Budaya Lokal Kita Sering Di Curi Malaysia

bakarbendera-malaysiaSERANG | Aksi protes dari tanah air atas klaim yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia terhadap tari pendet terus bergulir. Sekelompok mahasiswa Banten yang tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa (FAM) UNTIRTA, IAIN dan PMII Untirta Banten turun ke jalan menuntut pemerintah memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Dalam aksi yang berlangsung selama hanya 15 menit di depan kantor Walikota Serang itu, para aktifis sempat membakar bendera Malaysia. Akibatnya sempat terjadi kemacetan di sekitar Jalan Jenderal Sudirman Serang.

“Pemerintah Malasia termasuk pemerintah yang tak berbudaya, karena mereka telah berkali-kali mengklaim budaya negara lain menjadi budaya mereka,” dalam orasi yang di sampaikan koordinator FAM, Ali Suro.

Menurutnya, selain tari pendet Bali , sudah banyak budaya Indonesia yang telah di klaim sebagai budaya Malaysia antara lain, reog ponorogo, batik dan lagu Rasa Sayange dari Ambon.

“Untuk itu kami mendesak agar Presiden SBY segera mengusir Duta Besar Malaysia dari Jakarta dan menarik Duta Besar RI di Kuala Lumpur sebagai peringatan keras bagi Pemerintah Malaysia. Kami juga mendesak agar pemerintah segera memulangkan seluruh TKI yang ada di Malaysia untuk dikirim ke negara lain dengan tingkat upah yang jauh lebih tinggi, bila semua langkah tersebut dilakukan secara serentak saya yakin pemerintah Malaysia akan kelabakan,” katanya.

Namun sebaliknya, kata Ali Suro, apabila pemerintah Indonesia lamban dalam menyikapi pencaplokan klaim tari Pendet tersebut, maka akan menjadi preseden buruk bagi bangsa Indonesia. Sebab di masa mendatang pemerintah Malaysia akan berbuat hal serupa atau yang lebih buruk lagi.

Koran Banten 26 Agustus 2009 (Herizal)

Tari Pendet dan Fenomena Kecolongan Budaya

— Juma Darmapoetra*

ENTAH apa yang akan terjadi kalau satu per satu khazanah seni dan budaya Indonesia “diangkut” ke negeri orang. Relakah kita, seandainya hasil kreativitas kita diakui dan diklaim orang lain yang tidak mengetahui hal-ihwal hasil kreativitas tersebut?

Geger klaim seni dan budaya kembali mengguncang Indonesia. Beberapa hari yang lalu, Malaysia kembali berulah dengan meletakkan Tari Pendet Bali pada iklan Visit to Malaysia. Fenomena pencurian kesenian dan kebudayaan oleh Malaysia, tentu bukanlah yang pertama atau yang terakhir. Sebelumnya, Malaysia telah mengklaim tari reog Ponorogo dengan sebutan tari barongan, lagu Rasa Sayange dari Ambon dijadikan jingle pariwisata Malaysia, angklung, keris, batik, dan lagu Es Lilin asli Sunda.

Tari Pendet dalam iklan pariwisata Malaysia telah mengundang geger dan aksi protes dari dalam negeri. Misalnya, di Denpasar puluhan seniman Bali melancarkan aksi protes kepada Ida Ayu Agung Mas, anggota DPRD di Taman Budaya Bali, Sabtu (22/8). Aksi protes para seniman menuntut agar pemerintah mempertahankan kesenian tradisional asli Indonesia, baik dengan mendata maupun pendaftaran ulang. Dengan demikian, negara lain tidak akan mudah mengklaimnya.

Klaim Tari Pendet dalam iklan komersial pariwisata Malaysia sebenarnya telah terjadi sejak 2007. Ini dilakukan oleh dua alumnus ISI Denpasar, yang bernama Lusia dan Wiwik, yang pengambilan gambarnya dilakukan oleh Bali Record (Republika, 23/8/2009)

Tari pendet merupakan bagian spiritualitas masyarakat Bali sejak ratusan tahun yang lalu. Tari pendet awalnya dipertunjukkan pada ritual keagamaan di sebuah pura untuk menyambut turunnya dewi kahyangan ke bumi. Namun, seiring perkembangan, tari pendet sering digunakan seniman sebagai “ucapan selamat datang”, yang masih kental dengan anasir religius dan nilai sakral. Bunga disebarkan di hadapan para tamu sebagai ungkapan selamat datang.

