BBM Turun Awal 2009

BBM Turun Awal 2009

Dari Berbagai Sumber Media


Selasa, 04-November-2008



JAKARTA-Harga bahan bakar minyak (BBM) dapat dipastikan turun awal 2009.
Namun Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, penurunan harga BBM tahun depan tidak akan mencapai 28,7 persen atau besaran kenaikan akhir Mei lalu. Penurunan harga BBM tetap memperhitungkan beban subsidi pada anggaran negara.
”Jadi penurunan itu tidak seperti naiknya, kata Paskah di kantornya, Senin (3/11). Perhitungan penurunan BBM tersebut didasarkan pada beban biaya yang harus ditanggung pemerintah. Ini karena penurunan harga minyak baru terjadi pada beberapa minggu terakhir ini. Padahal, sebelumnya harga minyak dunia sempat menembus USD 147 per barel.
Sementara beban biaya yang harus ditanggung APBN diperhitungkan secara utuh selama satu tahun. Selain beban subsidi, penurunan harga BBM juga memperhitungkan berbagai beban lain termasuk beban yang ditanggung pemerintah akibat kenaikan BBM seperti penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT). Untuk 2009, pemerintah masih menganggarkan dana BLT Rp 3,8 triliun untuk dua bulan. Jika ditambah dengan 2008, mencapai Rp 16 triliun.

Makanya penurunan itu harus diperhitungkan juga beban dan cost yang ditanggung pemerintah. Karena itu untuk menjaga daya beli masyarakat,” kata Paskah.Paskah juga membantah adanya unsur politis dalam penurunan harga BBM tahun depan. Ini murni perhitungan beban yang ditanggung pemerintah dalam satu tahun,” kata Paskah.

Sementara Dirjen Migas Departemen ESDM Evita H Legowo mengatakan, harga BBM nonsubsidi untuk kalangan industri yang lebih murah daripada harga BBM bersubsidi belum bisa menjadi acuan bagi pemerintah untuk menurunkan harga BBM bersubsidi. Pasalnya, harga BBM industri yang dirilis oleh pertamina belum mempertimbangkan faktor pajak.
Kata Evita, harga BBM industri jenis premium per 1 November yang seharga Rp 5.925 per liter, belum mengacu pada harga keekonomian karena belum termasuk pajak. ’’Kami sudah hitung, kalau dengan pajak, harganya menjadi Rp 6.800 per liter. Jadi, masih lebih tinggi dari harga premium bersubsidi yang Rp 6.000 per liter,’’ ujarnya di sela acara The 9th Indonesia- Japan Energy Roundtable di Jakarta.

Sebelumnya, pada Jumat lalu (31/10), Pertamina mengeluarkan rilis harga BBM untuk pelanggan industri. Dalam rilis tersebut, harga BBM jenis premium untuk wilayah I, sudah mencapai Rp 5.925 per liter, atau Rp 75 lebih murah dibandingkan harga per liter premium bersubsidi yang sebesar Rp 6.000 per liter. Harga ini berlaku untuk seluruh Indonesia, kecuali Batam, UPmsVII Makasar, Upms VIII Jayapura dan Propinsi NTT.
Sedangkan di luar wilayah I, harga premium memang masih di kisaran Rp 6.043 – 6.184 per liter. Sementara itu, harga BBM industri jenis solar sebesar Rp 6.233 per liter dan minyak tanah Rp 6.687 per liter. Harga BBM industri yang berada di bawah harga BBM bersubsidi tersebut baru pertama kali terjadi, sehingga desakan kepada pemerintah untuk menurunkan harga BBM bersubsidi pun makin menguat.

Evita menambahkan, Departemen ESDM selaku departemen teknis terus mengamati pergerakan harga BBM nonsubsidi sebagai langkah persiapan kebijakan apakah akan menurunkan harga BBM bersubsidi atau tidak. ’’Kalau (harga BBM nonsubsidi-red) lebih murah, (harga BBM bersubsidi-red) pasti akan kita ubah,’’ katanya.

Turunkan Harga BBM

Pada bagian lain, kalangan DPR terus mendorong agar pemerintah menurunkan harga BBM. Ketua DPR Agung Laksono meminta penurunan harga BBM secara berkala antara 10-15 persen. ”Ya, antara 10-15 persen, angka yang dapat mengurangi beban masyarakat dan dapat memicu pertumbuhan ekonomi di tengah-tengah ancaman krisis global,” ujar Agung Laksono di gedung DPR. Penurunan harga BBM itu akan mencerminkan bahwa pemerintah memerhatikan pertumbuhan sektor riil. Ini berarti, pemerintah tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi makro.
Agung menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah yang terkesan ragu-ragu untuk menurunkan harga BBM. Padahal, realitas di lapangan, tuntutan untuk menurunkan harga BBM merupakan aspirasi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tentu saja penurunan harga tersebut harus didukung pakar dan DPR. ’’Hitung-hitungan ekonominya memungkinkan, apalagi hitungan politiknya,” tegas Agung. Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar itu mencontohkan bahwa Malaysia telah menurunkan harga BBM sampai dua kali.

Menurut Agung, penurunan harga BBM sudah mendesak karena terkait aktivitas masyarakat sehari-hari. Misalnya, angkutan publik yang menggunakan premium serta industri kecil seperti nelayan yang menggunakan solar.
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR Aria Bima menilai, sikap pemerintah tidak taat asas terkait kebijakan penentuan harga BBM bersubsidi. Ketika harga minyak dunia naik, pemerintah sigap menaikkan harga BBM. Namun, ketika harga minyak dunia anjlok, pemerintah tidak segera menurunkan harga jual BBM dalam negeri.
Menurut Aria Bima, ketika menaikkan harga BBM bersubsidi, pemerintah memakai alasan menyesuaikan diri dengan mekanisme pasar atau kenaikan harga minyak dunia. Karena itu, seharusnya, ketika harga minyak dunia turun, pemerintah memakai alasan yang sama untuk menetapkan kebijakan. ’’Yang terjadi, justru penyesuaian harga BBM bersubsidi ditunda-tunda tanpa alasan jelas,’’ kritik anggota FPDIP itu.
Aria juga mendesak pemerintah agar segera menurunkan harga BBM bersubsidi tanpa menunggu perkembangan harga minyak dunia sampai akhir tahun. Apalagi akibat penurunan harga minyak dunia saat ini, menurut perhitungan Aria, pemerintah memetik kelebihan alokasi subsidi BBM dalam APBN Rp 10 triliun. ’’Seharusnya surplus subsidi Rp 10 triliun mampu menurunkan harga eceran premium bersubsidi hingga 20 persen. Pemerintah jangan mengira masyarakat tidak tahu hitung-hitungan ini,” katanya. (jpnn)

Sumber :

http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=33760

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/11/04/277/160477/3-skenario-turunkan-harga-bbm/3-skenario-turunkan-harga-bbm

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/11/04/277/160737/sri-mulyani-saya-senyum-saja-deh/sri-mulyani-saya-senyum-saja-deh

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/11/02/277/159874/sri-mulyani-lepas-tangan-soal-penurunan-bbm/sri-mulyani-lepas-tangan-soal-penurunan-bbm

Iklan

2 responses

  1. UMC

    Hidup Mahasiswa!!

    Jumat, November 21, 2008 pukul 10:09 am

  2. UMC

    tetep semangat Pak…..!

    Jumat, November 21, 2008 pukul 10:08 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s