Hukuman Incest di Indonesia

Hukuman Incest di Indonesia

Kasus pertama : Ayah menyetubuhi anaknya selama 3 tahun. Alasan si ayah melakukan hubungan seksual tersebut adalah sebagai tanda kasih sayangnya terhadap anak (di Jakarta) Kasus Kedua : Ayah, kakek dan paman menyetubuhi seorang anak perempuan (berarti anak tersebut disetubuhi oleh ayah, kakek dan pamannya) selama tiga tahun. Anak perempuan tersebut bekerja sebagai PRT di Jakarta, dan ketika diketahui hamil ia dipulangkan ke daerah asalnya di Kebumen.Kasus Ketiga : Ayah menyetubuhi anak perempuannya sehingga anak tersebut melahirkan seorang anak (cucu dari ayahnya) dan sekarang ia sedang mengandung anak kedua hasil dari hubungan seksual dengan ayahnya (Purbalingga)

Rata2 kasus Incest di Indonesia -jika dilaporkan- diproses dengan hukuman terhadap pelaku selama-lamanya 9 tahun untuk korban satu orang dan 11 – 15 tahun jika korbannya dibawah umur dan lebih dari satu orang menurut Kitab undang-undang hukum pidana.

Sayangnya dengan ganjaran yang sangat ringan seperti itu sampai saat ini pelaku incest rata2 mendapat ganjaran 4-5 tahun penjara. Ini yang terjadi dinegeri kita, yang katanya sangat mengedepankan kehormatan keluarga. Hah…! Bagaimana bisa perusak tatanan suci keluarga dan penggelap masa depan darah daging sendiri hanya diganjar dengan hukuman yang paling ringan ?

Sebagai perbandingan  di Thailand, negara penjual sex terbesar di Asia, pelaku incest dikenai hukuman mati. Di Philipine, negara seribu-satu tawaran sex, pelaku incest disuntik mati.

Dalam hukum Islam ? Pernah suatu kali shahabat Rasulullah bertemu dengan seseorang yang membawa bendera berwarna merah berjalan dengan langkah terburu-buru. Setelah ditanya, shahabat tersebut menjawab, ia sedang dalam perjalanan menunaikan tugas menghukum mati seorang anak yang meniduri ibunya.

Riwayat kasus Incest yang dilaporkan sebenarnya hanya sebagian kecil kasus yang sama yang terjadi dilingkungan masyarakat kita. Ada beberapa penyebab adanya incest.

Kurangnya pemahaman agama.

Pemahaman agama adalah benteng utama yang menjaga pola interaksi antar manusia. baik hubungan sedarah maupun tidak. Jika keluarga tidak mendapatkan informasi tentang bagaimana agama mengatur pola2 interaksi yang dibolehkan maka kemungkinan adanya penyimpangan dalam pola interaksi sedarah sangat tinggi. Banyak keluarga beranggapan karena satu keluarga, ayah, ibu, anak, paman, bibi, sepupu- maka boleh buka-bukaan seenaknya. Dalam Islam, sejak kecil anak telah dipisah dari ranjang orangtua. Anak laki-laki dan perempuan dipisah. Masuk kamar orangtua diatur pada saat2 tertentu dengan ijin, dan banyak hal lain.

Ekonomi Miskin.

Isteri yang ikut membanting tulang membuat dapur terus mengepul cenderung mengalami keletihan yang luarbiasa sehingga menurunkan pelayanan terhadap suami, dengan kondisi perekonomian keluarga yang seret, bapak menggarap anak menjadi alternatif jalan keluar bagi mereka (suami-kadang2 disetujui oleh sang isteri) untuk terus melanggengkan keluarga. Karena untuk cari diluar harus keluar duit lagi kan ?

Rendahnya pendidikan.

Pendidikan yang jauh dari standar mengakibatkan korban dan keluarga menganggap perilaku incest adalah aib keluarga yang sangat pribadi. Sehingga banyak yang tidak mau melaporkan ke pihak yang berwajib atau orang lain. Rendahnya pendidikan ini menimbulkan potensi perilaku incest semakin marak.

Kasus Incest bukan kasus perkosaan biasa. Hal ini menyangkut kepercayaan, kelangsungan sebuah keluarga, masa depan anak dan kondisi psikologi yang terbentuk. Olehnya sangat disayangkan jika undang-undang kita memperlakukan pelaku incest sama dengan korban perkosaan biasa .

sudah saatnya hadir hukuman mati bagi pelaku incest !!!

Sumber blog  http://elbintang.multiply.com/journal/item/46

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s