Fenomena Sufisme Di Belantara Kota

Fenomena Sufisme di Tengah Masyarakat Posmodern:

Sebuah Tantangan Bagi Wacana Spiritualitas

Yasraf Amir Piliang

Salah  satu  fenomena  menarik  yang  mewarnai  perkembangan  masyarakat kontemporer —khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta—  adalah marak tumbuhnya  berbagai  bentuk  wacana  spiritual  berupa  kelas-kelas  pengikut tasawuf  atau sufi. Kelas-kelas  ini  —yang  dominan  diikuti  masyarakat golongan menengah atas, dengan bayaran cukup tinggi menawarkan berbagai bentuk  dan  metode    pencerahan  jiwa di  tengah-tengah  deru  kehidupan perkotaan, yang sarat dengan berbagai patologi kejiwaan.

Kehadiran  kelas-kelas  sufi  ini  merupakan  sesuatu  yang  menjanjikan sekaligus  mengkhawatirkan,  bila  dikaitkan  dengan  keberadaannya  dalam lingkungan masyarakat —seperti metropolitan Jakarta— yang  kian dipengaruhi kuat oleh  budaya posmodern (postmodern culture). Kekhawatiran itu muncul, disebabkan budaya posmodern  sering dituduh sebagai budaya yang sarat paradoks dan kontradiksi diri (self contradiction), yang dapat menggiring pada  paradoks  sufisme  itu  sendiri.  Di  satu  pihak,  wacana  sufisme  dapat menjadi  semacam  penjaga  gawang  kesucian  jiwa  di  tengah masyarakat yang disarati gejolak pelepasan hasrat tak berbatas (unlimited desire); di pihak lain, sufisme  sendiri  dikhawatirkan  dapat  terperangkap  dalam  mekanisme  mesin-mesin hasrat masyarakat posmodern, bila rayuannya tidak dapat dibendung. Memperbincangkan  sufisme  dalam  kancah  masyarakat  posmodern  pada dasarnya  memperbincangkan  dua  arah  perjalanan  spiritual yang bertentangan satu sama lain.

Perbedaan arah spiritual tersebut,  disebabkan perbedaan mendasar  antara  sufisme  dan  posmodernisme  dalam  melihat peranan  hasrat  dalam masyarakat. Hakikat sufisme adalah pengendalian hasrat. ;  sebaliknya hakikat posmodernisme adalah pembebasan hasrat (desiring  liberation).  Yang  satu  mengekang  hasrat.,  yang  lain membebaskannya;  yang  satu  membentengi  .libido.,  yang  lain melepaskannya; yang  satu  mengutamakan  .perenungan.,  yang  lain  merayakan  .kepanikan. (hysteria);  yang  satu  menjunjung  tinggi  kedalaman,  yang  lain  memuja permukaan. (surface);  yang  satu  mengutamakan  kesederhanaan,  yang  lain memuja .ekstremitas. (hyper); yang satu menjauhkan diri dari materi,  yang lain memuja pemilikan materi (consumerism).

Membicarakan  sufisme dalam  masyarakat  posmodern  layaknya membicarakan  sebuah  .cahaya.  di  tengah lorong  gelap  kehidupan  hasrat manusia;  sebuah  .mutiara.  di  tengah padang  tandus  imoralitas;  sebuah .senyuman.  di  tengah hiruk-pikuk  ketidakacuhan,  individualisme,  dan hedonisme yang melanda masyarakat posmodern.  Keberadaan  sufisme  di  tengah  masyarakat  posmodern,  dengan  demikian, meninggalkan  berbagai pertanyaan untuk dijawab: masih adakah tempat bagi kezuhudan,  kefakiran,  serta  kesederhanaan  di  tengah-tengah  zaman  yang disarati  hutan  rimba  materialisme,  pelepasan  hasrat,  kelimpahruahan,  dan ekstremitas?  Masih  tersisakah  ruang  untuk  merenung  dan  melakukan kontemplasi  di  tengah-tengah  .dunia  yang    berlari  dengan  kecepatan tinggi? Masih  adakah  tempat  bagi  spiritualitas  di  tengah-tengah  dunia  yang  sangat bergantung  pada  materi (teknologi,  fungsi,  citra)? Dapatkah  sufisme menjadi motor  pencerahan dalam  zaman  yang  disarati  ketidakacuhan,  pengingkaran, dan  patologi  sosialDapatkah  sufisme memancarkan  cahaya-nya  dalam  era yang apapun boleh dilakukan, dipertontonkan, diumbar —anything goes!

Sufisme: Wacana Pengendalian Mesin Hasrat

Meskipun banyak konsep yang membangun sufisme, akan tetapi bila dikaitkan dengan  keberadaannya  dalam  masyarakat  posmodern,  maka  konsep  hasrat (hawa) merupakan konsep  yang sentral, yang berkaitan dengan   konsep desire dalam  wacana  posmodernisme.  Baik  dalam tradisi  sufisme  maupun  dalam wacana  posmodernisme,  .hasrat.  dianggap  sebagai .penggerak.  utama kehidupan  manusia  (sosial,  kultural,  spiritual),  yang  menentukan  .realitas sosial.. Akan tetapi, ada perbedaan sikap yang sangat mendasar soal kedudukan hasrat  —dan  realitas  sosial  yang  dibentuknya—  antara  tradisi  sufisme  dan wacana posmodernisme.

Para  sufi dengan  tegas  menganggap  bahwa  hakikat  .Realitas.  bersifat spiritual,  karena  segala  sesuatu  berasal  dari  Tuhan,  yang  berwujud spiritual.(1)Artinya,  .realitas.  merupakan  perwujudan  .hasrat  lebih  tinggi., yang  diarahkan  kepada  sifat-sifat  ketuhanan.  Sebaliknya,  realitas yang terbentuk  sebagai perwujudan .hasrat-hasrat rendah. (nafs),  dianggap  sebagai .ilusi. atau  realitas palsu.

Meskipun  istilah .nafs. mempunyai banyak makna —esensi, jiwa  yang menghidupkan,  psikis,  ruh,  pikiran,  kehidupan,  hasrat,  akan  tetapi  dalam terminologi sufi, istilah nafs secara implisit merujuk pada al-nafs al-amara, yaitu .jiwa  rendah. yang dikendalikan sifat-sifat jahat.(2) Dalam hal ini, perwujudan nafs yang  paling  rendah  adalah  pada dunia materi.  Ketika  seseorang  dikuasai nafs-nya,  maka  kehidupannya  akan  dikuasai  oleh  sifat-sifat  alam  materi tersebut. Kehidupannya akan terpusat pada dunia benda, dengan segala irama perubahan dan pergantiannya, serta dengan segala sistem yang membentuknya (system of objects).

