Soeharto Pahlawan Nasional dan Guru Bangsa?


PKS (Partai Keadilan Sejahtera) kali ini benar-benar kontroversial telah berani menobatkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dan Guru Bangsa. Tidak takut citranya runtuh. Melalui Iklan bernuansa nasionalisme menyambut 10 November yang menggambarkan kisah episode sejarah bangsa Indonesia diusung oleh PKS di luar kebiasaan dari pakem yang umumnya telah dilakukan.

Jawaban oleh Wakil Sekjend PKS di TV. One akhirnya sangat penuh dengan rasa membela diri (apologi) dan ngotot dengan argumentasi yang sangat lemah dan cenderung mengalihkan persoalan dengan keterlanjuran yang mungkin tidak sengaja tercantum pada iklan untuk media televisi tersebut.

Mengutip dua konsep dari Ferdinand de Saussere yaitu penanda (tanda simbol) dan petanda (makna), maka penanda merupakan iklan pada jaringan media massa yaitu televisi yang berskala nasional memiliki pengaruh sangat besar. Sedangkan makna petanda dari iklan yang diluar dugaan itu sebetulnya iklan yang sangat menarik membawa angin segar bernuansa bergaya klasik, namun menuai banyak protes dan kecaman dari kelompok lain, karena secara selintas sekian detik telah memuat gambar Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dan Guru Bangsa, menafikan adanya gerakan reformasi yang telah dibangun oleh para mahasiswa.

Protes dari berbagai kalangan tersebut dapat dimaknai juga sangat relatif yaitu posisi sebagai lawan politik, berdiri pada garis independensi kebenaran sejarah, dan kelompok yang pernah kecewa dengan rezim Soeharto.

Relasi sosial, relasi ekonomi, dan relasi politik yang di tandai pada masa Soeharto dikuasai oleh tirani absolut dan kekuasaan hampir disemua sektor dengan sentralisasi berbau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Digaris oposisi biner lainnya Partai Golkar dengan sangat antusias bersorak dan mendukung pernyataan PKS tersebut untuk mengembalikan citra Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dan Guru Bangsa. Cita rasa (taste) dari romantisme sejarah orde baru yang memang sudah diduga banyak kalangan. Entahlah apakah karena kecewa dengan reformasi yang memang banyak mengalami kegagalan dan masalah sangat paradok serta multi paradigmatik saat ini, atau sedang mengadakan serangan balik dengan membangun citra romantisme bahwa pemerintahan dahulu lebih baik dari sekarang. Hal yang umumnya juga sebagian kecil rakyat rasakan karena reformasi banyak mengalami kegagalan. Dan apakah Golkar baru sekarang juga tidak turut andil didalamnya atau hanya ingin membalikan sejarah.

Status hukum Soeharto (alm) yang hingga kini berstatus tersangka belum lepas dari jeratan gugatan hukum baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dan ketika menjelang ajal, PKS melalui Nur Wahid Ketua MPR tetap setia menjaga gawang tersebut dengan mempertahankan TAP MPR XI/1998. Jadi amat disayangkan sekali iklan tersebut, posisi yang sangat menyulitkan pada detik terakhir.

Saya berharap ini hanyalah keterlanjuran dan ketidak sengajaan dari PKS, dan saya akan berupaya untuk tidak memaknai simbol iklan tersebut yang dijabarkan secara kronologis kasat mata (sejarah relasi kekuasaan yang nampak), karena ada sejarah lanjutan yang masih mengendap hingga kini, juga pahlawan nasional lainnya yang tidak terkait dengan relasi politik kekuasaan. Guru bangsa juga tidak tepat haruslah memiliki hubungan yang berkaitan dengan Pancasila. Kenyataaannya Soeharto melanggengkan kekuasaan nyaris tak terbatas jika tidak dilengserkan oleh mahasiswa.

Komentar ditutup.