Hari HAM dan Hukuman Mati

Hari HAM dan Kemanusiaan, Extra Ordinary dan Hukuman Mati

Hari Ham Se-Dunia termasuk Indonesia diperingati setiap tanggal 10 Desember. Kali ini ditahun 2009  diperingati pula dengan semarak. Bagi pelaku sejarah sumbangan setahun sekali Hari Ham di Indonesia diakui secara jujur memberikan andil dimasa Orde Baru  memberikan perlawanan terhadap  tirani  kemanusiaan yang dilakukan Soeharto dan antek-anteknya, ketika pada masa dekade 90-an.

Dimensi Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan dimaknai sebagai nilai  yang sangat universal diakui seluruh dunia oleh banyak aktivis terutama LSM. Namun tidak selalu demikian hal tersebut disepakati seluruhnya. Saya mengakui secara jujur perbedaan pandangan tersebut dalam perspektif yang  berbeda dengan kawan-kawan penggiat Kemanusiaan ditanah air dengan kawan-kawan lainnya yang berbeda mahzab.

Perbedaan pendapat tersebut dilatar belakangi oleh cara pandang dan titik tolak melihat HAM dan Kemanusiaan dari kacamata agama (Islam) dan strategi perjuangan mencapai tujuan (melawan hukum  untuk kebaikan atau dalam kondisi perang untuk mencapai keadilan). Diakui atau tidak bahwa perbedaan ini tidak terlalu signifikan karena dalam frame yang sama, namun cukup membuat perbedaan tersebut merepotkan. Contohnya adalah perbedaan mengenai hukuman mati bagi pejahat kelas kakap pengedar narkoba, pembunuh sadis, dan koruptor. Sementara itu para aktivis HAM dan Kemanusiaan menolak hukuman mati diberlakukan di Indonesia, bahkan juga ketika  pembunuh dedengkot HAM alm. Munir yaitu Polycarpus tertangkap dan diancam hukuman mati.

Dalam tradisi Islam ada yang disebut hukuman Qishas (hukuman setimpal dengan perbuatan) yang apabila keluarga korban dirugikan secara pribadi dan skala perbuatan yang berdampak pada kepentingan umum tersebut menjatuhkan hukuman mati.

Inilah barangkali pekerjaan rumah tersebut dimana peran negara dan agama pada sisi itu berbeda dengan aktivis HAM. Disisi lain bisa jadi berbeda posisi tersebut dimana ketika peran negara yang diwakili pemerintah tidak lagi memenuhi aspirasi masyarakat, posisi peran Islam  bisa jadi berlawanan dengan pemerintah, bergandengan tangan dengan aktivis HAM atau bisa juga berbeda.  Begitupula kelompok lain yang berbeda dengan pemerintah, agama, aktivis HAM, atau salah satu atau keduanya memiliki kepentingan yang sama.

Dalam banyak  kasus tragedi kemanusiaan di Indonesia baik dimasa lalu hingga sekarang saya meyakini kita semua sepakat untuk diusut tuntas dan diadili. Karena kejahatan diluar batas kemanusiaan  atas nama apapun akan dikecam oleh semua aliran yang berpatokan pada nilai kebenaran dan keadilan. Saya mengucapkan Selamat Hari HAM dan Kemanusiaan, semoga kejahatan hilang dan dapat kita kurangi dari Indonesia dan seluruh dunia.

==================================

Baca berita terkait

Hari HAM 10 Desember, Pagelaran Budaya Ramaikan Silang Monas
Muhammad Taufiqqurahman – detikNews


Jakarta – Sehari setelah Hari Antikorupsi Sedunia 9 Desember kemarin, masyarakat sipil kembali akan merayakan sebuah peringatan yang tak kalah pentingnya, yakni Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia yang jatuh hari ini, 10 Desember. Berbagai pagelaran budaya akan menyambut hari diproklamasikannya The Universal Declaration of Human Rights 60 tahun silam.

Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid, mengatakan acara pagelaran buadaya akan dilangsungkan di Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (10/12/2009) pukul 11.00 WIB. Akan ditampilkan musik dari petani dari Megelang, Jawa Tengah dan juga dari beberapa musisi.

“Kita perkirakan akan ada ribuan petani, buruh yang akan ikut dala aksi ini. Kami ingin buktikan bahwa mereka betul-betul meminta perhatian dari pemerintah,” kata Usman saat berbincang dengan detikcom via telepon.

Usman menjelaskan, peringatan Hari HAM Sedunia kali ini akan difokuskan pada tuntutan keadilan bagi rakyat kecil seperti petani, buruh, orang miskin, dan kaum minoritas.

“Kita memperingati HAM dengan mengarahkan pada tuntutan keadilan bagi rakyat kecil. Kasus pelanggaran HAM pada perempuan dalam beberapa tahun ini juga mengemuka,” ujar Usman.

Di Indonesia, lanjut Usman, realitas hukum yang juga menjadi nafas bagi penegakan HAM yang sekarang yang terjadi, lebih condong dan dekat pada kekuasaan. Sehingga, kasus seperti Prita, Khoe Seng Seng, dan Nenek Minah bisa marak terjadi.

“Banyak lagi kasus yang menunjukkan keadilan tidak berpihak pada orang kecil. Karena hukum digunakan untuk orang besar dan punya dana yang besar untuk menyewa pengacara-pengacara,” katanya.

(fiq/lrn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s