Bedah Kasus Skandal Bank Century

BEDAH  KASUS SKANDAL BANK CENTURY

Gonjang ganjing Skandal  Bank Century  ternyata sangat menarik untuk kita bedah singkat, selain masalah kriminalitas perbankan yang dilakukan Bank Century,  saya menyimpulkan terdiri dari 3 point secara garis besar; 1) Kebijakan politik bailout/suntikan 6,7 trilun, 2) Prosedur 3) Skema aliran dana.

Sebetulnya dari  rekomendasi  BPK RI 23 November 2009 lalu  di DPR RI  mengenai hasil audit BPK terhadap Bank Century tahap pertama dapat diduga bersikap tegas telah terjadi penyimpangan  (Kompas,23/11/2009).  Sederhana namun ini sah 100 % dapat menjungkalkan Boediona sebagai Wapres dan Sri Mulyani  Menteri Keuangan, karena pada periode pemerintahan yang lalu  Budiono sebagai Gubernur BI dan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan adalah orang yang bertanggung jawab penuh kucuran kredit  tersebut dari LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) dengan rekomendasi Bank Indonesia melalui keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang mereka pimpin.

Secara prosedural BI (Bank Indonesia) juga telah melakukan kesalahan fatal, dan BPK memberikan laporan kesalahan yang cukup proporsonal (Detik Finance, 23/11/2009). Sayangnya BPK pada bagian poin ke 3 mengenai skema aliran dana Bank Century BPK hanya menduga 500 m tidak secara rinci, karena PPATK memberikan data tidak begitu detail.

Mengenai isu rumor 1,8 T dari LSM Bendera (Primair Online) adanya bocoran dana yang masuk kekantung pribadi, lembaga, dan mafia politik sejumlah 11 orang, hingga kini  PPATK masih menelusuri dan BPK dengan dugaan 500 milyard.  PPATK sendiri mensinyalir benar ada beberapa indikasi diselewengkan. Saya percaya  data dari Bendera belum valid dan akan terkena pinalty dari orang yang bersangkutan. Namun sebatas laporan ini harus diperiksa dugaan  kebocoran tersebut dan KPK nampaknya akan kerja ekstra keras (Kompas, 4/12/2009). Secara   kasat mata dana 6,7 trilyun dana yang digelontorkan tersebut memang terlalu besar sangat rawan kebocoran. Dan anehnya banyak juga nasabah yang merasa tidak mendapatkan apa-apa dari hasil dana talangan tersebut. Jadi kemana dan buat apa saja sebenarnya dana talangan tersebut.

Soal Perpu no. 4 / 2008 yang menjadi payung hukum kebijakan Bailout ini menarik dan lebih dari mafia peradilan menurut Farhat Abbas Dosen dari Unpad Bandung. Begitupula pendapat dari Pakar Ekonomi UGM Ichsanuddin Noorsy di TV. One yang mempersoalkan kebijakan ini sangat tidak logis dan rasional, dengan dasar argumentasi dampak sistemik yang akan merembet pada bank-bank lainnya  dan perekonomian ini jelas sangat tidak rasional karena awalnya adalah kasus mikro, kasus kecil yang tidak berdampak sistemik.

HABIS TERANG TERBITLAH GELAP

Pertarungan para auditor dan investigator (PPATK, BPK, KPK)  patut kita hargai namun sekali lagi tidak selalu dimaknai dengan independensi dan profesionalisme pada proses dan titik akhir meskipun sudah memaparkan data apa adanya atau ada yang harus diduga ditutupi (Sinar Indonesia Baru, 26/11/2009), plus ditambah laporan elemen masyarakat. Kecurigaan harus tetap dijaga dalam koridor yang benar dengan akal sehat dan intuisi. Karena siapa tahu pada babak terakhir proses politik (domain DPR) dan penegakan hukum (Kejagung, Polri, KPK)  sesungguhnya telah terjadi kompromi besar-besaran untuk mencegah terjadinya disintegrasi bangsa. Meminjam filosofi  dari Ibu Kita Kartini yang dibalik,  “ Habis Terang Terbitlah Gelap “, sekaligus pula  membalikan statement SBY yang mengatakan, ” Buatlah Segalanya Terang Benderang“.

SBY  tipikal demokrat dan moderat tetapi ia harus sadar resiko dan konsekwensinya, minimal 2 (dua) orang pembantu terdekatnya harus ia non aktifkan dan copot untuk point 1 dan 2, apalagi yang point ke 3. Saya tidak dapat membayangkan jika itu benar sedikitnya  pasti ada seperti yang disinyalir PPATK, dan BPK juga telah menyatakan sebesar 500 M terhadap seorang nasabah yang diduga menjadi mafia. Begitupula menyoal kebijakan berdasarkan Perpu no.04 tahun 2008 yang menjadi payung hukum korupsi ini dapat dipersoalkan secara serius karena merupakan mafia perpu yang lebih dari mafia lainnya.

Mengenai ranah politik fraksi Partai Demokrat akan muntang manting dan masuk angin (syukur tidak sakit perut), jika mereka tidak berjiwa legowo.   Sekali lagi minimal SBY dan Partai Demokrat harus sudah siap mental kehilangan 1 (satu) orang Wapres dan 1 (satu) orang Menkeu. Ini pembelajaran demokrasi garis batas itu harus jelas, mari kita lihat waktu yang berbicara untuk skandal tersebut.