Kecenderungan  nafs adalah  memaksakan  hasrat-hasratnya  dalam  upaya pemuasan  diri  sendiri,  meskipun  kepuasan  tersebut  tak  akan  pernah terpenuhi.(3)  Salah  satu  alasan  mengapa  hasrat  tak  pernah  terpuaskan  dan selalu  mencari  pelepasan-pelepasan  baru,  adalah  disebabkan  ia  ingin  selalu dipuja. Hasrat selalu menggiring manusia ke dalam apa yang dikatakan dalam terminologi  psikoanalisis sebagai  .the  culture  of  narcissism. —manusia yang selalu  mencari ketenaran,  popularitas,  publisitas  dirinya  sendiri.  Kaum  sufi, sebaliknya,  tidak  mencari-cari  ketenaran  tersebut.  Mereka  .menyembunyikan diri dalam jubah kerendah-hatian untuk  mencapai  kemuliaan.  Mereka  tidak ingin dimuliakan atau dikenal..(4)

Nafs merupakan sumber dari segala tindakan jahat dan tercela; sumber dari pelanggaran  etikaBerbagai  bentuk kejahatan  berkembang,  ketika  nafs mengikuti semua hasrat-hasratnya tanpa dapat dihalangi apapun: hukum, etika, adat,  atau  agama. Nafs justru menginginkan semua yang dilarang tersebut. Di sinilah letak sifat amoral dari nafsNafs tanpa henti-hentinya    mendorong  pemuasan  nafsunya, melebihi  batas yang  diperbolehkan. Akan  tetapi,  karena  tidak  pernah    terpuaskan  dan  cepat merasa  bosan,  ia  selalu  berpindah  dari  satu  kepuasan  ke  kepuasan  lainnya tanpa  akhir.  Ia  menjadi  sebuah  mesin  hasrat  (desiring  machine) yang secara terus-menerus  mencari  .obyek  kepuasan.  (desiring  objects) yang baru.(5) Keinginan nafs untuk selalu mencari saluran-saluran hasrat yang tak berhingga, dalam  wacana  kapitalisme  justru  disalurkan  lewat  mekanisme  .kebosanan terencana. (planned obsolescence).

Di samping bersifat amoral, nafs juga bersifat .anti sosial., oleh karena dalam rangka  memuaskan dorongan hasratnya, nafs mengabaikan semua aturan dan kebiasaan sosial. Sifat anti-sosial inilah yang mendorong hasrat untuk mencari fantasi-fantasi  pemenuhan  hasrat  yang  menyimpang  dari  norma  sosial,  atau dalam  terminologi  psikoanalisis  disebut sebagai kecenderungan ke arah .abnormalitas. (abnormality). Ia ingin selalu .melampaui. normalitas.

Dilihat  dari kacamata  spiritualitas,  maka  jelas,  hasrat  menjadi penghalang perkembangan jalan thariqat dan proses kesempurnaan nafs. Jalan spiritualitas ini akan makin tertutup, bila hasrat dibiarkan berkembang ke arah titik ekstrem —sebuah  titik di mana dorongan hasrat melebihi batas-batas yang dibolehkan, yang mendorong tindakan-tindakan buruk. Sebagaimana yang akan dijelaskan, justru sifat-sifat esktrem inilah —hypes, extreme, obesity, promiscuity— yang jadi ciri khas masyarakat posmodern.

Meskipun cenderung membawa sifat-sifat rendah, namun dalam terminologi sufisme, hasrat rendah nafs tersebut bukan untuk dilenyapkan. Ia hanya perlu .dikendalikan.,  .dimurnikan.  atau  .dibersihkan.  dari  sifat rendah  materi, sehingga mencapai tingkat nafs yang lebih tinggi, yaitu .nafs yang tenang. (an-nafs al-muthma.innah), yang dapat membawa hasrat menjauh dari kesenangan materi dan hewani, menuju kedekatan dengan tempat Yang Maha Kuasa.(6) Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa inti ajaran-ajaran sufisme adalah pengendalian  mesin-mesin  hasrat  yang  memproduksi  berbagai  bentuk  hasrat tak terbatas pada diri setiap orang yang dikuasainya. Akan tetapi, sebagaimana yang dapat dijelaskan nanti, apa yang ingin .dikendalikan. oleh wacana sufisme, justru  itulah  yang  ingin  .dibebaskan.  oleh  wacana posmodernisme. Posmodernisme merupakan sebuah wacana .pembebasan hasrat. dari berbagai belenggu,  benteng,  atau tembok  tinggi  yang  selama  ini  menghalangi,  termasuk belenggu. Tuhan —the liberation of desire.

Posmodernisme Sebagai Wacana Pembebasan Mesin  Hasrat

Posmodernisme adalah sebuah wacana, yang di dalamnya diciptakan ruang-ruang bagi .pembebasan hasrat. manusia dari berbagai katupnya: pembebasan energi .libido seksual. dari kungkungan Freud; pembebasan energi  .kehendak berkuasa. dari kungkungan Marx; pembebasan tanda dari kungkungan semiotika Saussure;  pembebasan  energi .kedangkalan. dari kungkungan Modernisme; pembebasan tubuh dari kungkungan moralitas.

Posmodernisme  merupakan  sebuah  wacana  yang  di  dalamnya  terbentuk  .saluran  bebas  hasrat.,  di mana berbagai bentuk hasrat dengan bebas menemukan kanal-kanal pelepasannya: lewat  kanal  ekonomi, yang menciptakan .ekonomi libido. (libidonomics);  lewat  kanal  politik,  yang menciptakan  .politik hasrat.; lewat  kanal  komunikasi,  yang menciptakan ekstasi komunikasi.; lewat kanal media, yang menciptakan ketelanjangan media..

Posmodernisme  adalah sebuah wacana yang digerakkan berbagai bentuk hasrat. Dalam  Lacan, Discourse and Social Change, Jacques Lacan  mengemukakan  bahwa  hasrat  merupakan  sebuah mekanisme utama pengubah sosial, sebuah mekanisme utama penggerak  kebudayaan,  yang  energi  utamanya adalah libido.. Hasratlah yang membuat sebuah kebudayaan tak pernah diam, yang membuat setiap orang merasa tak puas dengan apa yang telah dimiliki, yang mendorong orang untuk mencari hal-hal baru. Oleh sebab itu, hasrat dapat bersifat positif (membangun) maupun negatif (merusak).

Meskipun bentuk-bentuk hasrat sangat kompleks, berdasarkan pandangan Lacan, setidak-tidaknya  ada dua bentuk utama hasrat, yang juga beroperasi dalam masyarakat posmodern.

Pertama, hasrat .menjadi. (to be), yaitu hasrat menjadi obyek cinta —kekaguman, idealisasi, pemujaan, penghargaan—  .sang  lain.  (the others).(7) Orang merasa  menjadi  obyek  cinta  sang  lain  (penonton, fans, rakyat), oleh sebab itu ia akan bertingkah-laku dan menciptakan citra (image) dirinya sedemikian rupa agar ia tetap dicintai —narcissistic  desire. Inilah, misalnya,  orang-orang yang memperlihatkan eksistensi  dirinya  lewat  tanda-tanda  dan gaya hidup: mobil mewah, rumah megah, fashion eksklusif, parfum mahal, dsb.

