Menyingkap Kode Bahasa Estetika Post-modernisme

Menyingkap Kode Bahasa Estetika Post-modernisme
Judul: Hipersemiotika: Tafsir Cultural atas Matinya Makna
Penulis: Yasraf Amir Piliang
Penerbit: Jalasutra, Cetakan I September 2003
Tebal: 336 halaman

BERBICARA tentang post- modernisme, kita tidak bisa mengabaikan Yasraf Amir Piliang yang merupakan salah seorang tokoh post-modernisme yang dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 30 September 1956. Ia menyelesaikan kuliah S1 di Departemen Seni Rupa ITB dengan bidang khusus desain produk. Kemudian ia kuliah S2 di Central Saint Martins College of Art and Design, London, Inggris. Setelah lulus, ia menjadi staf pengajar di program Pascasarjana Seni Rupa dan Desain ITB.

Menurut Yasraf, dalam memahami konsep post-modernisme kita memang mudah terjebak dalam berbagai kerancuan perspektif, terutama bila kita hendak sangat nyinyir membuat batasan-batasan tegas yang memisahkan antara modernisme dan post-modernisme. Karikatur post-modernisme mudah bercampur baur dengan substansi isinya yang kompleks. Post-modernisme dalam kerap tumpang tindih dengan post- modernisme dalam perspektif filsafat.

Yang pertama bicara tentang perubahan gaya, dengan pembabakan tersendiri, yang kedua tentang perubahan kerangka dasar pemikiran. Belum lagi pembicaraan pada fenomena kultural, macam kultur kritik atau pun ideologiekritik, juga sering membaur dengan pembicaraan pada wilayah problematika epistemologis, sehingga antara simptom dan substansi, juga antara objek kajian dan paradigma berpikir, terjadi kerancuan yang menyulitkan kita untuk menyiangi duduk perkaranya

Dalam wacana cultural studies, sudah begitu banyak intelektual yang mengemukakan bagaimana pada abad ini media telah berubah menjadi representasi dari realitas, citraan yang telah menutupi fakta sedemikian rupa, bahkan tak jarang dikatakan telah menjadi realitas itu sendiri. Namun, bukankah zaman dulu manusia sudah dilingkungi dongeng, mitos, legenda, dan kabar burung, yang beredar dari mulut ke mulut dan kemudian berkembang menutupi fakta yang sebenarnya. Kalau memang begitu, apakah pertanyaan perenial sepanjang perjalanan sejarah umat manusia adalah mengenai “apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita, dalam kehidupan kita?” karena itu pula, apakah sepanjang kehidupan manusia, sadar atau pun tidak, sebenarnya hanya sedang melakukan proses penafsiran terus-menerus, dan tak pernah tahu keadaan obyektifnya?

Lebih pelik lagi, bahkan para teoritikus post-modernisme itu sendiri pun tak jarang saling bertabrakan dalam mencanangkan batasan-batasan itu. Misalnya, apa yang dianggap karakteristik post-modernisme oleh Jencks seperti double-coding, justru oleh Lyotard dianggap karakteristik modernisme meski ia menggunakan istilah “nostalgia” untuk itu.

Namun, apa pun label yang digunakan, sekurang-kurangnya wacana yang berkembang sejak itu membukakan persoalan-persoalan mendasar dan paradigmatik dalam peradaban manusia di awal milenium ketiga ini. Orang seperti Lyotard, Feyerabend, dan Rorty membantu menegaskan secara populer relativitas dan sisi ideologis dunia ilmiah modern serta membuka ruang lebih luas bagi wacana-wacana kecil yang lama disisihkan.

BUKU berjudul Hipersemiotika yang ditulis Yasraf Amir Piliang ini mencoba untuk menguraikan seluk-beluk semiotika kontemporer dalam perspektif cultural studies, dan juga berupaya untuk mengupas post-modernisme.Buku ini ditulis dengan bahasa yang mengalir dan menjelaskan setiap terminologi secara mudah namun kritis dengan menggunakan sistematika akademis yang ketat namun lincah. Buku ini sangat berguna bagi siapa pun yang ingin belajar memahami dan mendalami semiotika.

