Sub Kultur Kaum Muda

KAUM MUDA GAYA HIDUP DAN PENOLAKAN

Androe. S

Munculnya kaum muda dihubungkan dengan kategori usia muda. Talcot Parson berpendapat bukan hanya masalah usia, tetapi juga merupakan suatu kontruksi social dan budaya terhadapnya pada situasi dan kondisi tertentu. Jadi pada saat alam kapitalisme begitu menonjol Parson menyatakan bahwa ada perubahan keadaan social dan budaya terhadap kaum muda dalam keluarga, dari masa pra kapitalisme masuk ke kapitalisme.

Secara logis, memang dengan semakin banyak dan beragamnya sarana-sarana yang menunjang hidup didalam kolektivitas akan berakibat pada bertambah panjangnya periode kaum muda didalam mengarungi identitasnya, sebelum beralih. Kaum muda didalam keluarga terletak diantara masa anak-anak sangat tergantung dan masa dewasa (mandiri).Periode ini merupakan masa transisi untuk mempersiapkan diri lepas dari keluarga. Dalam hal ini pandangan oleh rezim berkuasa (para politisi dan pembuat kebijakan dan professional kaum muda) terhadap mereka sangat menentukan. Pandangan dan kebijakan ini antara lain berisi :

  1. Kaum muda berada pada masa perkembangan yang mana sikap dan nilai-nilai sedang dalam pembentukan untuk mengambil ideology-ideologi tertentu.
  2. Masa transisi dari anak-anak yang tergantung menuju masa dewasa otonom, biasanya hadir fase bersifat memberontak, juga pada masyarakat modern karena tingkat kompleksitas sangat tinggi. Untuk maju melewati masa transisi lebih baik, maka membutuhkan bantuan berupa nasehat dan dukungan dari para professional.

Para pemikir Cultural Studies sepakat bahwa tidak ada konsep universal terhadap pemaknaan kaum muda. Hal ini tampak dalam pertanyaan yang muncul sebagai berikut :

  1. Kapan batasan usia awal dan akhir kaum muda
  2. Mengapa tampak karakteristik yang berbeda pada kaum muda diberbagai kota dunia, seperti misalnya di New York, Jakarta ataupun Rio De Jeneiro ?
  3. Bagaimana mungkin fenomena menjadi kaum muda dalam masyarakat maju (advanced society) lebih tinggi dan panjang dari masyarakat kurang maju ?

Kita dapat mengambil contoh problem seksualitas. Pada masyarakat maju sikap masyarakat jelas sangat liberal, yang mana itu merupakan persoalan pribadi dan hak asasi kaum muda. Kalau mampu tidak dilakukan sebelum pernikahan itu lebih baik tetapi jika tidak mampu jangan berlaku bodoh seperti ; tidak paham terhadap pencegahan kehamilan dan potensi penyakit, bersifat terlalu posesif. Para orang tua dari kaum muda tersebut lebih bersifat sebagai pendamping dengan seruan moral dan memberi wawasan intelektual. Sementara itu sikap dari masyarakat sangat tidak jelas terhadap fenomena tersebut.

Kaum muda berada pada posisi mengambang dan tidak jelas serta kebimbangan kategoris. Menurut Grossberg, hal tepat bukan pada apakah wacana pendefinisian kaum muda itu merujuk pada keakuratan, melainkan bahwa mereka merupakan bagian konteks dimana kaum muda diorganisasikan.

Bagi Hebdige, kaum muda seringkali ditanggapi dengan sikap mendua, yaitu yang menyulitkan dan yang menyenangkan. Kesukaran yang ditimbulkan oleh mereka adalah fenomena hooligans sepakbola, kebisingan sepeda motor, keonaran gank genk motor, tetapi juga sekaligus pada sisi lain terjadi komodifikasi kaum muda sebagai konsumen potensial dalam hal mode, gaya hidup, dan aktivitas waktu luang lainnya, yang merupakan pasar empuk bagi para kapitalis.

