Syamsuddin Haris – LIPI, Arya Bima, Ichsanuddin Noorsy

Kurangi  Beban Pangkas Kementerian

Syamsuddin Haris – LIPI

Syamsuddin Haris peneliti dari LIPI memiliki pendapat yang  sama dengan saya bahwa kementrian dan departemen kita sangat gemuk, sehingga untuk itu tugas berat pemerintah dimasa datang adalah  bagaimana mengurangi beban anggaran dan melakukan penghematan untuk membentuk pemerintah yang efisien. Hal ini dapat dilakukan dengan pemangkasan di departemen dan kementrian. Menurutnya di birokrasi pemerintahan banyak yang hanya mencari-cari pekerjaan. Tindakan ini menyebabkan  negara dirugikan dan menghabiskan anggaran dan tidak menghasilkan dampak yang besar bagi masyarakat. Peluang itu menyebabkan korupsi. Ada banyak kementrian dan departemen yang memiliki tugas dan fungsi sama sehingga terjadi tumpang tindih (over lap), bahkan rebutan pekerjaan.

Kementrian dan departemen yang seperti itu lebih baik dibubarkan saja atau disatukan.Kesamaan pekerjaan dan  departemen semacam itu juga merepotkan departemen, pasalnya laporan mereka kerap banyak diminta  oleh pemerintah pusat.Kebijakan ini sangat memboroskan anggaran apalagi jika ada kunjungan ke daerah. Untuk itu, Samsuddin Haris menganggap perlu adanya penelitian kembali mengenai agar departemen dan kementrian yang sama tersebut dipangkas, sehingga lebih efisien (Harian Suluh Indonesia, 2 Maret 2009).

Membaca Apa yang Tak Terlihat

Arya Bima Pakar Politik (Metro TV)

Sangat menarik sekali ketika Arya Bima beberapa hari lalu  berkata terhadap para kandidat parpol yang bakal naik , bahwa kecerdasan dan mobilisasi massa saja tidak cukup, tetapi bagaimana mampu membaca apa yang tidak terlihat (apa yang dibutuhkan) yang ada  di tengah masyarakat. Filosofis sekali.

Proteksionisme Negara

Ichsanuddin Noorsy  (TV. One)

Wah ramalan bang  Ichsanuddin Noorsy terbukti ditengah krisis global, banyak negara  yang kini lebih mementingkan negaranya sendiri. Dan sesungguhnya tidak peduli dengan kesepakatan bilateral, regional, dan pertemuan yang digelar.

Pagi buta dini hari sebelumnya sepulang dari kampus saya masih menyimak komentar Ichsanuddin Noorsy di Metro TV pada tanggal 18 Februari mengenai analisis ekonomi global dan Indonesia yang cenderung pada titik nadir persinggungan globalisasi perdagangan bebas versus nasionalisme bangsa, setelah AS dihantam krisis keuangan.

Apa yang dilakukan dengan pertemuan G7 tidak lebih merupakan pertunjukan satir paradoksal yang dilakukan banyak negara didalamnya. Proteksionisme kini dilakukan dengan sengaja dan merupakan antithesa dari thesa mekanisme pasar global yang digaungkan sebelumnya dengan gegap gempita sekaligus gagap dan kebingungan oleh Bank Dunia, IMF, WTO. Kapitalisme global pasar bebas  yang ditenggelamkan oleh para pengusungnya.

Protektif  yang kini dijalankan justru telah dilakukan AS dan negara-negara maju, yaitu bagaimana kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi oleh industri didalam negeri mereka sendiri.

Perang saat ini menurut Ichsanuddin Noorsy dua hal yang semakin kentara adalah perang mengenai nilai tukar mata uang, dan bilamana tidak tercapai jalan terakhir melalui kekuatan militer untuk mengamankan posisi mereka.

