Dirut Pertamina Di Ganti dan Harga BBM Kita

Dirut  Pertamina  Diganti dan  Siap  Produksi  171.000 Barel / Hari (BPH)

Wawancara eksklusif  tadi malam di TV One Tina Talia dengan Pri Agung Rachmanto mengenai Ari Sumarno yang kini diganti oleh Karen Agustiawan Dirut Pertamina yang baru (5/2).

Berita ini  menarik  karena Karen seorang perempuan pertama yang menjabat Dirut Pertamina dan menjanjikan memprioritaskan jaminan pasokan bbm dan elpiji didalam negeri dapat terpenuhi. Dalam hal ini Pertamina siap memproduksi 171.000 bph Jika melihat kebutuhan pasokan untuk dalam negeri angka 171.000 bph ini masih sangat kecil tetapi dapat melunasi kebutuhan dalam negeri paling tinggi sebesar 1.200.000 bph, yang sebagian besar dikelola oleh pihak asing (90%). Dengan rincian pasokan BBM paling tinggi sebesar 1 juta bph beberapa bulan lalu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan 200.000 bph dari import, maka dengan tambahan 171.000 bph ini sudah dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pri Agung Rachmanto pakar migas dari LP3 ES berkomentar masih meragukan Karen dan minta Pertamina harus menguasai hulu dan hilir (secara implisit dengan sangat halus komentar ini menyiratkan nasionalisasi migas. red). Jadi bukan hanya masalah teknis / operasional yang dapat dijalankan oleh seorang manager operasional.   Pri Agung Rahmanto juga mempersoalkan masalah Natuna yang hingga kini masih belum jelas, apakah Pertamina diberi peran atau tidak disitu.

Sementara itu Tjatur  Sapto  Edi  anggota DPR RI  Fraksi PAN, mengatakan bahwa hal ini masih meragukan mengingat orang-orang dibelakang Karen adalah second line yang masih dipegang orang asing. Masalah SDM juga dalam tubuh Pertamina dibutuhkan orang-orang yang  berkarir jelas bukan hanya yang dibutuhkan orang yang berpindah-pindah kerja.

Pada Diskusi Kabar Pagi Indonesia (6/2), Prof Kurtubi mempersoalkan efisiensi, dan untuk mencapai word class company sama seperti Petronas ini sangat sulit, jika UU Migas tidak direvisi. Perjanjjian (threathment) dengan pihak asing harus dihentikan atau dikurangi, tambang-tambang migas harus dikelola oleh Pertamina. Dan Pertamina sebagai perusahaan negara harus mencoba menjadi produsen migas yang menguasai hulu dan hilir. Meningkatkan produksi, mencukupi kebutuhan dalam negeri, dan menghasilkan keuntungan. Untuk menjadi world class company seperti Petronas sangat jauh bahkan 100 tahun, apalagi aset Petronas 5 kali lebih besar dari Pertamina.

Untuk kondisi sekarang, Pertamina harus merubah maindset memangkas mafia perminyakan tidak lagi beli lewat mafia atau trader, langsung saja ke produsen, sehingga harga lebih murah, karena minyak mentah itu aset  kita dan merupakan barang  publik., bukan benda privat. Sedangkan jangka panjang jika ingin berdaya mandiri swadaya, Pertamina harus berani dan mendobrak serta melakukan perubahan yang sangat fundamental. Prof. Kurtubi juga menyayangkan Blok Arun yang menyimpan suplai minyak mentah sangat besar jatuh ketangan pihak asing. Ini tanggung jawab Menteri ESDM dan sama artinya dengan mengurangi keuntungan Indonesia.