ASSET 11-13  TRILYUN ASSET  BANK CENTURY DI LUAR NEGERI

Melihat fenomena kejadian secara kronologis terbaca bahwa kasus Bank Century ini adalah kasus penipuan dan perampokan besar-besaran uang nasabahnya (Suara Surabaya, 30/11/2009). Saya sependapat dengan Kwik Kian Gie  yang mengupas dari awal dan jernih. Kini tugas berat bagi  Polri dengan Kabag Reskim Baru Ito Sumardi  dan Kejagung melakukan kordinasi recovery menangkap serta mensita asset mereka yang ternyata berdasarkan laporan terakhir, besarnya 11,6-13  Trilyun di luar negeri yang diduga dilarikan dan pencucian uang (money laundring)  (Republika,4/12/2009).

Informasi terakhir 13  Trilyun (Media Indonesia, 30 Nov. 2009) ini harus digarap benar kita berharap pada Kabag Reskim yang baru Ito Sumardi dan Kejagung begitupula PPATK yang juga ikut mengejar aliran dana tersebut hingga ke luar negeri yang diduga  disimpan di 13 negara, di antaranya Inggris, Hong Kong, dan Singapura. Aset senilai Rp 11 triliun itu diparkir di luar negeri oleh tiga pemilik Bank Century, yaitu Robert Tantular, Hesham Alwarraq, dan Rafat Ali Rizvi (Koran Tempo,3/12/2009).

Pantas Kabag Reskim yang lama Susno Djuadi ketika  berhadapan dengan Komisi 3 DPR RI bicara tentang Bank Century meskipun tidak ada relevansinya dengan pemanggilannya terkait rekaman suara Anggodo di Gedung MK, sangat tidak nyambung, dan malah menawarkan diri sebagai makelar untuk pengembalian aset tersebut dari pemilik yang melarikan diri. Ini tentu juga sangat mengherankan, ada apa sebenarnya dibalik kriminalisasi Bibit Chandra dengan Bank Century.

HUKUM HARUS DITEGAKAN DENGAN ADIL

Pengembalian aset Bank Century semoga ini dapat menyelamatkan uang negara sebesar 6, 7 Trilyun, namun proses hukum tindak pidana kriminal ini harus tetap jalan terus. Jangan kemudian yang terjadi adalah semacam barter politik,  ekonomi, dan hukum (bargaining of power) antara banyak pihak yang terlibat dengan kasus tersebut (Sinar Indonesia Baru, 26/11/2009).

Dana tersebut memang bukan dari APBN tetapi dari LPS yang ujungnya merupakan dana BI milik rakyat juga, secara  simultan ini juga mempengaruhi perekonomian negara  dan investasi ditanam yang kian berkurang, yang rugi adalah pemerintah dengan menalangi Bank Century. Belum tentu pengembalian hutang tersebut dalam tempo singkat dapat kembali  dalam waktu  5 tahun. Jadi terlalu mengada-ada sekali pemerintah ketika pada awalnya melakukan bail out, kasus Bank Century akan membawa efek domino dan sistemik terhadap bank lainnya seperti krisis multidimensi tahun 1997-1998, apalagi ditambah dikaitkan situasi Amerika Serikat. Logika yang salah lagi dan berbeda dengan situasi yang dihadapi. Fundamental ekonomi kita masih cukup kuat dan pengaruh krisis finansial hanya 20 % ekspor kita ke AS.

Saya membayangkan jika saja tidak ada kejahatan kriminal  Bank Century dan kebijakan yang salah kaprah dari pemerintah, maka  dana 6,7 Trilyun tersebut dapat digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, tentu ini akan lebih bermanfaat bagi bangsa ini.

Teguh Iman Prasetya

Sumber Media :

  1. Detik Finance, 23/11/2009
  2. Republika,4/12/2009
  3. Koran Tempo
  4. Kompas,23/11/2009
  5. Sinar Indonesia Baru, 26/11/2009
  6. Suara Surabaya, 30/11/2009
  7. Media Indonesia, 30 Nov. 2009
  8. Primair Online
  9. http://nusantaranews.wordpress.com

Dasar Hukum Bailout

  1. Perpu No. 4/2008
  2. Kajian Kritis Lsm Soal Perpu No. 4/2008

Bookmark and Share

5 responses

  1. Assalamu Alaikum, maaf pak saya izin copy tulisan bapak sebagai bahan tugas saya. terima kasih.

    Rabu, Oktober 1, 2014 pukul 1:36 pm

  2. Sedih juga mendengar perjalanan bangsa kita ini, namun apa mau dikata….mungkin proses ini harus dilewati untuk Indonesia yang lebih baik.
    sebagai rakyat kecil saya berharap ada hikmah yang bisa kita petik dari semua ini….

    Kamis, November 18, 2010 pukul 2:33 pm

  3. Salsabilla Al Fanny Zaen

    Assalamua’laikum wr.wb.
    Pak, saya Salsabilla mahasiswi untirta ilmu komunikasi kelas 1A.
    saya ingin menyerahkan hasil tugas artikel sosiologi saya,,
    ada di blog saya,,ini blog nya http://abilndutz.blogspot.com/

    jika ada yang kurang jelas,,bapak bisa hub saya lewat email.
    terima kasih.

    Rabu, Desember 9, 2009 pukul 2:16 pm

  4. assalamualaikum wr. wb.
    pa saya Toebagoes Achmad Vilvil mahasiswa ilmu komunikasi untirta kelas 1A ,,,
    saya ingin menyerahkan hasil tugas saya ..
    bapak tinggal lihat saja d’blog saya ,,
    terimaksih

    Rabu, Desember 9, 2009 pukul 11:51 am

  5. assalamualaikum wr. wb.
    pa saya huda alfiansyah mahasiswa ilmu komunikasi untirta kelas 1A ,,,
    saya mw menyerahkan hasil tugas saya ..
    bapak tinggal lihat saja d’blog saya ,,
    terimaksih

    Senin, Desember 7, 2009 pukul 7:49 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s