Ekspor Beras, Suku Bunga, dan Investasi

Indonesia siap ekspor satu juta ton beras
Jumat, 06 Maret 09

Lamongan, Koran Internet: Pemerintah Indonesia siap ekspor satu juta ton beras pada tahun 2009, bahkan kesiapan itu tidak akan terpengaruh banyaknya lahan pertanian yang mengalami puso akibat banjir di beberapa daerah.

“Target tahun 2009 sebanyak 40 juta ton beras masih bisa diwujudkan, sehingga ekspor bisa dilakukan,” kata Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Departemen Pertanian RI, Sutarto Ali Muso, saat panen raya padi hibrida di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jumat.

Di sela-sela panen raya yang dihadiri Bupati Lamongan, Masfuk dan Wabup, Tsalits Fahami itu, Sutarto Ali Muso mengungkapkan pemerintah menargetkan bisa panen 63,5 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 40 juta ton beras untuk tahun 2009.

“Jika target itu bisa diwujudkan, maka ekspor satu juta ton beras tidak akan mengganggu cadangan beras nasional dan cadangan akan aman hingga tahun 2010,” katanya.

Kendati banjir melanda beberapa wilayah pertanian di Indonesia, katanya, hal itu tidak akan berpengaruh secara nasional.

“Hujan lebat juga diperkirakan masih akan terjadi hingga awal Maret, tapi secara keseluruhan (padi) yang puso sampai saat ini mencapai 66 ribu hektare. Tahun lalu justru lebih besar hingga mencapai 100 ribu hektare,” katanya.

Untuk korban banjir, katanya, pemerintah sudah menyiapkan bibit bantuan bagi petani, bahkan bantuan pupuk kemungkinan juga ada.

“Saat ini, CBN (cadangan bibit nasional) tersedia sejumlah 30 ribu ton bibit, atau setara untuk 1,5 juta hektare lahan pertanian,” katanya.

Untuk padi hibrida, ia mengatakan produksi memang sudah cukup memuaskan, seperti di Modo yang dapat mencapai 12 ton per hektare.

“Tapi, memang ada kelemahan yang harus kita atasi, yakni masalah harga yang masih tinggi. Untuk masalah harga bisa diatasi jika nanti sudah diproduksi di dalam negeri, alias tidak impor lagi,” katanya.

Selain itu, katanya, benih hibrida juga masih memerlukan sedikit adaptasi dengan iklim tropis di Indonesia, karena benih itu berasal dari daerah subtropis.

Pupuk organik

Dalam kesempatan itu, Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Departemen Pertanian RI, Sutartto Ali Muso, juga menyatakan keprihatinan dengan petani yang belum menggunakan pupuk organik sebagai penyeimbang dan sekaligus untuk perbaikan tanah pertanian.

Ia mengatakan alokasi pupuk untuk tahun ini sudah jauh melampaui tahun lalu yang 4,8 juta ton, karena tahun ini untuk sementara diperkirakan mencapai 5,5 juta ton.

“Tapi, jika petani tidak mau beralih ke pupuk organik, maka (alokasi) itu tidak akan pernah cukup,” katanya.

Ia juga meminta kepada pemerintah setempat untuk mengawasi penyelewangan pupuk. “Soal penyelewengan pupuk, pemerintah daerah yang paling tahu,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Masfuk menyampaikan “uneg-uneg” petani Lamongan pada Sutarto. “Meski (harga) pupuk naik sedikit, maka hal itu tidak masalah bagi petani asalkan barangnya tersedia cukup. Meski pupuk ewet (susah, bahasa Jawa), tapi Lamongan bisa menjadi produsen padi nomor satu di Jatim, apalagi kalau kebutuhan pupuk bisa terpenuhi,” kata bupati.

Data Dinas Pertanian Kehutanan Lamongan mencatat produksi padi Lamongan pada tahun 2008 mencapai 839.974 ton GKG, sedangkan data sampai dengan Februari 2009 menunjukkan realisasi tanam padi mencapai 73.912 hektare dan realisasi panen mencapai 25.235 hektare.

Untuk produksinya mencapai 167.308 ton dengan produktifitas rata-rata mencapai 66,3 ton per hektare GKG. Produksi itu mencapai 21,88 persen dari target produksi 764.433 ton GKG pada tahun ini.

Terkait program Bantuan Langsung Bibit Unggul (BLBU), Lamongan mendapat alokasi untuk padi hibrida sebanyak 42 ton atau setara 2800 hektare untuk tahun ini, kemudian untuk padi non hibrida sebanyak 53,875 ton atau setara 4.500 hektare.

Untuk jagung hibrida sebanyak 67,5 ton setara untuk 4,500 hektare dan kedelai sebanyak 81,4 ton atau setara 2.035 hektare. Ada juga program Bantuan Langsung Pupuk (BLP) NPK sebanyak 524,95 ton serta pupuk organic cair sebanyak 10.499 liter. (Mnr/Ant)

Indonesia tetap menarik bagi asing
Jumat, 06 Maret 09

Jakarta, Koran Internet: Gubernur Bank Indonesia Boediono mengatakan, Indonesia seharusnya tetap menarik bagi investor asing karena suku bunganya masih lebih tinggi dibandingkan negara lainnya meski suku bunga acuan BI rate dalam empat bulan terakhir (Desember 2008-Maret 2009) terus diturunkan secara agresif sebesar 1,75 basis poin menjadi 7,75 persen.