Demikianlah jika mayoritas kaum muda Indonesia dalam prosesnya tidak menuju penstabilan dan pematangan kepribadian, mereka akan dominan bersifat instrumental dengan mengerdilnya sisi kemanusiannya. Relasi social dan internal mereka akan berat sebelah pada sifat instrumental (yang semestinya hanya cocok diterapkan pada bangsa minus manusia), maka sebagai bangsa akan lemah dan tidak beridentitas, yang ada sifat konsumtif, hedonis, individualis, saling menindas, dan saling menghancurkan.

SUB KULTUR KAUM MUDA

Konsep subkultur merupakan hal yang berdaya mobilitas mengkonstitusi obyeknya dari studi. Hal ini merupakan suatu istilah klasifikatori yang mencoba memetakan dunia social didalam suatu tindakan terhadap representasi. Keakuratan sub kultur bukan pada sejauhmana mampu berfungsi dalam pemakaiannya. Kata Sub bermakna sebagaI istilah dan menunjukan pembedaan dengan jelas arus utama budaya dominan dalam masyarakat. Dengan kata lain, sub kultur dimaksudkan agar bagian masyarakat tertentu mampu memaknai hidup secara baru sehingga dapat menikmati kesadaran menjadi yang lain dalam perbedaan terhadap budaya dominan masyarakat.

Barangkali kegemaran berjudi pada sebagian masyarakat Indonesia mencerminkan ketidakberdayaan karena perbedaan kelas struktur ekonomi social. Juga keinginan menjadi bagian dari gaya hidup modern yang berakar pada tradisi budaya kapitalis dari negara asalnya. Melalui budayalah dengan pola gaya hidup borjuasi sebagai akar strategis, negara-negara kapitalis memberdayakan keberlangsungan industry ekonominya, dengan menghisap kekayaan-kekayaan negara-negara lemah, seperti Indonesia.

Chicago School mengidentifikasi bahwa reaksi subkultur lahir bukan sebagai fenomena reaksi individual tetapi reaksi kelompok terhadap problem kelas, the haves and the haves not. Penolakan terjadi pada kaum kelas pekerja terhadap kelompok kelas menengah. Dalam bahasa kategori Charles Wright, kelas dalam struktur kelas masyarakat dibagi 3 bagian yaitu (kolaborasi pejabat tinggi pemerintahan, pengusaha dan pimpinan militer), Kerah Putih (para eksekutif berupah tinggi), dan Kerah Biru (pekerja biasa).

Dalam model pembagian seperti ini, keadaan kesejahteraan social dan ekonomi dinilai sangat tidak adil. Kelompok yang merasa dirugikan, karena kondisi struktur cipataan sangat berperan menyebabkan kondisi ini, berusaha dengan keterbatasan yang ada tetap ingin dapat menikmati hidup dengan cara melakukan redefinisi budaya atau menjadi subkultur agar terasa lebih nyaman.

Apalagi di Indonesia. Problem diatas terasa lebih menyolok. Perbedaan kaya yang minoritas dan miskin hingga yang miskin mayoritas. Hal ini disebabkan oleh rendahnya nasionalisme, terutama para pemimpin/kaum pejabat yang mengakibatkan terjadinya politik yang kurang sehat, kebobrokan hukum, tingkat pemberdayaan edukasi bangsa yang lemah, kemelaratan, dan lain sebagainya. Solusi terhadap masalah perbedaan kelas ekonomi social yang tidak adil, hingga kini belum dapat mengambil manfaat variable-variabel kepribadian bangsa, jati diri dan budaya bangsa, karena individu-individu berkepribadian terbelakang, maka terjadilah dominasi konsumsi gaya hidup yang mengimpor dari bangsa-bangsa maju.

