Semiotika dan Strukturalisme

Semiotika dan Strukturalisme

Oleh: AUDIFAX
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku Mite Harry Potter (2005, Jalasutra)

Strukturalisme adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis model lingusitik Saussure. Strukturalis bertujuan untuk mendeskripsikan keseluruhan pengorganisasian sistem tanda sebagai bahasa seperti yang dilakukan Lévi-Strauss dan mitos, keteraturan hubungan dan totemisme, Lacan dan alam bawah sadar; serta Barthes dan Greimas dengan grammar pada narasi. Mereka melakukan suatu pencarian untuk suatu struktur yang tersembunyi yang terletak di bawah permukaan yang tampak dari suatu fenomena.

Social Semiotics kontemporer telah bergeser di bawah concern para strukturalis yang menemukan relasi internal dari bagian-bagian di antara apa yang terkandung dalam suatu sistem. Melakukan eksplorasi penggunaan tanda-tanda dalam situasi tertentu. Teori semiotik modern suatu ketika disatukan dengan pendekatan Marxist yang diwarnai oleh aturan ideologi.

Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah psyche; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan bagi Saussure, strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subyek manusia individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada semua keadaan1.

Strukturalisme terutama berkembang sejak Claude Levy-Strauss Hubungan antara bahasa dan mitos menempati posisi sentral dalam pandangan Lévi-Strauss tentang pikiran primitif yang menampakkan dirinya dalam struktur-struktur mitosnya, sebanyak struktur bahasanya. Mitos biasanya dianggap sebagai ‘impian’ kolektif, basis ritual, atau semacam ‘permainan’ estetika semata, dan figur-figur mitologisnya sendiri dipikirkan hanya sebagai wujud abstraksi, atau para pahlawan yang disakralkan, atau dewa yang turun ke bumi sehingga mereduksi mitologi sampai pada taraf semata sebagai ‘mainan anak-anak’, serta menolak adanya relasi apapun dengan dunia dan pranata-pranata masyarakat yang menciptakannya.

Perhatian Lévi-Strauss terutama terletak pada berkembangnya struktur mitos dalam pikiran manusia, baik secara normatif maupun reflektif, yaitu dengan mencoba memahami bagaimana manusia mengatasi perbedaan antara alam dan budaya. Tingkah laku struktur mitos yang tak disadari ini membawa Lévi-Strauss pada analisis fonemik, di mana berbagai fenomena yang muncul direduksi ke dalam beberapa elementer-struktural dasar, namun dengan satu permasalahan yang mendasar:

Di satu sisi tampaknya dalam mitos apa saja mungkin terjadi. Tak ada logika di sana, tak ada kontinuitas. Karakteristik apapun bisa disematkan pada subjek apa saja ; setiap relasi yang mungkin bisa saja ditemukan. Namun di sisi lain, kearbitreran penampakan ini dipungkiri oleh keserupaan yang mengejutkan di antara mitos-mitos yang dikumpulkan dari berbagai wilayah yang amat luas. Jika muatan dari mitos bersifat kontingen, bagaimana kita menjelaskan suatu fakta bahwa mitos-mitos di seluruh dunia tampak serupa?[

Mitos, menurut Levi-Strauss, memiliki hubungan nyata dengan bahasa itu sendiri karena merupakan satu bentuk pengucapan manusia sehingga analisisnya bisa diperluas ke bidang linguistik struktural. Namun tentu saja, analogi seperti ini tidaklah eksak dan mitos tidak bisa dengan begitu saja disamakan dengan bahasa sehingga sekaligus pula harus ditunjukkan pula perbedaannya melalui konsep Saussure mengenai langue dan parole, struktur dan kejadian individual.

Versi-versi individual yang berbeda-beda dalam tiap mitos, yaitu aspek parole-nya, diturunkan dari dan memberikan kontribusi pada struktur dasar langue-nya. Sebuah mitos, secara individual, selalu dikisahkan dalam suatu waktu: ia menunjuk pada kejadian-kejadian yang dipercaya begitu saja pernah terjadi di waktu lampau, namun pola spesifik atau strukturnya dikatakan sebagai sesuatu yang kekal dan ahistoris: ia merangkum mode penjelasan tentang kekinian dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekaligus masa depan.

Maka, setiap kali mitos dikisahkan kembali, ia menggabungkan elemen-elemen langue dan parole-nya, dan dengan begitu mentrandensikan keduanya sebagai penjelasan trans-historis dan transkultural atas dunia. Tidak seperti puisi, mitos tak terpengaruh oleh penerjemahan maknanya: penggunaan bahasa atau aspek linguistik yang paling rendah sekalipun cukup untuk mengungkapkan nilai mitikal dari mitos. Mitos merupakan bahasa, yang bekerja pada suatu tingkat di mana makna terlepas dari tataran linguistiknya.

