Berita Hari ini dan Legenda Palestina

Ratusan Yahudi Sederot Gelar Demo, Tuntut Pemerintah Israel Kembali Serang Gaza

Senin, 20/04/2009

Sederot, Ratusan penduduk Yahudi di wilayah Sederot, Israel, menggelar aksi unjuk rasa pada Jum’at (17/4) kemarin, menuntut militer Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza, Palestina.

Di hadapan para demonstran, salah seorang anggota Knisset (Parlemen) Israel dari Partai El Mifdal, Yaakub Kits, berorasi dan menyerukan pemerintah Israel harus kembali menjalankan aksi “senjata yang ditebar ke-2” alias kembali menggelar agresi militer ke Gaza.

Dalam orasinya, Kits juga mengisyaratkan orang-orang Israel akan kembali menduduki Gaza, dan akan mengembalikan pemukim Yahudi ke wilayah pesisir tersebut.

Sebagaimana diberitakan situs Islamtoday (18/4), pihak keamanan Israel telah berjaga-jaga dan memblokade jalan utama menuju Jalur Gaza guna mencegah para demonstran yang dikhawatirkan akan beraksi lebih lanjut menerobos ke Gaza.

Dalam aksi tersebut, keamanan Israel sempat menangkap puluhan demonstran yang dipandang melakukan tindak kericuhan di tempat demonstrasi.

Selama 22 hari beberapa waktu lalu, militer Israel menggempur Gaza tanpa ampun. Atas agresi itu, gedung-gedung banyak yang hancur, sekitar 1400 warga Gaza gugur dan 5000 lainnya luka-luka. (itd/L2)

Kekacauan dan Pembunuhan di Tepi Barat

Senin, 20/04/2009

Telah terjadi kekacauan di Tepi Barat, dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Palestina, yang menginginkan pembebasan Palestina dari Israel. Banyak tokoh dan pemimpin pejuang Palestina yang sudah syahid, akibat pembunuhan yang terencana. Sedihnya, pelakunya, tak lain adalah Otoritas Palestina (PA).

Seperti, dalam pernyataannya yang disampaikan kepada PIC (Palestinian Information Center), Dr. Ahmed Bahar, Juru Bicara Palestinian Legislative Council (PLC), menyatakan mantan Presiden Palestina, Mahmud Abbas,harus bertanggung jawab, atas terbunuhnya Sheikh Hamid al-Beitawi, beberapa waktu lalu.

Dr. Bahar menyatakan bahwa situasi di Tepi Barat, sangat serius, dan terus memburuk, serta timbulnya kekacauan, di mana tidak ada lagi keamanan, keselamatan, dan ketenteraman, khususnya bagi warga Hamas, dan tokoh-tokoh yang menentang Israel. Aparat keamanan PA dan pasukan Israel (IOF), melakukan kerjasama untuk mengeliminir tokoh-tokoh, dan sejumlah ulama,yang menjadi pemimpin gerakan perlawanan terhadap Israel di wilayah itu. Kematian Sheikh Hamid al Beitawi itu, merupakan korban konspirasi antara aparat keamanan PA dengan pasukan Israel (IOF), yang secara terus menerus melakukan operasi untuk menghancurkan kekuatan Hamas dan kelompok perlawanan lainnya.

Sementara itu, Assosiasi Ilmuwan Palestina, Minggu kemarin, mengecam keras atas pelaku pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Palestina, yang akhir-akhir ini terus terjadi. Ini merupakan tindakan maker yang sifatnya sangat sistematis,yang dilancarkan oleh aparat PA dengan pasukan Israel (IOF) di Tepi Barat. Dr. Ahmed Bahar, menyerukan penegakan hukum di Tepi Barat, agar semua yang telah melakukan kejahatan dihukum secara adil.

Dr. Bahar, situasi di Tepi Barat, sangat kritis, dimana hukum sudah tidak ada lagi. Setiap orang bertindak dengan menggunakan kekuatan senjata. Ini akan semakin menciptakan kekacauan yang lebih luas. Kekacauan ini memang tidak terlepas dari scenario yang diciptakan oleh pemerintah Israel, yang ingin menguasai seluruh Tepi Barat, dan menjadi wilayah ini sebagia tempat pemukiman baru bagi orang-orang Yahudi. Kombinasi antara Netanyahu dan Avigdor Liebarman, berusaha menuntaskan seluruh orang Arab keluar dari Yerusalem dan Tepi Barat. (m/pic)

Hamas : Siapapun Yang Selaras Dengan Netanyahu Telah Memukul Hak Dasar Palestina

Gaza-Infopalestina  : Gerakan Perlawananan Islam Hamas mengingatkan, sikap penguasa Ramallah yang selaras dengan perdana menteri Israel Netanyahu untuk mengakui Negara Yahudi Zionis adalah tuntutan Zionis yang sangat berbahaya. Segala bentuk dukungan atau payung hukum terhadap Zionis merupakan pukulan keras terhadap hak-hak legal serta prinsip-prinsip dasar Palestina.