Tari pendet merupakan ekspresi persembahan dalam bentuk upacara tarian. Tarian ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Tarian ini, yang sering dibawakan penari putri, memiliki pola gerak lebih dinamis dari tari rejang yang dibawakan secara berkelompok. Tari pendet biasanya ditampilkan setelah tari rejang di halaman pura, dengan menghadap ke arah suci (pelinggih). Dengan pakaian adat Bali, diiringi musik gamelan, para penari bergerak gemulai mengiringi musik gamelan. Mereka menari seraya membawa mangkuk perak (bokor) berisi canang sari, bunga, dan kwangen. Ada pula yang membawa tempat air suci (sangkhu), kendi, dan perapian (pasepan). Pada akhir tarian, para penari meletakkan sajian, canang sari, dan kwangen sambil menaburkan bunga tanda penghormatan.

Tari pendet merupakan simbol keagungan dan budaya adiluhung bangsa, terutama Bali. Karena tarian ini menjadi identitas dan simbol tradisi budaya Hindu Bali, maka ketika ada klaim terhadap tari pendet, ini akan mengakibatkan hilangnya salah satu anasir tradisi Hindu Bali, yaitu sebuah eksistensi penghormatan terhadap dewa-dewi kahyangan yang turun ke bumi.

Berakar Kuat

Tari pendet merupakan kesenian tradisional asli Bali yang telah berakar kuat dalam khazanah budaya Bali. Menurut Wayan Dibia MA, Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari pendet merupakan salah satu tarian yang paling tua di antara tarian-tarian sejenis di Bali.

Berdasarkan catatan para ahli seni pertunjukan Bali, tari pendet lahir pada 1950. Penggagasnya adalah dua seniman kelahiran Desa Sumertha, Denpasar, yakni I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng. Kedua seniman ini menciptakan tari pendet penyambutan dengan empat penari, untuk disajikan sebagai bagian dari pertunjukan turistik di sejumlah hotel di Denpasar. Lalu, pada 1980, I Wayan Baretha mengolah kembali tarian pendet dengan pola seperti sekarang, termasuk menambah penarinya menjadi lima orang. Setahun kemudian, I Wayan Baretha dan kawan-kawannya menciptakan tari pendet massal berjumlah penari sekitar 800 orang, untuk ditampilkan pada upacara pembukaan Asian Games di Jakarta.

Melihat kasus pengklaiman khazanah seni dan budaya Indonesia ini, sudah sewajarnya kalau pemerintah lebih memperhatikan sektor seni dan budaya bangsa. Berikan ruang ekspresi lebih luas pada seni dan budaya tradisional. Dalam konteks ini, pemerintah harus lebih protektif terhadap warisan budaya nenek moyang, baik dengan cara mendata maupun mendaftar ulang, lalu diberikan payung hukum tentang warisan budaya sebagai hak kekayaan intelektual (HAKI).

Ketegasan terhadap Malaysia harus ditegakkan demi eksistensi sebuah bangsa. karena siapa lagi yang akan bertindak kalau bukan pemerintah dan pihak terkait. Kalau kasus serupa dibiarkan berlanjut dan tanpa ada sikap ketegasan dari pemerintah, maka benar perkataan Taufik Ismail, “malu aku jadi orang Indonesia”. Negara yang (katanya) menjunjung tinggi warisan seni dan budaya nenek moyang, tetapi membiarkannya “diangkut” dan diklaim negari lain. Ironis bukan? Lalu harus berapa banyak lagi kasus kecolongan budaya menimpa Indonesia untuk membangunkan pemerintah?