Berdasarkan anggapan ini, Lévi-Strauss memformulasikan dua proposisi dasar dalam hubungannya dengan mitos:

Makna dari mitologi tidak dapat muncul dalam elemen-elemennya yang terisolir, tetapi haruslah melekat dalam suatu cara elemen-elemen itu dikombinasikan, dan punya peran potensial bagi sebuah transformasi yang melibatkan kombinasi seperti ini. Bahasa di dalam mitos memperlihatkan ciri khasnya yang spesifik: ia menguasai tataran linguistik biasa.

Apa yang ingin coba ditangkap Lévi-Strauss di sini adalah sense tentang adanya interaksi antara dimensi sinkronik dan diakronik, antara langue dan parole dalam mitos, sesuatu yang lebih dari sekadar kisah yang sedang diceritakan. Sebuah mitos selalu mengandung keseluruhan versinya, dan ia mengatakan bahwa mitos itu bekerja secara simultan pada dua sumbu, seperti halnya dalam partitur orkestral, untuk membangkitkan paduan nada dan harmoni.

Di sisi lain, Lévi-Strauss percaya bahwa ia telah menemukan sebuah metode analisis yang melengkapi aturan-aturan formasi, untuk memahami perpindahan dari satu varian mitos ke varian yang lain. Dalam prosesnya, agen-agen mediasi dan validasi bekerja mengatasi realitas kasar dan mentransformasikannya ke dalam bahasanya sendiri. Di sini, mitos muncul sebagai sebuah ‘perangkat-logika’ yang berfungsi menciptakan ritus-perbatasan untuk mengatasi realitas yang saling beroposisi.

Pada titik inilah usaha Lévi-Strauss untuk menemukan aspek langue mitos dan memisahkannya dari parole dengan melakukan analisis fonemik atasnya mencapai batas-batas terjauh dalam memahami bagaimana mitos dikonstruksi oleh masyarakat lampau. Tetapi Lévi-Strauss terpukau dan berhenti di tingkat struktur yang secara rigid memisahkan antara langue dengan parole sedemikian sehingga, baginya, di balik struktur tak ada apapun lagi. Kenyataan bahwa banyak mitos di dunia sangat mirip disimpulkannya dengan sederhana disebabkan oleh adanya aturan-aturan transformasi arbitrer yang menciptakan varian mitos. Kearbitreran ini dimungkinkan karena, bagi Lévi-Strauss, satu-satunya yang kokoh hanyalah mode-mode operasi yang bekerja di dalam struktur. Pemeriksaannya terhadap langue mitos tidak membuka gagasan lebih jauh mengapa muncul ragam-ragam yang unik padanya. Padahal struktur mitos hanyalah penjelasan bahwa ia adalah ‘bahasa khusus’ yang mesti dicari logos di balik langue-nya.

Dalam sebuah mitos suku-suku di Amerika Utara yang mengisahkan tentang Angin Selatan yang jahat karena begitu kencang dan dingin sehingga bila angin ini berhembus manusia tidak dapat beraktivitas secara normal. Demikianlah hingga semua makhluk hidup berusaha menangkap dan menjinakkannya. Pemburu yang berhasil adalah ikan skate yang kemudian menegosiasikan pembebasan angin dengan syarat bahwa ia diijinkan untuk berhembus hanya pada hari-hari tertentu secara berganti-ganti, sehingga meninggalkan daerah itu pada saat manusia dapat bepergian normal. Lévi-Strauss menskemakan mitos tersebut dengan oposisi biner antara alam yang ramah terhadap manusia dengan alam yang bermusuhan, yaitu kehadiran angin dan ketidakhadiran angin, dan melihat aspek yang sama terhadap ikan skate pada posisi manusia memandang ikan tersebut, yaitu bila dilihat dari samping ia seperti segaris pipih yang nyaris tiada sedangkan dari atas tampak sangat besar. Ia menyatakan bahwa ketika orang Indian menjadikan ikan skate sebagai ‘tokoh pendamai’ pada masa transisi kedua kondisi alam tersebut sesungguhnya mereka tengah mengkonkretkan peranan mereka dalam menata alam. Logika konkrit ini dalam pandangan Lévi-Strauss menunjukkan demikian mudahnya masyarakat lampau menetapkan suatu kesamaan antara spesies-spesies alam dengan segolongan masyarakat.

Structuralist Constructivism

Pierrre Bourdieu mengembangkan aliran constructivist structuralism atau structuralist constructivism yang mengacu pada struktur-struktur objektif, terlepas dari kesadaran dan keinginan pelaku-pelaku, yang mampu mengarahkan dan sekaligus menghalangi praktik-praktik atau representasi mereka. Dengan menggunakan istilah konstruktivisme, Bourdieu menyatakan bahwa terdapat genesis sosial dari skema-skema persepsi, pemikiran, dan aksi, serta bagian lain dari struktur sosial2.

