Tanjung China, Goa Purba, Batu Petir

Romantisme Mistis Hari Ini

Hari ini siang hari yang terik meluncur bersama si elang perak terbang menuju Anyer. Sampai disana semilir angin dan perjalanan  jauh membuatku ngantuk, ingin berhenti sejenak disebuah kedai beratap sawung dan mengisi bensin. Disana aku ngobrol ngalor ngidul dengan pemilik kedai dan tamu yang berkunjung. Dari informasi yang kudapat ada sesuatu yang menarik darinya yaitu adanya gua purba didaerah sekitar Anyer.Namun, jika menuju  ke daerah tersebut sama artinya balik kembali menuju pulang, sementara tujuanku sudah sangat dekat dengan Karang Bolong, Karang Suraga, Karang Tumaritis, dan Tanjung China.

Karena aku ingin mengenang masa lalu, maka kupacu motorku melaju ke daerah Tanjung China. Didaerah dekat Tanjung China yaitu didaerah Tancang, aku sempat ngobrol dan ketemu orang tua, seorang haji yang sudah lanjut usia , gilanya ditawari sirih hitam.dan minta dibeli (maksudnya bukan dengan uang). Sirih hitam konon dapat membuat seseorang hilang dari pandangan mata. Karena hari sudah mulai masuk waktu sore hari, maka akupun pamit darinya.

Sampai disana setelah membeli udang windu sekilo, aku menyusuri sepanjang pantai yang kali ini gelombang pasang air laut sangat kencang dan amat sangat tinggi, serta berbahaya sekali jika berenang, walaupun hanya satu – dua meter dari garis pantai. Menurut informasi dari nelayan setempat, mereka sudah satu bulan tidak melaut. Sedangkan rekreasi wisata laut kali ini di wilayah Anyer sudah mulai berkurang, tak lagi ramai.

Di daerah Tanjung China, aku terkejut sekali sekarang bangunan hotel mewah berdiri menghalangi pemandangan menuju Tanjung China. Dahulu tempat itu sering kujadikan tempat kemping ketika duduk dibangku SMP kelas 3. Ada banyak pengalaman mistis ketika kami kemping disana. Pada malam hari yang gelap dan sunyi diatas batu karang yang menjorok kelaut,  aku terbangun dari tidur dan bertemu seorang putri china yang sangat cantik datang perlahan,terbang menuju tenda kami. Terperangah dan cukup kaget dengan penampakan seperti itu malah tidak membuatku takut, bahkan ia tersenyum manis sekali. Senyum yang sangat indah. Ia tidak berkata sepatah kata apapun, dengan diam yang sangat dalam menatapku tajam. Kami berdua terpaku saling menatap ditengah suasana hening malam dan debur ombak yang pada waktu itu tidak begitu keras, setelah itu  iapun akhirnya pergi melayang dan hilang.

Esok harinya pada waktu sore hari, sambil berenang ditepi karang dan mencari batu-batu menarik untuk kubawa pulang, aku mendapatkan banyak sekali pecahan piring keramik kuno dan benda-benda mustika  yang sangat langka (baru kutahu setelah diberitahu teman waktu SMU). Dasar jiwaku tidak peduli dengan benda-benda seperti itu, maka kemudian hilang dan benda-benda antik tersebut terbuang.

Kenangan dan lamunanku buyar, kesadaranku terjaga, ketika dua orang penjaga hotel tersebut menyapaku dan melarangku masuk ke Tanjung China. Setelah berdebat sebentar, akhirnya aku diantar masuk. Wah tak kusangka Tanjung China telah banyak perubahan tak lagi indah, bahkan diatas batu karang tersebut sudah ada bangunan kecil semodel sawung terbuat dari beton, dan kulihat banyak sekali yang terpangkas. Aku hanya dapat menghela nafas dan ngobrol ngalor ngidul dengan penjaga hotel yang sudah cukup tua, warga sekitar tempat tersebut. Iapun banyak bercerita tentang mistik di Tanjung China dimasa lalu. Sambil ngobrol, aku diminta olehnya merenung bermeditasi untuk merasakan getaran di Tanjung itu, bulu kudukku seketika naik merinding, mataku sedikit nanar akal sehatku kehilangan kesadaran, tempatku berpijak terasa kosong, tetapi seperti ada penghuninya. Gilanya lagi aku melihat seperti ada benda berkilauan muncul disekitar Tanjung itu sebelum akhirnya hilang, padahal ombak sangat keras dan tinggi sore ini.

Matahari kian merambat tenggelam indah sekali, waktu menunjukan sebentar lagi magrib, akupun akhirnya pamit darinya. Kenanganku telah kembali, aku merasa sudah lebih dari cukup,  dan tidak berminat samasekali dengan harta karun itu. Bagiku kenangan telah kembali lebih berharga dan bernilai.

Agenda kedua menemukan gua purba terpaksa kutunda, perjalanan kedaerah tersebut ternyata amat sangat rawan dan angker, apalagi malam gelap gulita ditambah jalan yang rusak parah  menuju ke daerah perbukitan,  membuatku kesulitan melewati  daerah itu. Terpaksa aku ngebut kembali pulang dan mampir ke warnet ini sebentar, sekedar bercerita mengenai kerinduanku hari ini.


Kisah berikutnya

Konon Ahmad Ihsaniji 32 tahun, warga desa Kebundalam, Bangorejo Banyuwangi. Dia menemukan batu petir tersebut jauh sebelum geger punya batu Ponari, tepatnya tahun 1990.

Contoh Batu Petir yang asli

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s