Kedua.hasrat  memiliki.  (to have),  yaitu    hasrat  memiliki  sang  lain (materi, benda, orang, kekuasaan, posisi) sebagai sebuah cara untuk memenuhi kepuasan diri —anaclictic desire.  .Hasrat memiliki. merupakan fondasi masyarakat posmodern, yang dilembagakan  lewat  sistem  kapitalisme  global. Di dalamnya, orang dikonstruksi secara sosial untuk .mengingingkan. iringan-iringan benda yang sebetulnya secara hakiki tidak mereka butuhkan. Di sini kapitalisme global merubah  .keinginan.  (want)  menjadi .kebutuhan. (need).  Artinya,  kebutuhan tersebut .diciptakan.. Kapitalisme tidak hanya memproduksi barang-barang, tapi juga .memproduksi kebutuhan. dan dorongan .hasrat. di baliknya, untuk keberlanjutan produksi —inilah wacana libidonomics.

Dilema hasrat adalah, bahwa ia dapat menggerakkan kebudayaan menuju kondisi yang lebih baik (positive desire)  —kemajuan,  kesejahteraan, kenyamanan, akan tetapi dapat juga menuju kondisi yang lebih buruk dan merusak (negative desire) —kerakusan, hedonisme,  ketidakpedulianDalam  masyarakat posmodern, kedua energi hasrat ini —energi negatif maupun positif— diberi ruang yang sama untuk hidup. Sehingga, berbagai dualisme  konsep hasrat di dalamnya (negatif/positif, baik/buruk, moral/amoral) yang selama ini dipertentangkan, kini dibuat .mengambang., setelah berbagai batasnya  didekonstruksi  atau  dicairkan.  Ketiadaan batas yang jelas inilah yang menyebabkan wacana  posmodern penuh dengan perangkap-perangkap ketidakpastian (indeterminasi), ketidakjelasan,  dan  kemenduaan hasrat —paradoks hasrat— yang semuanya jadi tantangan besar bagi  wacana sufisme.

Sufisme dan Tantangan  Skizofrenia

Salah satu tantangan sufisme dalam masyarakat posmodern adalah .skizofrenia. (schizophrenia). .Skizofrenia. merupakan terminologi khas psikoanalisis, yang di dalam wacana posmodernisme —khususnya oleh Deleuze, Guattari, Lacan, dan Jameson—  digunakan  untuk  menjelaskan  fenomena  sosial  dan  kebudayaan yang lebih luas, khususnya fenomena pembebasan hasrat dari berbagai aturan, kekangan,  dan  batasannya,  serta  pembebasan  tanda  (signifier) dari berbagai kode-kode semiotik yang mapan.

Gilles  Deleuze  &  Felix  Guattari,  dalam  Anti  Oedipus:  Capitalism  and Schizophrenia,  menggunakan  istilah  .skizofrenia.  bukan  dalam pengertian .penyakit jiwa. —sebagaimana dijelaskan Freud. Tapi sebagai sebuah gerakan pembebasan  diri  dari  berbagai  aturan  keluarga,  masyarakat,  negara,  bahkan agama (Oedipus complex,  tabu,  mitos,  adab,  adat,  aturan),  dalam  rangka mengakui  dan  melepaskan  segala  sesuatu  yang  bersifat  non-human pada  diri manusia:  keinginan  dan  kekuatannya,  transformasi  dan  mutasinya,  dalam  . pembebasan, multiplisitas hasrat dari perangkap Oedipus..(8)  Pembebasan hasrat dari berbagai kekangan merupakan satu bentuk revolusi posmodernisme,  yaitu .revolusi  hasrat.  (desiring  revolution).  Sebagaimana dikatakan  Felix Guattari,  .revolusi  hasrat.  berarti  …. Menghancurkan  segala bentuk  penekanan  dan  setiap  model  normalitas  (normality).    yang  ada dalam masyarakat..(9)  Juga,  .. Melawan  penindasan  Oedipus  dan  efek-efek kekuasaannya,  dengan  menggalang  sebuah  politik  hasrat  radikal,  yang dibebaskan dari segala bentuk sistem kepercayaan (beliefs)..(10) Politik hasrat mencairkan  setiap  bentuk  mistifikasi  kekuasaan  dengan  cara  menggalang kekuatan-kekuatan  anti  kemapanan,  dengan  membiarkan  mengalir  secara bebas  aliran  hasrat  ke  segala arah,  dan  dengan menghancurkan  kode-kode sosial  yang  merintangi.

Revolusi  hasrat  telah  menggiring  dan  mengarahkan manusia  posmodern  menuju  tiga  posisi  psikis:  orphans (tidak  dibatasi  aturan keluarga  atau  sosial),  atheis (tidak  dikendalikan  kepercayaan),  and  nomads (tidak pernah berada pada keyakinan atau teritorial yang sama).(11)

Posmodernisme melihat  pembebasan hasrat  sebagai  sesuatu  yang  tak  perlu ditakutkan.  Ketakutan  lembaga-lembaga  sosial  (negara,  agama)  akan pembebasan  hasrat,  menurut  Guattari,  semata  disebabkan  mereka  melihat hasrat  hanya  sebagai  sesuatu  yang  berbahaya,  destruktif,  atau  anarkis.(12) Padahal, menurutnya  lagi,  hasrat  tidak  selalu  bersifat  demikian  .  .  (H)asrat, sekali  dibebaskan  dari  kendali otoritas, dapat dipandang sebagai sesuatu yang lebih  nyata  dan  realistis,  menjadi  pengatur dan pembangun  yang  lebih baik. Ilmu pengetahuan, inovasi, kreasi —semuanya ini berkembang  biak dari hasrat…(13)  Hasratlah yang memungkinkan  ditemukannya pesawat  terbang, telepon, mobil, komputer, dan  internet!

Apa  yang kemudian  dijunjung  tinggi  oleh  skizofrenia  dan  masyarakat posmodern —adalah .kecairan. (fluidity)  hasrat,  yaitu  kebebasannya mengalir ke  segala  arah  tanpa  kendali.  Hasrat  mengalir  dari  satu  kode  sosial  ke  kode lainnya, .. Ia mengaduk-aduk semua kode, dengan cara beralih secara cepat dari satu kode ke kode lainnya. (Ia) tidak pernah memberikan penjelasan yang sama  dari  hari  ke  hari…(14) Dengan  demikian,  apa  yang  dirayakan skizofrenia  dan  masyarakat  posmodern  bukanlah  kedalaman  dan  intensitas psikis  dari  apa  yang  dicapainya,  tapi  .produktivitas  hasrat.,  berupa  .rasa mengalir terus-menerus dan bebas., sesuai dengan dorongan energinya.