Bourdieu meletakkan konspetualisasi pemikirannya melalui aspek-aspek habitus3 dan arena4 (champ). Kedua konsep ini didukung oleh sejunlah konsep antara lain : modal5 (capital), praktik sosial (practique sociale)6, pertarungan (lutte) dan strategi (strategie)7. Salah satu ajaran Bourdieu dalam hubungannya dengan praktik penelitian adalah penekanan pentingnya penelitian lapangan. Arena dan habitus bukanlah konsep yang dapat diterapkan hanya dengan duduk di belakang meja. Keduanya merupakan konsep yang baru bermakna jika digunakan di lapangan.

Dalam praktik penelitian, Bourdieu mengajarkan tiga langkah yang saling terkait dalam upaya mengenali dan menganalisis arena. Pertama, kita harus menganalisis posisi arena dalam hubungannya dengan arena kekuasaan. Dengan demikian, kita menemukan bahwa suatu hal merupakan bagian dari kekuasaan8. Kedua, kita harus menetapkan struktur objektif hubungan-hubungan antara posisi-posisi yang dikuasai oleh pelaku dan institusi yang berada dalam persaingan di dalam arena ini. Ketiga, kita harus menganalisis habitus para pelaku, sistem-sistem kecenderungan yang berbeda yang diperoleh melalui internalisasi sesuatu yang ditentukan menurut kondisi sosial ekonomi, yang berada dalam suatu jalur yang didefinisikan di dalam arena yang dianggap memberikan kesempatan bagi pelaku untuk mengaktualisasikannya9.

Bourdieu memperkenalkan metodologi, yang disebut generative structuralism, menggambarkan suatu cara berpikir dan kiat dalam mengajukan pertanyaan. Dengan metode itu Bourdieu menggambarkan, menganalisis, dan memerikan genesis persona tertentu, struktur sosial, dan kelompok. Ia mengajukan suatu teori analisis dialektis terhadap kehidupan praktis. Perspektif semacam itu menyuguhkan kemampuan untuk menunjukkan interplay antara praktik ekonomi personal dengan ?dunia eksternal? dari sejarah kelas dan praktik sosial. Tugas itu harus menggunakan modus berpikir relasional dan melampaui oposisi artifisial antara struktur objektif dengan representasi subjektif10.

Strukturalisme memiliki asumsi bahwa dalam suatu fenomena terdapat konstruksi tanda-tanda. Penelitian dengan strukturalisme mensyaratkan kemampuan memandang keterkaitan inner structure agar mampu memberi makna yang tepat pada fenomena yang tengah menjadi studi. Dalam perkembangannya strukturalisme memasuki berbagai ranah dalam disiplin ilmu dan berbagai aspek kehidupan. Perkembangan langsung dari strukturalisme adalah fungsionalisme yang melihat relasi sistemis menjadi relasi fungsional.

Semiotika Linguistik Struktural

Roman Jacobson, salah satu ahli linguistik yang meneliti secara serius pembelajaran dan fungsi bahasa, memberi penekanan pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafor retoris (kesamaan) dan metonimia (kesinambungan). Bagi Jacobson, bahasa memiliki enam macam fungsi, yaitu:
(1) fungsi referensial, pengacu pesan;
(2) Fungsi emotif, pengungkap keadaan pembicara;
(3) Fungsi konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak;
(4) fungsi metalinguistik, penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan;
(5) Fungsi fatis, pembuka, pembentuk, pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak; dan
(6) fungsi puitis, penyandi pesan11.

Langkah-langkah analisis struktural atas fonem yang dilakukan Jacobson antara lain : (a) mencari distinctive features (ciri pembeda) yang membedakan tanda-tanda kebahasaan satu dengan yang lain. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada-tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut ; (b) memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah, sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain; (c) merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana?dengan distinctive features yang mana?yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainnya ; (d) menentukan perbedaan-perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis, yakni perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan12.

Metasemiotika

Louis Hjelmslev adalah tokoh linguistik yang mengembangkan semiotik pasca Saussure. Hjelemslev mengembangkan sistem dwipihak (dyadic system) yang merupakan ciri sistem Saussure. Ia membagi tanda ke dalam _expression dan content, dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure. Namun, konsep tersebut dikembangkannya dengan menmabhakn bahwa baik _expression maupun content mempunyai komponen form dan substance sehingga terdapat _expression form dan content form di satu pihak; serta _expression substance dan content substance pada pihak lain.

Maka, dengan peluasan ini, diperoleh gambaran bahwa sebelum _expression form terbentuk, terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purport) yang melalui _expression substance memperoleh batasan yang akhirnya terwujud dalam _expression form tersebut. Demikian pula halnya dengan content form yang dari content substance diberikan batas-batas pada bahan tanpa bentuk.

Semiologi dan Mitologi

Berbicara semiotika dan mitologi, maka kita tidak dapat melepaskan dari nama Roland Barthes. Dalam pembahasan mengenai semiotika, Barthes mengemukakan asumsi bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.

Apakah anda menemukan atau merasakan kesalahan pada tulisan di atas? Jika anda cermat, akan anda temukan adanya kesalahan pada penggunaan font untuk tulisan-tulisan tersebut. Ketika kita melihat pada konotasi kita akan melihat pada kedalaman makna yang berakar jauh di dalam budaya kita.