Barker, mengidentifikasi tugas penyelamatan yang dapat dilakukan sub kultur terdiri 5 (lima) fungsi ;

1. Fungsi solusi magis (mujarab) terhadap problem struktur sosio-ekonomi.

2. Fungsi menawarkan identitas kolektif yang berbeda dari yang tercipta disekolah dan tempat kerja.

3. Fungsi memenangkan ruang bagi pengalaman dan naskah alternative terhadap realitas social.

4. Fungsi memberikan sejumlah aktivitas waktu luang bermakna, bertolak belakang dari sekolah dan tempat kerja.

5. Fungsi melengkapi solusi terhadap masalah dilema eksistensial identitas.

Subkultur merupakan sikap terhadap pemaknaan ulang, sedang suatu proses redefinisi tersebut disebut bricolage, dan homology yang merupakan relasi sinkronik yang tercipta antara kelompok particular terhadap dunia baru mereka yang telah di redefiniskan.

Hebdige, menyatakan bahwa penolakan budaya particular tersebut, bermakna simbolik atau penolakan terhadap ritualitas. Telaah terhadap sub kultur, menunjukan bahwa hal ini terjadi karena peta social yang tidak berimbang antara kelas pekerja dewasa beserta kaum muda dan anak-anak mereka dengan kelas berkuasa yang mengatur (the rulling class).

Tentu saja kaum muda lebih berani dan progresif dibanding kaum tua mereka yang berasal dari kelas pekerja biasa, maka munculah kaum muda dengan ritualitas simboliknya.

Clarke, berprasangka negative adanya reduksionisme pada sub kultur tersebut. Seperti misalnya gaya hidup Punk pada orang muda yang merupakan reaksi yang didramatisasi atau didramatisir , bukan sikap protes terhadap pengangguran dan kemiskinan. Demikian pula kritik terhadap sub kultur seperti ;

1. Bahwa para teoritis sub kultur sering melampaui komitmennya terhadap sub kultur.

2. Terlalu melebih-lebihkan hal-hal yang bersifat rutin.

3. Penekanan pada gaya hidup dan makna melebihi kenyataan berkaitan dengan kenikmatan dan fantasi.

Jadi ada pro kontra penilaian terhadap sub kultur sebagai reaksi yang positif dan negative.Hal ini memerlukan kajian secara intensif dan komprehensif. Singkatnya apapun yang kita bicarakan dalam kerangka kaum muda, hal ini seyogyanya diletakan pada analisa dimensi kelas, ras dan jender, selain juga umur, sikap hidup atau gaya hidup yang menyatukannya.

SETELAH SUB KULTUR

Refleksi Thornton atas pandangan sub kultur memberikan sejumlah kritik :

  1. Perbedaan kultur yang ada pada kaum muda tidak selalu berkonotasi sebagai penolakan. Perbedaan merupakan klasifikasi terhadap pembedaan dan selera.
  2. Teori sub kultur bersandar pada skema biner yang tidak menetap, dinamai arus utama – subkultur, penolakan – kepatuhan, dominan – sub ordinat.
  3. Kultur kaum muda tidak dibentuk diluar dan berlawanan dengan media, melainkan didalam dan melalui media.
  4. Kultur kaum muda tidak bersifat kesatuan, melainkan ditandai perbedaan internal.

Hal ini merupakan sumbangan baru terhadap analisa waktu luang kaum muda dan bukan berarti meniadakan teori sub kultur. Lebih bersifat dialektis, artinya memuat posisi yang saling bersebrangan. Seperti dalam konsep ‘ menjadi ‘ (becoming), hal ada dan hal tiada termuat didalamnya. Juga didalam suatu warna, ambil contoh warna merah. Dengan menyatakan warna merah secara implisit ada warna-warna lain (selain warna merah). Atau dapat dikatakan bahwa dalam warna tersebut juga terkandung warna-warna lain dalam status dinegasikan.

Sorotan dan ulasan media terhadap gaya hidup juga seringkali bernada negative dengan stigmatisasi seperti menyimpang, suka menimbulkan masalah dan cenderung akan berulang. Tanggapan public yang terpengaruh media akan menghadirkan kepanikan moral dan pengerasan penyimpangan, juga publik akan mengejar dan menghukum atas fenomena tersebut.

