Ketika AS Merayu Dunia Islam

Barack Obama Mengibarkan Perdamaian Dengan Dunia Muslim Di Timur Tengah

AS giat melakukan hubungan diplomatik dan rekonsiliasi dengan dunia Islam melalui kunjungan lawatannnya ke Mesir, Arab Saudi, dan bertemu Sekjend Liga Arab. Sebelumnya masalah besar konflik Palestina dan Israel  yang hingga kini belum kunjung usai, mendapat perhatian penuh dari AS melalui utusan khususnya George Michaell dengan mendesak Israel mematuhi kesepakatan mengenai pemukiman yang kian meluas di Palestina. Hal ini juga diamini oleh Sekjend PBB Ban Ki Moon bahwa Israel harus tunduk pada peraturan Internasional yang ditetapkan oleh PBB.

Sikap AS yang berubah dengan mencoba merangkul dunia Islam tak pelak lagi mengundang respon positif optimisme tetapi masih ada juga yang  skeptis dari  kalangan muslim. Barangkali beberapa pertanyaan yang mesti dijawab secara   mendasar,  mampukah AS berperan sebagai ratu adil yang seimbang ketika berperan sebagai  mediator, negosiastor dan alat penekan dengan masalah yang ada di Timur Tengah ? Kita tentu butuh ke hati-hatian terhadap sikap AS tersebut, tetapi juga kita terima dengan tangan terbuka untuk perkembangan yang lebih baik.

Sementara itu  sekutunya yaitu Parlemen Eropa kepedulian terhadap kasus Gaza begitu masih sangat besar, bahkan melakukan kunjungan ke daerah bekas konflik tersebut. Masyarakat Eropa hingga kini masih belum dapat menghilangkan trauma perang di Gaza tersebut, bahkan sebagai hukuman, Israel diboikot oleh perusahaan  dari Prancis untuk membangun jalur trem yang menghubungkan jalur pemukiman Yahudi di Palestina.

Sebagai refernsi terakhir marilah kita baca berita melalui media massa dibawah ini dari berbagai sumber.

Delegasi Parlemen Eropa Berkunjung ke Gaza

Selasa, 09/06/2009

Delegasi berjumlah besar dari Parlemen Eropa akan melakukan kunjungan ke Gaza, Rabu besok, melalui pintu perbatasan Rafah-Mesir, ujar Hamid Sha’ath, Ketua Komite Anti Blokade. Para anggota perlemen Eropa itu, bertujuan ingin melihat dari dekat kondisi rakyat Palestina, pasca invasi militer yang dilakukan Israel, Januari lalu.Mereka yang akan berkunjung ke Gaza itu, terdiri dari 41 anggota Parlemen Uni Eropa, dan 15 walikota yang  mewakili sejumlah negara Uni Eropa. Delegasi yang berkunjung ke Gaza itu, dipimpin oleh Louisa Morgantini, Wakil Presiden Parlemen Uni Eropa. Ini merupakan kunjungan anggota perlemen Uni Eropa yang terbesar sejak pecahnya konflik di Palestina.

Israel melancarkan serangan militer ke Gaza 27 Desember , dan bersifat massive, yang mengakibatkan tewasnya 1300 pendudu Gaza, dan sepertiga korban adalah anak-anak, dan mengakibatkan 5300 penduduk yang luka-luka. Rejim Zionis-Israel juga menjadikan target rumah sakit, sekolah, masjid, bangunan pemerintah, menghancurkan seluruh sistem infrastruktur di Gaza, dan penduduk Gaza hidup tanpa listrik, gas dan minyak. Semuanya, itu akibat kekejian dari rejim Israel, yang tanpa memiliki rasa kemanusiaan. Gaza yang dikuasai Hamas telah diisolasi total oleh Israel, sejak pemerintahan Hamas mengambil alih seluruh Gaza tahun 2007.

Kini rakyat Gaza tida dapat bepergian karena seluruh akses keluar telah ditutup oleh Israel dan Mesir, dan tidak mengizinkan penduduk Gaza melakukan bepergian ke luar dari Gaza. Inilah kekejaman paling biadab dimuka bumi ini,yang dilakukan Israel, yang mengaku negara  paling demokratis di Timur Tengah.