Konotasi tanda menjadi partikular ketika kita melihat pada penggunaan tanda dalam periklanan. Sebuah foto mengenai mobil secara pasti bisa kita rujukkan pada petanda mobil dalam dunia riil, tetapi juga berkonotasi pada kekuatan, kebebasan, modernitas, dll.

Iklan A Mild di atas terdapat gambar kursi dan tulisan ?Kalo engak dibersihin KUTU BUSUKNYA Enggak bakalan PERGI!. Kursi di sini tidak secara sederhana bisa kita pahami sebagai tempat duduk. Namun, merupakan penanda yang merujuk pada kelas sosial atau jabatan tertentu. Terutama ketika kemunculan iklan ini di tahun 2004, hampir berbarengan dengan pemilihan wakil rakyat yang duduk di DPR/MPR. Inilah yang dijelaskan oleh Roland Barthes sebagai second-order of signification.
second-order of signification selanjutnya bisa kita sebut sebagai konotasi. Menggunakan konsep inilah Barthes menjelaskan mengenai mitologi. Salah satu contoh yang terdapat dalam bukunya (Mythologies, 1957) adalah foto seorang prajurit berkulit hitam sedang memberi hormat pada bendera Perancis.

Langue (Code)
1. Penanda
2. Petanda

Mitos
3. tanda
II. PETANDA
I. PENANDA

III. TANDA

Langue (Code)
1. Foto Perajurit berkulit hitam memberi hormat pada bendera Perancis
2. Perajurit berkulit hitam memberi hormat pada bendera Perancis

Mitos
3. tanda
II. NEGARA KERAJAAN PERANCIS YANG BESAR, SEMUA ANAK NEGERINYA BERADA DALAM KESETARAAN
I. PERAJURIT BERKULIT HITAM MEMBERI HORMAT PADA BENDERA PERANCIS

III. TANDA
Barthes menambahkan untuk menjelaskan makna dari foto. Lebih jauh, second-order signification (konotasi) harus muncul dari pengalaman yang kita punyai dan memiliki asosiasi (konotasi) yang telah kita pelajari untuk memasangkan makna dengan tanda.
Bagaimanapun juga konotasi tidak bisa lepas dari kultur di mana kita tinggal dan di antara tanda-tanda yang beroperasi sebagai sistem interpretasi tanda. Ini membawa pada apa yang dirujuk Barthes sebagai mitos. Di bawah operasi mitos ini, tanda menjadi penanda tatanan kedua (second-order signifier). Petandanya adalah Perancis sebagai negara besar, di mana semua anak negerinya, tanpa membedakan warna kulit, mengabdikan diri pada Perancis.

Semiotika dan Post-strukturalisme

Istilah post-strukturalisme sebenarnya jarang digunakan. Post-strukturalisme sebenarnya lebih ditujukan pada munculnya pemikiran-pemikiran yang mengembangkan strukturalisme lebih jauh. Beberapa yang dikategorikan post-struktralis antara lain Jacques Lacan, Jacques Derrrida. Michel Foucault sempat dikategorikan sebagai post-strukturalis namun kemudian orang menggolongkan sebagai beyond struktutralis.

Jacques Lacan memunculkan konsep bahwa nirsadar adalah ranah yang terstruktur layaknya bahasa. Konsep ini berbeda dari Freud yang menganggap bahwa nirsadar berisi hal-hal instingtif. Lacan bahkan melihat bahwa nirsadar hadir bersama dengan bahasa. Lacan melihat bahasa adalah suatu sistem pengungkapan yang tak pernah mampu secara utuh menggambarkan konsep yang diekspresikannya.
Ada cermatan bahwa pada kenyataannya, sistem linguistik berada di luar manusia yang menjadi subjek. Pemakai bahasa terpisah secara radikal dari sistem tanda. Ada jarak lebar antara apa yang mereka rasakan dan bagaimana sebuah sistem kebahasaan memungkinkan seorang pemakai bahasa memanfaatkan untuk mengekspresikan perasaan tersebut.

Semisal, laki-laki yang ingin mengekspresikan kecantikan seorang gadis. Mungkin dia akan mengatakan ?Kau secantik bidadari?. Namun, tetap saja terdapat hal yang tidak terekspresikan. ?Bidadari? hanyalah tanda yang dianggap mewakili namun sebenarnya meredusir perasaan abstrak si laki-laki terhadap kecantikan si gadis.

Bagi Lacan, hal itu merupakan faktor penting yang menunjukkan bahwa manusia sebagai subjek, pertama-tama terpisah dari piranti-piranti representasi, namun pada saat bersamaan, keberadaan dirinya sebagai subek juga dibentuk oleh piranti-piranti tersebut.