Mengenai AS sebagai negara adi daya jelas paling berkepentingan dalam hal ini, bagaimana mengamankan aset-aset  investasi  dan pasar besar mereka di luar negeri termasuk Indonesia. Posisi media mereka pada saat yang bersamaan objektif , tetapi pada saat berbeda akan berpihak pada kepentingan mereka.

Analisis ekonomi global digambarkan dengan sangat lincah dan cerdas oleh  Ichsanuddin Noorsy. Begitupula mengenai analisa mengenai ekonomi Indonesia melalui instrumen angka-angka baru dari laporan Menteri Keuangan dan kondisi ekonomi riil untuk melihat tingkat kemiskinan dan pengangguran, serta situasi ekonomi kita dimasa depan. Studi komparasi  ekonomi di kawasan Asia yaitu India dan  China serta negara lainnya juga dibahas dengan bagus.

Iklan

4 responses

  1. sepakat sangat setuju faisal basri sudah berkurang dan kehilangan daya kritisnya, ichsanuddin noorsy yang kian tajam

    Sabtu, Januari 23, 2010 pukul 8:46 pm

  2. Sedikit meralat komentar saya diatas;
    Seorang pemimpin yang benar adalah yang tidak berambisi menjadi sama sekali pada kedudukan.
    Maka pilihan untuk 2014 saat ini masih Ichsanuddin Noorsy (seorang saja lebih dahulu).
    Tempat yang baik hanya bagi mereka yang menyediakan tempat yang baik bagi generasi sesudahnya. Untuk itu saya menyerukan pada semua agar segera berbuat demi kebaikan generasi mendatang. Pedulilah demi anak cucumu ingat waktu 5 tahun sangat cepat sedang kebijakan rezim satu periode saja bisa luarbiasa dampaknya bagi anak cucu kita.
    Kepada yang mampu, mulailah menyusun rekam jejak siapa saja tokoh kita yang masih bersih. Kemudian susun kriteria dan indikator prestasi suatu pemerintah dan sosialisasikan keseluruh rakyat khususnya masyarakat kampus se Indonesia dan kemudian ajukan Tokoh yang diyakini bisa memenuhi kriteria tersebut.
    Buatlah Link & Match pemerintahan dengan perguruan tinggi sehingga pemerintahanpun bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah yang murni mengacu pada fakta.
    Kriteria dan indikator prestasi suatu pemerintahan di RI sangat penting disusun agar rakyat tidak hanya mengacu kepada hasil pencitraan semata namun lebih banyak mengacu kepada fakta hasil karya yang sesungguhnya mudah ditangkap disekitar mereka.

    Selasa, Juni 9, 2009 pukul 11:02 pm

  3. Saya berdoa semoga Bpk. Ichsanuddin Noorsy selalu dalam lindungan Allah SWT karena kita sangat butuh orang yang bisa berkata jujur apa adanya seperti beliau dan juga beberapa lainnya seperti Faisal Basri dll.
    Tidak habis pikir bagi saya betapa kuat cengkeraman kuku mafia kapitalis di negara kita sehingga seorang sehebat Ichsanuddin Noorsy tidak mendapat akses sama sekali ke pusat pemerintahan.
    Sosok Ichsanuddin dan Faisal Basri sudah jauh lebih dari cukup untuk menjadi pemimpin bagi bangsa Indonesia.
    Sekiranya bisa saya berharap ada pertemuan diskusi dengan mereka dan siapa saja tokoh kita yang masih bersih hatinya. Saya ingin ajukan usulan kongkrit menjadikan mereka pimpinan bangsa di Tahun 2014. Sebaiknya kita mulai melangkah dari sekarang.

    Sabtu, Mei 16, 2009 pukul 12:50 am

  4. Ketika ada penggambaran yg spt Ichsanuddin gbrkan diatas maka pilihan satu-satunya adalah revolusi!! demi mewujudkan tata dunia yg berkeadilan yg memenuhi cita-cita ketuhanan dan cita-cita kemanusiaan , peradaban dunia baru, semoga!!!

    Jumat, Maret 6, 2009 pukul 8:31 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s