Harga BBM Harus Turun

Sungguh aneh negara ini tidak juga turunkan harga BBM, sementara negara lain telah turunkan hingga 3 x bahkan lebih. Harga BBM yang naik melambung dengan kenaikan harga rata-rata 28,7 persen maka harga premium naik dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 per liter. Harga solar naik dari Rp4.300 menjadi Rp5.500 per liter, dan harga minyak tanah naik dari Rp2.000 menjadi Rp2.500 per liter ketika pada bulan Mei tanggal 23 dengan dalih mengikuti harga dunia hingga tembus mencapai 147 dollar/barel, akhirnya merosot jatuh secara drastis hingga 50 % lebih dibawah 70 dollar/barel, bertahan hingga 3 bulan.

Tentu pemerintah dalam hal ini Pertamina mendapatkan keuntungan yang besar dengan tidak diturunkannya harga BBM karena nilai yang dianggap subsidi (zero 0) telah menurun. Namun sesungguhnya telah menyiksa roda ekonomi kelompok menengah kebawah juga industri dan transportasi umum kita.Jika takut dengan fluktuasi harga minyak sediakan saja cadangan dan asumsi harga normal dunia dimasa datang.Bahkan sangat rasional kembali ke harga semula sebelum kenaikan dicanangkan oleh pemerintah pada bulan Mei 2008.

Pandangan Sri Mulyani tentang nilai keekonomian tidak berkaitan dengan ibu-ibu rumah tangga. Yang benar ibu-ibu rumah tangga tidak diuntungkan dengan kenaikan harga BBM. Kecuali pendapatnya tentang nilai kurs mata uang rupiah yang memang betul anjlok ditambah fundamental indikator makro Indonesia-bursa saham yang juga jebol. Inilah yang disebut nilai keekonomian.

Dengan harga minyak mentah yang turun terus menerus sesungguhnya tidak lagi menjadi beban berat bagi banyak negara bahkan mengurangi krisis ekonomi dunia lebih parah, hal ini Jika berbarengan terjadi saya tidak membayangkan chaos global yang terjadi dibanyak negara.

Dan pelajaran dari krisis keuangan tersebut menarik picu rentannya sistem ekonomi neoliberalisme yang diharapkan dapat diambil hikmahnya bagi negara kita yaitu memperkuat sektor mikro sistem ekonomi kerakyatan dan fundamental sektor makro.

Selain itu dapat ditarik pula kesimpulan bahwa Iran telah membuktikan kehebatannya sebagai negara yang kaya minyak dengan menaikan produksi secara terus menerus telah menurunkan tensi krisis harga minyak dunia, selain faktor adanya sentimen bursa komoditas minyak mentah yang anjlok.

Yang menjadi masalah kenapa negara kita tak juga mampu menaikan lifting produksi dari tahun ketahun tidak pernah berubah di kisaran 900.000 bph – 1juta bph (kurang 200.000 bph, sementara itu cadangan 50 juta barel masih sangat aman sambil menunggu hasil produksi dari sumber produktif lainnya, menunggu hingga awal tahun 2009 produksi mencukupi 1.170.000 bph dari blok Cepu, dengan penghematan dan cadangan stok yang ada sebetulnya masih dapat diatasi yaitu menghemat 30.000 bph tsb atau prioritas berdasarkan kelas sosial, industri dan prioritas sarana umum sumber : https://teguhimanprasetya.wordpress.com/2008/05/10/kenaikan-harga-bbm-tidak-perlu/), padahal cost recovery insentif yang diberikan bukan main besarnya. Disini kita membutuhkan rekonstruksi besar dari BPH Migas jika perlu tambang-tambang produktif tersebut sebagian besar dinasionalisasi oleh Pertamina dengan menggunakan manajemen yang bersih, terbuka dan bertanggung jawab terhadap publik.

Iklan

4 responses

  1. Kabar akan diturunkannya BBM sebagian menganggap sinis dengan polah para politikus, yang biasa memainkan perasaan masyarakat.
    Memang suatu kebetulan harga minyak dunia turun, tapi hal ini apakah mungkin secara nyata akan lebih peduli kepada masyarakat kecil, bukankah paling banter menguntungkan para pialang ekonomi (pengusaha kapitalis).

    Yang paling enak nongkrong di Jembatan Gantung Kaujon, sambil mancing. Daripada mikiran orang politik yang belum tentu pikiran kita, bukan begitu rekan.

    Selasa, November 4, 2008 pukul 5:29 pm

  2. Berita hari ini harga bbm diturunkan Rp. 500-800 masih sangat kecil sekali.
    Psikologi pasar dan kenyamanan para pedagang memang begitulah namanya juga cari untung tapi ngebuntungin semua. Harus operasi pasar kali atau himbauan.

    kita juga tidak harus skeptis, ironi, dan satir dengan masalah tersebut jika harga bbm diturunkan masih banyak gunanya bagi kalangan yaitu industri dan mengurangi ongkos transportasi perdagangan juga neraca perdagangan dalam hal ini biaya ekspor lebih murah. Meningkat gitu loh industri, perdagngan dan jasa juga sektor riil.

    Senin, November 3, 2008 pukul 7:21 pm

  3. iya heran ya..negara lain udah pada turun kok indonesia adem ayem aja. Malaysia aja udah 3x turun, karena tekanan oposisi yang efektif dan juga suara rakyat yg menekan pemerintah. Indonesia ditekan dari bebagai sudut juga kayaknya gak ngaruh ya. Demo tetap demo, pemerintah cuek bebek.

    Padahal efek dari dinaikkanya BBM sangat besar. BBM naik semua barang naik. Malah, kalopun BBM turun, tidak ada jaminan harga2 lain ikut turun.

    Senin, November 3, 2008 pukul 1:49 pm

  4. penurunan harga BBM memang terjadi dimana2, termasuk di US. utk Indonesia kalo gak salah sudah ada rencana penurunan tapi mungkin belum terealisasi.

    cuma saya berharap kalaupun pemerintah menurunkan harga BBM, ke depannya harus pula diikuti dg pengembangan energi alternatif yg murah dan efisien, sehingga jika nanti harga minyak dunia naik lagi, Indonesia gak bolak-balik kepayahan –dan perekonomian pun bisa berjalan lebih smooth

    oya, soal produksi minyak Indonesia, kalo gak salah tahun lalu purnomo yusgiantoro menargetkan th 2008 produksi mencapai 1,034 juta barel/perhari… kelihatannya belum terlaksana ya

    Senin, November 3, 2008 pukul 7:45 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s