Dinamika atas ulasan media ini juga akan mengakibatkan reaksi berantai yang meningkat dan tidak menguntungkan semua pihak. Karena itulah teori sub kultur cenderung memandang bahwa kaum muda berada diluar dan berlawanan dengan media. Sedangkan teoritis kontemporer justru sebaliknya karena citra mereka tergantung media, bahkan ketika ingin menolaknya sekalipun.

Bagaimana sikap masyarakat terhadap kaum muda di Indonesia ? Seperti kasus-kasus lainnya sikap masyarakat Indonesia tidak jelas. Karena dalam masyarakat kita reaksi biasa dimabil setelah dalam kondisi parah. Hal ini menunjukan kehidupan social tidak cukup dinamis atau tidak hidup dalam tataran masyarakat, bangsa, dan Negara yang mensyaratkan intelektual memadai atau partisipatif.

Dapat pula dinyatakan secara lain, bahwa perpindahan dari masyarakat tradisional menjadi modern (dengan adanya unsure tercerahkan dalam sikap berfikir)., secara berarti belum terwujud. Yang tampak adalah modernisasi pada gaya hidup, seperti ; pakaian elegan, rumah, dan mobil mewah., demikian dengan perkantoran dan isinya, pesta, dan tinggal di hotel.

Kaum muda sepenuhnya akan menjadi pusat perhatian media massa dan industry budaya. Pengertian ini membuahkan persoalan perlu adanya suatu konsep tentang gaya hidup yang bersandar pada originalitas, kemurnian, dan otentisitas, sebagai dasar menentukan pengakuan atas penolakan. Pemaknaannya tidak terletak pada otentisitas, melainkan seperti bagaimana suatu mosaic hasil karya seni yang indah, bukannya tiruan yang bersifat parody. Postmodernisme menyumbang inspirasi yang tidak pernah kering dalam melahirkan keberlangsungan ekspresi pengungkapan diri kaum muda.

PENOLAKAN dan CATATAN KRITIS

Penolakan menurut Hall, tidak bersifat universal dan menetap, lebih pada reaksi sikap berdimensi fungsi waktu, tempat, dan keadaan realsi social. Perihal penolakan kaum muda dapat diperhatikan sejumlah pertanyaan mendasar seperti berikut ;

1. Kultur kaum muda menolak apa dan siapa ?

2. Dalam keadaan macam apa, penolakan mengambil bagian ?

3. Dalam bentuk macam apa, penolakan dimanifestasikan dan terjadi dimana?

Selain menganalisa berkenaan dengan penolakan kaum muda terhadap kemapanan (status quo) dan ketidak adilan kelas, maka tidak kalah penting adalah usaha /tindakan mengurangi sebanyak mungkin jurang perbedaan kaya dan miskin yang diakibatkan oleh dominasi ketidak adilan structural tersebut.

Bennet menyatakan bahwa penolakan merupakan suatu sikap bertahan dari kelas pekerja (termasuk kaum muda sebagai anak-anak mereka) terhadap kultur berkuasa, yang mana kelompok terkahir jauh lebih diuntungkan dalam dinamika ekspansi kapitalisme. Reaksi ini ditujukan pada ketidak seimbangan akan pembagian kekuasaan yang bermuara pada ketimpangan dalam kesejahteraan ekonomi – social. Pertahanan diperlukan agar dengan identitas tertentu eksisitensi hidup tetap berlangsung sesuai harapan.

Demikian pula gaya hidup kaum muda Indonesia yang dominan meniru dari kaum muda masyarakat maju dalam pemberontakan gaya hidupnya, menunjukan kualitas intelektual dan budaya serta jati diri yang belum kuat. Pemberontakan satu hal , dan peniruan hal yang lain. Maka mereka sebagai generasi yang akan menggantikan generasi sebelumnya dapat dibayangkan kualitas kematangan pribadi dan nasionalismenya. Penolakan terjadi karena adanya suatu kekuatan penekan yang tentunya akan mendapat perlawananan, saling berhadapan antara kekuatan dan penolakan, bertujuan dicapainya keseimbangan kekuatan.

