Refleksi Peran Pemuda dan Revolusi Bangsa

Menyambut Sumpah Pemuda di TV One (tanggal 29 Oktober) diputar film sejarah gerakan pemuda pada masa kolonialisme hingga terakhir orde baru. Pada masa orde baru yang diwakili oleh saudara Wahab (TV.One) dan Ardian Napitupulu serta Hariman Siregar, Heri Akhmadi (Trans 7 tanggal 31 Oktober), juga Budiman Sudjatmiko. Refleksi sejarah yang sangat bagus melalui film dokumenter tersebut. Hingga saat ini peran saudara Wahab sebagai mantan aktivis dan kawan-kawan lainnya dalam kancah gerakan para aktivis terkait dengan masalah aktual kenaikan harga BBM terbilang cukup berani. Dari solidaritas masalah penyerbuan Kampus Unas pada tanggal 23 Mei 2008 hingga detik terakhir aksi unjuk rasa didepan gedung DPR RI pada tanggal 24 Juni 2008 bertepatan dengan voting terbentuknya Pansus BBM DPR RI. Begitu pula aksi solidaritas terhadap penangkapan sejumlah aktivis Komite Indonesia Bangkit misalnya oleh Forum Aktivis Bandung.

Pertanyaan terakhir episode peran pemuda kontemporer saat ini adalah menyelesaikan masalah nasional mengenai kepemilikan aset strategis nasional dan carut-marut reformasi. Gerakan ini sekarang mendapat tempat dikancah pergolakan mahasiswa dan aktivis nasional. Terbukti bergulir dari rencana masalah kenaikan harga BBM pada bulan juni 2008 hingga terjadinya kenaikan harga BBM oleh pemerintah.

Protes unjuk rasa yang digelar oleh mahasiswa dan rakyat dari berbagai penjuru tanah air menyiratkan ada yang salah dengan sistem ekonomi dan manajemen pemerintahan kita. Hingga kini masalah ini tetap hangat sebagai discourse bahan kajian dan aksi tindakan yang dilakukan berbagai pihak termasuk dunia kampus. Berita terakhir aksi penolakan oleh para mahasiswa di Solo terhadap Yusuf Kala dan protes mahasiswa yang berakhir ricuh menolak kedatangan SBY di kampus Undip Semarang.

Dekonstruksi tersebut semestinya menghasilkan banyak hal untuk melakukan rekonstruksi pemerintahan nasional yaitu ;

  1. Kesadaran kritis kenyataan neoliberalisme telah mencengkram aset sumber daya strategis nasional
  2. Kesadaran kritis kenyataan bahwa kita kaya akan sumber daya alam, dan industri ekstraktif (migas) dapat menjadi sektor andalan begitupula industri non migas yang strategis.
  3. Kesadaran kritis pentingnya ketahanan energi nasional. dan pengelolaan aset nasional migas dan non migas strategis (nasionalisasi) dengan manajemen yang bersih, transparan, dan bertanggung jawab terhadap publik.
  4. Kesadaran kritis rentannya harga BBM dapat bergejolak disebabkan faktor-faktor spekulatif global.
  5. Kesadaran kritis penentuan harga BBM adalah picu multiplier efek bergulirnya roda ekonomi nasional.Jika naik akan berpengaruh besar terhadap ekonomi rakyat yang akan semakin terpuruk. Harga kebutuhan pokok naik, kemiskinan (40 juta) dan pengangguran meningkat, laju inflasi naik, upah pendapatan berkurang.

Hingga saat ini gejolak aksi kekecewaan masih terus berlanjut bahkan mungkin akan abadi jika tidak dapat diatasi oleh pemerintah hari ini dan dimasa datang.

Masalah carut marut reformasi lainnya adalah keroposnya sistem pengawasan (proaktif) terhadap pelanggaran dan tindakan hukum terhadap penyelewengan uang negara serta banyaknya kasus korupsi dimasa lalu dan kini baik didaerah maupun dipusat yang belum dan sedang diselesaikan.

Selebihnya adalah masalah beberapa kebijakan publik yang dilakukan oleh pemerintah yang tidak pro-rakyat serta produk perundangan hukum yang juga tidak berpihak pada rakyat.

Iklan

3 pemikiran pada “Refleksi Peran Pemuda dan Revolusi Bangsa

  1. adi gokil

    revolusi tidak hanya sekedar teori, tapi yang paling terpenting revolusi adalah praktek dan tindakan untuk menuju bangsa indonesia yang bebas dari kapitalisme. mari kita satukan ideologi.

  2. aktivis kok ade ayem sih? la wong situasinya lebih parah ketimbang orba! terus mana kesatuan gerakan mahasiswa dalam berkawan-melawan itu, kapan? atau kalau nggak mendingan gak usah jadi aktivis aja deh. “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”.

  3. wahyugimbal

    Kesamaan sejarah dan kesadaran kritis dimasa lalu telah mengikat dalam ikatan emosional yang sama laksana kuatnya ikatan suatu mata rantai yang terbuat dari besi, dan mungkin rantai itu telah berkarat di tahun yang ke-80 terhitung sejak tercetusnya “Sumpah Pemuda”.
    Wajar saja jika persatuan bangsa akhir-akhir ini terdistorsi oleh lapisan karat kepentingan masing-masing..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s