanan massa menjadikan kebijakan berubah, ada yang saya pantas hargai dari gugatan masyarakat sedangkan dari awal ada yang tidak sesuai bagi saya. Pernyataan Press  Release Sekda Banten Muhadi (10/4) 1. Anggaran yang diserap pihak kontaktor hanya 11 milyard jadi sisanya 5, 14 m digunakan untuk perbaikan dan penataan kawasan gedung . 2 Atut Chosyiah menolak anggaran sewa rumah sebesar 250 juta/ tahun TA. 2013.  Dari pernyataan Press Release Muhadi nampaknya sudah selesai, biaya perbaikan tak ada, tapi aksi massa tetap memaksa Atut Chosyiah berada di Rumah Dinas yang baru. Saya kira yang paling baik pembangunan rumah dinas diaudit kembali, berapa besaranya  yang nampaknya sejak awal tidak rasional, dugaan korupsi dan mark up anggaran.

Soal yang kedua, polemik rumah dinas gubernur agar segera digunakan, saya kira tidak penting sama sekali pada saat sekarang dan pendapat saya berbeda dengan LSM dan Gerakan Mahasiswa, apalagi Atut tidak mau dan menolak anggaran sewa rumah di jalan Bhayangkara. Jika memaksa Atut Chosyiah ke rumah dinas yang baru, 1. Paradoksal, aneh dan berlawanan bagi pihak oposisi yang paling radikal, sama dengan mengakui kekuasaan dan kedaulatan  Atut Chosyiah sebagai Gubernur Banten hasil dari Pilkada Gubernur 2011. 2. Rumah Dinas bertabrakan dengan Visi Museum Nasional Banten  yang sudah dijadikan akan didirikan di Bekas Kantor Gubernur/ Residen Banten yang jadi mimpi bagi saya dan kelompok pendukung lainnya, Museum Nasional dan Gedung Negara merangkap Pendopo Gubernur, tapi tanpa adanya rumah dinas gubernur sebagai Zona Wisata Budaya dan Sejarah masyarakat, lainnya sebab kawasan tak memadai. Saya khawatir  pihak Pemrov akan membangun Museum di kawasan KP3 B yang jelas  berbeda dengan perencanaan awal.

Dibalik aksi massa dan gugatan masyarakat tanpa disadari sudah terjebak pada persoalan yang akan terjadi, selain mengakui kekuasaan dan kedaulatan bagi kelompok yang paham.   Tapi saya kira semua sependapat jika rumah dinas gubernur diaudit kembali dugaan korupsi dan mark upnya, lainnya soal Atut Chosyiah tidak mau menerima biaya sewa rumah saya akui kemenangan bagi pihak kelompok pressure group dan pressure independen. Sedangkan soal Visi Museum Nasiona Banten akan dilokasikan di kawasan KP3 B jelas saya akan menolak keras. Dasar argumentasi saya, 1. Peta Kota Jalur Naga Wisata Budaya dan Sejarah  berubah dengan digeser ke kawasan yang jauh dari simbol sejarah lama dan akan hilang. 2. Akan lebih banyak memboroskan anggaran APBD dan berpotensi untuk mengulangi kasus korupsi kembali. 3. Kawasan KP3 B tidak pas sebagai lokasi Museum Nasional Banten.

Sebagai catatan hasil akhir,  saya mengingatkan pihak berwajib dalam hal ini Kejati dan Kepolisian serta KPK jika ditingkat lokal tidak ada jawaban, dugaan kasus korupsi dan mark up Rumah Dinas Gubernur Banten agar segera diusut tuntas ! Sedangkan Rumah Dinas Gubernur Banten saya berharap beralih menjadi Museum Nasional Banten sebagai Zona Wisata Budaya dan Sejarah  bagi masyarakat, selain untuk menghemat uang negara serta simbol sejarah di masa silam.

Teguh Iman Prasetya

Kord. BCW (Banten Corruption Watch), Pengamat Sosial Budaya dan Sejarah Masyarakat

Nb.

Gbr. Museum Nasional Jakarta

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s