Dalam upaya untuk menyingkap kode-kode dan tanda-tanda seni post-modernisme, tampaknya perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap semiotika struktural sebagai satu pendekatan dalam analisis tanda. Hal ini disebabkan permasalahan epistemologis yang muncul, seperti yang dilakukan Faucault sebelum ini.

Peninjauan kembali dan pembaruan terhadap semiotika struktural ini telah ditawarkan para pemikir post-strukturalis, seperti Derrida, Faucault, Barthes, Kristeva, Deleuze & Guattari, dan Baudrillard. Dalam berhadapan dengan teks-teks yang tak konvensional (seperti post-modernisme) para pemikir post-strukturalis ini mengembangkan model pendekatan linguistik yang cenderung menekankan aspek diskursus dari sebuah teks.

Ia lebih menyoroti aspek produksi dan penggunaan tanda-tanda secara nyata pada satu komunitas bahasa tertentu ketimbang konvensi yang menopangnya. Ia cenderung menekankan produktivitas, perubahan historis serta ketidakstabilan makna-makna ketimbang mempertahankan makna ideologis yang cenderung mapan.

Kecenderungan semacam ini, menurut Richard Harland, disebabkan adanya kecondongan pada teks-teks seperti post-modernisme ini untuk menggunakan kode- kode semiotika yang tidak konvensional, di mana penggunaan tanda-tanda lebih dicirikan sifat ironis, bahkan cenderung anarkis, dan dalam hal tertentu tak bertanggung jawab. Harland menyebut tanda-tanda yang dikembangkan di dalam diskursus post-modernisme sebagai tanda-tanda antisosial, yaitu tanda-tanda yang memiliki tiga kualitas utama, yaitu: ia berubah, berkembang biak, dan bersifat materi.

Setelah lewat dari dua puluh tahun sejak awal kehebohannya, istilah “post-modernisme”, sebagai terminologi, periodisasi, atau pun isi gagasan, tetaplah problematis dan penuh kontroversi. Namun, rupanya hal itu tak seberapa mengganggu perkembangan isu dan substansi yang ditawarkannya. Kendati sebagai trend, ia boleh jadi sudah kedaluwarsa, dalam berbagai kemasan baru yang berbeda ternyata sebagai substansi ia justru berkembang baik hingga hari ini, seperti sesuatu yang tak terelakkan. Bahkan dari sudut ini, substansi post-modernisme sepertinya justru baru lahir dan berkembang. Hampir di segala lini wacana, dari biologi, fisika, politik, antropologi, hingga teologi kini berhamburan kerangka-kerangka pikir baru yang hanya bisa dimengerti bila kita memahami segala isu yang awalnya dilemparkan oleh gejala post-modernisme.

Buku kecil ini merupakan upaya penelusuran, penafsiran, dan pemahaman kode-kode bahasa estetik yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk seni post-modern, dengan menggunakan pendekatan semiotika, khususnya semiotika mutakhir yang dikembangkan para pemikir post-strukturalis. Tema khusus yang ingin digali dalam buku ini adalah berkaitan antara diskursus kebudayaan posmodern pada umumnya dan diskursus estetika serta seni post-modern pada khususnya.

Argumen-argumen yang dikemukakan dalam buku ini sebagian besar dilatarbelakangi terjadinya peralihan sejak tiga dasawarsa terakhir ini dalam masyarakat industri menuju masyarakat post-industri, dan dari kebudayaan modern menuju post-modern, serta bagaimana peralihan-peralihan ini mempengaruhi kesalingberkaitan antara manusia dan kebudayaan, serta antara manusia dan dunia obyek-obyek. Adam Kristian, Pustakawan dan Ketua FKLAB “Pondok Wejangan” Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s