Susno Beberkan Kasus Markus

MARKUS DI TUBUH POLRI
KPK Diminta Ambil Alih Kasus

Novel Ali, Kompolnas.

Sabtu, 20 Maret 2010

JAKARTA (Suara Karya): Pembelaan Mabes Polri atas tudingan mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji terkait rekayasa kasus pajak oleh Polri malah mengundang tanda tanya sejumlah kalangan. Mereka juga menilai pembelaan itu mengesankan Mabes Polri kebakaran jenggot, emosional, dan arogan. Ini terutama karena tersangka Gayus Tambunan yang memiliki rekening mencurigakan tidak ditahan saat proses penyidikan dilakukan.

Karena itu, Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Netta S Pane meminta agar kasus yang diungkap Susno ini diambil alih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Kita tidak percaya kalau Polri yang menangani kasus ini,” katanya ketika dihubungi Suara Karya di Jakarta, Jumat.

Netta merujuk beberapa kasus terkait Polri yang tidak ditangani Polri hingga selesai dengan baik dan transparan akibat benturan kepentingan internal. Sebut saja kasus 15 rekening petinggi Polri yang dinilai tidak wajar.

Anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Golkar, Deding Ishak, menyatakan hal senada bahwa dugaan kasus yang diungkap Susno sebaiknya diserahkan ke KPK agar ditangani secara fair. Jika masalah yang melibatkan Polri ditangani sendiri oleh Polri, niscaya menimbulkan benturan kepentingan serta mengundang polemik berkepanjangan.

Namun, menurut Deding, jika kasus itu diduga mengandung pelanggaran kode etik oleh Susno, Polri tetap harus diberi ruang untuk menyelesaikan secara internal sesuai aturan. “Jadi, masalah kode etik kalau mau ditangani, silakan terus karena Pak Susno kan masih aktif (sebagai perwira kepolisian). Tapi proses hukum atas kasus yang diungkap Susno juga harus jalan terus di KPK,” ujarnya.

Terkait itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyatakan dukungan kepada Susno Duadji. “Apa yang diungkapkan Susno merupakan bentuk perlawanan atas ketidakterbukaan di tubuh Polri selama ini,” kata anggota Kompolnas Novel Ali di Semarang, Jumat.

Saat mengeluarkan pernyataan itu, menurut Novel, Susno tentu sudah memiliki bukti dan alasan kuat serta tidak mungkin berbohong. “Kalau Susno bohong, itu sangat riskan dan akan merugikan dia sendiri,” ujarnya.

Kemarin, Mabes Polri memberi keterangan kepada pers sehubungan tudingan Susno terkait penyidikan kasus Gayus Tambunan, pegawai Ditjen Pajak yang disebut-sebut memiliki dana Rp 25 miliar di rekeningnya. Selain Wakabareskrim Irjen Dikdik Mulyana Arif, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang, para penyidik yang disebut Susno — Brigjen Edmond Ilyas dan Dir II Eksus Brigjen Raja Erizman — juga dihadirkan, termasuk penyidik wanita AKBP Mardiyani.

Menurut Edward Aritonang, setelah dilakukan gelar perkara, Polri menyimpulkan, belum ditemukan penyimpangan dan praktik makelar kasus (markus) dalam penanganan kasus pajak dengan tersangka Gayus Tambunan. Aritonang juga membantah adanya ruang markus di antara ruang kerja Kapolri dan Wakapolri.

Aritonang menekankan, tudingan Susno itu tidak didukung fakta dan merupakan bentuk pelanggaran hukum. “Tudingan itu penghinaan dan penistaan terhadap lembaga dan perwira Polri, termasuk penyidiknya,” katanya.

Karena itu, lanjut Aritonang, Polri telah menyiapkan langkah-langkah hukum untuk meminta pertanggungjawaban Susno. “Binkum sudah merumuskan langkah ke arah itu,” katanya usai jumpa pers. Sebelumnya, dia memberi kesempatan kepada perwira Polri yang disebut Susno untuk mengambil langkah hukum secara personal.

Aritonang menegaskan, Mabes Polri kembali melayangkan surat panggilan kepada Susno untuk hadir pada Senin pekan depan (22/3) pukul 09.00 Wib di ruang Propam Polri. “Undangan kedua itu untuk memberikan informasi, keterangan, dan data apa pun terkait yang beliau sampaikan tentang markus dan keterlibatan oknum kepolisian (dalam kasus Gayus Tambunan),” katanya.

