Palestina Menjawab Amnesti Internasional

datafiles_cache_tempimgs_2009_1_barhoum2_300_01

Hamas : Tuntutan Amnesti Internasional Tidak Adil

Gaza-Infopalestina : Juru bicara gerakan perlawanan Hamas, Fauzi Barhum menegaskan, tuntutan badan Amnesti Internasional tidak berimbang dan tidak adil. Ia menyamaratakan penjahat dengan korban kejahatan.

Barhum menegaskan hal tersebut dalam pernyataan persnya kepada infopalestina Senin (23/2). Ia mengatakan, apa masalahnya mempertanyakan sumber senjata yang dimiliki Hamas, sementara kiriman senjata kepada Zionis Israel dari sejumlah negara poros maupun adi daya tak pernah diutik-utik. Padahal transaksi pengiriman senjata tersebut dilakukan di depan mata dan telinga dunia. Namun tak ada satu pun diantara mereka yang mempermasalahkanya.

Lebih dari itu, Zionis Israel menggunakan senjata pemusnah massal dan zat phospore yang sangat merusak. Disamping sejumlah alat penghancur yang meluluhlantakan rakyat Palestina yang sedang terisolasi.

Perang Gaza kemarin membuktikan semua itu. Sementara rakyat Palestina hanya mempunyai senjata sederhana, untuk membela dan mempertahankan hak-hak legalnya di Palestina. Padahal hak ini dijamin semua undang-undang internasional.

Barhum mengungkapkan keprihatinya atas hal ini. “Kami yang mengkhawatirkan kondisi tersebut. Tuntuan badan amnesti dunia dapat menyesatkan pandangan umum dunia yang akan digunakan Zionis sebagai alasan untuk kembali menggempur rakyat Palestina.

Laporan dari Tim Amnesti ini akan digunakan Zionis sebagai alasan untuk melanjutkan blokadenya dan menghukum rakyat Palestina. Barhum menambahkan, alih-alih badan amnesti ini mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Israel untuk diajukan ke mahkamah internasional, berikut para pemimpiinya, malah ia menyamaratakan antara para penjahat perang Israel dengan para korban di Gaza,” sesalnya.

Sebelumnya, badan amnesti internasional menerbitkan hasil laporannya kepada PBB yang menyatakan kekhawatiranya atas senjata yang digunakan Zionis dan gerakan Hamas serta faksi-faksi perlawanan lainya. (asy)


Apa yang Kita Capai di Gaza?

[ 24/02/2009 – 02:06 ]

datafiles_cache_tempimgs_2009_1_hamas40_300_01agresi-israelchild-31

Izzuddin Yassin
Kontroversi mengenai kemenangan perlawanan di Gaza masih terus-menerus menjadi. Persis seperti perdebatan soal hasil perang Libanon yang berlangsung hingga sekarang. Penyebabnya, kedua kedua perang itu belum selesai sepenuhnya perang karena watak, situasi dan data lapangan.

Sebagian mengatakan, Perang di Gaza yang dikenal sebagai Perang Al-Furqan dipaksakan kepada rakyat Palestina dan kelompok perlawanan, bukan atas pilihan mereka dan bahwa Israel memiliki sejumlah target yang gagal mereka capai. Sehingga ketegaran perlawanan dan kegagalan Israel mencapai target bisa merupakan kemenangan melihat perbedaan peralatan militer antara perlawanan dan tentara Israel.

Yang kita pertanyakan, apakah hanya prestasi perlawanan saja atau perlawanan mampu mencapai prestasi yang lain? Apakah ketegaran untuk bertahan dan penggagalan rencana Israel bisa disebut prestasi kemenangan?

Menoleh ke belakang:
Jika mengamati sejarah perlawanan Palestina sejak awal abad 20, kemenangan militer dan politik Israel sangat terbatas. Kebanyakan justru terjadi setback. Misalnya, dalam revolusi 1936 (yang disebut Tsaurah Kubra, Great Revolution), kita menemukannya berlanjut mencapai klimaksnya tahun 1937 ketika para revolusioner mampu mengusir Inggris dari pos-pos penting di kota-kota Palestina, dan berhasil membebaskan pedesaan dan pegunungan hampir penuh. Keberadaan tentara Inggris hanya berkonsentrasi di kamp militer dan wilayah-wilayah Yahudi.

Tapi Inggris secepatnya mendatangkan pasukan militernya dari India, sekitar 30 sampai 40 ribu pasukan dan kembali menduduki Palestina. Menurut sejarawan, Inggris dibantu Perancis yang menduduki Lebanon dan Suriah yang menutup perbatasan dan mencegah pasokan senjata kepada para revolusioner. Inggris secara bertahap mampu melumpuhkan perlawanan dan revolusi selama musim panas 1938.

