iman, islam, ihsan, esoterik, eksotisme, ekstase, wihdatul wujud, jihad fisabilillah, fana, mahabbah

SUFI PERKASA

Ketika kita mencari kebenaran

MHBM

iman, islam, ihsan, esoterik, eksotisme, ekstase, mahabbah, fana, wihdatul wujud, jihad fisabilillah

MEMAHAMI MAKNA MAHABBAH (CINTA)

Mahabbah atau cinta, demikianlah Kaum sufi menyebut tradisi bercinta mereka.

Adalah Imam al Qusyairi, pengarang Risâlah al Qusyairiyyah mendefinisikan cinta (mahabbah) Allah kepada hamba sebagai kehendak untuk memberikan nikmat khusus kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Apabila kehendak tersebut tidak diperuntukkan khusus melainkan umum untuk semua hambaNya—menurut Qusyairi—dinamakan Rahmat; kemudian jika irâdah tersebut berkaitan dengan adzab disebut dengan murka(ghadlab).

Masih dalam konteks yang sama, lebih jauh al Qusyairi memaparkan definisi mahabbah tersebut versi kaum salaf; mereka mengartikan cinta sebagai salah satu sifat khabariyyah lantas menjadikannya sebagai sesuatu yang mutlak, tidak dapat diartikulasikan sebagaimana rupa seperti halnya mereka cenderung tidak memberikan pentafsiran yang lebih dalam lagi, sebab apabila cinta diidentikkan dengan kecenderungan pada sesuatu ataupun sikap ketergantungan, alias cinta antara dua manusia, maka mereka menganggap hal itu sangatlah mustahil untuk Allah Swt. Interprestasi yang demikian ini memang lebih cenderung berhati-hati seperti halnya mereka (baca:kaum salaf) sangat menekankan metode tafwîdl dalam permasalahan yang bersifat ilâhiyah.

Kaum Sufi menganggap mahabbah sebagai modal utama sekaligus mauhibah dari Allah Swt, untuk menuju kejenjang ahwâl yang lebih tinggi.

Imam al Ghazâli memposisikan cinta ini sederajat dengan taubat dalam maqâmât. Beliau berpendapat: bagaimana seorang sufi bisa merasakan imanensi ataupun fana tanpa didahului oleh rasa cinta, suatu hal yang mustahil tentunya; bagaimana mungkin qois rela mengakhiri hidupnya demi seorang Laila tanpa ada cinta antar keduanya?, sungguh skenario itu tak akan pernah terjadi.

Fakta ini pun diamini oleh sebagian besar para sarjana muslim; Dr.Faishal badîr ‘aun misalnya, mengatakan bahwa kaum sufi akan sulit menyelesaikan petualangan spiritualnya tanpa dibekali mahabbah yang merupakan anugerah Allah semata; jika tangga awal cinta ini bisa dilalui maka tangga ahwâl selanjutnyapun akan mudah terlewati.

Nah, dalam konteks cinta ilahi ini kaum sufi memakai dalil-dalil dari Al-Quran dan As- Sunnah. Dua ayat al Quran yang sering dijadikan landasan ialah ayat ke 31 dari surat ali ‘imran dan ayat ke 54 surat al Maidah.

Kedua ayat ini menempati posisi penting dalam budaya “bercinta” seorang sufi; karena secara tersirat atupun tersurat, keduanya mengisyaratkan bahwa cinta yang terjadi antara Tuhan dan mahluk-Nya adalah sebuah keniscayaan, pasti terjadi.

Namun bukan berarti cinta itu terjalin begitu saja melainkan buah hasil dari mujâhadah yang kontinyu dan berkualitas.

Al Wâsithî mengkomentari ayat kedua di atas terutama pada lafadz “yuhibbuhum wa yuhibbûnahu” bahwa Allah Swt dengan dzat-Nya akan mencintai mereka (hamba-hambanya-Nya) seperti halnya mereka mencintai sang Khâliq dengan dzat-Nya yang suci.