Penduduk Gaza menghadapi pengepungan  luar biasa yang dilakukan Israel. Dalam waktu yang panjang. Mereka hidup seperti di penjara. Dan, tidak dapat bergerak kema-mana. Artinya, rejim Zionis Israel telah menghancurkan dan membunuh hidup-hidup rakyat Gaza. Meskipun, ada gerakan protes yang dilakukan kaum muslimin di seluruh dunia, tapi Israel tetap tidak bergeming.

Sekarang penduduk Gaza  mengandalkan hubungan keluar hanya dengna mengandalkan terowongan yang mereka bangun, dan itupun sudah banyak yang dihancurkan Israel, karena dicurigai menjadi tempat penyelundupan senjata. Perbatasan Rafah dijaga sangat ketat oleh pasukan Mesir, Israel, dan AS, yang tidak meninginkan apapun masuk ke Gaza. (m/wb)

http://eramuslim.com/berita/palestina/delegasi-parlemen-eropa-berkunjung-ke-gaza.htm

Ketika Obama Membeli Negeri-Negeri Arab

Jumat, 05/06/2009 09:38 WIB

Pertama kali presiden AS itu menjejakkan kakinya di tanah Arab, ia sudah menyihir rakyat Arab, yang memang sejak awal sebagian besar sudah terkesima.

Pidatonya kemudian mendapatkan standing ovation, sebuah penghargaan tak tertulis yang biasa dilakukan di Barat, dan nilainya melebihi piagam dan piala resmi apapun.

Obama berbicara tentang semuanya, termasuk menyitir salah satu ayat Al Quran, yang—tentu saja!,—membuat warga Arab semakin jatuh hati. Tidak hanya Arab, dunia pun seakan tersihir oleh isi pidato itu. Hanya sedikit sekali orang yang bisa menangkap kemana arah pembicaraan Obama. Benarkah ia ingin agar orang Islam di seluruh dunia berjumlah sekitar 1,5 miliar ini memberikan cara pandang yang berbeda kepada Amerika, negaranya itu?

Faktanya, jika mau ditelaah lebih lanjut, pidato Obama lebih banyak berat sebelah, dengan komparasi yang tak berimbang, dan ini ditelan mentah-mentah oleh audiens. Obama mungkin tengah berpikir bahwa ia tengah membangun hubungan dengan status baru dengan orang-orang Islam, tapi ia banyak melupakan sisi-sisi dan perspektif kepentingan umat Islam. Ketika berbicara tentang emansipasi wanita di negara-negara Muslim, Obama membandingkannya dengan perjuangan wanita di Amerika.

Ketika berbicara tentang Yahudi, ia menyodorkan konsep dua negara, dengan retorika, “Orang-orang Israel harus tahu bahwa hak-hak orang Yahudi Israel tak akan bisa ditolak, sama dengan hak-hak orang Palestina.” Lihatlah, Obama menyebutkan Israel terlebih dahulu, seolah-olah Palestina adalah yang datang belakangan dan mengganggu eksitensi Israel.

Obama juga memutar-mutar sejarah ketika ia mengatakan bagaimana “Islam selalu menjadi bagian dari kisah Amerika.” Ia berkata, “Ketika penyerahan Tripoli 1796, presiden kami yang kedua, John Adams menulis, “AS sama sekali tidak mempunyai karakter menentang hukum, agama dan ketenangan umat Muslim.” Kedengarannya lembut dan seperti tengah merayakan hubungan Amerika dan umat Muslim, ketika kenyataannya dalam sejarah AS justru menyuap para penguasa Tripoli agar bisa menyerang Tripoli. Inilah konflik AS pertama dengan negeri Muslim di Afrika Utara. Di satu sisi Obama mengkritisi dunia Islam namun di sisi lain ia juga begitu defensif melindungi Amerika-nya. “AS telah menjadi salah satu sumber terbesar dari kemajuan dunia sekarang ini…”

Obama tidak banyak menyebut kebijakannya di Iraq dan Afghanistan, dan malah mempertajam ulasan tentang Holocaust dengan lagu lama yang sudah biasa kita dengar di media. “Menyangkal kejadian Holocaust sungguh tak bertanggung jawab, memalukan, dan hasad. …” Obama lupa, tidak satupun orang Islam yang menyangkal tentang Holocaust yang dilakukan Nazi Jerman kepada Yahudi, tapi yang menjadi keberatan adalah mengapa Yahudi menimpakan kompensasinya kepada dunia Islam dengan klaim atas tanah Palestina? Juga soal jumlah definitif korban Holocaut yang disebutkan Obama sebesar 6 juta orang, apakah tak membaca dan melihat hasil penelitian para ahli selama ini?

