Komunitas Film Srangenge

*** Gairah Film Indie di Banten ***

Dua hari kemarin kami mengadakan rapat kilat membentuk pengurus baru Komunitas Srangenge Film Maker.Akhirnya 3 (tiga) jam rapat kami memutuskan sebuah organisasi yang terstruktur dan terorganisasi tanpa meninggalkan ciri khas independensi dan orisinalitas kreativitas ide.

Banyak hal yang telah terlewati dari episode pembuatan film Indie yang telah kami garap. Dahulu dari rumah kost Yoki Yusanto sebagai orang film dan pencetus ide menggarap film documenter bertema realisme kritik social yaitu Nasi Aking dengan bendera Commander Line. Lebih awal lagi mungkin sebagai motivator mengenalkan Film Indie yaitu ketika dimasa lalu mengundang Forum Lenteng dari Jakarta yang dikomandani Hafis dkk., dengan mengadakan pelatihan dan workshop dikampus Untirta. Sangat menarik dan cukup berkesan sebagai generator ide di Propinsi Banten.

Kali pertama membuat film documenter Nasi Aking, Yoki Yusanto yang juga sebagai dosen komunikasi diundang dengan beberapa sineas lainnya di Propinsi Banten dan sempat ditayangkan di Banten TV. Inilah awal kebangkitan sineas film Indie yang mulai bangkit di Propinsi Banten. Dapat disebutkan lainnya sebagai contributor awal yaitu Rumah Dunia dengan beberapa karyanya, Belok Kiri Dilarang Langsung, Upacara Seren Tahun dari Sineas Deka, dll. Ikhsan dosen Untirta yang bertindak sebagai komentator pada acara diskusi itu juga sangat berani, kritis, dan lugas ketika menilai film tersebut.

Rumah Dunia dalam perjalanannya kemudian lebih banyak mengeluarkan karya-karya film Indie yang sangat mewarnai dunia perfilman di Banten. Rumah Dunia sering sekali mengeluarkan karya-karya yang sangat bagus dan orisinil, serta mengundang apresiasi masyakarat untuk menontonnya. Luarbiasa sekali sebagai pelopor awal di Propinsi Banten. Tidak hanya karya sendiri bahkan Rumah Dunia ikut mengapresiasi film-film karya dari luar. Terakhir atas jasa undangan Al Faris ikut menonton karya sineas film dari Austria mengenai kematian Munir di Ciloang.

Sedangkan dalam satu diskusi dengan Deka yang juga produser TV. Global, sangat bagus sekali. Ia memiliki ide yang sangat banyak bahkan film yang bertema surealisme dan eksistensialis sangat dikuasainya. Bagaimana sebuah fokus benda tanpa dialog dengan durasi pendek dapat bercerita sangat banyak apa yang telah dialami sebagai subyek. Hebat sekali dan sangat eksistensialis seperti paham Albert Camus.

Barangkali kontribusi saya hanya sebagai pengamat film dokumenter, mungkin yang paling mengejutkan ketika dimasa awal harus bersanding dengan budayawan lainnya sebagai pembicara membahas Gedung Makodim karya Jack Lamotta ketika mau dihancurkan sebagai pusat belanja Ramayana. Toto ST. Radik, Gola Gong, Iwan Nit-Net, Al Faris, dan begitupula Bahroji sebagai penyelenggara diskusi, mereka paling banyak memberi semangat untuk membahas film itu dari kacamata akademisi.

Film Indie adalah film yang memiliki kecenderungan berdurasi pendek berbeda dengan film berlayar lebar atau sinetron biasa seperti di televisi. Adapula kecenderungan film Indie ini juga merupakan pemberontakan terhadap film yang umumnya sangat mudah ditebak alur ceritanya. Jadi dalam film Indie ini lebih menekankan pada orisinalitas karya dengan semangat independensi yang dibuat oleh para sineas film, berbeda dengan production house yang secara reguler membuat film yang sudah terprogram.

Film Indie dan film lainnya dapat teridentifikasi dengan berbagai aliran yang mungkin dapat dikenali dengan mudah yaitu film documenter bertema naturalisme, realisme, surealisme, dll. begitupula film lainnya yang memiliki karakteristik berbeda (non documenter melalui skrip cerita dan naskah yang telah dibangun sebelumnya).

Tidak selalu karya film Indie ini sangat amatir dibuat, bahkan festival film documenter bertaraf internasional setiap tahun juga digelar, misalnya seperti Film Cannes di Kanada dan San Fransisco (San Francisco Documentary Festival) di Amerika Serikat.

Komunitas film Saijah dari generasi awal di Fisip Untirta didikan Forum Lenteng, tahun lalu telah mengikuti festival film di Meksiko dan meraih penghargaan. Saijah yang dikomandani Fuad, Beni dkk. telah menghasilkan karya yang cukup berprestasi diarena Internasional.Mengambil lokasi di Rangkas Bitung dengan tema yang cukup unik tentang kebiasaan masyarakat disana yang jarang menggunakan fasilitas MCK, lebih menyukai mandi dan buang hajat dikali. Bukan main.

Perkembangan Film Indie di Banten mungkin sangat muda, namun memiliki potensi yang sangat besar sekali mengingat Banten sangat kaya dengan narasi dan peristiwa yang unik dan memiliki kekayaan budaya yang cukup besar, baik pada masa tradisional klasik maupun kontemporer saat ini.

Srangenge Film Maker

Srangenge yang artinya matahari pagi dalam bahasa Jawa Serang lebih asli lagi yaitu Srengenge, kemudian diplesetkan “Srang ” dari arti kata Serang, telah melahirkan beberapa karya, yang terakhir adalah Perempuan Tanah. Film itu mengambil lokasi di daerah Serang Timur dimana kaum perempuan mengolah tanah sebagai mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya. Tema Realisme Sosial pada film ini cukup bagus bahkan menggunakan bahasa local sebagai pengantar dan cukup menarik sebagai upaya untuk memahami dan memaknai masyarakat local.

Selebihnya kami mungkin akan berkarya lebih banyak lagi dimasa datang dengan agenda yang tidak mengurangi kesibukan kami.

Teguh Iman Prasetya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s