Jawara yang Berjiwa

Oleh : Teguh Iman Prasetya 

Fenomena para Jawara Banten kelihatannya telah berakhir ditengah arus massa rakyat. Dinegeri sendiri para jawara tidak lagi mendapat tempat yang populer dan simpati rakyat, meskipun belum lama mengadakan konsolidasi di daerah Lampung. Dinegeri sendiri kadang hujan batu kadang hujan emas, dinegeri orangpun kadang demikian. Pengerahan massa sudah tidak laku lagi.

Perubahan paradigma besar atau mungkin revolusi budaya yang kini terjadi akan dapat ditandingi oleh hal yang sama, apabila para Jawara Banten yang tergabung dalam korps organisasi pendekar juga harus mereposisi diri dengan tema-tema besar kerakyatan dan atau independen sebagai pilihan terbaik.

Potensi Simbol Propinsi Jawara sebagai identitas lokal  sangat mungkin terjadi jika melihat kesenian tradisional pencak silat dan debus masih terpelihara dengan baik. Apalagi bilamana kurikulum lokal mewajibkan dan memuat dua hal pokok pada para siswa yaitu bahasa daerah dan  pencak silat (terumbu, bandrong, cimande,dll.) sebagai kekayaan budaya lokal yang harus dipelihara dan dijaga. Maka yang kedua telah terjadi memasyarakatkan nilai positif kaum jawara melalui pendidikan sekolah. Mengingatkan seperti masa Restorasi Meiji di Jepang pada abad 19 masehi membubarkan kaum samurai, tetapi mentransformasikan nilai-nilai budaya kaum samurai ditengah masyarakat. 

Jawara yang berjiwa pada dasarnya sangat mungkin terjadi apalagi banyak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan semakin tinggi, serta realitas sosial yang dipengaruhi kedewasan alam pemikiran baru rasionalitas, juga adanya tokoh-tokoh Jawara Banten dimasa datang dan kini yang masih konsisten.

Tokoh-tokoh tersebut meskipun saat ini terjadi cross interest ideology (persilangan kepentingan ideologi) masih ada harapan munculnya paradigma  sama dan sebangun dimasa datang yang lebih CERAH. Latarbelakang  sama sebagai orang Banten yang mencintai kesenian tradisional  dan pada dasarnya sebagai ORANG BAIK merupakan  modal sosial yang bagus.

Orang-orang tersebut adalah H. Suminta sebagai pewaris tokoh legendaris kesenian debus dan pencak silat Lurah Idris (alm), H. Embay Mulya Syarief, H. Maman Rizal, H. Lulu Kaking, dan masih banyak lagi diabad millenium saat ini. Peran dari mereka untuk memajukan potensi Banten masih diharapkan murni sebagai tokoh kesenian tradisional, serta memberikan kontribusi yang terbaik bagi generasi saat ini.

Semoga  

2 responses

  1. anna

    Pembendaharaan kata cukup banyak, tapi alur cerita antar alinea masih loncat-loncat, judul dan paparan ga imbang.
    Ayo lebih banyak baca lagi …

    Senin, Desember 17, 2007 pukul 2:34 am

  2. reeyo

    untuk saat ini tentunya sangat menyedihkan, nama jawara yang seharusnya disegani dan dihormati sekarang ini hanya dipandang sebelah mata karena terlalu sering menurunkan massa untuk berbagai macam golongan dan kepentingan jadi hanya dianggap kelompok yang bisa dibeli dengan uang, mungkin memang sudah hukum alam para jawara harus berubah sesuai perkembangan jaman, asal jangan berevolusi jadi kelompok preman jago silat…(semoga tidak terjadi dan jawara bisa kembali menjadi aset budaya yang bisa dicintai dan dijaga)

    Jumat, November 30, 2007 pukul 4:44 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s