Hari Asyura-Syahid Di Padang Karbala

Hari Asyura Mengenang Syahidnya Cucu Nabi Muhammad

Hari Asyura (عاشوراء ) adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Sedangkan asyura sendiri berarti kesepuluh. Hari ini menjadi terkenal karena bagi kalangan Syiah dan sebagian Sufi merupakan hari berkabungnya atas kesyahidan  Husain bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad SAW pada pertempuran Karbala  yang tidak seimbang tahun 61 H (680). Sedangkan kaum Sunni meyakini bahwa Nabi Musa  berpuasa pada hari tersebut untuk mengekspresikan kegembiraan kepada Tuhan karena kaum Yahudi sudah terbebas dari Fira’un (Exodus). Menurut tradisi Sunni, Nabi Muhammad berpuasa pada hari tersebut dan meminta orang-orang pula untuk berpuasa. Kewaskitaan Nabi Muhammad tidak diragukan lagi mengenai peristiwa tersebut bahkan ketika Abu Sofyan akan mempunyai anak yaitu Muawiyah telah diramalkan akan  membunuh keturunnya kelak.

Dalam kisah tarikh khulafaurrasyidin diceritakan, saat Imam Hussain menggendong bayi berumur enam bulan, Ali Al-Ashgar, putranya, kehausan karena saluran air yang menuju kemahnya ditutup sejak 7 Muharram. Bayi yang menangis kehausan itu tak sempat menikmati tetesan air  Sungai Eufrat, karena keburu mati kena anak panah beracun yang melesat dari busur tentara Yazid bin Muawiyah, menembus leher bayi itu saat Imam Hussain akan mengambil air dari sungai.

Pada 7 Muharram 61 Hijiriyah, kuda Hussain secara aneh berhenti dan tidak mau bergerak lebih jauh lagi. Saat itu dan rombongannya berencana menuju Kufah, sekitar 80 kilometer lagi. Setelah berhentinya kuda, Imam Hussain menyatakan: ”Inilah tanah itu, tanah penderitaan dan penyiksaan.”

Dalam buku 14 Manusia Suci terbitan Pustaka Hidayah, Jakarta, 1990, diceritakan Hussain turun dari kudanya dan memerintahkan pengikut-pengikutnya berkemah di tempat itu dengan mengatakan, ”Di sinilah kita akan syahid dan anak-anak kita akan dibunuh. Di sini kemah kita akan dibakar dan keluarga kita akan ditawan. Inilah tanah di mana datukku, Rasulullah, telah meramalkan, dan ramalannya pasti terpenuhi.”

Asyura berasal dari kara asyrah, sepuluh. Alkisah, pada waktu fajar 10 Muharram 61 Hijiriyah, Hussain melihat pasukan Yazid, sang komandan Umar bin Sa’ad memerintahkan pasukannya bergerak menyerang kemah Hussain. Melihat itu Hussain segera mengumpulkan pengikut-pengikutnya. ”Hari ini Allah telah mengizinkan kita untuk melaksanakan perang suci, dan Dia akan memberikan pahala atas kesyahidan kita. Maka siapkanlah diri kalian untuk berperang melawan musuh Islam dengan kesabaran dan perlawanan,”katanya.

“Wahai para putra orang-orang mulia dan mempunyai harga diri, bersabarlah. Kematian tak lain hanyalah jembatan yang harus kalian seberangi setelah menghadapi cobaan dan godaan, untuk mencapai surga dan kesenangan,”ujar Hussain. Ajakan dan pidato Hussain menuju kesyahidan disambut para pengikutnya. ”Wahai pemimpin, kami siap untuk membela Anda dan ahlul bait Anda, serta siap mengorbankan jiwa kami untuk Islam,”katanya serempak.

Seorang demi seorang keluar dari lingkungan kemah dan berperang melawan tentara Yazid. Mereka gugur satu per satu di Padang Karbala. Tangan Hussain tertembus panah saat memegang bayi berusia enam bulan yang akan diberi minum air Sungai Eufrat. Hussain lalu bertempur dengan pasukan yang bengis itu. Pasukan Yazid berhasil membunuh Imam Hussain. Mereka menusuk dan memotong kepalanya. Lalu dengan tombak potongan kepala itu dibawa keliling padang tandus itu, sambil menyebut ”Allahu Akbar.” Itulah tragisnya perang saudara di Padang Karbala dalam kancah politik berebut kekuasaan saat itu. Karena itu, sejumlah ulama tidak melihat masalah yang terjadi antara sahabat Rasulullah dalam konteks agama, karena itu problematika politik yang bisa terjadi pada siapa saja.