Dalam ruang masyarakat posmodern, narasi kehidupan manusia diarahkan untuk .mengalir. dari satu bentuk pelepasan hasrat ke bentuk pelepasan hasrat berikutnya, dari satu kegairahan ke kegairahan berikutnya, dari satu kepuasan ke kepuasan berikutnya, dari satu citra ke citra berikutnya, tanpa henti (ini-itu-ini-itu-ini..).(15)    .Rasa  mengalir.  ini  tentunya  sangat  bertentangan  arah  dengan wacana  sufisme,  yang  di  dalamnya,  narasi  historis  kehidupan manusia diarahkan  menuju  .pengendalian.  dan  .penyucian.  hasrat,  dari  hasrat  rendah menuju  hasrat  yang  lebih  tinggi,  yang  akhirnya  bermuara  pada  hasrat  yang bersifat ilahiah (an-nafs al-muthma.innah)Masyarakat  posmodern,  bahkan,  menjadikan  hasrat  sebagai  satu-satunya mesin penggerak sosial, yang menentukan arah perkembangan sosial, yang .. Produksi  sosial adalah  semata  produksi  hasrat  itu  sendiri.. Masyarakat posmodern memuati setiap aspek kehidupan sosialnya dengan investasi hasrat, tanpa  memerlukan  mediasi  lain  (aturan  adat,  aturan  negara,  aturan  agama), dalam  rangka  menginvasi    dan  menginvestasi    kekuatan  produksi  dan  relasi produksi  dalam  masyarakat  kapitalisme  lanjut  (late  capitalism).  Dalam terminologi skizofrenia, .. Hanya  ada hasrat  dan  sosial,  tidak  ada  yang lainnya..(16)

Kecenderungan  untuk  mengalirnya  hasrat  tanpa  interupsi,  telah menceburkan  masyarakat  posmodern  ke  dalam    apa  yang  disebut  Deleuze  & Guattari  sebagai medan .deteritorialisasi. (deteritorialization), yaitu medan kehidupan sosial,  yang di dalamnya seseorang tak pernah berhenti pada sebuah kedudukan  (sosial,  spiritual,  politik)  yang  tetap  dan  konsisten.(17)  Konsep .deteritorialisasi.  ini,  dalam  terminologi  sufi  dapat  dianalogikan  sebagai kehidupan  yang  tanpa  kedudukan  atau  maqam yang  tetap  dan  mengarah.  Hidup      .mengalir.  mengikuti  energinya sendiri.  Hidup  dikondisikan dalam keadaan  .keseketikaan.  dan  .kesesaatan.  (temporality) yang terus-menerus, tanpa ada konsistensi menuju pada sebuah tujuan yang pasti, misalnya maqam Tuhan.

Pada masyarakat posmodern, hidup dan hasrat dibiarkan  mengalir secara bebas  pada  .permukaan.  (immanent),  tanpa  terlalu  peduli  dengan  fondasi-fondasi  yang  bersifat  transenden  atau  ketuhanan.  Masyarakat  posmodern, dengan  demikian  bersifat  afirmatif  (affirmative)  dan  .inklusif.  (inclusive) —ia tidak  menolak,  membatasi,  atau  melarang  apapun  (termasuk  agama  atau sufisme),  selama semuanya dapat dimanfaatkan nilai kulit permukannya dalam permainan citra dan komoditi masyarakat kapitalisme lanjut.  Dengan  kecenderungan  hasrat  yang  mengalir  di  dalamnya  tanpa  interupsi dan dengan sifat temporalitas, maka salah satu ciri lain masyarakat posmodern adalah    pada  terjadinya  kematian  .identitas.  (identity). Skizofrenia menerima segala  bentuk identitas,  meskipun  bertentangan  satu-sama  lain.  Mereka  ingin melihat diri mereka .. Sebagai makhluk dengan beragam identitas, yang dapat mengekspresikan hasrat, kesenangan, ekstasi, dan kehalusan perasaan mereka, tanpa  bergantung  pada  sistem  added value mana  pun,  sistem  kekuasaan mana pun,  kecuali  hanya  dalam  semangat  bermain  (play)..(18)  Tidak  jadi  persoalan bagi  skizofrenia,  misalnya,  diam  dalam  kezuhudan  di  satu  waktu,  dan  hanyut dalam  ekstasi  gaya  hidup  di  waktu  yang  lain. Masyarakat  posmodern  tidak melihat  kedua  hal  yang  kontradiktif  tersebut  sebagai  sesuatu  yang  perlu dipertentangkan. Ia melihat kontradiksi dengan pandangan acuh-tak acuh —the cultural contradiction of posmodernism.

Sufisme dan Tantangan Hipermoralitas

Pembicaraan mengenai  hasrat  tentu  tidak  dapat  dipisahkan  dari  pembicaraan  soal  moralitas.  Masyarakat posmodern  sendiri  melandasi  asumsi-asumsi  moralnya  secara  filosofis  dari  tradisi  Nietzsche.  Dalam berbagai karyanya, Nietzsche melakukan semacam .redefinisi moralitas., yaitu  membongkar  kategori-kategori   baik/buruk, benar/salah, untuk kemudian membiarkan terjadinya perpindahan (transmutation) di antara keduanya. Dalam  wacana posmodernisme,  konsepsi  Nietzsche  tentang  .genealogi  moral.  dibawa  ke dalam konteks yang baru, berupa penciptaan semacam wacana .permainan di antara  amoralitas.  —sebuah permainan  yang dimungkinkan  lewat pembongkaran kategori-kategori moral. George Bataille, dalam Literature and Evil, menyebut permainan moral tersebut sebagai hiper-moralitas (hyper-morality) —suatu kondisi di mana ukuran-ukuran moralitas yang ada tidak dapat dipegang lagi, oleh  karena  situasi  yang berkembang telah melampaui batas-batas benar/salah, baik/buruk, berguna/tak berguna.(19) Hipermoralitas merupakan  wacana  .moralitas.  yang mengambangkan semua kategori dan batas-batas moral yang ada. Batas-batas  tersebut ditarik kesana-kemari, sehingga menciptakan berbagai keadaan  tumpang  tindih  dan kontradiksi-kontradiksi. Sebagaimana  yang  dikemukakan  Baudrillard  dalam  Baudrillard  Live,  .Anda bermain-main  dengan  amoralitas  itu sendiri: anda tidak membuang moralitas —anda memakainya, akan tetapi dengan cara-cara yang menyimpang..(20)

Salah  satu bentuk  permainan  moral masyarakat posmodern, sebagaimana yang tersirat dari pemikiran Baudrillard, adalah dengan cara menarik setiap wacana ke arah .titik ekstrem. (extreme) atau ke arah .keadaan yang melampaui. (hyper): bentuk-bentuk seksual berkembang ke arah yang melampui batas-batas  seks  itu  sendiri  (hypersexuality);    komoditi  berkembang  ke  arah  yang  melampaui  batas-batas komoditi    (hypercommodity);  kekerasan  berkembang  ke  arah  yang  melampui  batas-batas  kekerasan  (hyperviolence); kejahatan berkembang ke arah yang  melampaui  batas-batas  kejahatan (hypercriminality).(21)

Kecenderungan berkembangnya berbagai wacana menuju titik ekstrem, tak lain sebagai akibat terperangkapnya wacana-wacana  tersebut dalam gejolak hasrat total (total desir/) masyarakat posmodern. Di  dalamnya,  logika  sosial-ekonomi  telah bergeser dari logika kebutuhan (logic  of  need) ke arah logika hasrat (logic of desire). Artinya, wacana sosial-ekonomi  tidak lagi dikendalikan oleh aturan-aturan sosial, moral, dan keagamaan, akan tetapi oleh gejolak hasrat semata-mata.(22) Padahal, hasrat itu sendiri —dalam pemahaman sufistik— mempunyai kecenderungan ke arah bentuk-bentuk amoral, ke arah penolakan setiap bentuk penilaian moral (moral judgement).