“Kita sudah menurunkan suku bunga BI Rate beberapa kali, kita tetap juga dalam pandangan saya, spreadnya (selisih bunganya) masih menarik. Jadi mereka yang menginginkan bukan hanya mendapatkan return (imbalan), tapi imbalan yang cukup baik,” katanya di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, bila pada saat ini banyak negara yang juga menurunkan suku bunganya, maka hal ini seharusnya membuat Indonesia menjadi lebih menarik.

“Ini tentunya membuat posisi kita relatif tetap menarik. Kita harapkan nanti begitu situasi tenang, daya tarik Indonesia dari segi itu (suku bunga) cukup baik. Dari segi spread interest (selisish suku bunga), kita harapkan tetap menarik seperti pada saat situasi normal, saat inikan tidak normal,” katanya.

Sementara itu, selain Indonesia, beberapa bank sentral negara-negara di Asia juga menurunkan suku bunganya. Bank sentral Filipina, juga terus melakukan penurunan suku bunga dalam empat bulan terkahir.

Terhitung sejak Desember 2008 hingga Maret 2009, Bank Sentral Filipina telah menurunkan suku bunga untuk pinjaman hingga 125 basis poin (1,25 persen). Terakhir pada Kamis (5/3), Bank Sentral Filipinan menurunkan suku bunga pinajaman utamanya sebesar 25 basis poin (0,5 persen).

Sehingga suku bunga untuk meminjam dari perbankan semalam menjadi 4,75 persen, sedangkan bunga peminjaman ke perbankan menjadi 6,75 persen.

Bank of Thailand juga terus menurunkan tingkat suku bunga utamanya sejak Desember 2008 hingga 26 Februari 2009.

Pada 26 Februari lalu Bank of Thailand menurunkan suku bunganya sebesar 50 basis poin menjadi 1,50 persen guna membantu negara itu menanggulangi krisis ekonomi global dan lokal, pernyataan resmi Bank Of Thailand menyebutkan, Kamis.

Itu merupakan penurunan tingkat suku bunga ketiga sejak Desember karena bank sentral itu mencoba mendorong ekonomi Thailand, yang secara resmi diprediksi tumbuh antara nol hingga satu persen tahun ini.

Tercatat pada Desember 2008, Bank of Tahiland membuat penurunan suku bunga utama yang paling curam yaitu sebesar satu persen. (Mnr/Ant)

Rupiah menguat jadi Rp12.000 per dolar
Jumat, 06 Maret 09

Jakarta, Koran Internet: Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat sore naik tajam sebesar 110 poin, karena pelaku pasar aktif membeli rupiah, setelah pemerintah mendapatkan dana pinjaman dari luar negeri seperti Bank Dunia.

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS menjadi Rp12.000/12.115 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp12.110/12.145 per dolar atau naik 110 poin.

Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Jumat mengatakan, aksi beli rupiah oleh pelaku pasar dipicu oleh keyakinan bahwa pemerintah serius dalam membangun pertumbuhan ekonomi dan siap menjaga rupiah.

Hal ini didasari oleh berhasil pemerintah melakukan penerbitan obligasi baik diluar negeri seperti di Jepang yang mendapat respon positif dari pasar negara matahari dan di dalam negeri yang mencapai oversubcribed (Permintaan yang berkelebihan), katanya.

Rupiah pada siang hari terlihat menguat sebesar 80 poin menjadi Rp12.030 per dolar. Penguatan itu terus berlanjut hingga penutupan pasar dengan posisi Rp12.000 per dolar.

“Kami optimis rupiah akan bisa mencapai di bawah angka Rp12.000 per dolar AS sebagaimana yang terjadi sebelumnya, karena meningkatnya cadangan devisa Bank Indonesia yang saat ini mencapai 53 miliar dolar AS dari sebelumnya 51 miliar dolar,” katanya.

Menurut dia, membaiknya rupiah juga didukung oleh masuknya investor asing dari Timur Tengah, Qartal Telecom yang telah melakukan penawaran tender terhadap saham Indosat dan akan masuknya dana dari pengusaha menjelang pemilihan umum (Pemilu).

Kenaikan rupiah juga didukung oleh Bank Indonesia (BI) yang telah menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 7,75 persen dari 8,25 persen dalam upaya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional lebih lanjut.

Penurunan BI Rate itu diharapkan akan mendorong perbankan juga menurunkan suku bunga kredit yang selama ini dikeluhkan pengusaha yang kesulitan untuk membayar hutangnya, tuturnya.

Ia mengatakan, apabila semua itu dapat dilakukan dengan baik, maka ekonomi nasional akan semakin tumbuh dan ini akan mendorong investor asing kembali ke pasar domestik setelah mereka menarik dananya di Indonesia.

“Kami optimis Indonesia kedepan akan tumbuh lebih dari perkiraan sebelumnya yang hanya tumbuh 4-5 persen,” ucapnya. (Mnr/Ant)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s