Pernyataan ini diungkapkan Fauzi Barhum dalam pernyataan persnya yang dilansir pusat infromasi al-Bayan Sabtu (18/4). Ia mengatakan, ajakan untuk mengakui legalitas Entitas Zionis radikal teroris harus disikapi dengan langkah-langkah Palestina, Arab maupun Islam dengan menghentikan semua bentuk perundingan, normalisasi dan koordinasi dengan pihak musuh Zionis.

Ia menegaskan ajakan ini menegaskan bahwa penjajah menginginkan legalitas atas negaranya yang rasialis dan radikal. Kami melihat tuntutan ini sangat berbahaya dan bahwa tuntutan ini dari pihak Zionis sebagai penegasan atas kesepakatanya pada KTT Annapolis.

“Yang paling kami takutkan juga, ungkap Barhum bahwa tuntutan ini terkait dengan kesepakatan-kesepakatan rahasia antara Abu Mazen (Mahmud Abbas) dengan pihak Zionis dengan imbalan sejumlah dana serta kebijakan politik yang telah dipersiapkan Amerika dan Zionis. Tuntutan ini sangat berbahaya, juga karena berkaitan dengan proyek Zionis tentang hak-hak Palestina serta hak otoritas di wilayahnya”. (asy)

Jihad Islam Desak Negara Arab Keluarkan Kebijakan Konfrontasi dengan Israel

Era Muslim Minggu, 19/04/2009

Gerakan perjuangan Palestina – Jihad Islam menyerukan pemerintahan Arab serta pihak otoritas Palestina untuk mengeluarkan kebijakan konfrontasi dengan pemerintahan sayap kanan Israel yang dipimpin oleh PM Israel Benyamin Netanyahu, pada Sabtu kemarin.

Dalam siaran pers yang dibicakan oleh salah seorang juru bicara Jihad Islam Khaled Al-Batsh, Jihad Islam mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak peduli dengan kesepakatan atau komitmen yang dibuat oleh pihak otoritas palestina dalam kaitannya dengan perdamaian dengan Zionis Israel.

Pernyataan resmi dari pemerintahan Zionis Israel yang menjajah Palestina menyatakan “mentalitas Zionis dari pemimpin-pemimpin Israel dan rencana mereka adalah untuk mengusir warga Arab yang berada di dalam Israel dari rumah-rumah mereka,” menurut pernyataan tersebut.

“Para pemimpin Israel memanfaatkan kelemahan dari negara-negara Arab yang mencapai masa surutnya yang paling rendah selama agresi militer Israel di Gaza awal tahun ini,”kata Al-Batsh.

“Kelemahan ini telah mendorong Netanyahu untuk meminta negara-negara Arab mengakui identitas Yahudi Israel sebagai daya tawar untuk memperpanjang konflik dan menghindari persyaratan perdamaian.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah kebijakan konfrontasi dengan penjajah Israel, bukan berdialog untuk untuk berdamai dengan mereka.

Al-Batsh mencatat bahwa pemerintah Israel tidak menghormati komitmen sebelumnya dan sama sekali tidak memiliki agenda untuk pembicaraan damai.

Ketika pemilu, para pemimpin Israel berbicara tentang “sebuah rumah alternatif bagi rakyat Palestina,” pengusiran warga Arab dari dalam Israel dan rencana menyerang bendungan besar di Mesir, Syria dan Iran, dan pernyataan mereka tersebut mencerminkan mainstream dari para pemilih Israel, lanjut Batsh.

Para pemimpin senior gerakan Jihad Islam mendesak faksi-faksi pejuang Palestina untuk memperbaiki keretakan diantara mereka serta menyerukan negara-negara Arab untuk membuat sebuah kebijakan yang konfrontasi langsung dengan pemerintahan garis keras Zionis Israel.

Selama pembicaraan yang berlangsung antara utusan timur tengah presiden Obama – George Mitchell di Yerusalem hari Kamis yang lalu, Netanyahu menuntut bahwa Palestina yang harus pertama kali mengakui Israel sebagai sebuah negara Yahudi sebelum mendiskusikan solusi sebuah dua negara. (fq/kuna)

Berita Palestina Sebelumnya

Konferensi Islam Minta Bangsa Arab dan Islam Solidaritas Serius Terhadap Al-Aqsha

[ 19/04/2009 – 07:26 ]

Amman – Infopalestina: Konferensi Umum Islam untuk Baitul Maqdis dan Badan Islam – Kristen meminta kepada bangsa Arab dan umat Islam, para pemimpin rakyat dan institusi parlemen-perlemen memberikan solidaritas serius terhadap masjid al-Aqsa dan membela rakyat Palestina dalam menghadapi rencana-rencana Zionis Israel yang ingin meyahudisasikan Al-Quds dan menggagalkan rencana itu dengan segala sarana yang ada.

Konferensi Umum Islam dan Badan Islam – Kristen dalam sebuah pernyataan bersama mereka yang salinannya diterima oleh Infopalestina kemarin Sabtu (18/4) menyampaikan seruannya kepada bangsa Arab dan Negara-negara Islam untuk melakukan solidaritas terhadap masjid Al-Aqsa.