Wacana  politik,  ekonomi,  sosial,  budaya,  dan  media  dalam  masyarakat  posmodern  telah kehilangan  peran  sebagai  pembawa  nilai-nilai moral. Yang justru dibawa adalah semangat .dekonstruksi moral.,  yang menghasilkan  .antagonisme moral., .kontradiksi moral., dan .kerancuan moral. (moral perversion). Televisi, umpamanya, membiarkan kontradiksi moral beroperasi di dalam dirinya  sendiri — mengajarkan ibadah khusyuk di pagi hari, lalu menyuguhkan ekstasi pornografi di sore hari; menanamkan  rasa kasih sayang di siang hari, lalu menularkan kebrutalan di malam hari. Televisi, dengan demikian, mengkonstruksi secara sosial, figur skizofrenia dalam tubuh dan  urat-urat  kejiwaan masyarakat  —figur-figur tanpa identitas, tanpa konsistensi.

Perbincangan  mengenai  moralitas,  menurut  pandangan  Michel  Foucault  dalam The  History  of  Sexuality, tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan mengenai  hubungan antara  hasrat, tubuh, dan kekuasaan (power). Menurut Foucault, ada dua  kategori kekuasaan. dalam kaitannya dengan wacana .tubuh.. Pertamakekuasaan atas tubuh, yang mengatur tindak-tanduk, sikap, dan perbuatan-perbuatannya secara represif. Kedua, kekuasaan yang memancar  dari dalam  tubuh itu sendiri, yaitu berupa kehendak (will) dan hasrat (desire). Kekuasaan dari dalam tubuh ini menentang dan melawan kekuasaan atas tubuh, sehingga gerakan pembebasannya dapat menjadi sebuah revolusi.(23)  Dengan membebaskan tubuh dari .kekuasaan atas tubuh., yaitu dengan membiarkan mengalir .kekuasaan hasrat tubuh., maka apa yang terbentuk adalah heterogenitas,  multiplisitas,  keragaman  bentuk  (polymorphous), ketidakberhinggaan dan ketidakberbatasaan dalam  discourse seksual,  kesenangan, dan penggunaan tubuh, tanpa perlu diikat oleh asumsi moral tertentu. Di sini, hasrat diarahkan untuk menentang segala bentuk kekuatan represif terhadap tubuh, termasuk .represi. Tuhan —scientia sexualis.

Sufisme dan Tantangan Konsumerisme

Kapitalisme global menawarkan sebuah ruang, yang di dalamnya hasrat dapat mengalir dengan  bebas, bersamaan dengan mengalirnya kapital dan komoditi. Kapitalisme adalah sebuah bentuk skizofrenia, yaitu sebuah  arus perputaran  hasrat  yang  tanpa  henti dan tanpa interupsi. Akan tetapi,  ia bukanlah tempat pelepasan  yang  sempurna,  oleh  karena  sifat-sifat  totalitarianisme  (pengaturan  massa  oleh  elite  kapitalis) masih melekat pada dirinya.

Sebagai sebuah wacana skizofrenia, kapitalisme hidup dari gejolak hasrat tak bertepi itu. Lewat mesin hasratnya yang berputar tanpa henti, kapitalisme merasuk ke dalam jagat raya mental kolektif, dan di sana ia menegakkan norma, menciptakan jaringan semiotik, dan mencetak karakter manusia konsumer. Teror halus (soft terror) yang dilakukan kapitalisme terhadap diri (self) lewat jaringan semiotisasi kehidupan  (gaya  hidup,  makna  status, penampilan) tidak tertanggungkan oleh masyarakat sebagai konsumer, yang menjadikan mereka asing terhadap hasratnya yang lebih mulia (an-nafs al-muthma.innah).

Mereka akhirnya menjadi pelayan dari jaringan semiotik kapitalisme; terperangkap dalam irama pergantian citra  dan gaya hidup; hanyut oleh  badai hasrat yang tidak pernah berhenti, sehingga tidak memiliki lagi ruang bagi peningkatan kualitas nafs yang otentik. Dunia  konsumerisme menjadi sebuah ruang sosial, di mana para konsumer dikonstruksi kehidupan sosialnya, sehingga ia mengikuti begitu saja  arus  hasrat  yang mengalir  tanpa  henti.  Dalam  hal  ini,  Jean  Francois  Lyotard  mengemukakan  dalam bukunya  Libidinal  Economy,  bahwa  dalam wacana kapitalisme, tidak saja tercipta pluralitas  ekonomi-politik  tubuh  (political-economy of body),  tapi  juga  pluralitas discourse pelepasan hasrat. Dalam ruang sosial ini, setiap orang dikonstruksi untuk dapat mengambil  keuntungan maksimal dari kekuatan hasratnya. Setiap orang harus dapat memasarkan  setiap  rangsangan  libido, untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang maksimal.(24)

Dunia konsumerisme menjadi sebuah dunia permainan (gaya, image, citra, gaya hidup) yang bersifat material,  imanen,  dan  sekuler,  yang  tidak  menyediakan  ruang  bagi  .pencerahan  nafs..    Disebabkan permainan tersebut dikendalikan oleh motivasi pemenuhan hasrat, maka ia dengan mudah menjadi tempat bagi  dekonstruksi moralDengan  melenyapkan batas-batas  moral,  dunia  komoditi  menjelma  menjadi sebuah .dunia ketelanjangan. (transparency), sebuah dunia .tanpa rahasia. (obscene), sebuah dunia tempat merajalelanya kecabulan, erotisasi, pornografi (iklan, tontonan, video, filem, internet) —dunia posmodern.  Dalam  jagat komoditi  kapitalisme,  terjadi  .obyektivikasi.  tubuh,  yang  kini  eksistensinya  disejajarkan dengan  .obyek..  Komodifikasi  tubuh,  dengan  segala potensi hasrat dan libidonya menjadi bagian dari .budaya  materi.  (material culture) kapitalisme global. Sehingga, .. Seolah-olah tidak ada lagi yang membatasi  sebatang tubuh dengan dunia di luarnya (dunia obyek) —inilah ketelanjangan..(25) Komodifikasi  tubuh   menjadi  sebuah wacana  .perendahan  derajat  tubuh.,  yang  kini  hanya  dilihat  sebagai materi, yang menjadi bagian dari dunia  an-nafs al-ammarah.

