Ketika Susno Bersaksi di Pansus

Ketika Susno Duadji Bersaksi

Siapa yang menyangka diawal kasus dikenal sebagai penceloteh pertama yang menghebohkan dan membuat publik kaget  dengan istilah ” Cicak dan Buaya” ini memang betul-betul dilahirkan menjadi bintang panggung drama kolosal paling menghebohkan jagad politik nusantara dan dunia. Inilah dinamika opini publik yang memiliki banyak kemungkinan untuk berubah. Susno Duadji menyusul Yusuf Kalla dengan kesaksiannya yang sangat bagus pada hari ini di  Rapat Pansus Hak Angket Bank Century.

Masyarakat Indonesia  dan peta politik nasional  terguncang dengan tema sentral Kriminalisasi KPK Bibit dan Chandra soal Kasus Korupsi Radiokom, Pembunuhan Nasruddin (Kasus Antasari  belum jelas apakah kriminalisasi atau bukan) dan  Skandal Bank Century yang menjadi akar masalah yang sesungguhnya menjadi fokus yang tak pernah habis dibahas publik. Berbulan-bulan dan berbagai aksi massa menyoal Bibit dan Chandara sebagai awalan membebaskan KPK dari kelumpuhan hukum serta dugaan tindakan kriminalisasi, tidak terlepas dari faktor  psikologis sosial (rumor) dan sosiologis yang berkembang ditengah masyarakat, serta putusnya alat bukti (missing link), sehingga ketika kasus tersebut direkomendasikan oleh Tim 8 dianggap cacat hukum dan harus mengembalikan posisi Bibit dan Chandra sebagai  Pimpinan KPK.

Opini publik yang sempat negatif  pada Komjen Pol Susno Duadji mantan Kabareskrim Polri, barangkali soal  pernyataannya ketika  menyoal rekaman suara Anggodo yang tidak begitu jelas, dan soal penahanan Bibit dan Chandra yang tidak memiliki alat bukti yang cukup bersama dengan Kapolri ketika ditanya oleh Komisi 3 DPR RI. Menariknya  soal Bank Century yang sempat ditanggapi oleh Susno Duadji dikaitkan dengan masalah tersebut, dengan pernyataan tidak menerima suap dari kasus tersebut dan menawarkan bantuan melacak dan mengembalikan kerugian uang nasabah dari pemilik Bank Century. Dan ternyata dari hasil jejak rekam yang telah dilakukan memang telah banyak yang dilakukan sejak kasus tersebut mencuat, membuktikan bahwa ia memang menguasai masalah kejahatan perbankan (Robert Tantular) tersebut lebih bagus, bahkan dibandingkan Pejabat Bank Indonesia yang hadir beberapa waktu lalu.

Faktor menurunnya kepercayaan (trust) barangkali yang membuat Susno Duadji dicopot dari jabatanya sebagai Kabareskim Polri,  disamping tekanan psikologis dari publik diwaktu itu, sehingga Susno  merelakan lengser dari kursinya. Berita terakhir hari ini komisi kode etik telah mencabut dakwaan tersebut. Selepas dari kursinya, Susno terlihat berbeda dibandingkan sebelumnya dibawah bayang-bayang Kapolri. Lebih lepas, dan lebih lugas menyampaikan pendapatnya  yang mengagumkan di televisi, serta pernyataannya juga yang sempat membuat kalang kabut jajaran Polri dengan menjadi saksi bagi Tim Antasari, dengan menyebut dugaan adanya Tim Bayangan dalam masalah pembunuhan tersebut. Alhasil, dampak dari peristiwa tersebut Susno mendapat peringatan secara halus tidak mendapatkan fasilitas semestinya sebagai mantan Jendral. Begitupula dugaan kemungkinan ia akan bicara banyak mengenai Bank Century.

Kesaksian Susno Duadji

Kesaksian Susno Duadji untuk diminta keterangan dalam Rapat Pansus Hak Angket hari ini sudah dapat diduga menjadi sangat menarik  bagi publik, karena menyoal masalah tindakan hukum pidana dan perdata yang membelit Bank Century, yang dalam hal ini mantan Kabareskim Polri Susno Duadji tahu banyak.