Pernyataan bersama ini menyerukan pentingnya mengangkat tindakan dan praktek Israel yang kejam dan jahat ini secara sungguh-sungguh, dan bekerja untuk menggalang opini publik internasional dan mengumumkan Solidaritas Islam – Kristen muka dalam menghadapi ancaman langsung terhadap tempat suci umat.

Pernyataan juga menyerukan kepada Sekjen PBB, Presiden Dewan Keamanan PBB, dan badan-badan internasional untuk memberikan tekanan pada entitas Israel untuk menghentikan kejahatan Israel ini. Mereka meminta kepada Sekjen OKI dan Liga Arab untuk memberikan solidaritasnya kepada Palestina Arab Palestina dalam ketegarannya menggadapi dan membela masjid Al-Aqsha yang kini sedang menghadap bahaya besar dari Israel. (bn-bsyr)

Batasy : Kami Tolak Akui Israel dan Tidak Setuju Dengan PLO

[ 19/04/2009 – 07:07 ]

Gaza-Infopalestina : Pemimpin Gerakan Jihad Islam, Kholid El-Batasy menegaskan, pihaknya menolak memasukan syarat pengakuan terhadap Israel atau komitmen dengan kesepakatan PLO untuk pemerintahan Palestina yang akan datang.

Dalam penjelasanya kepada pusat infopalestina, Al-Batasy mengatakan, gerakanya mengusulkan susunan pemerintah rekonsiliasi nasional Palestina atas dasar urgensinya bukan atas program-programnya. Kami mengusulkan agar pemerintahan yang akan datang memperhatikan urgensinya yang paling utama yaitu rekontruksi Gaza serta persiapam dalam pelaksanaan pemilu parlemen dan presiden. Di samping merekontruksi susunan dinas keamanan di Tepi Barat dan Jalur Gaza, ungkapnya.

Ia mengisyaratkan, yang mengalang-halangi proses dialog selama ini adalam Tim Kuartet termasuk di dalamnya Amerika yang menginginkan pemerintahan mendatang mengakui Entitas Zionis disamping menerima persyaratan dari lembaga ini demi mendapat bantuan fisik untuk rekontruksi Gaza.

Terkait dengan Jihad Islam, Kholid Al-Batasy mengatakan, solusi yang mungkin dilakukan adalah dengan menganggap Mahmud Abbas dan presiden Mubarak serta sebagian pemimpin Arab agar berkepentingan untuk memprioritaskan masalah pemerintahan Palestina tanpa mengakui Entitas Zionis.

Adapun kondisi Negara Zionis dengan naiknya aliran kanan pada pemerintahan Israel serta pengaruhnya dimasa yang akan datang, pemimpin JI ini mengatakan, yang jelas di masa yang akan datang akan semakin panas. Bukan hanya di wilayah Palestina tetapi juga akan merembet ke sejumlah Negara Arab.

Dalam pada itu, Al-Batasy menghimbau bangsa untuk bersatu. Yang penting sekarang adalah mengembalikan persatuan nasional Palestina secepatnya. Semua faksi harusnya bersatu dalam perlawanan. (asy)

Rizqah: Statemen Netanyahu soal Negara Yahudi Bukti Hak-hak Palestina Terancam

[ 19/04/2009 – 06:42 ]

Gaza – Infopalestina: Dr. Yousef Rizqa, penasihat politik Perdana Menteri Palestina menilai bahwa statemen Perdana Menteri Netanyahu soal pengakuan terhadap status Negara Israel sebagai Negara yahudi dalam perundingan damai untuk menyelesaikan dua Negara adalah bukti secara media tentang fakta berbahaya terkait dengan hak-hak dasar Palestina dan hak kembali.

Rizqa mengatakan dalam siaran pers untuk Pusat Media Al-Bayan pada Sabtu (18/4) bahwa pembicaraan status Negara Yahudi Israel berarti menghapus hak kembali warga Palestina ke kampong halaman mereka yang diusir tahun tahun 48 dan jelas-jelas penolakan Israel terhadap resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hal ini, khususnya resolusi 194″ .

Dia menyatakan bahwa Netanyahu menaruh istilah “negara Yahudi” bertujuan untuk mencari jalan keluar dari konfrontasi dengan media Arab dan internasional padahal tidak tidak ada sebuah negara dimanapun yang memiliki rasisme melebihi ini.

Dia menekankan bahwa masyarakat internasional memiliki kewajiban untuk memberikan hak Palestina seperti yang diatur dalam resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dia menyerukan kepada semua pihak untuk melihat pernyataan ini sebagai pernyataan berbahaya dan menyerukan pada masyarakat internasional untuk mengambil sanksi tegas terhadap pemerintah Zionis Israel mengadopsi pendekatan rasis dan memberontak resolusi PBB, dan meletakkan Israel dalam hukum internasional sebagai Negara pemberontak.

Rizqah mengkritik sikap Mahmoud Abbas yang mengekor kepada Netanyahu, meskipun sikap radikal dan ekstremis yang ditunjukkan oleh pemerintah Israel. Ia juga menekankan bahwa koordinasi OP dengan Pemerintah Netanyahu adalah kejahatan nasional yang harus dihentikan dengan cara apapun.