Dengan demikian huruf ha’ yang terdapat di situ kembali kepada dzat bukan sekedar sifat-sifat, dalam artian secara hakiki cinta tersebut memang benar adanya.

Berangkat dari sini maka kaum sufi melegitimasikan budaya cinta mereka serta meniscayakan hal tersebut. Apabila sebuah tradisi itu terlegalisasi dalam Al-Quran, mengapa tidak mencoba untuk diterapkan?.

Tradisi ini diperkuat lagi dengan beberapa Hadits Rosululloh Saw yang terjamin keabsahannya. Salah satu contohnya hadist Qudsi yang diriwayatkan Anas bin Mâlik;

Dalam matan hadist ini Allah Swt berfirman :

“….Hatta uhibbuhu… “

yang berlanjut dengan sebuah statemen yang lebih konkret;

“…waman ahbabtuhu kuntu lahu sam’a….,”

yang jelas merupakan manifestasi dari cinta Dzat Abadi ini.

Masih banyak dalil apologik yang melandasi salah satu tradisi suci kaum sufi, seperti dua hadits riwayat Abu Hurairah dengan rawi pertama Na’îm abd al Mâlik dalam hadist pertama, sedangkan ‘Alî bin Ahmad bin ‘Abdân sebagai perawi pertama dari hadist kedua.

Nah, dalil dalil di atas—baik Al-Quran maupun As-Sunah—mereka sinergikan sedemikian rupa menjadi—kalau boleh disebut— “landasan hukum” yang memang absah dan terjamin legalitasnya, ya, tentunya bersumber dari Dzat yang Maha Mengetahui.

Kemudian mengenai konteks cinta secara garis linier seorang hamba kepada Khaliqnya—menurut penulis—sangatlah relatif, tidak bisa digeneralasikan pengertiannya. Hal demikian disinyalir oleh deveritas pemahaman tentang cinta itu sendiri.

Al Qusyairi menyebutkan ada banyak definisi tentang mahabbah;dari sekian pentafsiran tersebut—jika kita lihat—sangatlah berkaitan dengan pengalaman (tajribah) pribadi seorang sufi yang mungkin berbeda satu sama lain.

Abû Yazîd al Basthâmî mendefinisikan Mahabbah sebagai sikap menganggap sedikit sesuatu yang banyak yang berasal dari diri kita dan menilai hal sedikit yang bersumber dari kekasih kita sebagai sesuatu yang besar.

Berbeda dengan al Junaid, guru al Hallâj yang akrab dengan julukan sayyid al Thâifah mengartikan kata yang bernilai sufistik ini dengan masuknya sifat-sifat Dzat yang dicintai mengganti apa yang ada di jiwa sang Pecinta; mendorong seorang pecinta untuk tidak mengingat selain Dzat tersebut serta melupakan dan mencampakkan secara total sifat-sifat yang dulunya melekat di dirinya. Namun bagaimanapun persepsi orang, pentafsiran tersebut tidak boleh keluar dari landasan hukum di atas.

Mengenai kapankah budaya cinta ini mulai mentradisi; ’Abd al Rahmân Badawî menyebutkan bahwa Rabi’ah al ‘Adawiyyah (beliau terkenal dengan julukannya Syahîdat al’Isyq al Ilâhî, hidup pada masa khalifah Harun al Râsyîd) adalah sufi pertama yang mengumandangkan syiar “bercinta” ini.

Berangkat dari sini—seperti yang dipaparkan Abd al Rahmân Badawî —, ada sebuah polemik yang menarik; tentang dialektika yang terjadi antara tiga istilah yang berbeda, namun sering kita salah artikan yaitu :al ‘Isyq, Mahabbah dan al Khullah.