Obama juga membuat sebuah sindiran tajam kepada Mesir. Bahwa selama ini ada kecenderungan jika umat Katolik Koptik yang ada di Mesir banyak ditolak oleh kelompok lainnya. Lantas, bagaimanakah dengan nasib orang-orang Islam di Amerika sendiri yang untuk makanan pun, mereka harus bersusah payah mencari yang halal di senatero negeri Amerika? Sedangkan umat Kristen Koptik di Mesir diperlakukan begitu bagi. Mungkin seseorang harus membaca novel “Ayat-Ayat Cinta”—bukan filmnya, untuk sekadar bisa mengetahui hubungan Koptik dan Muslim di Mesir.

Kita sadar, bahwa pidato Obama tak mungkin memuaskan semua pihak, terutama mereka yang telah terlanjur membenci Amerika karena George W. Bush, tapi pidato Obama telah melakukan sebuah pekerjaan yang efektif pada dunia Muslim secara dhahir. Obama adalah seorang salesman ulung melebihi pendahulu sebelumnya (betul, Presiden Bush!), dengan artian, para pendengarnya akan membeli pesan yang telah disampaikan oleh Obama. (sa/cm)

http://eramuslim.com/berita/analisa/ketika-obama-membeli-negeri-negeri-arab.htm

Memotong Masa Depan Israel

Selasa, 09/06/2009

Masa depan negeri Zionis ini terseok-seok. Kemurunggan terus menggelayut diatas langit Israel. Pengangguran terus bertambah panjang. Semua jaminan sosial bagi kalangan miskin dihapus. Orang-orang Yahudi, yang mengantri di lembaga-lembaga karitas, hanya dapat bersedih. Krisis ekonomi global dan biaya perang membuat negeri Zionis itu, kini seperti sudah terpotong masa depannya.

Menteri Keuangan Israel, yang baru, Yuval Steinitz, memaparkan statistik di depan anggota Knesset (parlemen) Israel, dan sepertinya semua menjadi terhenyak. Melihat betapa buruknya kondisi ekonomi Israel. “Bagaimanapun tidak dapat dimengerti, sampai sekarang krisis ekonomi begitu buruk, dan kami menghadapi kondisi yang sangat kritis”, ujar Yuval.

Kemakmuran Israel bertumpu dari ekport, dan itu berlangsung selama seperempat abad, meskipun secara prinsip ini tidak pernah mencukupi kebutuhan ekonomi Israel. Tapi, sekarang yang menjadi mesin ekonomi bangsa Israel ini telah ambruk, dan ini merupakan saat yang sangat berat. Memang, krisis global ini membuat semua negara mengalami kesengsaraan, ekonomi mereka tidak tumbuh. Seluruh penduduk jagad mengalami kesulitan uang,dan mereka mengalami kesulitan membeli, artinya mereka tidak memiliki kemampuan membeli. Dan, Israel yang ekonomi tergantung dari eksport dan bantuan AS, sekarang betul-betul sekarat. Ekports industry ke luar anjlok sampai mencapai 33 persen, dibandingkan dengan tahun 2008, yang lalu. Inilah yang dilaporkan oleh Menkeu Israel Yuval Steinitz kepada Knesset, yang muram.

Demikian pula, Israel yang dikenal sebagai pedagang dan pembuat berlian, kini memasuki hari-hari yang paling muram. Karena, orang-orang tidak lagi memerlukan barang-barang yang bergemerlapan, dan semuanya sedang menghadapi kecemasan. Penjualan berlian menurun sampai 58 persen,dibanding dengan bulan sebelumnya. Beta Diamonds yang menjual berlian terbesar, di bursa berlian Ramat Gan menunjukkan penurunan yang tajam. Semuanya perusahaan yang mempunyai dengan perusahaan berlian di Israel, mengalami kerugian, karena sepinya pembeli. Termasuk bursa berlian yang ada di Abu Dabi, ikut melorot. Orang-orang Arab dan pembeli dari Timur Tengah lainnya, tidak ada yang tertarik dengan berlian Yahudi, sejak Israel melakukan invasi militer ke Gaza.