Sementara itu, Edmond Ilyas semalam secara resmi melaporkan Susno Duadji, mantan atasannya, ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam). Semantara Brigjen Raja Erizman kepada wartawan mengaku memunyai bukti tentang dua markus yang sering masuk ke ruangan Susno Duadji.

Meski mengaku tidak tahu persis isi pembicaraan, Erizman mengaku punya bukti soal aliran dana ke Susno. “Soal bukti nantilah. Kalau tidak punya bukti, saya tidak mungkin bicara,” katanya.

Atas pernyataan Susno yang mengaku tidak tahu-menahu soal dibukanya pemblokiran rekening tersangka Gayus, Erizman menuturkan bahwa dirinya melakukan pembukaan blokiran itu sesuai mekanisme. Dia juga menunjukkan surat permintaan agar pemblokiran rekening Gayus dibuka. Surat tersebut ditembuskan ke Bareskrim, Bank Indonesia, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Sementara itu, AKBP Mardiani–salah satu penyidik kasus pajak Gayus–memaparkan bahwa berdasar hasil penyelidikan dan penyidikan, Polri hanya menemukan indikasi pidana dalam rekening Gayus senilai Rp 395 juta dari total dana Rp 25 miliar. Dana Rp 395 juta itu diketahui berasal dari tiga transaksi dengan PT Megah Jaya Garmeindo sebesar Rp 370 juta dan konsultan pajak Robertus Santonius Rp 25 juta.

Dari temuan indikasi melawan hukum, polisi menuntut tersangka Gayus dengan pasal pencucian uang, suap, dan penggelapan. Setelah diproses, kata Mardiani, Polri melimpahkan berkasnya ke kejaksaan disertai uang Rp 395 juta sebagai barang bukti. “Semula dilakukan pemblokiran rekening berisi dana Rp 25 miliar. Tapi, karena yang dinyatakan cukup bukti hanya Rp 395 juta, rekening lantas dibuka (blokirannya),” ujar Mardiani. (Hanif Sobari)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=249027

Markus Pajak Gayus: Uang Rp 24 M Ditarik untuk Proyek Ruko di Jakut
Elvan Dany Sutrisno – detikNews  Sabtu, 20/03/2010

Jakarta – Gayus Tambunan menepis isu bila uang sisa di rekeningnya Rp 24 miliar jadi bancakan polisi. Dia menegaskan kalau uang itu ditarik untuk pelaksanaan proyek milik teman bisnisnya Andi Kosasih.

“Untuk membuat ruko proyeknya di Jakarta Utara,” terang Gayus saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/3/2010).

Dia mengaku, hubungan dia dan Andi sangat dekat sebagai partner bisnis. Gayus pun menganggap wajar uang sebesar itu dititipkan pada dia.

“Itu semua dituangkan di BAP dan sudah disampaikan persidangan, silahkan tanya ke penyidik,” terangnya enggan memerinci.

Bagaimana dengan tudingan mantan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji soal uang itu yang diduga dibagi-bagi ke penegak hukum?

“Pak Susno hanya melihat covernya, waktu saya diperiksa Pak Susno masih menjabat,” jelasnya.

Nama Gayus mencuat setelah Susno Duadji menyebutkan ada kasus markus pajak yang ditangani tidak sesuai aturan alias rekayasa. Susno menyebut dari Rp 25 miliar yang dimiliki Gayus, hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar tidak jelas.

Gayus, dibidik Polri dengan 3 pasal yakni pasal penggelapan, pencucian uang, dan korupsi, namun di persidangan dia hanya dituntut jaksa dengan pasal penggelapan. Hakim memvonisnya dengan hukuman 1 tahun percobaan. (ndr/ken)

Gayus Sebagai Tersangka

Mabes Polri menepati janjinya untuk menjawab tudingan Komjen Susno Duadji terkait kasus pajak Rp 25 miliar. Polri menyatakan, telah menetapkan Gayus Tambunan sebagai tersangka karena menerima setoran dari PT Megah Citra Jaya Garmindo dan Robertus Antonius.

“Kami dapat temukan buktinya. Ada 3 transaksi berasal dari 2 pihak ditemukan di rekening koran tersangka yaitu dari PT Megah Citra Jaya Garmindo dan Roberto Antonius, total Rp 395 juta,” jelas penyidik Direktorat II Ekonomi Khusus AKBP mardiyani dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat (19/3/2010).