Pada  jagat  komoditi  kapitalisme,  tak  ada  lagi  batas  mengenai  apa  yang  boleh/tidak  boleh ditampilkan,  dipampangkan,  dipamerkan, dipertontonkan, disuguhkan, dipasarkan, dijual —inilah ketelanjangan. Terjadi semiotisasi tubuh yang berlebihan —over-signified.  Terjadi  ekspose  dan  tontonan tubuh yang tanpa akhir —over-exposed;  terjadi  pencitraan  dan  narasi  tubuh  yang melewati batas  —over-narrated. Dunia konsumerisme menggelar setiap citra,  memamerkan setiap tanda, akan tetapi menetralisir maknanya yang lebih tinggi, yang berkaitan dengan nafs ketuhanan.

Dunia konsumerisme menjadi semacam .promiskuitas jaringan. (promiscuity of networks), sebuah prinsip yang membolehkan hubungan apa saja, tanpa ada pembatas. Promiskuitas adalah  ciri etis masyarakat posmodern. Masyarakat posmodern membentuk  jaringan seksual tanpa batas, larangan, tabu — promiskuitas  seksual. Ia menciptakan jaringan komunikasi yang dapat diakses siapapun —promiskuitas komunikasi. Ia menciptakan jaringan tubuh yang dapat digunakan untuk kepentingan apapun (kepentingan oleh raga —ingat  cheer  girl, kepentingan ekonomi —sales girl,  kepentingan  politik  —campaign  girl, kepentingan tontonan —bar  girl,  kepentingan komunikasi —model  girl), yang kesemuanya merupakan ciri-ciri khas promiskuitas tubuh.

Dunia konsumerisme merupakan dunia yang dibentuk oleh  nilai-nilai  keterpesonaan    (fascination) dan  ekstasi..    Apa  yang didambakan  manusia  posmodern  adalah  .pesona.  citra  dan penampakan (commodity fetishism), tanpa ambil pusing dengan nilai-nilai transendennya, khususnya nilai-nilai spiritual sebagaimana  yang  diajarkan  sufisme.  Masyarakat  posmodern adalah  sebuah masyarakat tontonan., yang tidak ambil pusing dengan jagat spiritual society of the spectacle.

Disebabkan pemujaannya terhadap  .rasa mengalir. yang tiada henti, dunia  konsumerisme menjelma menjadi  sebuah  dunia  yang  memuja  .kecepatan.  (speed) —kecepatan pergantian image, gaya, gaya hidup,  tontonan,  identitas. Dalam dunia konsumerisme, hidup dihabiskan untuk durasi-durasi citraan dan gaya yang datang dan pergi silih berganti dalam kecepatan tinggi, yang memerangkap manusia dalam irama  percepatannya,  dan  yang  sebaliknya,  makin  mempersempit  ruang  bagi wacana  .pencerahan  nafs..  Ekstasi kecepatan telah meningkatkan durasi kesenangan, keterpesonaan dan kegairahan; dan  sebaliknya pada saat yang bersamaan, semakin mempersempit durasi .penyucian hati., sebagaimana yang ditawarkan sufisme.

Tempo tinggi kehidupan yang dikonstruksi mesin kapitalisme, menciptakan ciri lain masyarakat posmodern,  yaitu sifat  .kesementaraan.  (temporality),  yaitu  .kesementaraan  materi.  yang  bersifat horisontal.(26) Manusia dikondisikan untuk melihat masa kini sebagai temporalitas, dengan harapan besok ada .perbedaan. (difference).:  Citra, gaya, tampilan, gaya hidup. Sifat temporalitas ini tentunya  berbeda dengan konsep .temporalitas. yang bersifat vertikal dalam terminologi sufisme, yang dalam perjalanannya menuju maqam yang lebih tinggi, nafs berada dalam kesementaraan posisi. Dalam  wacana  konsumerisme,  hidup  dikondisikan  untuk  selalu  berpindah  dari  satu  hasrat  ke  hasrat berikutnya,  dari  satu  kejutan  ke  kejutan  berikutnya.  Paul  Virilio,  dalam  karyanya  tekstualnya,  The Aesthetics  of  Disappearance,  menyebut  durasi  waktu    kehidupan  sebagai  semacam  gejala  epilepsi.(27) Rangkaian  hasrat  dan  kejutan  yang berpacu dengan kecepatan tinggi, merepresentasikan  umat manusia yang  bertamasya  dalam fragmen-fragmen ruang yang bersifat temporer, yang menyedot setiap energi manusia  hanya  untuk  .tamasya  materi.,  dan  tidak  menyisakannya  untuk  .tamasya  spiritualitas..  Sebab, dalam  ekstasi  kecepatan,  tak  ada  waktu  lagi  untuk  memikirkan  nafs: untuk perenungan, kezuhudan, kefakiran, kepasrahan, pencerahan,  kefanaan.

Kecepatan  telah  membentuk  panorama  lain  masyarakat  posmodern,  yaitu  panorama  yang dilukiskan Arthur kroker & David Cook dalam The Postmodern Scene: Excremental Culture and Hyper-Aesthetics,  sebagai  panorama  .panik.  (panics):  panik  kapital,    komoditi,  media,  uang,  seks,  tontonan.(28) Inilah .panik komoditi. yang datang dan pergi dalam kecepatan tinggi dalam super-mall, yang tidak meninggalkan  jejak-jejak  spiritual;  inilah .panik citra dan tontonan. yang muncul dan menghilang dalam kecepatan tinggi dalam televisi, yang tidak meninggalkan bekas hikmah;  inilah  .panik  seksualitas. dalam video  atau  internet,  yang  tidak  menawarkan  intensitas-intensitas  psikis.  Dalam  dunia kepanikan,  tak  ada ruang untuk interupsi, untuk kekhusyukan, untuk konsistensi.

Sufisme dan Perangkap Gaya Hidup

Gaya  hidup merupakan  pola (durasi, intensitas, kuantitas) penggunaan waktu, ruang, uang, dan barang dalam kehidupan sosial. Gaya hidup dibentuk dalam sebuah ruang sosial (social space), yang di dalamnya terjadi sintesis antara .aktivitas belanja dan kesenangan.. Dalam wujudnya yang mutakhir, ruang sosial itu menjadi sebuah .pertunjukan citra. dan .tontonan  teater. masyarakat posmodern.(29)

Dalam masyarakat  posmodern, masyarakat  dikonstruksi  secara  sosial  ke dalam berbagai  .ruang gaya hidup.,  yang menjadikan mereka  sangat  bergantung pada irama pergantian gaya, citra, serta status yang ditawarkan  di  dalamnya.  Gaya  hidup  adalah  cara  manusia  posmodern mengaktualisasikan  dirinya  lewat .semiotisasi  kehidupan..  Gaya  hidup adalah  aspek  .permukaan.  atau  .wajah  luar.  (imanensi)  dari kebudayaan.  Dalam  masyarakat  posmodern,  apapun  dapat  dikonstruksi  sebagai  bagian  dari  gaya  hidup, selama  ia  dapat  dirubah menjadi,  citra,  tanda,  dan  gaya:  politik,  pendidikan,  seksualitas,  jabatan,  agama, ibadah, bahkan sufisme.