Dialektika ini terjadi karena ada persamaan diantara ketiga istilah tersebut, meskipun pada akhirnya kesemuanya tidak bisa bertemu di satu titik kesepakatan. Mengenai hal ini massignion mengatakan bahwa Abd al wâhid bin Zaid berpendapat bahwa kalimat i’syq lebih diakui dalam perbincangan mengenai Allah, karena lanjutnya kalimat mahabbah tidak sesuai dengan Al-Quran dan merupakan warisan yahudi dan kristiani. Namun bagaimanapun, kata Mahabbah yang dipilih Abân bin Abî ‘Ayyâsy dan diamini beberapa tokoh lain seperti Rabî’ah sendirilah yang akhirnya lebih mendominasi sampai sekarang.

Abd al Rahmân Badawî menegaskan Mahabbah merupakan satu-satunya lafadz yang tertulis dalam Al-Quran dan As-Sunnah; Sedangkan termasuk Isyq sendiri adalah sebuah ibarat tentang cinta yang berlebihan, tentunya Islam tidak mengajarkan itu apalagi secara legal formal seperti apa yang Abd Al Wahîd usulkan, bagaiamana mungkin seorang hamba bisa mendapatkan takaran cinta lebih dari apa yang telah ditakdirkan?.

Mengenai al Khullah, pengarang kitab Jâmi’ al ushûl mengatakan asal mula kata ini adalah Khalla al Syai fî al syaii (menyatunya dua hal yang berbeda); kondisi inilah yang sering diartikan sebagai kondisi gugur kewajiban, karena kedekatan antara seorang hamba dan Khaliqnya maka—menurut pemahaman sufi tersebut—ia pun terbebas dari syariat, tak ada perintah dan larangan apalagi sekedar halal dan haram.

Untuk hal yang satu ini (gugurnya kewajiban, karena kedekatan antara seorang hamba dan Khaliqnya) jelas berseberangan dengan koridor agama, karena bagaimanapun Ibrahim as adalah Khâlilullâh namun ia sendiri tidak begitu saja meninggalkan kewajiban terlebih melanggar halal haram seperti yang disebutkan.

Terakhir kali, jika Râbi’ah dalam Syairnya pernah berkata bahwa ia mencinta Tuhannya dengan dua cinta; cinta hasrat dengan melupakan segala sesuatu selain-Nya dan cinta karena Dialah Pemilik cinta itu, agar ia pun bisa melihatNya tanpa ada hijab yang menghalangi.

jika cinta sejati itu benar adanya; cinta abadi yang tak bertendensikan duniawi, maka inilah cinta sejati.

Kawan… Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang Cinta kepada Sang Kholiq dan utusan-Nya…. Amien Allohumma Ya Robbal a’lamien….

Wallohu a’lam bish-shawab,-

============================================================================

El Faqir M.Nashih Nasrullah “Maka Inilah Cinta Sejati”

117

Fana dan Kasyaf (1/2)[Tasawuf]

Rumadi Hartawan
Mon, 11 Jan 1999

Yang masih menjadi pertanyaan bagi saya atas artikel anda adalah1.            apakah fana' dan kasyaf itu di syariatkan dalam kehidupan islam2.            apakah ada nash tentang hal itu (tolong juga dijelaskan arti fana'       dan kasyaf dalam artikel anda)Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu pengertian atau definisi fana' dan kasyaf.Istilah fana' sebenarnya berkaitan dengan istilah baqa'.

Berikut ini beberapa istilah yang berkaitan dengan fana' dan baqa' serta kasyaf.Fana'berarti lenyap, hilang, sirna atau lebur. maksudnya, menurut kamu sufi, ialah hilangnya kesadaran seseorang terhadapkeberadaan dirinya dan alam sekelilingnya. Hal ini dapat terjadi karena latihan yang berat dan perjuangan yang cukuppanjang dalam pendakian rohani. [1,hal.386]