Nasib Great Revolution (Revolusi Besar) adalah tali penghubung rakyat Palestina dan perlawanannya selama rentang selama 70 tahun. Sejak saat itu, Israel memamerkan kekuatan militernya, menjajahnya, membunuhi, membunuh rakyatnya. Di situlah stasiun kemenangan Israel. Selain itu Great Revolusi, terjadi juga setback dan pengusiran Israel dalam perang tahun 1973, dan di Lebanon selatan, namun di dalam Palestina, perlawanan belum mampu mengalahkan dan mengusir Israel.


Faktor “kekalahan perlawanan”banyak pihak yang meragukan bahwa Israel tidak akan melakukan penarikan dari Jalur Gaza pada tahun 2005. Pada saat itu Israel mengatakan mereka keluar dari Jalur Gaza atas kemauan sendiri dan akan kembali sesuai dengan kemauan mereka juga. Perkataan yang sama diulang-ulang Israel di awal perang Al-Furqan. Sebagian eks pemukim Yahudi Netsyarm dan Gost Katev akan kembali ke permukiman mereka dulu. Bahkan mengajukan permintaan kepada Mahkamah Agung Israel untuk membolehkan mereka kembali ke pemukiman mereka.

Perang berakhir sebelum Mahkamah Agung Israel mempertimbangkan permintaan mereka. Setelah ‘asap perang reda’ semua menjadi jelas bahwa mejajah kembali Jalur Gaza bukan seperti tamasya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Palestina, kita mau selangka kedepan menuju pembebasan tanah Palestina tanpa mundur sedikitpun setelah itu. Simpul revolusi tahun 1936 sudah terlepas.

Prestasi terpenting:
Prestasi terpenting dalam perang Al-Furqan adalah membuktikan prestasi perlawanan dengan membebaskan Gaza. Seperti kata pemikir Palestina Azmi Bishara, “Sekarang kita dapat mengatakan bahwa Gaza sudah dibebaskan”. Siapapun yang mempelajari pengalaman perjuangan Palestina ia akan menyadari pentingnya prestasi ini. Ia juga akan menyadari pentingnya prestasi lain yang tidak kalah pentingnya yakni mempertahankan kekuatan bersenjata perlawanan. Rakyat Palestina selalu selalu melakukan revolusi dan perlawanan. Tetapi perlawanan itu selalu mulai dari nol setelah terpukul dan dihancurkan dalam perjuangan heroik dan gagah berani melawan Israel. Hanya saja kali equasi berubah. Kedua prestasi ini membutuhkan pengorbanan dalam setiap peperangan.

Kali ini peperangan berakhir dan perlawanan tidak akan dipaksa memulai dari nol lagi. Sebab perlawanan sudah miliki kekuatan militer dan persenjataan yang memiliki pengaruh efektif dalam peperangan. Hal itu akan memungkinkan mereka mengembangkan potensi dalam hitungan bulan dan tahun ke depan. Karenanya, Israel  fokus pada hari-hari belakangan untuk melakukan negosiasi gencatan senjata dengan syarat “menghentikan penyelundupan senjata” (ke Jalur Gaza). Sebab mereka menyadari bahaya perlawanan yang mengancam eksistensi mereka. Israel menyadari bahwa Jalur Gaza hanya 2 persen dari keseluruhan wilayah Palestina telah menjadi pijakan proyek perlawanan dan pembebasan kemerdekaan.

Terobosan lain belum tercapai, tapi sudah dekat, yakni pembebasan Jalur Gaza dari blockade. Olmert yang menggagalkan kesepakatan gencatan senjata dengan syarat pembebasan Jalur Gaza dari blockade akan mencoreng pamor dan popularitasnya sebagai perdana menteri yang berjanji menghabisi Hamas dan perlawanan di Gaza.

Prestasi peperangan Al-Furqan lain adalah hancurnya pilihan penyelesaian damai dengan Israel, dunia Arab semakin teledor, dukungan rakyat kepada pilihan perlawanan dan kecenderungan dunia Islam secara umum untuk itu, simpati terhadap isu Palestina di berbagai belahan dunia. Bahkan ternyata banyak pihak di Eropa beralih dari mendukung Israel balik mendukung Palestina.