* Juma Darmapoetra, pemerhati budaya, tinggal di Yogyakarta

Sumber: Suara Pembaruan, Rabu, 26 Agustus 2009

http://cabiklunik.blogspot.com/2009/08/tari-pendet-dan-fenomena-kecolongan.html

Seniman Bali Protes Tari Pendet Diklaim Malaysia

oke zone news.com Sabtu, 22 Agustus 2009

Foto: Miftachul Chusna/Koran SI
DENPASAR – Seniman Bali tidak terima Tari Pendet diklaim Malaysia. Tindakan itu dinilai sebagai pencurian atas kekayaan budaya masyarakat Bali.Sikap tidak terima itu diungkapkan dengan menggelar aksi protes di Taman Budaya Denpasar, Jalan Nusa Indah Denpasar, Sabtu (22/8/2009). Selain para seniman, ikut pula sesepuh penari Bali, akademisi, dan para wakil rakyat.  “Sudah ratusan tahun masyarakat Bali memainkan Tari Pendet,” ujar seniman tari Wayan Dibia.Dibia mengungkapkan, pada awalnya Tari Pendet merupakan tarian sakral untuk ritual keagamaan. Namun pada 1950, tarian itu boleh digunakan untuk tari penyambutan tamu dengan sebutan Tari Pendet Puja Astuti. Oleh penciptanya, Ni Ketut Reneng dan I Wayan Rindi, Tari Pendet digunakan sebagai pertunjukan turistik di Bali Hotel Denpasar.

Kemudian pada tahun 1961, Tari Pendet dikembangkan koreogafinya dengan komposisi lima hingga tujuh penari. Penyempurnaan itu lagi-lagi mendapat apresiasi. Bahkan pada tahun 1962, Tari Pendet dipertontonkan secara kolosal dengan komposisi 800 penari dalam pembukaan Asian Games di Jakarta.

Anggota DPD RI dari Bali Ida Ayu Agung Mas menegaskan, siap membawa aspirasi seniman Bali ke pusat untuk menjadi protes resmi dari lembaga negara di Indonesia. Dia mengaku prihatin atas klaim Malaysia terhadap Tari Pendet.

“Dalam waktu dekat kami akan sampaikan protes resmi kepada Kedutaan Malaysia di Indonesia untuk minta klaim itu segera dicabut,” tandasnya.

Ayu Mas juga meminta pemerintah mendata ulang kekayaan budaya nusantara yang terpencar untuk secepatnya diberikan perlindungan melalui penerbitan hak cipta. “Kasus-kasus serupa sebelumnya, seharusnya menyadarkan pemerintah untuk cepat bertindak,” ujarnya.

(Miftachul Chusna/Koran SI/ful)

Protes Klaim Tari Pendet Marak di Bali

By Republika News room
Selasa, 25 Agustus 2009

DENPASAR  – Tari Pendet yang diklaim Malaysia dalam sebuah program Discovery Channel tentang enigmatic Malaysia telah dicabut. Walau demikin, protes masyarakat Bali atas klaim itu semakin marak saja. Bahkan tiga elemen masyarakat Bali Selasa (25/8) melakukan unjukrasa memprotes klaim itu di tempat berbeda.

Ketiga elemen itu yakni mahasiswa ISI Denpasar, melakukan unjukrasa di  kampus mereka, sedangkan Gerakan Pemuda Hindu Indonesia Denpasar melakukan aksi di Greakan Pemuda Hindu Indonesia Denpasar melakukan unjukrasa di Lapangan Puputan Badung, depan Kantor Walikota Denpasar, serta Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Bali, melakukan aksinya dengan mendatangi Gedung DPRD Bali sekaligus melakukan dialog dengan anggota dewan.

Saat menerima para pengunjukrasa, Ketua DPRD Bali IB Putu Wesnawa mengatakan, masyarakat Bali adalah kelompok yang paling disakiti dengan klaim Malaysia terhadap Tari Pendet dan tidak mengherankan jika protes masyarakat muncul dimana-mana. Masyarakat Bali jelas Wesnawa, sudah berabad-abad lamanya mengenal Tari Pendet, karena tarian itu mulanya merupakan salah satu tarian sakral Bali, yang hanya dipentaskan saat upacara keagamaan di pura.