Fana' (beberapa pengertian lain)- keadaan moral yang luhur- sirnanya sifat-sifat tercela- terbebas dari hal-hal duniawiFana juga berarti: [2,hal.197]a. matinya nafsu, kemauan diri, kesadaran dirib. tidak memikirkan diri sendiric. doa dalam keterpesonaand. kedekatan kepada Cahaya Maha CahayaFana Al-Fanaberarti hilangnya kesadaran akan hilangnya kesadaran itu. Orang yang dalamkeadaan fana' tidak tau bahwa ia dalam keadaan fana'. [1,hal.386]

Fana' an nafsiberarti hilangnya kesadaran seseorang akan wujud dirinya. [1,hal.386]

Fana fi Mahbubberarti lebur ke dalam yang dicintai (Tuhan) [1,hal.386]Baqa'berarti kekal, abadi, lestari. Dalam tasawuf kata ini menujukkan keadaankehidupan rohani yang kekal, yakni kembali kepada Wujudnya Yang Kekalsetelah melwati fana'. [1,hal.366] Beberapa pemahaman sufi tentang fana' dan baqa':o Jika kejahilan dari seseorang hilang (fana'), yang akan tinggal (baqa')ialah pengetahuannyao Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, yang akan tinggal ialah takwanyao Siapa yang menghancurkan sifat-sifat buruk tinggal baginya sifat-sifat baiko Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, ia akan mempunyai sifat-sifat Tuhan [1,hal.152]

Berikut ini nash tentang al-fana':Semua yang ada di bumi itu akan binasa (faan). Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesarandan kemuliaan (QS. 55:26-27). Arah ungkapan ini tampak jelas, tapi oleh para sufi diartikan sebagai"gantungan" doktrin khas mereka tentang kefanaan sifat-sifat manusia melalui kemanunggalan dengan Tuhan,yang dengan itu sang sufi meraih keabadian (baqa') kehidupan spiritual dalam Tuhan. [1,hal.205]

Kasyaf dapat diartikan terbuka, yakni terbukanya tabir pemisah antara hamba dengan Tuhan. Kasyf juga berarti Allah membukakanbagi seseorang untuk dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. [1,hal.374]

Berikut ini beberapa kisah-kisah tentang mukasyafah: [2,hal.98-99]o Nabi Muhammad saw melihat masjid al-Aqsha di Jerusalem ketika kembalidari mi'raj, bahkan beliau dapat menghitung jumlah tiang masjid tersebut.o Ketika 'Umar bin Khattab tengah berkhutbah di atas mimbar di Madinah,tiba-tiba beliau mendapat mukasyafah dan melihat pasukan musuh sedangbergerak menyerang pasukan Sariya di Nihazhar. Tiba-tiba 'Umar berteriak keras, "Wahai Sariya! (pergilah) ke bukit!".Sariya mendengar, segera pergi ke bukit, dan beroleh kemenangan.

Mukasyafah adalah buah dari zuhud. Zuhud membawa kita melintasi alam syahadah dan memasuki alam gaib. Dengan menggunakanistilah para sufi, zuhud mengantarkan kita pada alam mukasyafah. [3,hal.113]Sesungguhnya fana' dan kasyaf, bukanlah tujuan para sufi. Keduanya merupakan akibat dari kondisi psikologis para sufiyang amat mencintai Allah. Menurut para sufi, fana adalah karunia Allah sebagaipemberian kepada hambaNya; ia tidak bisa diperoleh lewat usaha dan latihan [1,hal.157]Referensi:[1] Drs. Asmaran As., M.A., Pengantar Studi Tasawuf, Rajawali Pers, 1996[2] Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, 'Awarif al-Ma'arif, PustakaHidayah, 1998[3] Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik, Penerbit Mizan, 1996[4] Dr. Mir Valiuddin, Zikir & Kontemplasi dalam Tasawuf, Pustaka Hidayah,1997

