Ranc SAP Cultural Studies (Metode Kerja)

Materi Pengantar

Cultural Studies (Kajian-Kajian Budaya)

Oleh : Antariksa

Cultural studies (kajian budaya) memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Berbeda dengan “kritik kebudayaan” yang memandang kebudayaan sebagai bidang seni, estetika, dan nilai-nilai moral/kreatif, kajian budaya berusaha mencari penjelasan perbedaan kebudayaan dan praktek kebudayaan tidak dengan menunjuk nilai-nilai intrinsik dan abadi (how good?), tetapi dengan menunjuk seluruh peta relasi sosial (in whose interest?).

Dengan demikian setiap pemilahan antara masyarakat atau praktek yang “berkebudayaan” dan yang “tidak berkebudayaan”, yang diwarisi dari tradisi elit kritisisme kebudayaan, sekarang dipandang dalam terminologi klas.

Bentuk kajian budaya dipengaruhi secara langsung oleh perlawanan untuk mendekolonialisasikan konsep tersebut dan untuk mengkritisi tendensi yang berusaha mempertahankan aturan-aturan yang mereproduksi kelas dan ketidaksamaan lainnya. Maka kajian budaya membangun sebuah kerangka kerja yang berusaha menempatkan dan menemukan kembali kebudayaan dari kelompok-kelompok yang sampai sekarang dilupakan. Inilah awal diperhatikannya bentuk-bentuk dan sejarah perkembangan kebudayaan kelas pekerja, serta analisis bentuk-bentuk kontemporer kebudayaan populer dan media dimasa lalu.

Tidak seperti disiplin akademis tradisional, kajian budaya tidak mempunyai ranah intelektual atau disiplin yang terdefinisi dengan jelas. Ia tumbuh subur pada batas-batas dan pertemuan bermacam wacana yang sudah dilembagakan, terutama dalam susastra, sosiologi, dan sejarah; juga dalam linguistik, semiotik, antropologi, dan psikoanalisa. Bagian dari hasilnya, dan bagian dari pergolakan politik dan intelektual tahun 1960-an (yang ditandai dengan perkembangan yang cepat dan meluasnya strukturalisme, semiotik, marxisme,dan feminisme) kajian budaya memasuki periode perkembangan teoritis yang intensif. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial makna dan kesadaran) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan ekonomi (produksi) dan politik (relasi sosial).

Maka kajian budaya membangun sebuah kerangka kerja yang berusaha menempatkan dan menemukan kembali kebudayaan dari kelompok-kelompok yang sampai sekarang dilupakan. Inilah awal diperhatikannya bentuk-bentuk dan sejarah perkembangan kebudayaan kelas pekerja, serta analisis bentuk-bentuk kontemporer kebudayaan populer dan media dimasa lalu.

Termuat di Newsletter KUNCI No. 1, Juli 1999

Alamat halaman ini:

http://kunci.or.id/esai/nws/01/kajian_budaya.htm

MATERI PENGANTAR

Apa Itu Kebudayaan ? Mengapa membahasnya?

Tempus mutantor, et nos mutamur in illid

Waktu berubah dan kitapun ikut berubah didalamnya (bahasa latin)

Hal inilah yang membuat kita mencari jejak makna tentang diri, orang lain, dan kehidupan bersama. Pemaknaan berubah mengenai kebudayaan dari pemeliharaan (cultivation) ternak, hasl bumi, dan upacara-upacara religious (abad 16-19) untuk perkembangan akal budi manusia dan perilaku hingga pembelajaran (enkulturasi dan sosialisasi) manusia. Dari sini kita dapat memahami mengapa seseorang disebut berbudaya dan tidak berbudaya.

Pada Revolusi Industri dalam kebangkitan Romantisme, budaya mulai menunjukan perkembangan kerohanian yang dikontraskan berbeda dengan perkembangan infrastructural dan perubahan material. Gerakan nasional juga ikut merubah pemaknaan atas budaya, ada budaya rakyat (folk culture) dan ada budaya nasional (national culture).