Kisah bangkrutnya indusrti Israel, seperti alat-alat kesehatan sekarang menumpuk di gudang, tidak ada yang membeli. Semua menjadi nestapa dan bangkrut. Eksport alat-alat medis dari 140 juta dolar melorot menjadi 125 juta dolar. Ini tak pernah dibayangkans sebelumnya oleh para CEO di Israel. Dan kebangkrutan itu dimulai dari perusahaan jasa keuangan seperti Lehman Brothers, yang dimiliki tiga bersaudara Yahudi, yang umurnya sudah 150 tahun, dan menyatakan bangkrut, terus menjalar keseluruh penjuru dunia.

Krisis ini menjalar sampai terjadinya ‘crash’ di Wall Street, yang menjadi pusat keuangan global, ikut ambruk. Semuanya hancur. Pemerintah AS melallui Federal Reserve (Bank Sentral), menggelontorkan dana sebesar 890 milyar dolar, menyelamatkan perusahaan raksasa perbankan seperti AIG, tapi menjadi sia-sia. Sekarang diikuti perusahaan otomotif seperti Chrysler, General Motor dan Ford sudah mengumumkan kebangkrutannya ke publik. Kehancuran perusahaan keuangan di AS itu, menyebabkan industri berlian di Israel ikut jatuh.

Bagi orang-orang Yahudi, krisis ekonomi yang sangat hebat, menyebabkan harga berlian ikut anjlok. “Harga berlian ikut ambruk. Krisis ekonomi global membuat semuanya menjadi kacau”, ucap Matin Rupport, di New York. Martin, keturunan Yahudi dari Yerusalem, yang kini berusaha berdagang berlian di New York, ikut bangkrut. Dalam waktu singkat para pekerja berlian, yang berjumlah 6.000 harus menganggur. “Ini bisnis keluarga, dan semuanya saudara”, ucap Martin Rupport. Menurut Martin bisnis berlian ini berkaitan dengan ideogi, dan sangat klasik, dan tak mungkin akan diberhentikan, meskipun menghadapi krisis. Bisnis ini sudah berumur 400 atau 500 tahun yang lalu, dan bermula di Wina, tambah Martin.

Industri berlian yang dimulai oleh Yahudi yang tinggal di Belanda dan Belgia, dan kini banyak yang dipindahkan ke Israel. Tapi, krisis yang menghentak ini, membuat bisnis yang menjadi tulang punggung ekonomi Israel, sangat merisaukan masa depan mereka. Bahkan, mereka menjadi sangat pesimistis, menghadapi masa depan, dan apalagi AS di bawah Obama, mereka nilai kurang memberikan dukungan, bagi masa depan mereka. Ekonomi Yahudi di AS, yang bangkrut akibatnya merembet ke Israel.

Krisis ekonomi di Israel itu sangat memprihatinkan. Seperti dikeluhkan oleh Menteri Keuangan Israel, Yuval Steinitz, bahwa Israel benar-benar kondisi darurat, dan sedang menghadapi bahaya. Masa depan mereka menjadi terancam. (m/jp)

http://eramuslim.com/berita/analisa/memotong-masa-depan-rezim-israel.htm

Satu Lagi, Kemenangan Bagi Gerakan Boikot Israel

Selasa, 09/06/2009

Veolia Transport, anak perusahaan dari perusahaan multinasional Prancis, Veolia Environnement membatalkan proyek kerjasamanya dengan pemerintah Israel untuk membangun jalur trem yang akan menghubungkan pemukiman-pemukiman Yahudi di wilayah pendudukan Israel di Palestina.

Kelompok-kelompok gerakan boikot Israel berhasil memaksa Veolia Transport membatalkan proyek senilai jutaan dollar itu meski harus mengalami kerugian. Veolia sudah berusaha menjual lima persen sahamnya dalam konsorsium proyek tersebut ke perusahaan lain, usaha itu menemui kesulitan karena perubahan struktur pemegang saham harus berdasarkan persetujuan Tel Aviv.

Pembatalan yang dilakukan oleh Veolia Transport menjadi kemenangan bagi kelompok-kelompok yang di Eropa yang gencar mengkampanyekan boikot terhadap Israel. Kelompok ini juga menyerukan agar perusahaan-perusahaan Eropa memutus kerjasama ekonomi dan investasinya di Israel.