Dia menambahkan, Abbas telah membenturkan rasa nasiolisme Palestina dengan memberikan ucapan selamat kepada pemimpin Israel itu dalam rangka Hari Paskah.” (bn-bsyr)

Terminologi Netanyahu

[ 06/04/2009 – 05:56 ]

Dr. Ibrahim Bahrawi

Harian Ittihad Emirat

Menyimak pidato Netanyahu pecan lalu di depan parlemen Knesset setelah membentuk pemerintahannya, Anda akan menemukan sejumlah terminology berikut; pertama, “Islam Esktrim di Dunia”. Lebih dari sekali ia menyampaikan ia ini. Dengan ungkapan ini ia berusaha menegaskan prioritas krisis keamanan yang dihadapinya. Ini bukan istilah baru bagi Netanyahu dan pemerintahan Israel sebelumnya terutama yang dipimpin Likud oleh PM Sharon. Apalagi terjadi peristiwa 11 September di Amerika Serikat. Netanyahu menggunakan istilah ini untuk mempengaruhi politik Amerikan Serikat di bawah pimpinan Obama. Di masa lalu, dengan istilah yang sama, Netanyahu berusaha menyeret dunia Arab kepada cara pandang politiknya ketika ia mengatakan, “dunia Arab adalah juga ancaman dari Islam ekstrim”.

Kedua, istilah “Pendidikan untuk Perdamaian” atau “Isu budaya perdamaian” ia menyampaikan ini dalam rangka berharap terwujud perdamaian dengan dunia Arab dan Negara-negara Islam. Netanyahu mengatakan, “Agar ada perdamaian harus ada patner perdamaian yang mengajarkan anak didik mereka tentang perdamaian dan menyiapkan genarasi yang mengakui Israel sebagai Negara suci bagi bangsa Yahudi,” istilah ini tidak beda dengan yang digunakan Netanyahu tahun 1996 yang juga ditujukan kepada Negara-negara Arab. Pada saat itu, respon Negara-negara Arab; Israel harus memulai menggunakan budaya perdamaian dalam politiknya untuk meyakinkan Arab dan ketakamakan ekspansi Israel tidak boleh diwariskan kepada generasi baru di Israel, dan bawa kecenderungan menghinakan Arab harus dihentikan, menghentikan budaya dan wawasan Israel bahwa Arab bukan manusia.

Jadi Netanyahu meminta kepada Arab dan kaum Muslimin untuk menyiapkan generasi yang mencintai perdamaian dan cinta kasih agar mudah menjadi mangsa bagi generasi Israel di masa depan yang sudah disiapkan untukk menjadi manusia ekspansif dan penebar permusuhan.

Ketiga; istilah “tiga rute yang saling berkaitan” untuk berinteraksi dengan pemerintah otoritas Palestina. Rute ekonomi Netanyahu agarnya lebih yang ia sebut sebagai “perdamaian ekonomi” yakni bantuan kepada ekonomi Palestina untuk menumbuhkan hubungan dengan ekonomi Israel. Di sini Netanyahu menghindari penuh dari solusi dua Negara. Netanyahu juga menempuh rute keamanan; ia mengatakan, “kami mendukung aparat keamanan Palestina yang melakukan aksi anti terorisme.” Ini sudah pernah dilakukan Netanyahu ketika menjanjikan Hebron kepada Otorias Palestina dengan kompensasi membendung dan menghabisi perlawanan Palestina.

Rute ketiga adalah rute politik. Ia akan melakukan perundingan dengan otoritas Palestina untuk menemukan kesepakatan final dan permanen. Disamping menghindar dari solusi dua Negara, ia juga menegaskan bahwa Negara Palestina sulit didirikan dengan kedaulatan penuh di wilayah mereka. “Kami tidak ingin menguasai Palestina, mereka akan memiliki kewenangan untuk mengurus diri sendiri kecuali kewenangan yang mengancam keamanan Israel,”

Di sini Netanyahu tidak bersandar kepada Tim Kuartet internasional dalam memecahkan konfliknya dengan Palestina baik Peta Jalan atau referensi internasional atau Prakarsa Perdamaian Arab.  Politik Netanyahu tidak bisa terlepas dari watak aslui kanan ekstrim Israel di pemerintahannya yang juga ikut di dalamnya partai Israel Beetena yang mendukung penuh program tanah Israel di seluruh Negara Arab, apalagi Tepi Barat.

Kita dihadapkan kepada terminology-terminologi lama dan sudah teruji hasilnya yang ekstrim di era pemerintahan pertama Netanyahu dulu. Sehingga lembaga-lembaga Liga Arab dan KTT Arab harus menyerukan langsung kepada Amerika agar bersikap segera terhadap prakarsa perdamaian Arab dan terminology yang digunakan Netanyahu soal perdamaian agar tidak membuang-buang waktu. (bn-bsyr)

Palestina Legenda Penyelesaian dan Tanah Yang Dijanjikan

[ 12/04/2009 – 05:52 ]

Fakhir Syartih

Kaum Protestan ortodok Amerika masih menafsirkan secara harfi terhadap teks perjanjian lama dan menilai bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan bagi Yahudi. Pikiran mereka masih dikuasai oleh zionis. Kebanyakan mereka melihat bahwa Negara Israel adalah perwujudan ramalah yang ada dalam perjanjian lama. Mereka melihat Israel sebagai kaum Ibrani klasik, kembalinya mereka ke Palestina, berdirinya Negara di sana adalah perwujudan “legenda” penyelesaikan.

