Selamat Jalan Mas Willy


imagesWS Rendra Telah Berpulang Ke Rahmatullah

Tak diduga akhirnya WS Rendra meninggalkan kita semua didunia. Meninggal dunia pada hari kamis pada pukul 22.00 WIB, pada usia 74 tahun di RS. Mitra Keluarga. Banyak sudah jejak dan kenangan yang ditinggalkannya semasa hidup. Sebagai seniman penyair, dramawan, dan budayawan yang sangat kritis dan vokal , ia dikenang sebagai pemberontak dimasa Orde Baru.

Getaran dari puisinya begitu sangat kuat mempesona  sangat ekspresif membakar semangat kaum muda untuk melakukan perubahan sosial. Konsistensi terhadap perjuangan dan karakter yang sangat kuat ia tampilkan dengan tegar menghadapi marabahaya.

Rendra semasa hidup dikenal dengan karyanya yang memiliki kekuatan akar realitas sosial yang lekat dengan rakyat kecil. Saya dan kawan-kawan seringkali membacakan karya-karya puisinya pada masa pergerakan mahasiswa di Bandung. Bagi saya pribadi ia begitu sangat mengerti dan bijaksana terhadap masalah kerakyatan kita yang hingga kini belum tuntas.

Migrasi Para Kampret karya FX Rahardi yang dibacakan Yose Rizal Manua ketika menyambut Hari Ulang Tahun Rendra tahun 1993, adalah awal pertama kami dari HMR-Unpas Bandung berkunjung ke markas Bengkel Teater di Citayam Depok. Saya tak begitu dekat dan mengenalnya secara akrab hingga saat ini, tetapi sangat respek dengan apa yang ia lakukan untuk Indonesia.

Selamat Jalan Mas Rendra, semoga amal ibadah anda diterima disisi Allah SWT.

Cerita Terkait Di Bawah Ini

puisi

Jumat, 07/08/2009
‘Tuhan, Aku Cinta Padamu..’ Puisi Terakhir Rendra
Novi Christiastuti Adiputri – detikNews

Si Burung Merak Tutup Usia

Jakarta – WS Rendra tetap berkarya meski dirawat di rumah sakit karena sakit jantung koroner. Puisi terakhir Rendra menghadirkan nuansa religius yang dalam, yang mengisyaratkan kecintaan pada Sang Pencipta.

“Tuhan, aku cinta padamu…” demikian penggalan puisi yang tak diberi judul itu. Puisi terakhir ini ditulis Rendra pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga.

Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009).

Berikut teks puisi tanpa judul tersebut:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra 31 July 2009

Mitra Keluarga (nvc/nrl)

Puisi Terakhir Rendra
Rendra: Tuhan Aku Cinta pada-Mu

http://www.detiknews.com/read/2009/08/07/093105/1179062/10/tuhan-aku-cinta-padamu-puisi-terakhir-rendra

Jumat, 07/08/2009
Rendra ‘Si Burung Merak’ yang Vokal
Aprizal Rahmatullah – detikNews


Jakarta – Penyair ternama WS Rendra meninggal dunia pada usia 74 tahun di RS Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/8/2009) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Pria bernama lengkap Wahyu Sulaiman Rendra ini meninggalkan 10 orang anak dari 3 pernikahannya.

Rendra selama ini dikenal sebagai penyair bersuara lantang yang mahir memainkan irama serta tempo. Ia juga handal membakar emosi penonton.

Pria yang akrab dipanggil Willy ini mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Ia bukanlah penyair biasa. Sajak dan puisinya tidak sedikit berisi nada protes. Tak heran ia dikenal sebagai penyair yang kritis terhadap pemerintah. Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi para mahasiswa sangat aktif di tahun 1978, membuat suami Ken Zuraida ini pernah ditahan oleh pemerintah berkuasa saat itu.

Tidak hanya sajak dan puisi yang sering mengalami tekanan kekuasaan, dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor juga pernah dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki. Di samping karya berbau protes, dramawan kelahiran Solo, 7 Nopember 1935, ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul ‘Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta’ dan puisi ‘Pesan Pencopet Kepada Pacarnya’.

Kepiawaian Rendra dalam membacakan syair maupun berteater bukan sesuatu yang gratis dari langit. Kemampuannya sudah dimulai diasah sejak ia kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada. Rendra dikenal giat menulis cerpen dan essai di berbagai majalah sepeprti Mimbar Indonesia, Basis, Budaya Jaya, Siasat.

Selain memiliki bakat, ia terus mengelaborasi kemampuannya dalam dunia seni dengan menimba ilmu di American Academy of Dramatical Art, New York, USA. Sekembalinya dari Amerika pda tahun 1967, pria tinggi besar berambut gondrong ini mendirikan bengkel teater di Yogyakarta. Tak lama bengkel teater tersebut ia pindahkan ke Citayam, Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Karena karya-karyanya yang begitu gemilang, Rendra beberapa kali pernah tampil di acara berskala Internasional . Sajaknya yang berjudul ‘Mencari Bapak’, pernah dibacakannya pada acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta. Ia juga pernah ikut serta dalam acara penutupan Festival Ampel Internasional 2004 yang berlangsung di halaman Masjid Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 22 Juli 2004.

Kini, ‘Si Burung Merak’ itu telah terbang selamanya meninggalkan kita. Selamat Jalan Mas Willy. Semoga tenang disisi-Nya. (ape/mok)

Jumat, 07/08/2009
Pesan Rendra: Pejuang Harus Mau Susah
Mega Putra Ratya – detikNews


Jakarta – Selain seniman dan budayawan, WS Rendra juga dikenal sebagai aktivis yang gemar demonstrasi. Hingga tahun 90-an, pria yang dijuluki Si Burung Merak itu masih sering turun ke jalan.

“Dulu dia selalu bilang, kalau jadi pejuang harus mau susah. Itulah pesannya,” kata Adnan Buyung Nasution saat melayat sahabatnya itu di Bengkel Teater Rendra, Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8/2009).

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu terlihat sangat sedih dengan kepergian Rendra. Saat tiba di tempat Rendra disemayamkan, mantan pengacara senior itu sudah tampak berkaca-kaca.

Buyung juga terlihat terbata-bata saat mengucapkan kata-kata bela sungkawa. Sesekali, air mata menitik di pipinya.

“Saya sempat menengok waktu Rendra sakit, kita harus mendoakan agar diterima dan diampuni dosanya,” kata Buyung mengakhiri kata-katanya.

(ken/ndr)

http://www.detiknews.com/read/2009/08/07/103924/1179101/10/pesan-rendra-pejuang-harus-mau-susah

Kenangan WS Rendra

Berita TV Kematian dan Pemakaman

Sumber : You Tube

Iklan

2 responses

  1. salam hangat kembali

    Selasa, Agustus 18, 2009 pukul 4:54 pm

  2. Bukan sekedar mimpi, kenyataan karena tak ada yang tak mungkin untuk berbuat baik.
    Salam superhangat

    Senin, Agustus 10, 2009 pukul 3:32 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s