Polemik Rumah Dinas Gubernur Banten 2010 Jilid 1

Wisata Budaya dan Sejarah Di Pusat Kota Serang

Museum NasionalSetahun yang lalu (2009) kami berdua, saya dan Nia dari Fisip Untirta diminta oleh Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang (BP3S) Imam Sunaryo untuk mengadakan diskusi terbatas dengan Dinas Kebudayaan Yogya (saya lupa tanggalnya). Ada banyak yang saya tinggalkan dari pembicaraan tersebut, diantaranya menyarankan BP3S harus membuat penyelamatan dan pemeliharaan dengan membuat Museum Nasional di Banten, juga membawa ide Istana Negara Banten. Kondisi ini sangat aktual, mengingat begitu banyaknya benda-benda bersejarah dan purbakala berserakan tak terurus, terlantar, bahkan tak tentu rimbanya di daerah Banten. Namun, jelas kami akan menolak tegas, jika perkembangan waktu kemudian akan menjadi rumah tinggal dinas Gubernur dengan biaya yang sangat tinggi.

Banyak hal yang didiskusikan pada waktu itu dan banyak masukan juga pengalaman yang dari semua sumber, termasuk dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta yang memiliki prestasi sangat bagus. Sejarah dan kebudayaan yang dibedah sangat menarik serta terdapat pertalian diantara keduanya. Dan yang tak kalah penting bagaimana melestarikan, merawat, serta memeliharanya. Hal ini yang kemudian dibahas dan dikaji sangat serius, bahkan pihak BP3S berjanji akan melakukan banyak perubahan dan sosialisasi ide tersebut.

Banten sesungguhnya paling bersejarah bahkan termasuk terdapat banyak benda-benda purbakala sebelum masa sejarah dan terdapat banyak situs. Dari hasil penelitian arkeologi, sejarawan, dan budayawan yang belum selesai menyebutkan, tinggalan Kerajaan Salakanagara di situs Cihunjuran, Gunung Pulosari dan sekitarnya, diduga abad 1 masehi, masa sejarah Kerajaan Hindu tertua sebelum Kerajaan Tarumanagara dan Kutai.

Dan banyak lagi yang belum tergali, diantaranya banyak tinggalan sejarah dan purbakala di berbagai sudut belahan bumi Banten, bahkan yang misterius juga banyak. Dalam hal ini Banten seharusnya belajar dari Yogyakarta, Cirebon , Bali, Surabaya, Kutai, dan berbagai kota tua lainnya menyoal sejarah dan kebudayaan, serta pariwisata, namun tidak harus meninggalkan ciri khas etnik dan budaya serta religiusitasnya. Justru harus diperkuat kembali dengan dinamika yang ada dengan menjadi jati diri yang kemudian terbentuk.Dinamika adalah unsur apresiasi masyarakat mengenai persepsinya tentang jati dirinya, lingkungan, dan budayanya. Misalnya, Batik Banten yang berprestasi hingga juara dunia motif terbaik, merupakan hasil dari seni kontemporer perpaduan artefak relief Kesultanan Banten yang kemudian dijadikan ide, dan banyak lagi.

Muhammad Al-Faris, Triger Budaya, Manusia Dua Jaman

Saya bertemu kembali dengan teman dari UGM Yogyakarta di Kota Serang yaitu Mohammad Al-Faris, yang pertama tahun 1993, dengan Mohammad Torik dan Tegak Lima (cikal bakal PRD), serta Emha Ainun Nadjib dan  Der Spiegel, media dari Jerman yang ikut meliput pergerakan mahasiswa melawan Rezm Orde Baru.

Bertemu Muhammad Al-Faris sebagai budayawan pada tahun 2004 yang ternyata merupakan pendiri Pers Mahasiswa UGM Balairung dan Bulaksumur, seperti mengenang masa lalu di masa pergerakan mahasiswa, yang dalam hal ini idealisme aktivis jalanan dan pers mahasiswa menemukan banyak kisahnya. Dalam banyak hal Al Faris adalah pejalan kaki yang luar biasa, pengalaman, daya kritis dan nalarnya, serta wawasan ilmunya, menjadikan ia seperti suhu dalam cerita Khopingho, dan disebut Profesor oleh masyarakatnya.