Oleh lacan, algoritma atau diagram Saussure tentang petanda/penanda digunakan untuk menunjukkan pengandaian-pengandaian yang dibuat kaum strukturalis mengenai hubungan manusia dengan tanda. Menurut Lacan, yang primer justru konsep (petanda) dan karena itu berda di atas diagram. Sementara entitas (penanda) yakni yang sekunder, berada di bagian dasar diagram.

Sebuah ide dapat berdiri sendiri, lepas dari segala bentuk mediasi. Anak hanya dapat menangkap gagasan tentang ?anjing? setelah orang tuanya (others) menjelaskan bahwa makhluk yang dia tanyakan itu bernama ?anjing?. Anak dapat memahami konsep ?anjing? karena ?anjing? memang telah hadir sebelumnya sebagai elemen bangunan besar langue yang mendahului kelahiran bayi sebagai individu.

Jika ketaksadaran terstruktur layaknya bahasa, maka menjadi masuk akal untuk mengklaim bahwa linguistik dan semiotik adalah hal penting yang dapat kita gunakan untuk memahami ketaksadaran. Lacan menempatkan isi ketaksadaran sebagai penanda (signifiers); proses primer ketaksadaran diletakkan pada ekspresi dan distorsi dirinya sendiri (dalam Freud: Condensation dan Displacement; sedangkan Lacan menggunakan istilah yang sama dengan Roman Jacobson: Metaphor dan Metonymy)13.

Verdichtung (condensation) adalah struktur superimposisi dari penanda yang menjadi karakterisktik metaphor. Verschiebung (displacement) menunjukkan signifikansi transfer yang sama seperti yang ditemui pada metonymy.14 Kita terbiasa mengkaitkan metafor dengan ungkapan yang berbau puitis, menimbulkan emosi. Metafor sendiri berarti ?menembus? makna linguistik. Jacobson menjelaskan gejala pemaknaan ini sebagai hasil dari asosiasi pada tatanan paradigmatik15.

Kalau metafor bekerja atas dasar hubungan paradigmatik, metonimi bekerja atas dasar hubungan sintagmatik. Kalau metafor banyak dijumpai dalam puisi, metonimi dalam prosa. Kalau metafor lahir dari kesadaran kita untuk menghubungkan (mengasosiasikan), maka metonimi berasal dari kesadaran untuk menggabungkan (mengombinasikan). Metonimi menghasilkan makna dari hasil hubungan logis, sementara metafor melalui kekuatan imajinasi.

Hubungan metaforik muncul karena ?dengan adanya kekuatan represi, suatu signifier diganti dengan signifier baru?. Signifier yang pertama akan berubah menjadi signified sejauh signifier pengganti ?stands in place of the previous signifier and represents it?. Hubungan metaforik ini (yang menghasilkan kesadaran, makna, atau ide) menjadi begitu kuat ketika terkait dengan hubungan signifiers atau meaning yang masih berada dalam status unconscious16.

Roman Jacobson mendefinsikan pole of selection atau similaritas sebagai metaforik, dan pole of combination atau kontiguitas sebagai metonimik. Jacobson mengklaim keduanya adalah hal penting bagi pemaknaan bahasa. Metaphor adalah alien bagi similarity disorder sedangkan Metonimi bagi contiguity disorder. Lacan menjelaskan bahwa bahasa tak pernah mendapat tempat pada tataran real. Tidak berhubungan atau represen dalam tataran real. Bahasa menandai bukan untuk mengekspresikan pemikiran atau menggambarkan realitas, tetapi lebih pada upaya mengonstitusi subyek sebagai suatu secara historis dan geografis, dan secara kultural mengarah pada spesifikasi proses menjadi. Bahasa memiliki kapabilitas untuk memposisikan subjek sebagai social being karena bahasa sendiri mengandung sistem yang mempredasi semua subjek dan harus diasumsikan oleh setiap subjek secara individual. Bahasa adalah hanyalah sistem referensi yang merujuk pada kategori dan istilah yang dimiliki seseorang17.

Agar dapat menentukan tempatnya di dunia, seorang anak harus terlebih dulu menetapkan posisi tertentu dalam bahasa. Agar dapat menjadi subjek dan dapat merujuk dirinya dalam dunia sosial, seseorang harus masuk wilayah piranti-piranti penandaan yang telah tersedia sejak dia belum lahir dan kemudian belajar menggunakannya. Dalam pengertian ini, lacan melihat bahwa subjek manusia didominasi oleh penanda, atau lebih tepat lagi, perbedaan-perbedaan dalam langue.
Berikutnya, Lacan menawarkan diagram versi baru diagram tanda, yaitu:

Manusia masuk dan terlibat dalam bahasa. Di sini manusia terlibat dalam dunia subjektivitas, ia terpintal dalam jaring-jaring penandaan Tanda tidak dengan sendirinya menjadi lengkap saat petanda mulai membaur ke dalam penanda. Sebaliknya, tanda tersusun atas dua wilayah yang berbeda dan tak pernah bertemu.
Wilayah ?S? besar adalah penanda dan tempat beroperasinya penandaan kebudayaan. Sedangkan wilayah ?s? kecil adalah dunia-dalam (inner-world) yang tak terpahami dan tak dapat diekspresikan melalui penandaan. Sebuah garis yang tak bisa ditembus memisahkan keduanya. Tidak ada bauran secara vertikal antara petanda dan penanda. Bauran berlangsung secara horizontal, yakni penanda terus berpendar-pendar di bawah petanda yang terus berubah-ubah.