.Rasa mengalir. yang dikonstruksi dunia konsumerisme disekspresikan  lewat  .rasa  mengalir.  gaya hidup, yang selalu berubah, berganti, dan berkembang. Gaya hidup yang .mengalir. menciptakan apa yang disebut  Jean  Baudrillard,  sebagai  .mayoritas  yang  diam.,  yaitu  mereka  (massa)  yang  tidak  menolak  dan menampik apapun,  selama apa yang disuguhkan pada mereka adalah permainan gaya, citra, dan tontonan. Mereka tidak terlalu peduli dengan kedalaman makna, atau spirit di balik tontonan dan citra tersebut. .. Mereka hanya menginginkan tanda, mereka memuja permainan tanda-tanda..(30)  Sikap .diam. (tidak menolak, menampik, memprotes) membawa pada satu ciri   lain  masyarakat posmodern,  yaitu  .kontradiksi.. Dengan  .diam.,    manusia  posmodern menerima  secara  tidak kritis,  setiap makna  yang  ditawarkan,  menerima  segala  bentuk kontradiksi dalam diri mereka:  mencampuraduk benar/salah,  asli/palsu,  baik/buruk,  halal/haram, moral/amoral. Mereka dapat melakukan dua hal yang bertentangan sekaligus tanpa beban —rajin pergi ke tempat ibadah, akan tetapi rajin pula pergi ke tempat maksiat; khusyuk dalam sebuah perenungan, akan tetapi hanyut pula dalam ekstasi konsumerisme.

Kondisi sosial masyarakat posmodern, dengan demikian, merupakan sebuah tantangan yang berat bagi pencerahan  spiritual —khususnya wacana sufisme— disebabkan ia adalah sebuah kondisi, di mana manusia  diperangkap  dalam  jagad materi dan gaya hidup yang bersifat permukaan. Bahkan hal-hal yang bersifat .spiritual., kini dikhawatirkan menjadi bagian dari dunia permukaan itu: yoga, tenaga dalam, puasa, shalat, zakat, do.a, tobat, salawat, zikir, dan mungkin sufisme. Dalam  masyarakat posmodern,  segala sesuatu  yang  bersifat sekuler (gaya, gaya hidup, status) bercampur-aduk dengan hal-hal yang bersifat spiritual.

Sufisme Materialistik?

Telah banyak hikmah yang diajarkan oleh orang-orang suci dan kalangan sufi,  bahwa pelepasan  gejolak hasrat nafs yang rendah hanya akan menciptakan berbagai sisi buruk kehidupan manusia, dan menjauhkan mereka  dari  dunia  spiritual.  Akan  tetapi,  dalam  masyarakat  posmodern,  hikmah-hikmah  sufistik  tersebut akan berbenturan dengan berbagai logika masyarakat posmodern  itu  sendiri,  yang  justru  melandaskan setiap wacananya (ekonomi, sosial, komunikasi, politik, budaya, media) pada logika-logika .hasrat rendah. itu sendiri. Apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat posmodern adalah .tarik-menarik. antara an-nafs al-ammarah dengan an-nafs al-muthma.innah.

Masyarakat  posmodern adalah sebuah masyarakat yang di dalamnya hasrat dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu dikekang, bahkan sebaliknya harus diumbar. Gelora hasrat itu telah  menghanyutkan manusia  posmodern  dalam  lorong  .ekstasi  kebendaan.,  dalam  lembah  .kepanikan.,  dalam  lumpur .kontradiksi..  Masyarakat  posmodern  adalah  sebuah  masyarakat,  yang  di  dalamnya  tidak  ada  yang mengendalikan hasrat selain dari energi hasrat itu sendiri —libidinal machine.

Masyarakat posmodern penuh paradoks. Di satu pihak, ia telah membuka sebuah cakrawala dunia yang serba plural —yang kaya warna, kaya nuansa, kaya citra; di pihak lain, ia menjelma menjadi sebuah dunia  yang seakan-akan  berkembang tanpa kendali, yang berjalan menurut logika hasratnya sendiri.  Ia menjadi  sebuah dunia, yang di dalamnya manusia kehilangan arah tujuan. Di tengah badai krisis moral yang menghantam dengan dahsyat, di tengah turbulensi moral yang menyelimuti manusia, di tengah-tengah hutan rimba hasrat yang mengelilingi manusia, di tengah kepanikan materi yang menghantui manusia, ke manakah umat manusia ini sesungguhnya akan dibawa? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang  tidak pernah terjawab oleh masyarakat posmodern.

Gelombang hasrat yang melanda masyarakat posmodern harus  ada yang  mengendalikan.  Akan tetapi, apa yang dapat mengendalikan? Alvin Toffler, misalnya, menawarkan sebuah prediksi, bahwa dalam Milenium  Ketiga,  peran  agama  dan  spiritualitas  akan  makin  menonjol,  sebagai  pengendali  moralitas masyarakat. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau mendengarkan suara-suara moral dan spiritual itu —suara sejuk orang suci, suara kritis sang filsuf, suara  lembut sang  pujangga.  Suara-suara mereka  hilang ditelan deru mesin  kapitalisme global yang berputar tanpa  henti;  tenggelam  diseret  keterpesonaan  dan kegairahan  yang  ditawarkan mesin-mesin tontonan dan hiburan;  lenyap dihisap jutaan bit informasi dan kecabulan dalam  cyberspace.

Sufisme  diharapkan dapat menjadi mesin  .pencerahan.  di  tengah deru  mesin  hasrat  kapitalisme dan  masyarakat posmodern yang berputar tanpa henti. Akan tetapi, derasnya perputaran mesin hasrat tersebut —yang mewujud dalam berbagai bentuk komoditi, citra,  gaya  hidup,  dan  tontonan—  telah menimbulkan  kekhawatiran,  jangan-jangan  para  sufi itu sendiri dapat terperangkap dalam kontradiksi posmodern. Sehingga, yang tercipta adalah semacam .sufi materialistik., yaitu para sufi yang terperangkap dalam pengaruh jagad materi dan gaya hidup masyarakat posmodern, sambil menekuni jalan spiritualitas. Inilah,  misalnya,  seorang wanita .sufi., yang berkunjung ke sebuah mall mewah, mengendarai sendiri mobil build-up yang terbaru,  mengenakan stelan fashion mutakhir rancangan Versace, memakai kacamata sunglass warna  gelap,  membawa  handphone mutakhirnya yang  trendy, sambil menenteng ke mana-mana .sertifikat  sufi.,  sebagai  sebuah  .citra.  dan  .legitimasi.    diri  di tengah  belantara  citra  budaya  posmodern yang bersifat paradoks.

Pencerahan Spiritual  dalam Paradoks Posmodernisme

Memalingkan masyarakat dari segala bentuk materi, di tengah dunia yang justru sangat bergantung pada materi  (teknologi  transportasi,  komunikasi,  pendidikan,  kesehatan)  adalah  sesuatu  yang amat  sulit,  kalau tidak boleh dikatakan mustahil. Dan,  itu bukan  tugas sufisme di era posmodern ini. Tugas sufisme dalam era  posmodern  adalah  setidak-tidaknya  meminimalisasi berbagai  paradoks  masyarakat  posmodern  itu sendiri, melalui upaya .penyucian. berbagai wacananya dari sifat-sifat dualistik, ketidakpastian, kekaburan, dan ekstremitas.