Prestasi lain ketegaran perlawanan yang tidak bisa dilupakan adalah penciptaan data baru dimana rekonsiliasi nasional bisa terwujud berdasarkan pada data itu. Pasca perang semua orang menyadari bahwa tidak mungkin lagi menghapus Hamas, terutama pihak kubu Dayton yang bekerja sama dengan Israel untuk menggulingkan Hamas. Termasuk Eropa, rezim Arab. Benar masih ada veto Amerika dan Israel terhada Abu Mazen. Memang benar bahwa ada upaya yang mencoba menyeret Hamas untuk menghindar dari prinsip-prinsipnya. Kebanyakan mereka pernah meyakini harus menghapus Hamas, kini mereka yakin bahwa tidak ada jalan kecuali menerima Hamas apa adanya.

Tahap berikutnya:
Israel mulai yakin bahwa perlawanan Palestina sangat sulit ditaklukkan. Kemenangan Hamas, menurut Israel akan mengakibatkan hegemoni Amerika di kawasan mengalami setback. Israel dan Amerika dan sekutunya saat ini sedang mencari cara dan proyek baru untuk memperkuat dan melindungi kawasan colonial agar tidak jatuh.
Apa yang telah kita capai di Gaza adalah awal jalan pembebasan Palestina. Namun ada sejumlah tantangan ke depan:

1 – Harus menyelesaikan tugas membebaskan Gaza dari blokade, menyedikan rekonstruksi dan perbaikan kehidupan warga Jalur Gaza.
2 – Harus mewaspadai rencana Amerika dan Zionis pada tahap berikutnya, dimana mereka ingin menyibukkan perlawanan dengan perang sampingan dan konflik internal.

3 – Harus memindahkan peperangan dengan Israel ke Tepi Barat. Namun ini tidak mudah. Sebab Tepi Barat akan menjadi garis pertahanan terakhir Israel. Jika Israel keluar dari sana maka pertempuran akan berpindah ke wilayah Palestina yang diduduki Israel secara penuh yakni jajahan 48. Jika Tepi Barat berhasil di rebut perlawanan Palestina maka Israel akan terkurung dari segala sisi. Dari utara dikepung perlawanan Libanon, dari timur dan selatan dikepung perlawanan Palestina dan dari barat ditutup laut.   Karenanya perang di Tepi Barat akan membutuhkan pembicaraan yang panjang. (bn-bysr)

http://www.infopalestina.com/ms/default.aspx?xyz=U6Qq7k%2bcOd87MDI46m9rUxJEpMO%2bi1s7hBpXL737DJWTgKDaJARKPnQ8crvwB4y0Vlj%2bLKTA2vjOrOnUbi80FezhUZNVUXx8mgRJol%2bB8YubZuCQRiI4pBBrKJl6x17lQiDBdcJ7yAk%3d

Hamas Serukan Aksi Massa Kecam Rencana Israel Yahudisasi Al-Quds

[ 24/02/2009 – 02:42 ]

Gaza – Infopalestina: Gerakan Perlawanan Islam Hamas menegaskan bahwa rakyat Palestina dan perlawanannya tidak akan berpangku tangan menghadapi upaya-upaya berkelanjutan yang dilakukan Zionis Israel untuk melakukan yahudisasi kota al Quds dan mengosongkan kota tersebut dari warga aslinya.

Pemimin Hamas Dr. Ismail Ridwan, dalam pernyataan khusus kepada koresponden Infopalestina, Senin (23/01), menegaskan bahwa rencana Zionis Israel untuk menghancurkan dan mengosongkan puluhan rumah warga Palestina di desa Silwan di al Quds, merupakan agresi menyeluruh terhadap bangsa Palestina dan al Quds dengan tujuan untuk melakukan yahudiasi kota dan mengosongkan dari warga aslinya. Dia menegaskan perlunya perlawanan terhadap upaya-upaya ini dan menggagalkan rencana jahat ini.

Ridwan mengatakan, “Kami menganggap rencana dan langkah-langkah Zionis Israel ini dalam rangka untuk melakukan yahudiasi kota al Quds dan mengosongkan warga aslinya dari sana.” Dia menegaskan bahwa ini adalah agresi menyeluruh, yang dilakukan pada saat terjadi peningkatan koloni perlawanan, penyitaan tanah di Tepi Barat dan eskalasi agresi dan blockade terhadap Jalur Gaza.

Dia menambahan, “Hamas melihat ini sangat berbahaya dan menyerukan kepada rakyat dan perlawanan untuk membalas agresi ini.” Dia mengingatkan adanya bahaya konspirasi yang menjadikan masjid al Aqsha sebagai targetnya. Dia menyerukan rakyat melakukan aksi untuk melawan pengusiran yang merupakan bagian dari rangkaian langkah-langkah Zionis Israel yang bertujuan untuk yahudisasi kota al Quds dan masjid al Aqsha dengan melakukan penggalian-penggalian dan terowongan yang digali di bawahnya.