Seringkalinya kami bertemu dan berdiskusi banyak hal juga membawa ide-ide segar termasuk ide Musium Nasional dan Istana Negara. Kami seringkali bertualang dan menjelajah banyak sumber permasalahan, hingga kami berdua seperti sepasang hantu yang menakutkan juga bagi penguasa di Banten. Triger picu budaya dari Al-Faris yang melandasi banyak pihak yang akhirnya ikut serta memikirkan Banten sebagai sebuah komunitas kampung besar yang mulai kompleks dengani banyak sudut masalahnya. Masalah lokalitas yang carut marut dengan metamorfosa jawaraismenya, pendidikan, kemiskinan, pengangguran, dan masalah lainnya yang sangat berat yang tak terlepas dari dimensi religi, sosial, budaya, ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya.

Jalur Naga Wisata Budaya dan Sejarah

Triger budaya lainnya saya mengenal Iwan Nit-Net (disebut Nit Net, dahulu warnet pertama yang ada di Kota Serang), kemudian saya lebih mengenal lebih dalam lagi soal budaya lokal, yang dengan fasih Iwan banyak memaparkan ilmu dan visinya. Latar belakangnya sebagai seorang jurnalis dan peminat sejarah serta budaya menjadikannya dikenal sebagai budayawan, walaupun sekarang ini lebih menggeluti usaha pertanian, petani yang berhasil.

Rentang perjalanan pada tahun 2005 barangkali yang membuat kami pernah bekerjasama untuk menolak pembongkaran Gedung Makodim diganti dengan Mall Ramayana. Beliau termasuk Jendral yang paling keras dan vokal menolak Gedung Makodim dibongkar. Makodim sebagai benda cagar budaya berarsitektur Indis, dengan tiang-tiang silindris di bagian depan, jendela besar di samping kanan-kiri, dan pernah difungsikan sebagai hotel Vos. Pada tahun 1945 tempat terjadinya peristiwa heroik, yaitu penurunan bendera Jepang oleh laskar pejuang wanita Banten. Kegagalan menolak pembongkaran tersebut, banyak hal kemudian yang menjadikan semacam pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bagi kalangan mahasiswa, akademisi, budayawan, jurnalis, birokrat, dan warga lainnya.

Bagi saya sendiri sejak itu memikirkan pertanyaan besar untuk dipecahkan dengan melakukan studi banding dan literatur serta produk perundangan yang sifatnya mengikat dan memberi daya tawar kepada pihak pemerintah dan warga, terkhusus yang memiliki bangunan BCB. Hingga saat ini arsitektur kuno di Kota Serang sudah banyak yang hilang, diperkirakan sepertiga dari total bangunan kuno yang ada, baik milik pemerintah maupun warga masyarakat. Perlukah Perda untuk melindungi bangunan BCB tersebut ? Disamping UU No.5/1992 yang hingga sekarang dendanya sangat ringan dan belum direvisi (sekarang sudah direvisi UU BCB No.11/2010).

Sebagai contoh di Kota Surabaya (www.surabaya.go.id/regulasi/detail.php?catid=&id=65), Perda Perlindungan Bangunan BCB (Perda No.5 Tahun 2005) tersebut menarik minat masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan mengungkapkan apresiasinya. Daya tawar yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya adalah menetapkan klasifikasi jenis bangunan, pendaftaran gratis, dan menetapkan kompensasi bagi warga yang memiliki bangunan BCB. Dalam hal kompensasi ini warga dapat menikmati banyak hal misalnya, pembayaran listrik dan air ditanggung Pemerintah Daerah, serta dinobatkan sebagai warga kehormatan. Studi lainnya adalah Paguyuban Kota Tua Djakarta (http://kotatua-jakarta.blogspot.com/2010/01/jakarta-bangga-punya-kotatua.html) adalah cermin dari kepedulian masyarakat kota Djakarta pemilik dan warga yang mencintai seni bangunan arsitektur kuno, ditengah modernisme yang menyuguhkan kapitalisme, pragmatisme, dan penghancuran nilai-nilai tradisionalisme-budaya, dan sejarah.

Alangkah sayangnya, jika Banten terkhusus Kota Serang kehilangan banyak artefak bangunan kuno yang indah digantikan gedung-gedung buatan yang kaku, panas, dan artifisal tanpa nilai artistik sejarah yang memberikan rasa nyaman dan tentram. Saya pikir sudah saatnya dikembalikan semangat untuk menyelamatkan bangunan benda cagar budaya tersebut.Beberapa titik masih dapat diinventarisir baik di pusat kota maupun pinggiran kota seperti Kaujon, Kaloran, Sempu, Kebaharan, Kasemen, Banten Lama, dan daerah lainnya yang masih tersisa.

Tak kurang peminat yang masih bergairah untuk melakukan penyelamatan dan perlindungan bangunan BCB tersebut. Dan tentunya political will dari Pemerintah Daerah Kota/ Kab. di Propinsi Banten untuk melakukan penyelamatan dan perlindungan tersebut.