Rinciannya, Roberto menyetor Rp 25 juta dan PT Megah Rp 370 juta,” imbuh perempuan berkacamata ini.

Mardiani menjelaskan, Gayus dijerat dengan tindak pidana pencucian uang, korupsi, dan penggelapan. “Pasal yang disangkakan kepadanya 3 pasal kumulatif,” kata Mardiani yang mengenakan batik ini.

Dalam penyidikan, Gayus tidak dapat menjelaskan dengan gamblang dari mana yang bersangkutan memperoleh harta kekayaan sebanyak itu.

“Roberto adalah konsultan pajak, sehingga kami mempunyai bukti cukup kuat menaikkan perkara ini ke penuntut umum. Kemudian sesuai petunjuk jaksa antara lain agar dilakukan penyitaan Rp 395 juta,” jelasnya.

Karena hanya uang Rp 395 juta saja yang dicurigai melanggar pidana, maka uang sisanya dari Rp 25 miliar dibuka dari blokir. “Sebagai tindak lanjut kegiatan, rekening tersebut telah dibuka,” tutupnya. (Detik.com)

Susno Siap Mati Bongkar Markus

Liputan6.com, Jakarta: Mantan kabareskrim Komjen Polisi Susno Duadji kamis siang (18/3) di Jakarta menggelar jumpa pers khusus menyangkut pernyataannya tentang adanya makelar kasus di tubuh Polri.

Susno menegaskan, akan berdiri di depan untuk membela Polri dalam menegakkan kebenaran dan memberantas mafia makelar kasus, yang menurutnya melibatkan sejumlah petinggi Polri.

“Saya siap menyerahkan nyawa, apalagi kalau hanya jabatan dan pangkat” ujar Susno.

Susno menegaskan apa yang ia lakukan dengan mengungkap faktar makelar kasus itu bukanlah untuk mencari popularitas, bukan karena post power syndrom, dan bukan mendiskreditkan siapapun.

“Saya berkeinginan agar para pimpinan Polri pada level manapun sadar bahwa Polri itu adalah milik rakyat bukan milik pimpinan atau polisi pada level manapun juga,” lanjut Susno.

Polri menurut Susno harus dikelola dengan baik sesuai dengan kehendak rakyat dan dapat dipertanggung jawabkan pada rakyat dan tidak menentang kehendak rakyat selaku pemilik Polri.

Sebelumnya, minggu (14/3) lalu, Susno Duadji mengungkapkan pemberantasan makelar kasus yang sudah dilakukannya ketika menjabat Kabareskrim, yakni kasus pajak yang diatur dan diduga masuk ke beberapa petinggi Polri senilai puluhan miliar rupiah.

Menurut Susno, kasus pajak itu melibatkan pengusaha bernama berinisial AK yang diduga memiliki kedekatan dengan orang nomor dua di Mabes Polri.(MLA)

Susno Duadji Rutin Bertemu 2 Markus di Mabes Polri

Jum’at, 19 Maret 2010

Rizka Diputra – Okezone

Susno Duadji (Foto: Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA– Direktur II Ekonomi khusus Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Pol Raja Erizman membeberkan, ada dua makelar kasus yang sering masuk ke dalam ruangan mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji.

Bahkan, dengan mantap dia juga mengaku memiliki bukti kuat mengenai kunjungan kedua markus itu.

“Saya beberapa kali melihat kedua orang itu sering keluar masuk ke ruangan Pak Susno,” kata Direktur II Eksus Bareskrim Mabes Polri Brigjen Raja Erizman kepada wartawan di Mabes Polri Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (19/3/2010).

Namun, dia mengaku tidak mengetahui persis apa isi dari pembicaraan tersebut karena tidak mendengarnya secara langsung. “Tapi saya tidak mendengar pembicaraan itu,” imbuhnya.

Dirinya pun tidak mengetahui pasti apakah kedua orang itu masih melakukan komunikasi lanjutan dengan Susno sampai saat ini atau tidak. Raja belum dapat memastikan apakah nanti dua markus ini akan turut dimuat dalam laporan yang akan ditujukannya ke Kabareskrim.

“Soal bukti nantilah, kalau tidak punya bukti saya tidak mungkin bicara. Kalau saya buat laporan, itu kan masalah harga diri saya,” pungkasnya.