Pastur Jimmi Suwaijirat mengatakan, “tuhan mengatakan: saya memberikan berkah kepada orang yang memberkahi (mendukung) Israel, melaknat orang yang melaknatnya. Dengan keutamaan tuhan, Amerika Serikat masih unggul. Saya yakin Amerikan tidak bisa sehebat itu kecuali karena ia mendukung Israel. Saya berdoa agar dukungan kepada Israel itu berlanjut terus,”

Misinonaris Brsoons Levy menyerukan, “Di dalam hati setiap Yahudi bergemuruh keinginan yang tidak mungkin dipadamkan untuk meyahudikan tanah Palestina yang diberikan oleh kakek mereka jika kerajaan Utsmaniah dihancurkan. Hanya mukjizat saja yang bisa menghalangi kembalinya yahudi ke tanah mereka dari penjuru dunia,” Di tengah tumbuhnya permukiman yahudi di Al-Quds, Hebron, Shafad maka kepedulian dunia terhadap zionisme semakin besar. Karena mereka menilai itu sebagai perwujudan ramalan. 50 tahun setelah digelarnya konferensi zionis pertama, ketua kelompok Marmon “Orson Hyde” mengatakan, “Gagasan kebangkitan Yahudi di Palestina menguat dari hari ke hari. Roda besar mulai berputar. Sudah pasti tuhan sudah memerintahkan agar roda itu berpurat di porosnya.” Mantan PM Israel Benjamen Netanyahu mengatakan, “Untuk menghilangkah duri apapun dalam gagasan ini, ada sebagian kaum Kristen siap membantu roda itu berputar,”

Dulu Mr. Edwin Sherwin Wulenr – mantan konsul AS di Palestina – mengatakan, “Orang-orang Israel butuh pulang ke tanah yang bisa dikatakan bahwa itu milik mereka ke kota yang mencerminkan pembebasan, tempat yang mereka tinggali sekarang yang tersebar adalah asing bagi mereka. Tempat itu hanya akan terwujud di Palestina. Saya, Palestina akan berada di tangan Yahudi. Tanah menunggu dan bangsa sudah siap datang. Zionis selain dari bangsa Yahudi dari Inggris dan Amerika Serikat baik yang agamis atau sekuler secara langsung mempengaruhi para politisi untuk mewujudkan menghimpun yahudi di Palestina”

Dari sini jelas bahwa protestan Amerika menilai perjanjian lama adalah sumber informasi sejarah umum. Ada manipulasi Israel terhadap sejarah dengan pengakuan hak sejarah di Palestina untuk menggiring kaum Kristen memahami letelek kisah-kisah Yahudi saja. Sehingga generasi barat kemudian menilai Palestina sebagai negeri Yahudi.

Tindakan mereka mengungkap tabiat manipulasi yang dilakukan oleh zionis, Kristen dan Yahudi yang melegalkan perang mereka demi cita-cita. Manakhem Begin, mantan PM Israel yang menandatangani perjanjian damai dengan Anwar Sadat, presiden Mesir setelah perang Libanon mengatakan, “Israel akan menikmati apa ada dalam teks Taurat dari 40 tahun perjanjian damai,” bagi zionis berpegang dengan tuarat, membunuh, mengusir warga Palestina, menumpahkan darah adalah warak dan mendekat diri kepada tuhan mereka.

Inilah yang mendorong Benjamen Netanyahu berpidato di depan kaum Kristen zionis, “Ada kerinduan lama dalam budaya yahudi untuk kembali kepada tanah Israel. Mimpi ini yang didambakan sejak 2000 tahun lalu yang diledakkan oleh kaum Kristen zionis. Kristen zionis tidak hanya aliran pemikiran, mereka benar-benar merencanakan untuk kembalinya Yahudi ke Palestina. Kristen telah memberikan dukungan panjang dan berkesinambungan serta keberhasilan bagi Yahudi, termasuk dalam bidang sastra Inggris. Seperti riwayat Goerge Eilot dari zionis yang dikenal dengan sebutan Daniel Dirundha yang meramal bahwa yahudi akan mendirikan entitas baru perpanjangan dari entitas lama. Sebab aka nada negeri di timur yang membawa budaya dan mendapatkan simpati dari Negara-negara besar. “Kristen protestan telah membantu mengubah legenda manis menjadi negera yahudi,” tegas Netanyahu. (bn-bsyr)

Obama Mundur dari Obsesi Perubahan

[ 29/03/2009 – 03:43 ]