Semiotika dan Dekonstruksionism

Jacques Derrida menolak pemaknaan tentang pemaknaan tanda yang dianggap sebagai proses murni dan sederhana. Derrida menawarkan suatu proses pemaknaan dengan cara membongkar (to dismantle) dan menganalisis secara kritis. Bagi Derrida hubungan antara penanda dan petanda mengalami penundaan untuk menemukan makna lain atau makna baru. Makna tidak dapat terlihat dalam satu kali jadi, melainkan pada waktu dan situasi yang berebda-beda dengan makna yang berbeda-beda pula. Proses dekonstruksi ini bersifat tidak terbatas.

Derrida mengemukakan bahwa nilai sebuah tanda ditentukan sepenuhnya oleh perbedaannya dengan tanda-tanda lain yang terwadahi dalam konsep differance. Namun, konsep tersebut juga menegaskan bahwa nilai sebuah tanda tidak dapat hadir seketika. Nilainya terus ditunda (deferred) dan ditentukan-bahkan juga dimodifikasi- oleh tanda berikutnya dalam satu aliran sintagma.18

Derrida mengambil contoh sintagma sebuah lagu Inggris : Ten green botles standing on a wall. Saat membaca dari kiri ke kanan, berawal dari kata ten (sepuluh) yang ditransformasi menjadi ? Sepuluh apa? ?jawabnya : ? sepuluh X berwarna hijau ?berikutnya pertanyaan ? sepuluh apa? ? dimodifikasi menjadi ? sepuluh botol hijau? disini terlihat konstruksi makna yang berlangsung secra timbal balik. Jika sintakma di perluas menjadi ten green botles standing on a wall, maka berlangsunglah modifikasi tahap berikutnya. Kini ? sepuluh botol hijau ? disertai pula informasi tambahan ? diatas dinding ? (standing on a wall) seingga jawaban terhadap pertanyaan ? sepuluh apa? ? tertunda lagi. Saat membaca kata terakhir,yaitu ? Dinding ?( wall) maka kata ? dinding? bukan lagi tanda yang berdiri sendiri. Karena ? dinding ? tersebut adalah ? Dinding ? yang diatasnya terpajang sepuluh botol bir. 19

Coba kita perhatikan lagu Nuansa Bening yang dinyanyikan oleh Keenan Nasution dari Gank Pegangsaan. Lagu yang populer di era 1970-an ini dapat kita hadirkan sebagai contoh dari dekonstruksi. Bahwa kata-kata adalah rantai penanda yang artinya terus berkembang.

Nuansa Bening

oh tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat di hadapanku
biasa saja

waktu perkenalan terjalin sudah
ada yang menarik pancaran diri
terus mengganggu

mendengar cerita sehari-hari
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

oh tiada kejutan pesona diri
pertama kujabat jemari tanganmu
biasa saja

masa perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu
tak mau pergi

dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi

kini terasa sungguh
semakin engkau jauh
semakin terasa dekat

akan tumbuh kembangkan
kasih yang kau tanam
di dalam hatiku

menatap nuansa-nuansa bening
tulusnya doa bercita

Jika kita mencermati bait pertama (oh tiada yang hebat dan mempesona, ketika kau lewat di hadapanku, biasa saja), kita hanya akan menangkap ungkapan ungkapan seorang laki-laki mengenai seorang (gadis) yang terkesan biasa saja.

Pada bait kedua, kita akan menemui kalimat: waktu perkenalan terjalin sudah, ada yang menarik pancaran diri, terus mengganggu. Pada bait ini pemahaman akan berubah lagi. Sosok yang tampak biasa saja kemudian dikenal; pada perkenalan itu si laki-laki merasa ada sesuatu yang mengganggu. Namun, sampai di sini, belum jelas apa yang mengganggu.

Pada bait ketiga, ada kalimat: mendengar cerita sehari-hari, yang wajar tapi tetap mengasyikkan. Para pendengar lagu ini belum dijelaskan apa yang mengganggu, namun si laki-laki justru menceritakan keseharian yang terkesan wajar tapi mengasyikkan. Sampai di sini, makna dan arah belum tercapai secara utuh.

Pada bait keempat ada kalimat: oh tiada kejutan pesona diri, pertama kujabat jemari tanganmu, biasa saja; yang seolah flashback kembali pada momen perkenalan antara si laki-laki dan perempuan. Dilanjutkan dengan bait ke lima: masa perkenalan lewatlah sudah, ada yang menarik bayang-bayangmu, tak mau pergi; yang seolah mempertegas kembali bait kedua.