Harga BBM Turun Tidak Berpengaruh Pada Rakyat

Harga BBM premium yang kini turun menjadi  Rp.4500 ternyata diberbagai daerah kurang berpengaruh, bahkan masih ada para sopir angkot yang protes dan menolak penurunan tersebut, karena pihak organda dan dinas perhubungan telah menurunkan standar ongkos transportasi. Angka penurunan tersebut terlalu kecil dan disebabkan faktor-faktor lainnya seperti pemilik kendaraan dll., sehingga penurunan harga BBM yang dicicil tersebut kurang berpengaruh terhadap sektor ekonomi mikro. Begitupula standar penurunan tarif tersebut kurang serentak terjadi di berbagai daearah. Ketika terjadi penurunan harga BBM  sesungguhnya yang bertanggung jawab dan memiliki instrumen paling berpengaruh  adalah dinas perhubungan dan operasi pasar apabila dibutuhkan.

Turunnya harga minyak mentah dunia berkorelasi terhadap harga BBM dibanyak negara. Tetapi harus dibedakan negara mana saja yang terpengaruh sangat signifikan mana yang tidak (produsen migas, karena harga BBM mereka sudah sangat murah). Bagi negara yang menganut pasar bebas, fluktuasi pasar tersebut wajar diikuti agar tidak menimbulkan gejolak terhadap ekonomi mikro. Sehingga banyak negara yang berlomba-lomba menurunkan harga BBM berkali-kali atau sekaligus. Misalnya Malaysia sudah 8 (delapan) kali menurunkan dampaknya cukup besar bagi mereka, sedangkan Indonesia hanya 3 kali. Padahal harga  minyak mentah dunia turun dibawah level 40 dolar/barrel (36 dolar/barrel).

Di Indonesia psikologi pasar tidak terkoreksi sama sekali dengan  harga BBM yang turun sebesar 1500 rupiah (hanya 3 kali turun dicicil sebesar Rp.500), sehingga sangat sukar sekali menurunkan harga sembako dan harga-harga lainnya.

Ganjar Pranowo Sekretaris Fraksi PDI-P di DPR RI menyambung Alvin Lie dan berbagai pakar migas lainnya beberapa waktu lalu misalnya, bahkan kini diperkuat Dirjen Migas, di acara Debat di TV.One  (5/2) menyatakan, mestinya turunnya harga BBM jika mengikuti harga pasar minyak mentah dunia adalah Rp. 3600, – dan Rp.3500,-menurut pakar lainnya. Jadi turun masih sangat kurang berdasarkan kepantasan ekonomi kita, bahkan pemerintah masih mengambil untung yang sangat besar, dan hendaknya pula penurunan tersebut mestinya sekaligus agar lebih terasa bagi rakyat, demikian menurut argumentasinya.

Dalam hal ini saya berpendapat di Indonesia masalah psikologi pasar sangat berperan penting, untuk itu  pemerintah dapat berkaca pada negara lainnya dan melihat kondisi ekonomi ril kita jika fluktuasi pasar global sangat dominan, dimana turun sangat signifikan berpengaruh besar bagi ekonomi mereka.Fakta lainnya dinegara maju kini sektor ekonomi mikro mendapat perhatian yang sangat penuh oleh pemerintah mereka. AS dan Jerman kini lebih memberi orientasi kebijakan pemberian kredit prospektif bagi kelas ekonomi menengah kebawah  dari dunia perbankan, bahkan mengambil beberapa metode dan kebijakan  sistem ekonomi sosialis/kerakyatan serta mempelajari bank syariah untuk menahan krisis.

Indonesia yang kaya raya dengan SDA dan pasar potensial 5 besar dunia mestinya merupakan modal yang sangat besar bagi perekonomian kita. Memproduksi migas secara mandiri untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang murah untuk menghidupkan sektor ekonomi riil, mendapat keuntungan besar dipasar luar negeri dimasa mendatang, harus kita mulai dari sekarang. Begitupula  mencintai produk nasional dengan mutu yang baik serta mampu bersaing adalah pondasi awal kita melangkah menjadi negara maju. Semoga.

Teguh Iman Prasetya

 

Iklan

One response

  1. di <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format 😮 ther … mso-hansi-theme-font:minor-latin;} aja, mas.

    Jadi bingun bacanya … 😀

    Jumat, Februari 6, 2009 pukul 8:07 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s