Bilal Al-Hasan

Asyrqul Ausath

Tidak ada indikasi pemerintah baru Amerika memiliki rencana praktis menciptakan solusi konflik Arab – Israel. Yang ada hanya indikasi mereka akan menggulirkan masalah ini melalui perundingan dan menciptakan solusi parsial dalam satu pasal di sana sini. Dalam ilmu diplomasi ini mereka sebut sebagai diplomasi pengguliran atau diplomasi managemen konflik, bukan diplomasi kesepakatan akhir atau pemberian solusi. Yang baru dalam hal ini; ini tidak terkait dengan ancaman-ancaman Amerika terhadap Palestina atau Arab ala George W. Bush; lakukan dulu, jika tidak!!!. Atau dengan cara mengajukan janji-janji ‘sakit’ kepada Palestina berupa symbol dan jargon “dua Negara” kemudian kepada Israel diberi janji mendirikan dua Negara dengan syarat Negara zionis ini dan perluasan pemukiman. Presiden Barack Obama memiliki jargon perubahan. Perubahan dimatanya hanya tidak menempuh strategi perang antisipasi. Namun strategi “memancing” perang, menekan, terus meminta tunduk kepada pengaruh Amerika, membela sekutu-sekutuhnya seperti Isreal masih terus ditempuh oleh Obama. Hal-hal terakhir ini tidak masuk dalam cakupan jargon perubahan.

Ini harus dipahami agar kita memahami presiden Obama tanpa terjebak dalam waham Arab dan Palestina. Ini kami katakan ketika sejumlah contoh jelas dan nyata berupa keputusan-keputusan yang diambil Obama yang membuktikan apa yang kami katakana. Misalanya, pemerintah Amerikan Serikat beberapa pecan lalu mengumumkan secara resmi bahwa mereka tidak akan ikut dalam konferensi anti rasisme yang digelar oleh PBB. Konferensi ini membawa nama konferensi Durban, kota di Afrika Utara yang kali ini digelar di Jenewa. Factor sikap dan keputusan Amerika ini adalah bahwa piagam konferensi yang sudah disiapkan sejak sekarang salah satunya berisi kecaman terhadap “perbudakan”, mengecam rasisme kulit hitam, anti semua yang berbau rasisme dan diskriminasi. Pasal ini pastii akan mencakup rasisme gerakan zionisme terutama dalam lingkup politik Israel terhadap Palestina. Amerika menolak menandatangani piagam ini dan menarik diri dari konferensi ini ketika digelar kali pertama. Untuk saat sekarang ia sudah menyatakan menolak ikut. Menyusul pernyataan Amerika ini, Israel menyambut baik sikap Amerika.

Jadi sikap Amerika tidak ikut dalam konferensi sebagai bentuk bentuk pembelaan dan penjagaan terhadap Israel yang terkena tudingan rasis. Sikap Amerika ini akan melegakan pusat-pusat lembaga Israel penekan di dalam Amerika.

Masih ada yang lain. Presiden Obama (kulit hitam) yang didukung warga Amerika kulit hitam berlepas diri dari pengumuman Amerikan mengecam perbudakan yang dialami kulit Amerika hingga tahun 1960. Perubahan sebagai jargon utama Obama tidak mencakup perang anti perbudakan. Ini artinya Lobi Yahudi masuk sangat efektif dan masih menekan serta mampu melakukan tekanan-tekana untuk kepentingan Israel.

Beberapa saat lalu terjadi perang Lobi Yahudi Israel melawan Obama. Ketika itu ketahuan Obama ingin mengangkat Chas Farimen, sebagai ketua Dewan Intelijen Nasional. Mayoritas di Kongres Amerika menolak penunjukan ini. Secara terang-terangan penyebab penolakan ini adalah karena sikap-sikap Farimen karena ia anti politik Israel terhadap Palestina. Ia juga anti politik Amerika yang memusuhi Cina.

Bagian kita sebagai bangsa Arab dan Palestina dari politik lentur dari Obama yang diwakili oleh George Michael yang laporannya mendukung kondisi Palestina – Israel tahun 2002. Mithcael mengeluarkan laporannya yang moderatnya yang menyerukan dihentikan aksi permukiman Israel. namun di sisi lain menyerukan dihentikan aksi intifadah Palestina. mungkin Mitchael adalah orang baik yang akan menekan Israel menerapkan Peta Jalan Damai. Atau akan menekan menghentikan permukiman Israel atau pemukiman yang tidak legal – seperti mereka katakan, seakan permukiman sisasnya legal – namun tetap saja itu bukan solusi politik.

Bagi Palestina dari semua pihak harus pandai mengambil pelajaran ini.

Bagi mereka yang yakin dengan perundingan dengan Israel, ia harus memahami gaya perundingan Amerika yang akan ia terapkan ketika memaintens antara Palestina dan Israel.

Bagi pihak Palestina yang menolak jalan yang ditempuh oleh Otoritas Palestina yang ikut dalam perang Gaza, mereka harus memahami cepatnya gerak angina politik internasional. Namun gerak cepat politik itu bisa jadi tidak cukup untuk mendorong ‘kapal’ perjuangan Palestina sesuai dengan yang diharapkan.

