Ekonomi Tumbuh Jika Harga BBM Diturunkan

Ekonomi Tumbuh Jika Harga BBM Diturunkan

Teguh Iman Prasetya

Target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 sebesar 6 % tidak akan tercapai dan semakin berat jika asumsi harga BBM tidak diturunkan. Harga minyak mentah dunia yang turun kemarin hingga 69,85 dolar/barel, ekonomi makro (IHSG menurun) dan neoliberalisme yang diterpa gelombang krisis keuangan global dari Amerika akibat kredit macet sector perumahan, mestinya diantisipasi oleh Indonesia dengan masalah yang paling mendasar yaitu penurunan harga BBM dan penguatan sector ekonomi riil.

Asumsi ini dari dulu sangat sederhana namun bukan berarti menyederhanakan masalah. Nampaknya pemerintahan SBY-JK tidak pernah mau belajar dari sejarah. Kenaikan harga BBM sejak tahun 2005 dan 2008 ditandai dengan staganasinya laju pertumbuhan, pengangguran dan kemiskinan meningkat, juga daya beli dan daya saing ekspor menurun.

Naik mudah Turun sulit

Ada pemeo jika harga BBM naik maka sulit untuk turun kembali, sekalipun harga minyak mentah dunia sudah turun.

Jika di negara lain antisipasi sangat cepat dilakukan dengan penurunan harga BBM hingga 3 kali diakibatkan oleh semakin tajamnya penurunan harga BBM hingga 50 % lebih (dari 147 dolla/barel) untuk menyelamatkan sector ekonomi domestic, maka di Indonesia penurunan itu terasa sangat lambat, padahal pilihan ini sangatlah realistis. Bahkan ketika hanya untuk harga BBM sector industri dan transportasi yang telah meminta kepada pemerintah segera melakukan penurunan harga BBM.

ICP (Indonesian Crude Oil Price) yang tinggi hingga 112 dolar/barel mestinya sudah dibatasi 85 dollar/barel. Janjji Menteri ESDM dan Keuangan untuk menurunkan harga BBM dalam negeri apabila harga BBM dunia dibawah 85 dolar/barel nampaknya diingkari, bahkan jika sampai Desember nanti harga minyak mentah dunia tersebut bertahan menurun atau tetap dibawah 80 dollar/barel.

Subsidi, Cadangan Fiskal, Kepemilikan dan Tata Kelola

Subsidi BBM sebesar 56 Triliun dari anggaran 2009 sebesar 80 dollar/ barel hingga titik aman 85 dollar/barel hingga saat ini masih menjadi patokan menstabilkan perekonomian Indonesia. Untuk menjaga dan antisipasi terhadap fluktuasi harga minyak dunia tersebut saya sependapat dengan pakar ekonomi lainnya dengan cadangan fiskal jika harga minyak dunia tersebut mencapai 100 dollar/barel.

Sektor harga BBM hingga saat ini masih menjadi masalah yang krusial disebabkan factor ini sangat strategis dari sisi transportasi dan sumber daya energi yang dihasilkan untuk memajukan secara keseluruhan ekonomi domestic, baik makro maupun sector riil.

Tata kelola migas begitu juga non migas strategis sudah saatnya dibenahi dari carut marut manajemen untuk memperbesar keuntungan negara. Senada dengan para pakar lainnya, masalah mendasar kepemilikan dan system yang berujung pada nasionalisasi (untuk sumur-sumur dan tambang-tambang produktif yang menghasilkan laba besar) dan transparansi serta akuntabilitas yang dapat dipertanggung jawabkan kepada public.

Jika kita melihat Venezuela dan Bolivia sebagai perbandingan, mestinya ini menjadi contoh yang ideal dimasa kini dan masa datang. Venezuela meraup bersih 100 % dari total laba yang dihasilkan dari program nasionalisasi yang dilakukan dan Bolivia sebesar 85 % dari total laba hasil nasionalisasi.

Tata kelola migas yang dilakukan oleh pemerintah hingga saat ini masih mengundang keprihatinan kita semua data dari tahun 2001-2007 misalnya gas terdata dugaan korupsi sebesar 30 triliun dan minyak sebesar 195 triliun. Belum lagi penerapan investment credit yang menjadi tugas BP Migas juga dilaksanakan di luar ketentuan di atas 100 persen yaitu pemberian investment credit 120 persen, bahkan 140 persen. Padahal menurut ketentuan, tak lebih dari 20 persen.

Begitupula perbedaan penghitungan aset. KPK mendapatkan informasi akurat bahwa aset BP Migas saat ini Rp 225 triliun, namun menurut BP Migas sendiri, aset yang dimiliki saat ini tinggal Rp 25 triliun.

Semoga ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua agar masalah ini segera dapat diatasi secara nasional , sekaligus menolak kita hanya keledai yang memanggul banyak emas tetapi tidak memiliki sama sekali kekayaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s