Revolusi Mesir Paksa Mundur Husni Mubarak

Rezim Hosni Mubarak akhirnya mundur dan benar-benar jatuh, setelah sebelumnya bersikukuh mempertahankan rezim lanjutan warisan ordo militer dari Anwar Sadat yang tewas pada saat parade militer pada tahun 1981.  Sejak itulah Hosni  Mubarak memakai dalih menyelamatkan krisis negara dari bahaya kelompok muslim garis keras Jamaah Islamiyah, gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin  dan ketidakpuasan di kalangan  militer, memegang tampuk kekuasaan dengan mudah.  Mirip dengan Soeharto yang mempertahankan kekuasaannya dengan jargon stabilitas keamanan dari bahaya laten ideologi kiri PKI (Partai Komunis Indonesia), menyelamatkan  negara dengan ideologisasi Pancasila menurut versinya yang sarat doktriner, dogma, tetapi berselimut kepentingan kroninya, maka terjadilah filosofi adagium berikutnya yang menyeret bangsa pada pembenaran semua perilakunya,  “kekuasaan yang terlalu lama  adalah cenderung korup”.  Revolusi yang dilakukan rakyat Mesir seusai shalat Jum’at 11 Februari  menumbangkan Hosni Mubarak,  tak lebih sama dengan jatuhnya Soeharto, tetapi yang menarik disini adalah konflik  di kalangan perwira militer tak terjadi (entah, jika episode berikutnya terjadi).

Patut diacungi jempol para pemimpin oposisi dan tokoh-tokoh berpengaruh Mesir (luar dan dalam negeri), serta keteguhan rakyat Mesir bertahan dengan prinsipnya dan membuang rasa takut, berhadapan dengan intelejen polisi yang sangat kuat dan provokasi demo tandingan, yang jelas sekali adalah polisi berbaju preman.    Membangun strategi di awal dan proses sebelum episode terakhir sekarang, nampaknya  militer yang sebelumnya ambivalen, pada babak akhir perjalanan mulai mengambil sikapnya yang tegas berpihak pada rakyat Mesir untuk mengurangi atau meniadakan korban jiwa yang akan terjadi.  Saya pikir ini adalah pembacaan psikologi -sosial masyarakat yang dicerna dengan sangat mudah oleh para perwira militer yang sangat cerdas pula di lapangan untuk menolak perintah Mubarak dan Umar Suleiman (Dewan Jendral Mesir Depak Mubarak-Republika), yang tentunya pula secara sosio kultural sudah mengendap pada bawah sadar rakyat Mesir umumnya,  yang merupakan penumpukan kemarahan rakyat (grudgress factor) sejak lama .

Saya mengucapkan ” Selamat Datang Revolusi Rakyat Mesir “, tugas lebih berat dengan transisi demokrasi yang dipilih, jelas memiliki tanggung jawab sosial dan politik yang sangat menentukan sekali dengan eskalasi drama di dalam negeri dan kawasan timur tengah.  Transisi demokrasi yang diharapkan tentunya berbeda dengan Indonesia, yang kebablasan dengan liberalisasi semua bidang yang mendobrak tata nilai religi dan norma sosial budaya, serta sektor strategis negara  yang semuanya  digadaikan, tamu di negeri sendiri.  Saya berdoa untuk Ikhwanul Muslimin yang sekarang mulai moderat dan tokoh oposisi yang masih berkiblat pada dunia Islam, menjadi pemenang drama demokrasi Mesir (Ikhwanul Pasca Revolusi-Laporan Khusus Era Muslim )

Agenda lainnya tentunya yang juga harus tetap teguh  adalah  pengusutan tuntas kekayaan jarahan Mubarak harus digelar secara terbuka dan tak perlu menunda lama serta pembiasan serta drama seperti di Indonesia yang melelahkan.  Dugaan korupsi Hosni Mubarak diperkirakan US $40 miliar (Rp 400 triliun)  meningkat menjadi US$70 miliar (Rp. 700  triliun) (Hosni Mubarak Bawa Kabur Kekayaan Mesir-Kompasiana) serta data Daily Telegraph  Rp. 287  triliun,  jelas bukan data yang sedikit bagi rakyat Mesir yang sebagian besar 40%  masih berada pada garis kemiskinan.   Sesungguhnya  asset Mesir sangatlah  kaya raya, selain Terusan Suez  yang merupakan jalur lintas perdagangan yang menghasilkan devisa bagi negara lebih dari 5000 milyar dollar data pada tahun 2008,  juga  tambang emas di sektor pariwisata serta pajak pekerja asing. Ditambah lagi regulasi hukum Mesir yang mengatur penanaman modal asing oleh para investor luar negeri, rakyat Mesir yang diwakili mitra bisnis setempat seharusnya sejahtera  dengan pembagian 51 %. Luas negeri Republik Mesir sekitar 1.001.449 km persegi. Sebagian besar merupakan gurun pasir dan hanya sekitar 36.000 km persegi yang dihuni manusia dan yang bisa diolah,  termasuk ibu kota Mesir, Kairo, kota ini menjadi pilihan pemukiman karena tanahnya yang subur sepanjang tahun akibat dialiri Sungai Nil dan sebagian kota terletak di delta sungai tersebut Dari sekitar 78 juta penduduk Mesir, 12 juta di antaranya bermukim di Kairo (Mesir, Ekonomi Lumpuh-Padang Today).

Terakhir tak kalah pentingnya adalah  Ukhuwah Islamiyah di kawasan yang merupakan arah  sejarah dunia muslim, Presiden Mesir masa depan  jelas haruslah memiliki ghirah semangat anti Zionis Israel. Mesir dijaman Hosni Mubarak adalah antek paling depan Israel, dimasa perang dan damai  telah memenjarakan rakyat Gaza Palestina dengan sangat kejam menutup pintu perbatasan utama, sudah saatnya blokade dibebaskan pemerintah yang baru . Perjanjjian Camp David di masa Anwar Sadat berkembang menjadi teman dekat yang paling diandalkan oleh Zionis Israel menghadapi kecaman dunia Internasional dan dunia  muslim. Langkah hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Zionis Israel harus dihentikan  dan diputuskan. Israel sangat tergantung oleh kebutuhan impor gasnya dari Mesir, solidaritas negara muslim harus membantu Mesir mengalihkan ekspor gasnya ke negara Arab lainnya. 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s