Ridwan menyerukan rezim resmi Arab dan dunia Islam agar bersikap untuk sejarah ini dengan menghentikan agresi terhadap rakyat Palestina, terhadap  kiblat pertama sekaligus tempat suci ketika umat Islam tersebut. Dia meminta rakyat Arab dan dunia Islam untuk melakukan aksi melindungi al Quds.

Pihaknya juga meminta masyarakat dunia serta lembaga-lembaga HAM dan kemanusiaan untuk menentukan sikapnya terhadap penistaan Zionis Israel terhadap semua piagam kemanusiaan dan hukum ini. Dia menegaskan, “Rencana penjajah dan niatnya melaksanakan aksi pengusiran (transfer) tidak akan berhasil menggetarkan rakyat kami atau menghancurkan tekannya untuk mengambil kembali hak-haknya.” (seto)

Aljazeera Berjuang Rebut Hati Pemirsa AS

New York (ANTARA News/Reuters) – Aljazeera memulai kampanye hubungan massanya untuk menghilangkan apa yang kemudian disebut mitos dan mispersepsi yang telah membuat stasiun televisi Arab itu kesulitan memperoleh lebih banyak pemirsa Amerika Serikat dan Kanada, demikian jaringan televisi berita internasional itu, Rabu.

Versi Bahasa Inggris Aljazeera mulai memperkenalkan lamannya bernama IWantAJE.net yang memuat berita-berita produksi jaringan tv yang berbasis di Qatar itu dan daftar “Hits and Myths” yang berisi pernyataan-pernyataan mengenai jaringan televisi itu yang disebutnya tidak benar.

Aljazeera tengah meluncurkan laman serupa di Kanada, IWantAJE.ca, sebagai persiapan untuk mendapatkan izin dari Komisi Radio, Televisi dan Telekomunikasi Kanada (semacam Komisi Penyiaran di Indonesia) untuk menyiarkan layanannya melalui penyedia siaran televisi kabel dan satelit di negara itu.

Laman-laman itu akan meminta masyarakat untuk mengemail kepada para penyedia televisi kabel dan satelit agar memuatkan juga layanan Aljazeera.  Para pemirsa juga dapat menonton siaran langsung melalui laman Internet dan membaca buletin berisi berita-berita terhangat hari itu.

Disamping laman Internet, Aljazeera menyatakan akan membeli slot iklan cetak dan online dalam suratkabar-suratkabar seperti Globe & Mail di Toronto, The New York Times, dan the Huffington Post.

Upaya ini diikuti oleh kampanye iklan yang sudah berlangsung sejak bulan lalu di The Times (New York Times), The Washington Post, jurnal Foreign Policy dan Politico.com.

Aljazeera yang siaran berbahasa Arabnya bisa diakses di AS melalui jaringan televisi satelit DISH, juga tersedia dalam Bahasa Inggris melalui sejumlah kecil operator teve kabel di AS.

Di seluruh dunia sendiri, sekitar 130 juta rumahtangga mengakses laman Aljazeera.

Aljazeera menyatakan, untuk mendapatkan akses pemirsa AS pihaknya menghadapi kendala dari sejumlah kekeliruan pandangan mengenai jaringan televisi ini bahwa mereka mendukung Alqaeda dan pimpinannya Osama bin Laden, anti-Semit dan anti-Amerika, mempertontonkan pemenggalan kepala manusia, dan mempunyai agenda anti-Barat.

“Kita tidak bertanduk.  Osama bin Laden tidak punya program wawancara mingguan,” bantah Tony Burman, Direktur Pelaksana Aljazeera edisi Bahasa Inggris dan mantan Pemimpin Redaksi Canadian Broadcasting Corp.

Ketika mantan kapten korps marinir AS Josh Rushing, kini reporter Aljazeera, datang bersama kru televisi lengkap ke Golden, Colorado, untuk meliput konvensi Partai Demokrat tahun lalu, kehadiran Aljazeera menuai protes dari geng motor setempat.

“Orang yang tidak pernah menonton Aljazeera mempunyai opini yang sangat kuat mengenai hal yang tidak pernah mereka lihat itu dan kemudian tidak ingin Aljazeera mengudara,” kata Rushing.