Bagi pihak Arab yang memaintenes rekonsiliasi nasional Palestina harus menyadari dan paham isyarat-isyarat Amerika yang memerlukan upaya menyimpulkan strategi yang perlu diambil Arab dalam hal ini sehingga mereka tidak terjebak dalam waham atau hanya pesimis. Mereka harus membuat kaidah baru sebagai dasar membangun hubungan baru dengan Palestina, perlawanan, politik secara bersamaan. Bukan dalam hal politik saja. (bn-bsyr)

Pengakuan Israel, Mereka akan Terhapus

[ 12/03/2009 – 01:13 ]

Sabreen Dayyab
Harian Al-Quds al-Arabi
Yang mengkhawatirkan Organisasi Zionist Internasional dari Negara Israel adalah karena posisi Israel dan zionis sudah mengalami penurunan di seluruh dunia dalam skala besar bahkan di negara-negara dimana pemerintahannya dan opini publicnya mendukung Israel baik dari sisi politik, materi dan ideology. Yang mereka khawatirkan bukan karena menurunnya solidaritas dunia kepada Israel dan kejahatannya namun karena meluasnya kecaman dunia terhadap kejahatan Israel setelah terungkap kedoknya. Negara yang mengaku demokratis itu terhadap terhanya sangat jahat dan sadis terhadap bangsa Arab yang mereka ingin lenyapkan dari eksistensinya.

Sudah terungkap kedok “penyesatan opini Israel” terutama setelah terungkap data-data menunjukkan bahwa mereka berdiri di atas darah dalam perang imperialisme terhadap gerakan pembebasan Arab. terutama kejahatan dan pembantuan yang mereka lakukan baik oleh pasukan atau warga pemukim Israel di wilayah-wilayah Palestina.

Darah rakyat sipil Palestina di Jalur Gaza dan ribuan korban meninggal dan luka-luka lainnya dari anak-anak, wanita, lansia tidak akan membeku kecuali jika Israel lenyap. Tindakan diskriminatif mereka selama 60 tahun terhadap rakyat Palestina, warga asli semakin meyakinkan dunia bahwa bahwa ideology dan tindakan penguasa di Israel adalah “gerakan rasisme yang menebar kejahatan”.

Untuk mengconter meluasnya kutukan dan kecaman dunia terhadap mereka, Pemerintah Zionist Israel mendapatkan jawabannya dengan cara melakukan opini balik membela diri. Mereka menuding balik siapa saja yang mengecam politik Israel bahwa dia anti Semit, anti Yahudi dan anti “Israel”. Namun tetap saja tindakan anti kemanusiaan zionis di Palestina menurunkan kedudukan Israel. Ini yang membuat khawatir biro-biro yahudi di dunia. Inilah yang ditegaskan oleh Ketua Badan Yahudi Dunia Zeev Beleski masa jabatannya berakhir Februari 2009 ini dimana ia menulis di koran Yediot Aharonot awal Maret lalu dengan judul “Bangsa yang Akan Hilang di Tengah Jalan”. Menurutnya hilangnya yahudi itu bukan karena menurunnya jumlah karena dikejar-kejar karena hukum atau gerakan anti semit atau rasis. Namun hilangnya Israel itu karena “pembauran Yahudi dengan bangsa lain” melalui perkawinan campuran sehingga memperkecil jumlah yahudi berdarah asli. Ia mengungkapkan data pembauran itu di Amerika Utara hingga 50%, di Inggris dan Perancis 40%, 45% di Brazil dan di Argentina, dan 80% di Rusia!

Hubungan orang-orang Yahudi yang diaspora dengan organisasi Zionis mengalami penurunan drastic. Di Amerika kurang dari 50% orang-orang tidak terkait dengan dengan organisasi Yahudi, 60 % dari yahudi Amerika utara tidak pernah berkunjung ke Israel meski hanya sekali. Bahkan mayoritas Yahudi di sini tidak meyakini bahwa Israel sebagai kendaraan untuk menentukan identitas mereka. Ketika 60 tahun lalu Israel terbentuk warga Yahudi dunia meyakini ini sebagai capaian mereka, namun kini keyakinan ini semakin luntur. Kebanyakan Yahudi dunia terutama di Amerika utara kini lebih loyal kepada Negara tempat tinggal mereka dan bukan kepada Israel. Mereka adalah generasi kedua dan ketiga yang dilahirkan di Amerika dan tidak memperoleh pendidikan Yahudi yang hakiki dan tidak bisa berbahasa Ibrani. Mantan Ketua Organisasi Yahudi ini Zeev Beleski menilai bahwa untuk menghadapi ini Israel bertanggungjawab menjamin tetapnya bangsa Yahudi yang diapora. Yang menjadi krisis sekarang adalah hubungan Israel dan yahudi diaspora sekarang.

Namun Zeev tidak menyentuh akar krisis itu sekarang. Sebab antara artikel-artikel Israel dan data yang ada di lapangan menunjukkan kontradiksi. Politik jahat pemerintah penjajah Israel semakin meyakinkan bahwa Negara Israel adalah tempat paling tidak aman bagi Yahudi dan semakin tidak benarnya pernyataan Israel soal penghimpunan Yahudi di Israel untuk menyelamatkan mereka dari tekanan dan rasisme serta gerakan anti Semit.