“Veolia membuat kontrak-kontrak jangka panjang dengan pemerintah Israel untuk pembangunan infrastruktur dan proyek pengolahan sampah yang masa kontraknya bisa berlangsung selama 25 tahun,” kata Tom Hayes dari organisasi Boycott Israeli Goods (BIG) di Inggris.

Jika jadi dibangun, proyek jalur tram itu akan memudahkan trasportasi para pemukim Yahudi di kawasan Yerusalem Timur dengan pemukiman Yahudi di Tepi Barat. Dengan demikian, rezim Zionis Israel bisa makin menguatkan cengkeraman penjajahannya di Yerusalem Timur, meski oleh dunia internasional pendudukan Israel di wilayah itu dinyatakan ilegal. Pembuatan jalur trem yang menghubungkan pemukiman Yahudi merupakan bagian dari rencana yudaisasi Israel di wilayah pendudukan.

Sejak Veolia Transport menyatakan berpartispasi dalam proyek di Israel itu, perusahaan Prancis tersebut menuai kecaman dari berbagai kelompok solidaritas Palestina di Eropa. Mereka menilai keikutsertaan Veolia melanggar hukum internasional.

Omar Barghouti, ketua Boycott Divestment Sanctions yang sudah mengkampanyekan penghancuran tembok pemisah Israel di Tepi Barat sejak tahun 2004 mengungkapkan kegembiraannya atas keputusan Veolia dan menilai keputusan Veolia sebagai kemenangan atas kampanye mereka. (ln/aby)

http://eramuslim.com/berita/dunia/satu-lagi-kemenangan-bagi-gerakan-boikot-israel.htm

Obama Harapkan Lembaran Baru
Pada hakikatnya Islam tidaklah mengenal kekerasan

Presiden Amerika Serikat, Barack Husein Obama dalam pidatonya yang disampaikan di Universitas Kairo, Kamis (4/6) meminta kepada umat Islam dunia untuk sudi membuka kembali lembaran baru dengan Amerika.

“Hal ini demi kemaslahatan bersama bagi kedua belah pihak,” pinta Obama.

Dengan yakin dirinya mengatakan, bahwa nilai-nilai agama di Amerika dan Islam tidaklah berbeda, dengan nilai agama yang sama ini seyogyanya terjalin hubungan yang menjembatani perjuangan atas nama nilai-nilai kemanusiaan.

Dihadapan hadirin yang berjumlah lebih dari 3000 orang itu Obama menghimbau kepada seluruh masyarakat dunia agar menghapus image Islam sebagai agama yang radikal. Ia mengatakan, pada hakikatnya Islam tidaklah mengenal kekerasan.

Adapun untuk penyelesaian konflik Palestina dan Israel, Obama menginginkan ditempuh kembali jalur dialog antar kedua negara dan mempertemukannya dengan negara kwartet.

“Semoga semua dapat terselesaikan dengan baik”, harap Obama terhadap sengketa di tanah terjajah Palestina.

Obama juga menjanjikan perbaikan tidak sebatas dalam hubungan kemanusiaan saja, tapi juga meliputi hubungan pengembangan ekonomi, teknologi, pendidikan dan kesehatan.

Dirinya menegaskan, “Saya datang ke Kairo dengan tujuan membuka lembaran baru atas nama Amerika dengan umat Islam di seluruh dunia, dengan berlandaskan kepentingan bersama dan saling menghormati. Umat Islam dan Amerika selayaknya tidak lagi memiliki batasan-batasan sehingga tidak ada lagi kompetisi tak sehat di antara keduanya.”

Dari beberapa ungkapan pidato Obama yang menarik dan mendapat tanggapan banyak dari hadirin adalah ketika Obama mengatakan nilai-nilai Islam sama sekali tidak bertentangan dengan nilai demokrasi dan hak-hak wanita, pernyataan ini langsung disambut applause oleh para hadirin yang siang itu memadati aula kampus Universitas Kairo.

Di akhir pidatonya Obama mengakui bahwa selama ini hubungan antara Amerika dan Dunia Islam masih mengalami ketegangan, ia berharap dengan adanya komitmen perbaikan hubungan kemanusiaan ini akan tercipta kembali sebuah lembaran baru.

“Anggaplah yang telah berlalu itu adalah bagian dari sejarah dan cerita yang tak perlu diungkit,” pesan Obama mengakhiri pidato bersejarahnya (mjl/iol)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s