Sumpah Pemuda hingga Sumpah Mahasiswa

Memaknai kembali Sumpah Pemuda seperti lagu usang yang diputar berulang-ulang. Namun ia membekas dari jejak masa sejarah yang terlupakan. Nasionalisme awal yang sesungguhnya pula bagian dari produk kolonialisme yang bersimpangan jalan pada titik nadirnya di awal abad 20 yang dikumandangkan oleh kaum elit muda berpendidikan dari berbagai pelosok negeri.

Realitanya sekarang rakyat saat ini mungkin tak lagi merasa butuh dengan peringatan tersebut, karena mereka lebih membutuhkan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Namun benarkan demikian? justru untuk memenuhi hal tersebut kita butuh kembali rasa nasionalisme dan patriotisme serta kepemilikan alat produksi yang termasuk strategis bagi negara dan menyangkut hajat hidup orang banyak.

Elan kaum muda tak lagi diragukan sebagai generasi pelopor dan pendobrak ketidakadilan. Pada masanya merekalah kaum yang dianggap berani melakukan banyak perubahan. Detik-detik Indonesia sebelum merdeka, bagaimana rombongan pemuda Sukarni berani menculik Soekarno dan Hatta membawa mereka ke Rengasdengklok untuk segera secepatnya merdeka.

Pada masa ode baru peran pemuda juga teruji ketika menumbangkan Soekarno yang dianggap telah menyimpang dan oleh sebab peristiwa G 30 S PKI. Dengan dilatarbelakangi pertikaian politik masa itu dan tentara dibelakang mahasiswa dan pelajar akhirnya berhasil meruntuhkan Soekarno.

Begitupula pada masa tirani Soeharto para mahasiswa sejak tahun 1974 dan 1978 peristiwa Malari (malapetaka 15 Januari) hingga tahun 1998 telah menciptakan  ruh semangat heroisme Sumpah Pemuda jilid dua bernada plesetan cerdas namun satir bermakna sangat dalam dengan Sumpah Mahasiswa yang begitu sangat legendaris digandrungi oleh para mahasiswa hampir diseluruh daerah. Bagi saya waktu itu sangat menggidikan dan membuat bulu roma berdiri…meremang.

Masa itu telah lewat bagaimana dengan sekarang ? Dahulu fokus perlawanan pada kekuasaan yang sangat tiran dan tersentralisasi, kini kita melihat banyaknya ketidak adilan telah terdesentralisasi serta kebijakan tidak pro rakyat. Begitupula ancaman neoliberalisme yang begitu kuat mencengkram telah meninabobokan dan mengancam kekayaan kita. Sumpah Pemuda (Nasionalisme rakyat) dan Sumpah Mahasiswa akankah sebagai jawabannya ? Bergerak dalam dentingan putaran jam waktu kesadaran kritis sejarah yang akan menjawab. Rawe-rawe rantas malang-malang putung… Salam Merdeka dan Salam Revolusi …!!!

Iklan

2 pemikiran pada “Sumpah Pemuda hingga Sumpah Mahasiswa

  1. berbicara masalah pemuda memang tidak semuda yang kita bayangkan. mengingat sejarah kemerdekaan Indonesia diprakarsai oleh para pemuda yang memang berkompeten. kesuksesan mereka tidak lepas dari rasa kebangsaan, tekad yang kuat, serta mimpi yang ingin diwujudkan bersama.
    tapi ketika kita menengok keadaan pemuda pada saat ini perlu kita tanyakan pernakah mereka mempelajari secara mendalam tentang sejarah kemerdekaan yang telah kita dapatkan. atau pernakah mereka melakukan sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai anak bangsa?
    sungguh sangat ironis ‘bocah-bocah’ dari negara lain lebih mengetahui tentang sejarah terbentuknya bangsa kita.
    ketika persiapan pelaksanaan Sumpah Pemuda, kaum pemuda mengalami masa-masa yang sangat sulit, terutama mereka yang tergabung dalam organisasi kepemudaan di dalam negeri dan luar negeri. terjadi berbagi pertentangan-pertentangan antara kelompok pemuda yang berbeda aliran atau organisasi. tantangan berikutnya adalah dari Pemerintah Belanda(kolonial). mereka yang dicurigai melakukan aksi propokasi terhadap pemerintah, ditangkap dan diasingkan. walaupun tidak ada bukti tentang kesalahan mereka, dan tidak akan pernah ditemukan karena memang tidak ada.
    dengan menelisik kembnali sejarah kita, betapa perjuangan mereka samgat gigih dalam memperjuangkan Kemerdekaan. pelopor PI diasingkan jauh dari dunia luar.
    mestinya sekarang kita bangga sudah mamapu berekspresi dengan sebebas-bebasnya………..to be continue

  2. Setiap fragmen kehidupan merupakan satu siklus tersendiri. Termasuk dalam hal pemahaman dan aplikasi sumpah pemuda, mahasiswa, atau nasionalisme. Biarkan mereka berjalan dengan sendirinya. Jika saat ini terasa nilai2 itu tidak ada artinya, bisa jadi suatu saat akan muncul lagi utopia tentang masa lalu. Paling pahit ya hilangnya sejarah tsb di masa sekarang. Who knows…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s