Seperti yang diwartakan, mantan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji membeberkan dugaan adanya perwira tinggi Polri yang terlibat markus. Susno bahkan menyebut inisial nama perwira tinggi tersebut.

“Inisialnya sudah ada, nama-nama jenderalnya, yang pertama Brigjen E, Brigjen RE, Kombes E, dan Kompol A,” bebernya.(ful)

Berita Terkait: Susno Buka Mulut

http://news.okezone.com/read/2010/03/19/339/314301/susno-duadji-rutin-bertemu-2-markus-di-mabes-polri

Raja Erizman Balik Menuding Susno Duadji itu Markus

Jumat, 19 Maret 2010
Penulis : Mario Aristo

Raja Erizman Balik Menuding Susno Duadji itu Markus

Raja Erizman dan Susno Duadji–MI/Susanto–M Irfan

JAKARTA–MI:Pascadituduh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji sebagai seorang makelar kasus di Mabes Polri, Direktur II Ekonomi Khusus Raja Erizman tampak berang. Raja malah menyatakan memiliki data-data yang menunjukkan bahwa Susno yang malah diduga kuat sebagai makelar kasus itu sendiri.

“Saya juga punya data bahwa di tempat Pak Susno ada beberapa orang yang sering berada di ruangan beliau. Mereka orang luar (bukan anggota Polri). Satu berprofesi sebagai pengacara. Satu lagi saya tidak tahu,” ujar Raja kepada Metro TV pada Jumat (19/3) sore.

Tak hanya itu, Raja bahkan mengaku memiliki data yang lebih kuat lagi terkait dugaanya tersebut. “Saya juga punya data dari pengacara tersebut bahwa ada aliran dana ke Pak Susno,” tegasnya.

Raja menyayangkan tuduhan-tuduhan yang dilakukan Susno terhadap dirinya karena menyangkut harga dirinya. “Saya akan menempuh langkah hukum baik pidana maupun perdata kepada Pak Susno. Secara moril saya juga dirugikan oleh pemberitaan-pemberitaan yang tidak jelas kebenarannya,” paparnya.

Sebelumnya, pada Kamis (18/3), Susno menyebut Raja sebagai salah seorang perwira tinggi Polri yang terkait dalam kasus penggelapan pajak senilai Rp25 miliar di Mabes Polri. Menanggapi tudingan tersebut, Raja pun kembali menyebut Susno sebagai seorang ‘maling teriak maling’. “Maksudnya agar Pak Susno refleksi diri dulu lah,” ungkapnya pada Jumat (19/3).

Terkait kasus penggelapan pajak tersebut, Raja menyatakan tidak sepenuhnya menanganinya. “Kasus ini sudah P-21 per 22 Oktober 2009 sedangkan saya baru menjabat Direktur 2 Ekonomi Khusus Mabes Polri per 29 Oktober 2009,” ujarnya.

Raja menambahkan bahwa penanganan kasus itu sudah pasti diketahui Susno karena merupakan atensi dari Susno sendiri. Susno pun, menurutnya, langsung mengendalikan penanganan kasus tersebut. (Mar/OL-04)

2 responses

  1. Semoga Indonesia segera bersih dari kasus2 seperti ini.

    Glutera

    Selasa, Desember 10, 2013 pukul 2:52 pm

  2. “Ini pukulan telak bagi MA, karena dari awal MA mengatakan tidak ada masalah (dalam kasus Gayus). Tidak ada pelanggaran dan tidak ada suap, tapi ternyata buktinya ada. Ini menunjukan praktek mafia hukum masih eksis sampai sekarang,” ujar peneliti hukum ICW Febri Diansyah di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (18/4/2010).

    Febri menyatakan, klaim MA telah melakukan pembersihan terhadap mafia hukum, harus diuji lagi. “Kalau begini terkesan MA memberikan perlindungan terhadap pihak bermasalah dengan mengatakan tidak ada masalah,” katanya.

    Febri menyangsikan polisi dapat menyeret aktor utama kasus Gayus Tambunan. Hal ini disebabkan polisi merupakan bagian dari kasus Gayus.
    Selain itu kejaksaan tidak jelas dalam menanggani masalah ini.

    “Jalur konvensional seperti ini pasti akan gagal dalam kondisi yang kita sebut darurat mafia ini. Sebaiknya diserahkan ke KPK agar lebih baik,” katanya.

    Rabu, Mei 5, 2010 pukul 2:52 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s