Tindakan rasialisme Israel yang memusuhi kemanusiaan, keadilan sosial, kemerdekaan bangsa adalah identitas asli pemikiran gerakan zionisme yang tidak mungkin menjadi daya tarik atau dukungan bagi mereka. Baik dari Negara merdeka dunia atau bahkan dari biro-biro Yahudi di dunia. Inilah penyebab sesungguhnya menurunnya pamor Israel, bukan seperti yang diungkap oleh Zeev Beleski. (bn-bsyr)

*Kolumnis Palestina

Pemimpin Timur Tengah Baru

[ 13/04/2009 – 03:51 ]

Ridwan Jarraf

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa penguasa dunia saat ini adalah sekelompok elit yang berada di pucuk pimpinan negera-negara besar. Dimana pengaruh mereka merasuk dan menentukan Negara-negara lainnya melampaui batas-batas geografi pada tataran strategi. Sampai pada tingkat politik mereka mendikte syarat-syarat tertentu dan atas nama reformasi. Meski reformasi itu tidak sesuai dengan watak budaya, identitas warisan peradaban negera-negara tersebut. Ini mendorong kita untuk menyampaikan pertanyaan, siapa yang bertanggungjawab sehingga Negara-negara besar itu menerapkan politik-politik pemaksaan dan dan dikte yang bernuansa permusuhan?

Tandlim Al-Qaidah di satu sisi dan gerakan perlawanan Islam Hamas, kelompok perlawanan dan penentang, berbagai krisis moneter di sisi lain adalah dua penyebab utama yang mempengaruhi dalam pembentukan berbagai politik sejarah dunia modern. Amerika menjadi Negara tidak peka dan menggariskan bentuk politik masa depan tanpa menganggap fakta adanya Tandlim Al-Qaidah. Hingga akhirnya melalui pemilihan AS yang diperebutkan oleh calon-calon imprialisme jahat Amerika, ditambah masalah ekonomi dan keuangan serta kaitannya dengan krisis keuangan yang masih membuat dunia barat kalang kabut. Sehingga muncul pertanyaan, siapa yang menguasai dunia sesugguhnya, kata Aristoteles, siapa yang menguasai dunia dengan kekuatan?

Tandlim Al-Qaidah mampu menemukan dirinya memiliki tempat selalu di Dewan Keamanan dan Majlis Umum PBB dan dalam jadwal pemerintahan Amerika dan Inggris.

Sementara gerakan perlawanan Islam Hamas, ia telah memberikan warna lebih jelas dan besar dalam sejarah Timur Tengah modern. Ketika membicarakan Timur Tengah hari ini, tidak mungkin kita lupakan nama gerakan Hamas dan Jalur Gaza. Dunia sekarang dengan Negara-negara besar dan kecilnya, semuanya disibukkan dengan satu hal yakni gerakan perlawanan Islam Hamas. Mereka sibuk bagaimana caranya membujuk Hamas dan membuat gerakan ini puas atau bertekuk lutut.

Gerakan Hamas hari ini telah menjadi perhitungan semua Negara-negara dunia yang ingin memiliki peran dalam penyelesaian konflik Arab Israel baik dengan mendukung Israel atau dengan melakukan konspirasi atas Palestina. Tak ada seorang pun yang melakukan maneuver politik di Timteng tanpa melirik sikap Hamas. Bahkan pihak otoritas Palestina yang menjadi budak Israel, Amerika, Negara barat kini sekarang dikesampingan. Semuanya kini focus kepada PM Ismael Haniya dan pemerintahannya yang mampu menghadang bom dan rudal Israel serta blockade.

Hari ini gerakan Hamas benar-benar berkuasa secara tidak langsung dalam banyak alternative yang ditawarkan dan politik Negara-negara yang disebut “Negara pagar betis” bahkan Negara yang tidak berbatasan dengan Palestina. Hal itu paling jelas ketika Negara-negara yang ingin melakukan rekontruksi Jalur Gaza dan ingin memberikan dana bantuan kepada pemerintah Ramallah yang sudah habis masa pemerintahannya. Ini menyebabkan Abbas dan timnya terjebak dalam posisi yang tidak layak orang iri kepadanya. Bahkan Negara-negara Arab sekarang tidak melirik kepada Abbas.

Hamas berhasil dalam hal itu, bukan berkat kegigihan dan ketegarannya dalam bidang militer, namun berkat kejujurannya kepada rakyat sehingga kini menjadi angka sulit bagi semua orang. Seruan-seruan barat untuk dialog dengan Hamas adalah bukti itu semua. Gerakan ini juga memiliki tempat dan posisi kekuatan sehingga kepala badan intelijen Mesir, Umar Sulaiman tidak lagi berani berkacak pinggang di hadapan Khalid Misyal dan mengancamnya bahwa Hamas akan membayar sikap tegarnya dan menentang. Bahkan Umar Sulaiman harus belajar berbicara dengan penuh penghormatan di depan “pemimpin umat” dan orang-orang mulia lainnya. (bn-bsyr)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s