Cultural Studies mengisyaratkan bahwa konsep penolakan bukan merupakan soal kebenaran atau kesalahan, melainkan hal utilitas dan nilai. Cultural Studies memperhatikan bidang-bidang politik budaya insubordinasi dan politik perbedaan. Penolakan lebih merupakan berkenan dengan suatu konsep normative, maka keberhasilannya diukur dengan sejauhmana perlawanannya terhadap criteria normative pula, lebih pada dimensi nilai. Penolakan bukanlah berhubungan dengan suatu kualitas tindakan melainkan dengan kategori penilaian terhadap tindakan.

Penolakan merupakan suatu distingsi nilai yang mengklasifikasi pengklasifikasi, suatu penilaian yang mengungkapkan suatu kritik terhadap kultur kaum muda yang ditentukan atau didominasi kategori analitik kaum dewasa.

PENUTUP

Selain kelas, jender, dan ras, umur juga merupakan unsure penting dalam membahas orang muda. Homology, bricolage, gaya hidup yang merupakan jenis penolakan berdimensi simbolik. Bahwa tidak cukup efektif melawan kekeliruan pemahaman media tentang kaum muda dengan suatu konfrontasi, lebih tepat dengan saling masuk menjadi bagian serta mengefektifkan jalur komunikasi. Penolakan merupakan hal berkorelasi dengan relasional yang berkategori normative.

Mode, gaya hidup, tarian, music, dan keganjilan lain yang dilakukan oleh kaum muda Indonesia, umumnya meniru atau sebagai imbas dari akar yang terjadi terutama pada kaum muda masyarakat maju.Maka diperlukan kajian dan pemahaman secara komprehensif, termasuk kekuatan dan kekayaan kultur local, agar dapat dicari output yang arif.

DAFTAR PUSTAKA

Barker, C, Cultural Studies : Theory and Practice , 2nd edition, London, SAGE Publications, 2003, hal.374-409

Diambil dari Buku : Cultural Studies

Tantangan Bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan

Ed. Mudji Sutrisno/In Bene / Hendar Putranto

Subkultur

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Secara sosiologis sebuah subkultur adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, dan/atau gender, dan dapat pula terjadi karena perbedaan aesthetik, religi, politik, dan seksual; atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut.

Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) —dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya— dalam pembelajarannya.

Jika suatu subkultur memiliki sifat yang bertentangan dengan kebudayaan induk, subkultur tersebut dapat dikelompokan sebagai kebudayaan tandingan.

Bacaan lanjutan

  • Appadurai, Arjun (2003) Disjuncture and Difference in the Global Economy
  • Brodsky, Sasha (1994) Punk and the Aesthetics of American Dystopia. Intersections: an interdisciplinary journal, Department of the Comparative History of Ideas. University of Washington.
  • Hebdige, Dick (1979). Subculture: The Meaning of Style (Routledge, March 10, 1981; softcover ISBN 0-415-03949-5). Cited in Negus (1996).
  • Kaminski, Marek M. (2004). Games Prisoners Play Princeton University Press. ISBN 0-691-11721-7.
  • McKay, George (1996) Senseless Acts of Beauty: Cultures of Resistance since the Sixties. London: Verso. ISBN 1-85984-028-0.
  • McKay, George (2005) Circular Breathing: The Cultural Politics of Jazz in Britain. Durham NC: Duke University Press. ISBN 0-8223-3573-5.
  • Middleton, Richard (1990/2002). Studying Popular Music, p.155. Philadelphia: Open University Press. ISBN 0-335-15275-9.
  • Negus, Keith (1996). Popular Music in Theory: An Introduction. Wesleyan University Press. ISBN 0-8195-6310-2.
  • Riesman, David (1950). “Listening to popular music”, American Quarterly, 2, p.359-71. Cited in Middleton (1990/2002).
  • Roe, K. (1990). “Adolescents’ Music Use”, Popular Music Research. Sweden: Nordicom. Cited in Negus (1996).
  • Thornton, Sarah (1995). Club Cultures: Music, Media, and Subcultural Capital. Cambridge: Polity Press. Cited in Negus (1996).

Iklan

2 pemikiran pada “Sub Kultur Kaum Muda

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s