Sebagai rantai jembatan perintah penahanan Robert Tantular atas kejahatan perbankan yang telah dilakukan, Susno Duadji mendapatkan perintah langsung dari Kapolri dan Wapres Yusuf Kalla, dengan tuduhan pada waktu itu menggelapkan uang nasabah sebesar 1,3 T dari deposito PT. Antaboga. Kasus lainnya kemudian menyusul ketika Bank Centuri kalah kliring akibat kalah valas dan dinyatakan bangkrut yaitu;  penggelapan uang nasabah,   sekuritas palsu, kredit fiktif, dan LC fiktif, (waktu itu belum termasuk masalah dugaan korupsi aliran Bailout 6,7 T).  Secara garis besar skandal Bank Century terdiri dari kejahatan perbankan, penyalahgunaan UU, dan delik aduan dugaan korupsi uang negara.

Kesalahan Robert Tantular sangat berat dan menurut Susno Duadji telah berulangkali dilakukan sejak tahun 2004, namun sayangnya pihak Bank Indonesia tidak pernah memberi peringatan keras. Soal hukuman yang ringan hanya 5 tahun ini juga barangkali tidak memberikan efek jera bagi pelaku.

Susno mengaku hanya menangani masalah uang nasabah yang dirugikan termasuk BUMN, dan baru tahap lidik untuk masalah dugaan korupsi aliran dana Bailout tersebut. Kesaksian lainnya pernyataan Hesham Al Waraq dan Ravat Ali Rizvi dari luar negeri pada bulan Juni yang akan mengganti uang nasabah yang dirugikan dan tidak perlu sesungguhnya mendapatkan suntikan dana dari pemerintah untuk disehatkan.Hal ini disebabkan kedua pemilik Bank Century yang berada di luarnegeri tersebut telah dikunci oleh Interpol, sehingga tidak dapat membuka simpanan mereka di Bank Swiss   sebesar 200 juta dollar.

Sempat disampaikan pada Menteri Keuangan Sri Mulyani melalui surat dua kali,  namun tidak mendapat tanggapan serius, bahkan yang terjadi kemudian pada bulan Juli dana talangan tersebut  akhirnya dikucurkan oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Surat tersebut adalah surat dari Hesham Al Waraq dan Ravat Ali Rizvi tertanggal 3 Juni 2009 yang pada intinya menyatakan keinginan kedua pemegang saham Century itu membantu Pemerintah Indonesia menyelesaikan masalah Bank Century. Surat ini masih kontroversi karena Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan tidak pernah menerima surat dari Komjen Susno Duadji, seperti yang disampaikan Susno kepada Panitia Khusus Hak Angket Bank Century, Rabu (20/1/2010) siang. Namun, fotocopi surat ini benar pernah ditunjukan Susno Duadji pada Rapat Koordinasi Terbatas. Rapat itu dihadiri antara lain wakil-wakil dari Kejaksaan Agung, kepolisian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), PPATK, dan direksi Bank Century.

Pada kesempatan tersebut, Susno menyampaikan bahwa dirinya sebagai Kabareskrim Mabes Polri menerima surat dari Hesham Al Waraq dan Ravat Ali Rizvi tertanggal 3 Juni 2009 itu. Surya menegaskan, surat dari Hesham dan Ravat tersebut tidak pernah disampaikan kepada Menteri Keuangan, tetapi hanya ditunjukkan saja pada rapat yang digelar pada 22 Juni 2009 (Kompas 20 Januari 2010).

Para penanya dari berbagai fraksi di Pansus ini umumnya sangat cerdas, meskipun masih saja selalu ada diwarnai ketegangan  dengan Ruhut Sitompul. Publik sekarang mulai memahami akar masalah sebenarnya dengan baik.

Demikian cuplikan berita ini lebih lanjut dapat anda ikuti di http://www.nusantaranews.wordpress.com, begitupula jika ingin mendapatkan hasil rekaman langsung dari You Tube secara lengkap  (Sumber Metro TV dan Nusantara News), klik kata kunci  Susno Duadji Bersaksi di Pansus terdiri dari 11 episode.





One response

  1. darahbiroe

    bingung dengan para penguasa negeri ini

    berkunjung n di tunggu ea kunjungan baliknya heheh makasih

    Kamis, Januari 21, 2010 pukul 11:14 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s