Pada bait keenam barulah ada sedikit penjelasan mengenai apa yang sebenarnya dirasakan oleh si laki-laki. Tergambar alam kalimat: dirimu nuansa-nuansa ilham, hamparan laut tiada bertepi. Dipertegas dengan bait ketujuh: kini terasa sungguh, semakin engkau jauh, semakin terasa dekat. Kendati tidak secara eksplisit menghadirkan kata ?cinta? tapi pendengar lagu ini dapat memperoleh gambaran mengenai perasaan seorang laki-laki yang tengah jatuh cinta.

Menarik ketika kita cermati bait ketujuh dan kedelapan, di mana ada kalimat: akan tumbuh kembangkan, kasih yang kau tanam di dalam hatiku, menatap nuansa-nuansa bening, tulusnya doa bercita. Lagu ini tidak memberikan ending yang jelas sehingga lebih merupakan penanda yang tak pernah berakhir (the never-ending signifier). Interpretasinya dapat terus berjalan, dan ada banyak kemungkinan yang dapat muncul.
Pada lagu Nuansa Bening, kita dapat melihat bahwa makna dapat terus didekonstruksi seiring ?berjalannya kalimat? dan konteks yang menyertainya. Kira-kira seperti itulah yang coba dijelaskan Derrida melalui konsep dekonstruksi.

Derrida membangun teorinya bertolak dari kritik terhadap pemikiran bahasa Husserl. Bagi Derrida, bahasa bersifat memenuhi dirinya sendiri (self-sufficient) dan bahkan terbebas dari manusia. Derrida melihat bahwa bahasa bersumber dari tulisan (Ecriture/Writing). Tulisan adalah bahasa yang secara maksimal memenuhi dirinya sendiri karena tulisan menguasai ruang secara masksimal pula. Sebagai bahasa tulisan tidak terdapat dalam pikiran manusia tetapi konkrit di atas media. Tulisan terlepas dari penulisnya begitu ia berada di ruang halaman, sedangkan ketika dibaca, tulisan langsung berkaitan dan terbuka untuk dipahami oleh pembacanya. Jadi bahasa yang sebenarnya adalah tulisan, bukan suara20.

Dekonstruksi merupakan koreksi terhadap pemikiran konstruksi sosial berkaitan dengan interpretasi terhadap teks, wacana, dan pengetahuan masyarakat. Dekonstruksi kemudian melahirkan tesis-tesis keterkaitan antara kepentingan (interest) dan metode penafsiran (interpretation). Dalam dekonstruksi, kepentingan tertentu selalu mengarahkan pada pemilihan metode penafsiran. Sebagian pemikiran Derrida sejalan dengan pemikiran Habermas bahwa terdapat hubungan strategis antara pengetahuan21 manusia dengan kepentingan22, meski tidak dapat disangkal bahwa yang terjadi bisa pula sebaliknya, yakni bahwa pengetahuan adalah produk kepentingan23.