semesta

Mengenal dan Memahami Fana

1. Pengertian Fana

Kebanyakan kitab-kitab tua seperti Kitab Syarah Hikam Ibni Athoillah As-Kandariah, Kitab Manhal-Shofi, Kitab Addurul-Nafs
dan lain-lain menggunakan istilah-istilah seperti ‘binasa’ dan ‘hapus’ untuk memperihalkan tentang maksud fana. Ulama
-ulama lainnya yang banyak menggabungkan beberapa disiplin ilmu lain seperti falsafah menggunakan istilah-istilah seperti
lebur’, ‘larut’, ‘tenggelam’ dan ‘lenyap’ dalama usaha mereka untuk memperkatakan sesuatu tentang ‘hal’atau ‘maqam’fana ini.

Di dalam Kitab Arrisalah al-Qusyairiah disebutkan erti fana itu ialah;
Lenyapnya sifat-sifat basyariah(pancaindera)

Maka sesiapa yang telah diliputi Hakikat Ketuhanan sehingga tiada lagi melihat daripada Alam baharu, Alam rupa dan
Alam wujud ini, maka dikatakanlah ia telah fana dari Alam Cipta. Fana bererti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiah lahir
dan maksiat batin) dan kekalnya sifat-sifat terpuji(mahmudah). Bahawa fana itu ialah lenyapnya segala-galanya, lenyap af’alnya/perbuatannya(fana fil af’al), lenyap sifatnya
(fana fis-sifat), lenyap dirinya(fan fiz-zat)

Oleh kerana inilah ada di kalangan ahli-hali tasauf berkata:

“Tasauf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya kerena kehadiran hati mereka bersama Allah”.

Sahabat Rasulullah yang banyak memperkatakan tentang ‘fana’ ialah Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Rasulullah yang
terdekat yang diiktiraf oleh Rasulullah sebagai ‘Pintu Gedung Ilmu’. Sayyidina Ali sering memperkatakan tentang fana.
Antaranya :

“Di dalam fanaku, leburlah kefanaanku, tetapi di dalam kefanaan itulah bahkan aku mendapatkan Engkau Tuhan”.

Demikianlah ‘fana; ditanggapi oleh para kaun sufi secara baik, bahkan fana itulah merupakan pintu kepada mereka yang ingin menemukan Allah(Liqa Allah) bagi yang benar-benar mempunyai keinginan dan keimanan yang kuat untuk bertemu dengan Allah(Salik). Firman Allah yang bermaksud:

“Maka barangsiapa yang ingin akan menemukan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan Sholeh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadat kepada Allah (Surah Al-Kahfi:)

Untuk mencapai liqa Allah dalam ayat yang tersebut di atas, ada dua kewajiban yang mesti dilaksanakan iaitu:

  • Pertamanya mengerjakan amalan sholeh dengan menghilangkan semua- sifat-sifat yang tercela dan menetapkan dengan
  • sifat-sifat yang terpuji iaitu Takhali dan Tahali.
  • Keduanya meniadakan/menafikan segala sesuatu termasuk dirinya sehingga yang benar-benar wujud/isbat hanya Allah
  • semata-mata dalam beribadat. Itulah ertinya memfanakan diri.

Para Nabi-nabi dan wali-wali seperti Sheikh Abu Qasim Al-Junaid, Abu Qadir Al-Jailani , Imam Al-Ghazali,
Ab Yazid Al-Busthomi sering mengalami keadaan “fana” fillah dalam menemukan Allah. Umpamanya Nabi Musa alaihisalam ketika
ia sangat ingin melihat Allah maka baginda berkata yang kemudiannya dijawab oleh Allah Taala seperti berikut;

“Ya Tuhan, bagaimanakah caranya supaya aku sampai kepada Mu? Tuhan berfirman: Tinggalkan dirimu/lenyapkan dirimu(fana), baru kamu kemari.”

