Nafas Budaya Rakyat Banten

Seminar Regional Seni Budaya Banten

Kebudayaan adalah nafas kehidupan sehari-hari… inilah yang saya tangkap dari studi banding dikota-kota yang berbudaya. Kebudayaan seringkali dianggap berpatokan pada nilai … dan pada sistem sosial budaya yang menjadi payung ketika panas terik membawa keteduhan dan hujan menguyur kita.

Kebudayaan juga dipahami  secara luas (keseluruhan budaya) berdasarkan 7 budaya universal dunia dan ethnografi  yang terdiri dari 9 (sembilan) unsur.   Kebudayaan juga barangkali bukanlah hanya sekedar kata-kata dan retorika serta tanda…kebudayaan adalah sesuatu yang ajeg … dan merupakan pedoman dasar ketika kita semua bersepakat memilihnya.

Kebudayaan adalah  milik semua warga bukan hanya milik kaum elit, seniman, budayawan, akademisi-intelektual, aktivis, dll. yang ada dikaca etalase dan pameran. Kebudayaan sekali lagi adalah nafas dan ruh yang berada dimana-mana, berumah dicahaya dan milik semua warga, semua rakyat.

UKM Pandawa Menggelar Seminar Ilmiah

Minggu lalu akhirnya seminar regional digelar di Untirta… gong ditabuh dengan sangat  meriah oleh UKM-Pandawa, menghadirkan narasumber  DR. Ali Fadillah dan Kang Dadi RSN serta saya sebagai moderator, juga narasumber lainnya Puun Pandawa. Amat sangat aneh rasanya ketika UKM-Pandawa menggelar acara yang sangat ilmiah melalui forum seminar dan diskusi panel di auditorium Untirta, karena mereka selama ini banyak berkiprah didunia praktisi pelaku budaya sebagai seniman yang sangat terkenal di tatar Banten.

Ternyata gebrakan pertama ini amat sangat bagus setidaknya memberi pemahaman baru tentang makna Seni Budaya Banten sebagai ranah kesenian dan bagaimana konteks kini untuk mengembangkan dan memajukannya.

Dari yang saya tangkap ternyata ada perbedaan mendasar antara Kang Dadi yang lebih berpengalaman didunia seniman serta banyak menggelar berbagai event juga sangat merakyat, dengan DR. Ali Fadillah sebagai orang yang memiliki latar belakang akademis  (lulusan S-3  Univ. Sorbone Prancis) dengan prestasi dan karir (sebagai arkeolog, sejarawan dan budayawan) serta hobi yang tak pernah surut menyoal masalah Seni Budaya Banten.

Keduanya memiliki kelebihan yang sangat bagus dan dapat dipetik hikmahnya dari paparan orasi budaya mereka. Kang Dadi memandang budaya mirip sekali dengan  kajian budaya-Cultural Studies melalui paparan yang lebih bijaksana memandang seni budaya sebagai sebuah dinamika tersendiri, tidak selalu ajeg bahkan dapat menciptakan kreasi dan kreativitas baru, apabila masyarakat menikmatinya.Contoh wayang golek di Jawa-Barat.

Sedangkan Dr. Ali Fadillah memandang seni budaya dengan kaca mata yang sangat akademis dan cerdas sekali, bahkan mengundang banyak pertanyaan untuk dijawab oleh civitas akademika Untirta. Barangkali inilah yang menjadi masalah dasar mengapa Seni Budaya Banten perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak bahkan oleh masyarakat luas.Yogya, Cirebon, Bali  sebagai sampel,  Banten mestinya dapat belajar dari mereka tanpa harus meninggalkan ciri (icon) dan ruh identitas budayanya, serta dapat mengembangkan juga melestarikannya secara massal dan edukatif.

Dari yang kecil ditanamkan di berbagai sekolah dan di perguruan tinggi hingga ditengah masyarakat, kebudayaan dalam arti luas dan seni budaya dalam arti sempit ini  telah  menjadi nafas kehidupan sehari-hari yang tidak dapat ditinggalkan oleh masyarakat Banten.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s