Sejarah mengajarkan,  apapun yang  tumbuh  ke  arah  titik  ekstrem, pada akhirnya akan berkembang ke arah .penghancuran dirinya sendiri. (self destruction).  Ancaman  lubang  ozon  adalah  sebuah  contoh  dari sebuah  pertumbuhan  (ekonomi,  industri,  dan  teknologi)  yang  melampaui  titik  yang  tidak  seharusnya  ia lalui, sehingga ketimbang memberi kesejahteraan pada umat manusia, ia  sebaliknya  jadi  ancaman  serius bagi masa depan mereka. Inilah yang disebut dalam terminologi ekologi dan ekonomi sebagai overshoot —melampui batas. Dan, satu-satunya jalan untuk mencegah kehancuran umat manusia yang diakibatkan oleh  hasratnya yang  tak berbatas, adalah dengan mengendalikan pertumbuhan hasrat itu sendiri —desiring overshoot.

Kini,  dalam  masyarakat  posmodern,  selain  lubang  ozon  yang  menganga  di  lapisan  atmosfir  dan stratosfir bumi —yang  mengancam masa depan kehidupan umat manusia—  ada  .lubang ozon.  lain yang menganga dalam nafs kita —inilah .lubang ozon spiritual.. Lubang ozon spiritual itu menganga disebabkan mesin  hasrat posmodern  yang  berkembang    menuju  titik  ekstrem.  Lubang  ozon ini  tidak  mengancam manusia lewat penyakit fisik, melainkan lewat .penyakit. yang tak kalah ganasnya, yaitu penyakit ketidakacuhan, ketidakpedulian, dan lenyapnya rasa malu.

Sufisme —dan wacana spiritualitas pada umumnya— merupakan wacana  yang mekanisme utamanya adalah pengendalian hasrat. Sufisme diharapkan dapat menjadi sebuah .mesin pengendali hasrat. masyarakat posmodern yang tak berbatas dan liar. Tantangan yang dihadapi wacana sufisme memang berat, disebabkan  telah meresapnya  arus-arus hasrat tersebut ke dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat posmodern. Dalam kondisi yang demikian, yang tampaknya  sangat diperlukan    adalah  konsistensi (tawakal) wacana  sufisme  itu  sendiri,  dalam  proses  .penyucian.  yang  tak kenal  lelah. Dalam bahasa  sufi, .Hasrat tidak dapat dilawan dengan hasrat, melainkan dengan (konsistensi) akal!.

1  Dr. Javad Nurbakhsy,  Psikologi  Sufi, (terj.), Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta,  1998, hal. vii.

2  Ibid., hal. xix.

3 Al-Hujwiri, Kasyful Mahjub: Risalah Persia Tertua Tentang Tasawuf, (terj.) Penerbit Mizan, Bandung, 1994, hal. 17

4  H. Wilerforce  Clarke, .Pendahuluan. dalam Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, Awarif al-Ma.arif, Pusataka Hidayah, Bandung, 1998, hal. 22.

5   Dr. Javad Nurbakhsy, Psikologi Sufi, hal. 20.

6  Ibid., hal. 4.

7  Istilah  hawa (hasrat) di dalam terminologi sufisme barangkali dapat dicarikan padanannya  dengan  istilah  desire di  dalam  terminologi  psikoanalisis.  Untuk mengetahui lebih jauh mengenai mekanisme dan bentuk-bentuk  .hasrat.  (desire) di dalam  terminologi   psikoanalisis, Lihat Mark Bracher, Lacan, Discourse and Social Change, Cornell University Press, 1993.

8  Mark Seem,  .Pendahuluan.  dalam  Gilles Deleuze &  Felix  Guattari,  Anti Oedipus: Capitalism and  Schizophrenia, Viking Press, New York, 1982, hal. xx).

9   Felix Guattari, Soft Subvertions, Semiotext(e), New York, 1996, hal. 35.

10   Gilles Deleuze &Felix Guattari, Capitalism and Schizophrenia, hal.  xxi.

11   Ibid., hal. xxi.

12   Felix  GuattariMolecular Revolution: Psychiatry and Politics, Peregrine Books, 1984, hal. 86

13   Ibid., hal. 86.

14   Gilles Deleuze & Felix Guattari, Anti-Oedipus, hal. 15.

15  Untuk melihat  keterkaitan antara skizofrenia dengan wacana posmodernisme,  Lihat Fredric Jameson,  .Posmodernism and Consumer Society., dalam  Hal  Foster,  Postmodern  Culture, Pluto Press, London, 1990.

16   Gilles Deleuze & Felix Guattari, Capitalism and Scizophrenia, hal.  29.

17   Ibid., hal. 35.

18   Felix Guattari, Soft Subversion,  hal. 35.

19   George Bataille, Literature and Evil, Marion Boyars, 1993, hal.22.

20   Jean Baudrillard, Baudrillard Live, Routledge, 1995,  hal. 136.

21   Baudrillard, Fatal Strategies, Pluto Press, 1990, hal. 7

22   Ibid, hal. 8.

23 Lihat Richard Harland, Superstructuralism: The Philosophy of Structuralism and   Poststructuralism, Methuen, 1987, hal. 156). Lihat juga Michel Foucault, The History of  Sexuality: an Introduction, Penguin Books, 1978.

24   J.F. Lyotard, Libidinal Economy, Athlone Press, 1993.

25   Jean Baudrillard, Fatal Strategies, hal. 165.

26  Pandangan dunia  (world view) manusia modern dan posmodern sangat berbeda. Manusia  modern melihat  masa  depan sebagai masa yang menjanjikan sebuah hidup yang  lebih baik dan lebih sempurna lewat kemajuan sains dan teknologi (sebuah utopia materialisme). Manusia posmodern tidak melihat utopia semacam itu, selain dari kegandrungan mereka  menantikan citra, pemuasan hasrat,  kesenangan,  dan tontonan yang .berbeda.. Untuk melihat perbedaan ini, lihat Jurgen HabermasThe Philosophical Discourse of Modernity, Polity Press, 1990.

27   Paul Virilio, The Aesthetics of Disappearance, Semiotext(e), 1991, hal. 113.

28   Lihat Arthur kroker & David  Cook,  dalam  The Postmodern Scene: Excremental Culture and Hyper-Aesthetics, MacMillan, London, 1988.

29  Untuk melihat definisi .gaya hidup. (life style) dan peranan pentingnya di dalam arena konsumerisme dan masyarakat posmodern, Lihat Rob  Shields,  Lifestyle Shopping: The Subject of Consumption, Routledge, London, 1992.

30  Jean Baudrillard, In the Shadow of the Silent Majorities, Semiotext(e), New York, 1983, hal. 10.

Yasraf Amir Piliang

Iklan

One response

  1. yana suryana

    Hatur Nuhun….

    Rabu, Desember 1, 2010 pukul 12:00 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s