Namun baru pada tahun 1950, Tari Pendet digagas, dimodifkasi oleh dua seniman Bali asal Desa Sumertha Denpasar yakni I Wayan Rindi dan Ni Ketut Rena sebagai tarian yang boleh dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan di Bali. “Kalau tarian ini diklaim pemerintah asing seperti Malaysia , maka sangat wajar orang Bali akan marah dan memprotes,” ujarnya.

Dikatakan Wesnawa, DPRD Bali sudah mengirimkan surat resmi kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk segera mengambil langkah agar Tari Pendet segera didaftarkan dan dipublikasikan. Sementara Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan, Pemprov Bali sudah secara resmi mengirimkan surat ke Pemerintah Pusat untuk sesegera mungkin menyelesaikan masalah Tari Pendet. “Ini masalah antarnegara dan yang paling berwenang adalah pemerintah pusat. Pemprov Bali akan terus mendesak penyelesaian kasus tersebut sampai tuntas,” ujarnya.

Dikatakan Pastika, kedepan Pemprov Bali dalam waktu dekat akan melakukan inventarisasi berbagai produk budaya lokal Bali , terutama produk yang sifatnya anonim sehingga bisa didaftarkan secepatnya. Menurut Gubernur, sebenarnya berbagai produk budaya seperti Tari Pendet yang merupakan produk hak cipta, dengan sendirinya terlindungi oleh UU HAKI, sehingga tidak ada orang yang bisa mengklaimnya.

Sementara itu, salah seorang aggota DPRD Bali, Made Arjaya menyerukan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membebaskan masyarakat yang ingin mendaftarkan hasil karyanya. Menurut dia, hendaknya pemerintah mempermudah proses pendaftarannya dan tidak perlu berbelit-belit, serta tidak perlu dipungut biaya.

Menurut Arjaya, di Indonsia sangat aneh, karena untuk mendaftarkan hasil karyanya, mesti membayar. Sementara di negara seperti Amerika, bila ada penemuan baru dari warganya, maka pemerintahnya yang mensubsidi warganya untuk mendaftarkan karya mereka untuk mendapatkan hak cpta. “Saya kira Bali harus memeloporinya dan mulai 2010, Bali harus menganggarkan dana untuk mengurus berbagai proses pendaftaran tentang hak cipta, atau paten,” kata Arjaya. aas/pur


2 responses

  1. jaka

    saya sokong dikembalikan semua budaya indon ke negara mereka kerana semua itu tidak bermanafaat kepada malaysia. Indon sangat suka kepada perkara remeh temeh sedangkan negara mereka masih banyak perkara perlu dilakukan. Mengapa salahkan malaysia kerana kedatangan beramai2 mereka untuk bekerja di malaysia. Salahkan pemerintah indonesia sendiri kerana tidak menyediakan pekerjaan yang baik di negara indonesia yang luas itu.

    malaysia seharusnya menerima impot budaya dari serata sunia yang lebih luas dan global daripada menerima budaya muzik lama indonesia yang tidak berafedah langsung.

    kepada rakyat indon. ambil lah kembali apa saja budaya kamu. tetapi ingat , malaysia dan indonesia dulu adalah serumpun sudah tentu tidak dapat mengelak daripada kesamaan yang ada. rakyat malaysia kalau tidak mahu menggunakan apa saja budaya dan bahasa yang ada kesamaan dengan indon. kalau boleh kami mahu mengikut cara dan bahasa negara barat yang lebih terbuka, maju dan tidak menghantar perampok ke negara orang lain.

    mengapa sering berlaku bencana di indon ye? ketika umat islam ambon diganyang kristian, di mana pejuang budaya dari amvon yang dayus dan brengek itu. kamu sibuk dengan budaya bodoh kamu tetapi membiarkan rakyat mati dibunuh di negara snediri. U all are low class and low mentality people!

    Sabtu, Februari 27, 2010 pukul 10:14 pm

  2. saya dukung sekuat tenaga negara ku…… tak ada yang bisa menjatuhkan dan manginjk – injak harga dan martabat kita………………………. tai satu pertanyaan buat bangsaKu…… dimanakah kini sang garuda berada . . . . . . . .?

    Rabu, September 30, 2009 pukul 5:57 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s