Bubur Asyura

Ribuan muslim Syiah setiap tanggal itu memperingati di kota Karbala. Begitu pula kesibukan umat Islam di Tanah Air, sebagian umat Islam khususnya penganut paham Ahlus Sunah Waljamaah memperingati Asyura juga terasa. Di masjid dan musala ditandai dengan kegiatan membaca wirid. Misalnya dengan membaca Surat Al-Ikhlas, wirid doa meminta perlindungan kepada Allah SWT, sampai ke sedekah kepada fakir miskin dan makan bersama dengan bubur (jenang) merah atau putih.

ASYURA atau tanggal 10 Muharam tak hanya dikenal di kalangan orang Syiah. Kaum muslim di Indonesia, yang mayoritas penganut Ahlus Sunnah Waljamaah, juga mengenal peringatan itu. Bahkan, ada tradisi di Jawa membuat bubur yang disajikan untuk bersedekah yang disebut bubur Asyura. Hal itu dilakukan setelah melakukan puasa sunah pada tanggal tasu’a (9 Muharam) dan asyura (10 Muharam).

Tentu saja ritual ibadah juga dilakukan dengan membaca ayat Alquran tertentu, seperti surat Al-Ikhlas dan doa yang isinya meminta pertolongan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai bencana. Artinya, selain penganut ajaran Syiah, muslim di Indonesia juga mengenal peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 10 Muharam tersebut.

Asyura (10 Muharram) di Indonesia, hari yang satu ini mungkin tak terlalu dianggap istimewa. Paling-paling hanya di beberapa daerah yang dirayakan cukup istimewa, karena sudah menjadi tradisi daerah tersebut. Beberapa daerah lain juga merayakannya, namun lebih seringnya berupa perayaan yang sederhana, hikmat, dan jauh dari hiruk-pikuk perlawanan. Lain halnya di beberapa wilayah Timur Tengah (terutama yang mayoritasnya adalah penganut Syi’ah), ternyata Hari ‘Asyura dirayakan dengan spirit perjuangan, perlawanan terhadap kezaliman penguasa dan penjajah, penuh dengan darah dan pengorbanan.

Spirit ‘Asyura inilah yang telah mengobarkan Revolusi Iran. Hal yang sama juga menginspirasi para pejuang di Iraq dan Afghanistan untuk terus melakukan perlawanan terhadap kezaliman dan penjajahan yang hingga kini masih mendera negeri mereka. Mudah-mudahan spirit Asyura juga menjadi salah satu landasan perjuangan rakyat Palestina yang hingga kini masih terjajah di negeri tumpah darah mereka sendiri oleh Bangsa Israel. Israel merupakan bangsa barbarian dan nomaden yang dari dulu hingga kini tak pernah memiliki negeri sendiri.

Jika membayangkan apa yang terjadi dengan Bangsa Palestina kini, mungkin kita juga bisa membayangkan apa yang terjadi dengan pasukan Imam Husayn ibn Ali ibn Abi Thalib (cucu Rasulullah) yang dibantai di Karbala-Iraq oleh pasukan Yazid ibn Muawiyah. Jumlah pasukan Imam Husayn hanya kurang lebih 70 orang, sedangkan pasukan pembantainya berjumlah 30.000 orang. Inilah perang yang tidak seimbang.

Apa yang terjadi di Karbala pada masa lalu, kini terjadi lagi di Negeri Palestina. Sejarah memang selalu berulang. Genangan darah sepertinya tak pernah mau kering di negeri para nabi ini. Semoga kedamaian akan segera diraih oleh Bangsa Palestina.

Pada Hari ‘Asyura, di Iran kita akan mendengar teriakan, Kullu yaumin ‘Asyura, Kullu Syahrin Muharram, Kullu Ardhin Karbala (Setiap hari adalah ‘Asyura, setiap bulan adalah Muharram, dan setiap tempat adalah Karbala).

Dari berbagai sumber

Surat Terakhir Muawiyah Kepada Yazid

Kepada putraku, Yazid

Tak pelak, kematian adalah peristiwa yang sungguh menyeramkan dan sangat merugikan bagi seorang lelaki (berkuasa) seperti ayahmu. Namun, biarkanlah, semua peran telah kumainkan. Semua impianku telah kuukirkan pada kening sejarah, dan semuanya telah terjadi. Aku sangat bangga telah berjaya membangun kekuasaan atas nama para leluhur Umayyah.