2. Kata-kata Hikmah Dari Wali-wali Allah yang telah mengalami FANA

Ada seorang bertanya kepada Abu Yazid Al-Busthomi

  • “Bagaimana tuan habiskan masa pagimu?”. Abu Yazid menjawab: “Diri saya telah hilang(fana) dalam mengenang Allah hingga saya tidak tahu malam dan siang”.
  • Satu ketika Abu Yazid telah ditanyai orang bagaimanakah kita boleh mencapai Allah. Beliau telah menjawab dengan katanya:
  • “Buangkanlah diri kamu. Di situlah terletak jalan menuju Allah. Barangsiapa yang melenyapkan(fana) dirinya dalam Allah, maka didapati bahawa Allah itu segala-galanya”.
  • Beliau pernah menceritakan sesuatu tentang fana ini dengan katanya;
  • Apabila Allah memfanakan saya dan membawa saya baqa dengaNya dan membuka hijab yang mendinding saya dengan Dia, maka saya pun dapat memandangNya dan ketika itu hancur leburlah pancainderaku dan tidak dapat berkata apa-apa. Hijab diriku tersingkap dan saya berada di keadaan itu beberapa lama tanpa pertolongan sebarang panca indera. Kemudian Allah kurniakan saya mata Ketuhanan dan telinga Ketuhanan dan saya dapat dapati segala-galanya adalah di dalam Dia juga.”

Al-Junaid Al-Bagdadi yang menjadi Imam Tasauf kepada golongan Ahli Sunnah Wal-Jamaah pernah membicarakan tentang fana ini dengan kata-kata beliau seperti berikut:

  • Kamu tidak mencapai baqa(kekal dengan Allah) sebelum melalui fana(hapus diri)
  • Membuangkan segala-galanya kecuali Allah dan ‘mematikan diri’ ialah kesufian.
  • Seorang itu tidak akan mencapai Cinta kepada Allah(mahabbah) hingga dia memfanakan dirinya. Percakapan orang-orang yang cinta kepada Allah itu pandangan orang-orang biasa adalah dongeng.

3. Himpunan Kata-kata Hikmat Tentang Fana

A. Sembahyang orang yang cinta (mahabbah) ialah memfanakan diri sementara sembahyang orang awam ialah rukuk dan sujud.

B. Setengah mereka yang fana (lupa diri sendiri) dalam satu tajali zat dan kekal dalam keadaan itu selama-lamanya. Mereka adalah Majzub yang hakiki.

C. Sufi itu mulanya satu titik air dan menjadi lautan. Fananya diri itu meluaskan keupayaannya. Keupayaan setitik air menjadi keupayaan lautan.

D. Dalam keadaan fana, wujud Salik yang terhad itu dikuasai oleh wujud Allah yang Mutlak. Dengan itu Salik tidak mengetahui dirinya dan benda-benda lain. Inilah peringkatWilayah(Kewalian). Perbezaan antara Wali-wali itu ialah disebabkan oleh perbezaan tempoh masa keadaan ini. Ada yang merasai keadaan fana itu satu saat, satu jam, ada yang satu hari an seterusnya. Mereka yang dalam keadaan fana seumur hidupnya digelar majzub. Mereka masuk ke dalam satu suasana dimana menjadi mutlak.

E. Kewalian ialah melihat Allah melalui Allah. Kenabian ialah melihat Allah melalui makhluk. Dalam kewalian tidak ada bayang makhluk yang wujud. Dalam kenabian makhlik masih nampak di samping memerhati Allah. Kewalaian ialah peringakat fana dan kenabian ialah peringkat baqa

F. Tidak ada pandangan yang pernah melihat Tajalinya Zat. Jika ada pun ia mencapai Tajali ini, maka ianya binasa dan fana kerana Tajali Zat melarutkan semua cermin penzohiran. Firman Allah yang bermaksud :

Sesungguhnya Allah meliputi segala-galanya.(Surah Al-Fadhilah:54)

G. Tajali bererti menunjukkan sesuatu pada diriNya dalam beberapa dan berbagai bentuk. Umpama satu biji benih menunjukkan dirinya sebgai beberapa ladang dan satu unggun api menunjukkan dirinya sebagai beberapa unggun api.