Museum Nasional Banten dan Istana Negara

Saya tak menyangka Istana Negara dan Museum Nasional akhirnya terwujud dibekas kantor gubernur yang akan ditinggalkan. Hanya yang menjadi kegelisahan kami adalah, mengapa menjadi rumah dinas tempat tinggal gubernur dan biayanya begitu sangat tinggi hingga mencapai Rp.16.14 miliar. Saya menduga unsur nilai budaya dan sejarah telah dimasuki arena politis dan ekonomi untuk meraup keuntungan segelintir oknum dan grand desain di masa datang yang sangat tinggi nilainya bagi elit-elit politik. Lebih baik Sang Gubernur bertempat tinggal berumah dinas di sekitar masyarakat dengan harga rumah yang murah 1-3 miliar. Lihat Mahmoud Ahmaddinejad tak berubah sejak menjadi Walikota Teheran hingga menjadi Presiden Iran dikenal saleh dan sederhana, tidak hidup bermewahan.

Pemugaran bekas Aula Setda yang disulap menjadi rumah dinas sang gubernur, tak lebih dari upaya yang amat sangat berpotensi melakukan perusakan dan penghilangan nilai seni dan sejarah bangunan tersebut. Refleksi sejarah di masa lalu memang benar, kantor gubernur yang dahulu bekas kantor Karesidenan Banten baik di masa orba, orla, dan Belanda, pernah menjadi rumah tinggal dinas, namun tak berpotensi untuk melakukan perusakan dan penghancuran bangunan tersebut. Ditelusuri secara historis, bangunan tersebut merupakan bagian dari perusakan pula yang dilakukan Belanda terhadap Keraton Kaibon yang dibumi hanguskan di masa Kesultanan Banten berakhir. Batu-batanya diambil kemudian untuk mendirikan Gedung Karesidenan dan pendopo Kabupaten Serang di masa penjajahan VOC.

Kijang Berkeliaran Istana BogorMerancang alun-alun, kantor gubernur, dan area pusat kota lainnya menjadi wisata sejarah dan budaya belumlah lagi terlambat. Banyak ide dan apresiasi yang dapat disumbangkan oleh warga masyarakat untuk berperan serta aktif. Saya berharap bekas kantor gubernur dan kresidenan tersebut menjadi Istana Negara dan Musium Nasional. Sedangkan Gedung Juang 45 Veteran bisa menjadi Gedung Kesenian  dan wilayah alun-alun dengan ruas jalan di tengah yang membelah diperlebar menuju patung pejuang.Jika patung tersebut tidak dirawat, bernuansa muram dan remang-remang, lebih baik dipercantik dengan lampu-lampu tembak berwarna-warni di malam hari dengan asesoris bernuansa klasik dan artistik. Lebih bagus juga patung pejuang tersebut dipindahkan sebagai simbol di depan Museum Nasional Banten, dan sebagai gantinya adalah air mancur kecil yang menarik bagai Bundaran Hotel Indonesia dengan tambahan asesoris tersebut.

Benda antik 1Merancang sebuah Museum Nasional juga sangat mudah sebetulnya dengan kordinasi dari BP3S, dan tak begitu mahal. Lihat Museum Nasional Jakarta benda-benda bersejarah dan purba dibiarkan berserakan, kecuali benda yang bernilai sangat mahal (terbuat dari emas, dsb.), dengan alat sensor khusus dan alarm. Semua ruangan dilengkapi CCTV untuk memantau semua turis. Kerjasama dengan BP3S bisa dilakukan, pemasukan pendapatan dari hasil ticketing tiap hari dan khusus hari libur-sabtu dan minggu dilakukan dengan bagi hasil. Arena wisata lainnya tanaman yang rindang dan menjangan kijang jinak berkeliaran di halaman gedung yang areanya masih tampak asri dan nyaman.Sebuah gagasan bisa dirawatnya  kijang berkeliaran dari Pulau Peucang Ujung Kulon dari Kang Rahadian, penggiat Konservasi Bhumi  hasil kami diskusi. Semoga.

Sebagai Catatan :

Tipe bangunan dan lingkungan, gambar diambil dari Museum Nasional dan Istana Bogor sebab hampir sama dengan Gedung Karesidenan / Bekas Kantor Gubernur.

Sumber Karya lama 2010

http://www.facebook.com/settings?tab=privacy#!/notes/teguh-iman-prasetya/ruang-publik-wisata-budaya-dan-sejarah-di-pusat-kota-serang/424734912349

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s