Namun, yang kini membuatku gundah dan tak nyenyak tidur adalah nasib dan kelanggengannya pada masa-masa mendatang. Maka camkanlah, putraku, meski tubuh ayahmu telah terbujur dalam perut bumi, kekuasan ini, sebagaimana yang diinginkan Abu Sufyan dan seluruh orang, haruslah menjadi hak abadi putra-putra dan keturunanku.

Demi mempertahankannya, beberapa langkah mesti kau ambil. Berikan perhatian istimewa kepada warga Syam. Penuhi seluruh kebutuhan dan saran-saran mereka. Kelak mereka dapat kau jadikan sebagai tumbal dan perisai. Mereka akan menjadi serdadu-serdadu berdarah dingin yang setia padamu.

Namun, ketahuilah, kedudukan dan kekuasaan ini adalah incaran banyak orang bak seekor kelinci manis di tengah segerombolan serigala lapar. Maka, waspadalah terhadap empat tokoh masyarakat yang kusebutkan di bawah ini:

Pertama adalah ‘Abdurrahman putra Abubakar. Pesanku, jangan terlalu khawatir menghadapinya. Ia mudah dibius dengan harta dan gemerlap pesta. Benamkan dia dalam kesenangan, dan seketika ia menjadi dungu, bahkan menjadi pendukungmu.

Kedua adalah ‘Abdullah putra ‘Umar bin al-Khaththab. Ia, menurut pengakuannya, hanya peduli pada agama dan akhirat, seperti mendalami dan mengajarkan al-Qur’an dan mengurung diri dalam mihrab masjid. Aku meramalkan, ia tidaklah terlalu berbahaya bagi kedudukanmu, karena dunia di matanya adalah kotor, sedangkan janji-janji Muhammad adalah harapan pertama dan terakhir. Biarkan putra rekanku ini larut dalam komat-kamitnya!

Ketiga adalah ‘Abdullah putra Zubair. Ia seperti ayahnya. Bisa memainkan dua peran, serigala dan harimau. Pantaulah selalu gerak-geriknya. Jika berperan sebagai serigala, ia hanya melahap sisa-sisa makanan harimau dan tidak mengusikmu. Apabila memperlihatkan sikap lunak, sertakanlah cucu Al-’Awam ini dalam rapat-rapat pemerintahanmu. Namun, jika ia berperan sebagai harimau, yaitu berambisi merebut kekuasaanmu, maka janganlah mengulur-ulur waktu untuk mengemasnya dalam keranda. Ia adalah bangsawan yang cukup berani dan cerdik.

Keempat adalah al-Husain putra ‘Ali bin Abi Thalib. Sengaja aku letakkan namanya pada urutan terakhir, karena ayahmu ingin mengulasnya lebih panjang. Nasib kekuasaanmu sangat ditentukan oleh sikap dan caramu dalam menghadapinya. Bila kuingat namanya, aku ingat pada kakek, ayah, ibu dan saudara-saudaranya. Bila semua itu teringat, maka serasa sebongkah kayu menghantam kepalaku dan jilatan api cemburu membakar jiwaku. Putra kedua musuh abadiku ini akan menjadi pusat perhatian dan tumpuan harapan masyarakat.

Pesanku, sementara, bersikaplah lembut padanya, karena, sebagaimana Kau sendiri ketahui, darah Muhammad mengalir di tubuhnya. Ia pria satria, putra pangeran jawara, cucu penghulu para satria. Ia pandai, berpenampilan sangat menarik, dan gagah. Ia mempunyai semua alasan untuk disegani, dihormati, dan ditaati.

Namun, bila sikap tegas dibutuhkan dan keadaan telah mendesak, Kau harus mempertahankan kekuasaan yang telah kuperoleh dengan susah payah ini, apapun akibatnya, tak terkecuali menebas batang leher al-Husain dan menyediakan sebidang tanah untuk menanam seluruh keluarga dan pengikutnya.

Demikianlah surat pesan ayahmu yang ditulis dalam keadaan sakit. Harapanku, Kau siap melaksanakan pesan-pesanku tersebut.

(dikutip dari buku Husain, Sang Ksatria langit, Penerbit Lentera. Sumber: Maqtal al-Husain, Hal. 175 karya Al-Kahwarizmi dan Maqtal Abu Mikhnaf )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s