CATATAN-CATATAN:
1 Alex Sobur; (2001); Analisis Teks Media ? Suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, analisis framing; Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hal. 104
2 Muridan S. Widjojo; (2003); Strukturalisme Konstruktivis-Pierre Bourdieu dan Kajian Sosial Budaya; dalam Perancis dan Kita ? Strukturalisme, Sejarah, Politik, Film, dan Bahasa; Jakarta : WWS; hal. 39
3 Bourdieu menggambarkan habitus sebagai suatu sistem yang terdiri dari kecendrungan-kecenderungan yang memiliki reliabilitas dan berlangsung dalam diri individu sepanjang kehidupannya (durable), serta dapat mendorong praktik di berbagai arena berbeda (transposable) dan berfungsi sebagai basis pembentuk praktik yang trestruktur dan secara objektif memiliki integritas.
4 Bourdieu mendefinisikan arena sebagai suatu sistem hubungan-hubungan objektif kekuasaan antara posisi-posisi sosial yang berhubungan dan suatu sistem hubungan-hubungan objektif di antara titik-titik simbolis, misalnya karya-karya seni, manifesto-manifseto artistik, dan deklarasi-deklarasi politik. Kondisi waktu tertentu mendefinisikan struktur arena melalui keseimbangan antara titik simbolis dan di antara modal yang terdistribusi. Besaran modal yang dikuasai menentukan relasi objektif pada posisi-posisi yang berbeda serta akses bagi pemiliknya pada keuntungan tertentu di dalam dinamika pertarungan arena tersebut. Konspesi arena ini digunakan dalam instansi-instansi substantif ? sebenarnya sebagian besar dari pekerjaan ini dapat dikatakan sebagai suatu percobaan untuk mengidentifikasi struktur dan penggunaan arena sebagai suatu metode yang mengkonstruksi obyek penelitian. Arena-arena itu mengidentifikasi pelaku-pelaku dan wilayah-wilayah pertarungan.
5 Konsep Modal Bourdieu bersifat luas dan mencakup barang-barang material, hal yang ?tak tersentuh?, tetapi secara budaya merupakan atribut yang signifikan; semacam prestise, status, otoritas, dan legitimasi (yang diacu sebagai simbolis), sejalan dengan modal budaya (yang didefinisikan sebagai pengetahuan atau juga selera yang ernilai secara budaya dan pola-pola konsumsi). Konsep modla mencakup kemampuan untuk melakukan kontrol terhadap masa depan diri sendiri dan orang lain. Modal adalah bantuk kekuasaan. Dan berfungsi sebagai mediasi teoritis antara individu dan masyarakat.. Bourdieu juga melihat Bourdieu sebagai basis dominasi meskipun tidak selalu disadari atau disembunyikan oleh pelaku-pelaku).
6 Praktik Sosial merupakan konsep yang dihadirkan Bourdieu dalam upaya mengatasi oposisi klasik antara Fenomenologi dan Strukturalisme. Dalam konsep praktik sosial, Bourdieu memperlakukan kehidupan sosial sebagai suatu interaksi struktur, disposisi (kecenderungan), dan tindakan yang saling mempengaruhi.
7 Suatu arena selalu menjadi ajang konflik antar individu atau antarkelompok yang berusaha mempertahankan atau mengubah distribusi bentuk-bentuk kapital tertentu. Pertarungan tidak bisa dilepaskan dari strategi. Pengerahan segala hal yang dimiliki dalam praktik sosial itu secara umum disebut strategi. Dalam konsep Bourdieu, strategi adalah sesuatu yang mengarahkan tindakan, tetapi ia bukanlah semata-mata hasil dari suatu perencanaan yang sadar dan terkontrol oleh si pelaku atau sebaliknya semata hasil dari suatu yang bersifat mekanis di luar kesadaran individu atau kelompok. Strategi lebih merupakan hasil yang intuitif atas pemahaman pelaku tentang ?aturan main? yang kontekstual dari segi ruang dan waktu.
8 Setiap masyarakat memiliki caranya sendiri untuk menutupi, menyembunyikan, atau menciptakan sistem yang menyediakan topeng-topengnya sendiri agar struktur dan praktik penindasan tidak dapat dikenali (meconnaissance). Di sini dapat kita tunjuk Institusi pendidikan seperti sekolah atau perguruan tinggi yang bisa dijelaskan sebagai suatu yang masuk dalam arena kekuasaan.
9 Ibid; hal. 47
10 Ibid
11 Alex Sobur; (2003) Op.cit; hal. 56
12 Alex Sobur; (2003) Op.cit; hal. 56
13 Anika Lemaire; (1970); Jacques Lacan; disadur oleh David Macey; London: Routledge & Kegan Paul; hal. 127
14 Lemaire; op cit; hal. 192
15 ST Sunardi; (2002); Semiotika Negativa; Yogyakarta : Kanal; hal. 87
16 Ibid; hal. 89, 90
17 Grosz; op.cit; hal. 98-99
18 Cobley dan Jansz, op cit, hal 94
19 Ibid
20 Benny H. Hoed; (2003); Strukturalisme De Saussure di Prancis dan Perkembangannya; dalam Perancis dan Kita ? Strukturalisme, Sejarah, Politik, Film, dan Bahasa; Jakarta : WWS; hal. 16
21 empiris-analitis, historis, hermeneutik, maupun pemikiran kritis
22 teknis, pratis, atau filsafat emansipatoris.
23 Alex Sobur; (2001); Op.cit, hal. 92

DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa-Putra, Heddy Sri; (2001); Strukturalisme Levi-Strauss ? Mitos dan karya sastra; Yogyakarta : Galang Press
Anonim; Structuralism and Saussure; online documents: http://www.colorado.edu/English/ENGL2012Klages/saussure.html
Cobley, Paul dan Janz, Litza; (2002); Mengenal Semiotika ? For Beginners; saduran Ciptadi Sukono; Bandung : Mizan
Gordon, W. Terrence; (2002); Saussure untuk pemula; saduran Mei Setiyanta dan Hendrikus Panggalo ; Yogyakarta : Kanisius
Hoed, Benny H.; (2003); Strukturalisme De Saussure di Prancis dan Perkembangannya; dalam Perancis dan Kita ? Strukturalisme, Sejarah, Politik, Film, dan Bahasa; Jakarta : WWS
Lemaire, Anika; (1970); Jacques Lacan; disadur oleh David Macey; London: Routledge & Kegan Paul
Sobur, Alex; (2001); Analisis Teks Media ? Suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, analisis framing; Bandung : PT Remaja Rosdakarya
__________; (2003) Semiotika Komunikasi; Bandung : Penerbit Rosda
Sunardi, ST; (2002); Semiotika Negativa; Yogyakarta : Kanal
Widjojo, Muridan S.; (2003); Strukturalisme Konstruktivis-Pierre Bourdieu dan Kajian Sosial Budaya; dalam Perancis dan Kita ? Strukturalisme, Sejarah, Politik, Film, dan Bahasa; Jakarta : WWS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s