H. Wujud alam ini fana (binasa) dalam wujud Allah.Dalilnya ialah Firman Allah dalam Surah An-Nur:35 yang bermaksud;

“Cahaya atas cahaya, Allah membimbing dengan cahayanya sesiapa yang dikehendakinya.” dan “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

I. Muraqobah ialah memfanakan hamba akan afaalnya dan sifatnya dan zatnya dalam afaal Allah, sifat Allah dan zat Allah.

J. Al-Thomsu atau hilang iaitu hapus segala tanda-tanda sekelian pada sifat Allah. Maka iaitu satu bagai daripada fana.

5. Tajuk-tajuk yang berkaitan dengan Fana

4. Pesanan Dari Suluk

Hakikat tidak akan muncul sewajarnya jika syariat dan thorikat belum betul lagi kedudukannya. Huruf-huruf tidak akan
tertulis dengan betul jika pena tidak betul keadaannya.

Dari itu saudara-saudaraku anda seharusnya banyak menuntut dan mendalami ilmu-ilmu agama yang berkaitan dengan syariat ,
usuluddin dan asas tasauf untuk mendekatkan diri dengan Allah

Sumber : http://www.angelfire.com/journal/suluk/fana.html

qura an wih

HADIS WIHDATUL WUJUD

Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya, jika Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika ia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi. (HR Bukhari).

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Wihdatul_wujud

Lihat halaman Soul Fly

Esoterisme yang tertinggal

Referensi Lainnya

http://id.wikipedia.org/wiki/Sufisme

http://www.sanat.orexca.com/eng/2-05/sufi_parable.shtml

http://www.thesufi.com/

http://akarilalang.blogspot.com/2008/07/laila-majnun-karangan-syaikh-nizami.html

Buku Musyawarah Burung (Kisah Sufi) Karya Fariduddin Attar Terjemahan Balai Pustaka ed. Andang Andanjaya

http://media.isnet.org/sufi/Attar/Lengkap.html

Sejarah Tarekat Terlengkap dari Berbagai Sumber

http://sufiroad.blogspot.com/

Eksotisme Kaligrafi

117


merak

Copy of 16

15

bismi

3

Copy of lingkaran

singa

alam

12

bismo1

semesta

2 responses

  1. tidak sama sekali namun kebenaran harus dikabarkan diwariskan dan dijalankan

    Selasa, November 3, 2009 pukul 10:24 pm

  2. Assalamualaikum waromatullah.
    wahai pembaca yang terhormat, yang dimuliyakan ALLAH, yang selalu diberikan nikmat oleh SANG YANG MAHA INDAH.

    seandainya orang yang mengetahui tenyang sesuatu yang lebih tinggi dari sebelumnya bisa menjaga pengetahuannya, munkin perdebatan yang akhirnya menimbulkan perpecahan pasti tak akan terjadi, siapa yang berkata dengan begitu sombongnya bahwa dirinya mengetahui sesuatu yang lebih dari orang lain?dengan mengatakan ORANG BIASA atau ORANG AWAM tentang orang-orang yang biasa menyembah dengan cara syariat seperti yang telah diajarkan ROSULULLAH SAW.
    jikalau memang tahu temtang ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada SANG KHOLIQ sehingga bisa sampai dicintaiNYA, laksanakanlah dan terapkanlah,, jangan hanya berbicara agar tidak seperti KELEDAI YANG MEMBAWA KITAB.semuanya saya yakin mengetahui itu.
    juga saya yakin semuanya mengetahui bahwa orang yang sombong tidaklah munkin bisa mendekat kepada SANG YANG MAHA AGUNG.
    semoga tulisan saya tidak menyinggung perasaan pembaca yang terhormat

    Minggu, Oktober 11, 2009 pukul 12:04 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s