Walaupun demikian, edisi Bahasa Inggris Aljazeera sudah hampir membuat kesepakatan dengan satu penyedia jasa televisi kabel besar di AS, kata Burman, namun enggan menyebut nama perusahaan ini karena negosiasi bisnis masih berlangsung. (*)

Sejarah TV.Alzeera

http://id.wikipedia.org/wiki/Al_Jazeera_English

Gaza – infopalestina; -Sumber-sumber yang ada di kelompok pejuang Palestina mengingatkan akan rencana agresi militer Zionis Israel kembali ditingkatkan ke warga Palestina yang ada di Jalur Gaza. Terlebih-lebih setelah perundingan dengan pihak Mesir untuk membahas gencatan senjata selama setahun dengan faksi-faksi pejuang Palestina  gagal disepakati. Begitu juga perjanjian pertukaran tahanan antara tahanan Palestina yang ditukar dengan serdadu Israel yang ditahan pejuang Palestina, Gilad Shalit, juga mengalami kegagalan.

Sumber-sumber tersebut menegaskan bahwa akhir-akhir ini menyaksikan adanya pesawat-pesawat tempur militer Israel terbang di atas langit Jalur Gaza dan melakukan manuver serangan di selatan Jalur Gaza. Ditambah lagi kapal-kapal perang Israel, beberapa waktu lalu pernah menembaki Jalur Gaza dengan misil. Ini menunjukkan betapa militer Zionis Israel punya niat kuat untuk kembali menyerang Jalur Gaza.

“Seperti biasanya, pihak Israel jika melihat gelagat terjadi rujuk nasional di internal Palestina, mereka mulai campur tangan dengan melakukan serangan ke pejuang dan warga sipil Palestina,” kata sumber tersebut sambil mengingatkan pada saat yang sama kepada “Faksi-faksi pejuang dan warga sipil Palestina untuk waspada akan eskalasi serangan militer Israel ke Jalur Gaza yang sewaktu-waktu bisa ditingkatkan.” (AMRais)

Barakat: Delegasi Hamas ke Kairo Bertemu Fatah untuk Dialog

[ 24/02/2009 – 02:25 ]


Damaskus – Infopalestina: Wakil delegasi Gerakan Hamas di Syria Ali Barkat kemarin  Senin (23/2), menyatakan bahwa delegasi gerakannya yang dipimpin Moussa Abu Marzouk, wakil kepala biro politiknya akan ke Kairo untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan delegasi Gerakan Fatah untuk mengawali dialog utuh Palestina yang dimulai pada 25 Februari besok sesuai dengan kesepakatan panitia lima yang akan mulai bekerja pada bulan Maret depan.

Barakat mengatakan dalam sebuah pernyataan eksklusif kepada Infopalestina bahwa pertemuan antara Fatah dan Hamas akan melengkapi apa yang telah disepakati dalam pertemuan sebelumnya. Hal itu dilakukan menghapus semua hambatan negative mempengaruhi dialog Palestina. karenanya, delegasi Hamas besok akan ke Kairo yang  dipimpin oleh Moussa Abu Marzouk untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Fatah. Ini sebagai langkah mengatasi semua masalah yang menggantung dan menyempurnakan masalah tahanan politik.

Soal tahanan politik kader Hamas di Tepi Barat, Barakat menegaskan bahwa Fatah sudah berjanji dalam pertemuan sebelumnya bahwa masalah ini akan dilimpahkan kepada Mahmoud Abbas dimana ia akan mengeluarkan perintah membentuk komite untuk menangani tahanan politik sebelum memulai dialog dalam 25 bulan ini.

Ia menegaskan bawha masih ada lebih dari 700 tahanan Hamas dimana pemerinntah otoritas Palestina harus membebaskannya semuanya. Sebab ada janji merka akan membebaskan semua tahanan sebelum akhir dialog Palestina.
Barakat juga mengungkapkan bahwa rapat utuh akan mulai dan diikuti oleh semua faksi Palestina pada Rabu besok (26/2), setelah pertemuan bilateral antara kedua Fatah dan  dan Hamas. Pertemuan besok ini akan diikuti oleh semua delegasi dari faksi Palestina untuk pembentukan panitia 5; yakni panitia yang membahas PLO, masalah pemerintah otoritas, masalah pemilu, membahas rekontruksi kembali badan-badan keamanan, dan rekonsiliasi Palestina.

Dia menyatakan bahwa pembentukan panitia lima ini akan ditentukan pada Kamis ini dan juga menyepakati tentang tugas mereka yang akan bekerja minggu pertama bulan Maret. Ia menaambahkan, jika Anda sudah pekerjaan panitia ini maka akan ditandatangani oleh semua faksi dengan dihadiri oleh tujuh negara Arab disamping Mesir sebagai sponsor perjanjian ini. (bn-bsyr)

Iklan