Ekonomi Syariah

Ekonomi Bank Syariah

Ditengah krisis keuangan global yang melanda dunia kini telah memberi pelajaran yang sangat berarti bagi dunia perbankan negara-negara maju. Rapuhnya sistem perbankan dan kapitalisme serta ketamakan yang melampaui batas telah menjebol keuangan di Amerika Serikat sendiri, sehingga harus disuntik oleh Bank Fed sebesar 200 triliun. Tak heran di AS sendiri serta di negara-negara yang terkena imbas kini mencari formulasi baru untuk memulihkan kondisi ekonominya.

Kemenangan Obama dan Partai Demokrat (Social-Welfare State) merupakan sebuah petanda untuk memulai upaya restrukturisasi, regulasi, dan keberpihakan terhadap kelompok menengah-bawah dan pemulihan ekonomi dengan infrastruktur yang kokoh, berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Meskipun biaya stimulus ekonomi yang diajukan gagal tercapai 800 m dollar tidak disepakati oleh kongres hanya 600 triliun, namun kebijakan ekonomi yang kini dibangun oleh pemerintah AS lebih baik dibandingkan pemerintahan sebelumnya yang boros, kapitalistik, dan tak efisien. Pemotongan pajak bagi industri tertentu, pajak progresif bagi yang memiliki pendapatan tinggi, skala prioritas kredit, penghematan anggaran pada pos tertentu, dll.

Penerimaan terhadap formulasi baru di AS dan Jerman menunjukan tanda-tanda yang menggembirakan, misalnya Bank Syariah sebagai upaya untuk mengatasi krisis bersama yang dilakukan pihak perbankan pada nasabah sehingga keuntungan dan resiko tersebut ditanggung bersama. Barangkali kita mencatat dua hal yang sangat menarik dan fenomenal jika mencermati dunia perbankan sebagai sebuah studi khusus yaitu Bank Grameen di Bangladesh dan Bank Syariah.

Pro Kontra Ekonomi Syariah

Di Indonesia dengan dikeluarkannya UU Perbankan dan Ekonomi Syariah ini mestinya disambut gembira tak perlu kemudian menjadi sangat kontroversial seperti dilayar kaca TV. One. Tidak kemudian dipermasalahkan dengan UUD 1945, bahkan masih merupakan satu nafas yang sama dengan azas ekonomi Indonesia yang bernuansa kerakyatan. Di negara lain saja yang kapitalistik mulai mengakui adanya Ekonomi Syariah sebagai bumper pertahanan ekonomi yang tangguh.Forum Ekonomi Syariah baru lalu juga menegaskan bahwa ekonomi syariah kini mulai diakui dan diterima oleh banyak negara.

Dengan demikian sesungguhnya masih amat disayangkan jika ada beberapa pihak yang masih mengaitkan hal ini sebagai factor ideology yang sangat fundamental, seperti misalnya Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Kenapa harus ribut dengan kawan seiring, jika musuh besar semodel MNC malah dibiarkan masuk menjarah kekayaan kita. Ini sangat tidak logis dan masuk akal. Hingga detik ini secara sistematis Ekonomi Pancasila baru koperasi yang diakui sebagai salah satu pondasi ekonomi kita.Koperasi sendiri tidaklah murni hasil pemikiran bangsa Indonesia. Koperasi berasal dari sistem revisionis kaum sosialis yang kemudian diambil Moh. Hatta. Dengan adanya Ekonomi Syariah ini merupakan nilai tambah yang sangat bernilai bagi Indonesia dan Ekonomi Pancasila. Pancasila sebagai ideologi terbuka dan egaliter sesuai dengan sila ke 5 Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia, jelas membutuhkan masukan yang bernilai bagi perkembangan ekonomi yang lebih baik bagi bangsa ini.

Kanan Kiri Oke

Di tengah aras era globalisasi kini peperangan ideology mahzab ekonomi dikembalikan pada rakyat dengan cara mengalir merebut pengaruh masyarakat. Saya teringat Bung Karno berpidato dengan gaya retorik yang memikat menggebu-gebu dengan jargon Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis, Komunis saya ganti dengan Sosialis jadi Nasasos, karena lebih tepat, komunisme sudah mati, red.). Ternyata ideology itu bukan lagi sekedar jargon jika kita melihat kontekstual masalah besar bangsa ini. Dimana kita berhadapan secara interdependensi saling membutuhkan dengan dunia global, sekaligus pula kita harus menjaga gawang dengan dependen, apa yang harus kita jaga dan harus kita rawat untuk kemakmuran bangsa ini dengan nasionalisme pada sector makro-fundamental seperti Migas dan Non Migas pada PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), serta mulai tumbuhnya kesadaran mencintai produk nasional yang bermutu, berkualitas, dan harga terjangkau.

Begitupula dengan formulasi baru pada sector riil melalui ekonomi kerakyatan dan ekonomi syariah yang perlahan demi perlahan mulai menambatkan perahunya ke dermaga ekonomi yang lebih baik bagi bangsa ini. Nafas keberpihakan dan kepedulian pada daya tahan ekonomi kita dimasa datang. Semoga

Teguh Iman Prasetya

Konsep Bank Syariah

Perilaku Produsen Menurut Islam

Sejarah Bank Syariah Di Indonesia

Kajian Ideologi Neoliberalisme

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s