Krisis Keuangan Global, Iran Turunkan Produksi Minyak Mentah

Sepulang dari Jakarta tadi malam melihat pameran buku di Jakarta Convention Center Gelora Bung Karno  sambil istirahat menonton selintas berita TV mengenai Iran akan menurunkan produksi minyak mentah maksimal hingga 1,5 juta barel/hari, saya tidak terkejut dan sudah cukup menduga. 

Kenaikan harga minyak dan penurunan harga minyak saat ini salah satunya ditentukan faktor produksi yang ditawarkan. Berbeda dengan bursa keuangan dan saham, pasar bursa komoditas  sebagian besar sangat tergantung sekali dengan hukum permintaan dan penawaran dengan asumsi nilai produksi yang ditawarkan produsen. Semakin banyak barang / produk ditawarkan maka harga barang akan semakin murah, sedangkan permintaan mengenai migas ini sesungguhnya merupakan bagian dari kebutuhan yang sangat vital dan strategis bagi semua negara.  Harga minyak mentah dunia berdasarkan harga negara OPEC hari ini telah turun hingga 47 dollar/barel, berbeda dengan pasar bursa di Amerika Nymex 54 dollar/barel.

Krisis keuangan global juga telah memukul China sebagai konsumen minyak dunia terbesar ke dua sehingga permintaan minyak ini juga menurun, maka dapat dipastikan arus permintaan dan harga minyak mentah akan tetap terus dalam kondisi yang semakin menurun.

Apa yang terjadi beberapa bulan lalu hingga kini yang secara drastis melalui parade spektakuler harga BBM diberbagai negara turun hingga tiga kali lipat bahkan kembali ke harga tahun 2005, yaitu di kisaran 40-60 dollar bph (dibawah standar 70 dollar bph).

AS sendiri saat ini sedang berkonsentrasi penuh membenahi krisis ekonomi keuangannya yang kacau, termasuk memprioritaskan kredit bagi yang memenuhi kriteria skala prioritas pembangunan untuk kembali pulih. Nampaknya janjji kampanye Barack Obama akan ditepati, seperti kondisi saat ini pemerintah AS menolak pinjaman 800 Milyard dollar untuk industri otomotif. Industri otomotif AS memang sudah sejak lama  banyak kalah bersaing dengan negara lainnya dan kini dianggap sudah tidak menguntungkan sebagai kriteria yang mendapat jaminan kredit.

Nasionalisasi Migas sebagai Solusi

Sementara itu arus balik yang terjadi di Indonesia dengan turun drastisnya harga minyak membuktikan pentingnya fleksibilitas harga BBM,  tidak lagi kaku, struktural, dan tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Mengingat kejadian kemarin hingga kini kenaikan harga BBM amat sangat  cepat sebesar 28,7 % namun untuk turun kembali ke harga semula sangat sulit sekali. Akhirnya apa yang direncanakan dan diskenariokan melalui APBN oleh lembaga yang berwenang seperti Bappenas dan lain-lain malah tetap kaku dan lamban serta turun terlalu kecil  juga tidak menyangkut solar dan minyak tanah dengan turunnya harga minyak mentah dunia berbeda dengan negara lainnya, sehingga unsur yang tidak direncanakan (un-planned) ini tidak masuk jika berkaitan dengan perut rakyat.

Nasionalisasi sumber daya migas sebagai solusi hingga kini adalah obat mujarab disamping manajemen pengelolaan dan distiribusi yang adil bagi semua pihak. Faktor produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri ini adalah yang harus menjadi prioritas utama. Kemudian adalah kepemilikan dan bagi hasil yang adil, kita harus segera ambil alih untuk tambang-tambang migas (dan non migas) strategis yang masih produktif  berjangka waktu lama dan prospektif mencukupi kebutuhan, harga murah didalam negeri, dan keuntungan ekspor dimasa datang.

Konfigurasi dan formasi nasional inilah yang diharapkan oleh masyarakat dari sistem nilai demokrasi politik dan perundangan kita yang masih belum selesai dengan realitas serta kebutuhan kita dimasa kini dan akan datang.

Teguh Iman Prasetya

Iklan

Komentar ditutup.