Williams, berani berpendapat perubahan – perubahan historis tersebut bisa direfleksikan kedalam tiga arus penggunaan istilah budaya, yaitu;

  1. Perkembangan intelektual, spiritual dan estetis.
  2. Memetakan khasanah kegiatan intelektual sekaligus produk-produk yang dihasilkan (film, benda-benda seni, dan teater) Budaya sebagai The Arts.
  3. Menggambarkan keseluruhan cara hidup, berkegiatan, keyakinan, dan atas kebiasan sejumlah orang, kelompok, masyarakat.

Kroeber dan Kluckhohn 50 tahun lalu lebih memetakan ke bhinekan pengertian budaya. Menurut mereka ada 6 enam pemahaman yaitu ;

  1. Definisi Deskriptif cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup social sekaligus menunjukan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya.
  2. Definsi Histroris cenderung melihat budaya sebagai factor warisan yang dari diteruskan dari generasi ke generasi.
  3. Definisi Normative, Terdiri dari 2 (dua) bentuk yaitu; 1)aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakan yang konkret, 2) menekankan peranan gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku.
  4. Definisi Psikologis, titik tekan pada peran budaya sebagai piranti pemecahan masalah yang membuat orang berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material dan emosional.
  5. Definisi Struktural, pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya adalah abstraksi (gambaran) yang berbeda dari perilaku yang konkret.
  6. Definisi Genetis, asal-usul bagaimana budaya dapat bertahan dengan eksis. Budaya dilihat dari lahir dari interaksi antar manusia dan tetap dapat bertahan karena ditransmisikan dari satu ke generasi berikutnya.

Definisi hingga saat ini masih bertahan tetapi mengalami pergeseran makna pemahaman yaitu ;

  1. Kebudayaan, cenderung diperlawankan dengan yang material, teknologis, dan berstruktur social.
  2. Kebudayaan, dilihat sebagai ranah yang ideal, spiritual dan non spiritual.
  3. Otonomi kebudayaan, lebih mendapat tekanan
  4. Sejumlah upaya dilihat untuk tetap berada pada zone netral-nilai (artinya tidak berat sebelah, misalnya menyamakan kebudayaan dengan kesenian)

Ed. Mudji Sutrisno

Cultural Studies

Bidang ilmu pengetahuan yang relatif baru ini dengan sengaja mengambil kata majemuk sebagai penamaan diri, yakni studies (kajian-kajian), bukannya study (kajian). Penamaan ini dengan sendirinya menyiratkan sikap dan positioning para penggagas cultural studies terhadap kondisi ilmu pengetahuan di era modern yang terkotak-kotak, saling mengklaim kebenaran, meskipun lambat laun dimengerti juga bahwa kebenaran yang dihasilkan disiplin ilmu pengetahuan bersifat parsial. Kondisi semacam itu dijawab oleh cultural studies dengan menempuh strategi inter dan multidisipliner. Cultural studies memasukkan kontribusi teori maupun metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk mengedepankan realita kehidupan umat manusia maupun representasinya yang dipandang krusial dalam kehidupan mutakhir.

Karena cultural studies merupakan bidang keilmuan yang multi, maka wilayah kajian, pendekatan, teori dan konsep, maupun pendekatan metodologisnya pun sangat bervariasi; sehingga tidak mungkin dibahas selengkap-lengkapnya dalam makalah ini. Berikut hanya akan dibahas beberapa hal yang saya pandang berkaitan dengan sejarah sosial (untuk bahasan selebihnya, silakan baca buku Chris Barker).

Salah satu ciri terpenting cultural studies adalah pemahamannya terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang perlu dicermati. Hal-hal yang biasa dilakukan, dirasakan, diomongkan, didengar, dilihat, digunjingkan, dalam kehidupan sehari-hari oleh orang kebanyakan merupakan wilayah amatan cultural studies.

Budaya bukanlah yang adiluhung saja. Pemahaman serupa ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari pemahaman antropologis atas budaya sebagai keseluruhan cara hidup (way of life) sekelompok masyarakat. Salah satu pondasi terpenting bagi pendekatan yang memandang budaya sebagai kegiatan sehari-hari adalah pemahaman tentang konstruksi sosial atas realita (the social construction of reality). Dalam perspektif ini realitas dipahami dan diabaikan, diperbincangkan dan dilupakan, dihidupi atau dimatikan, dikelola atau dirusak, dimanfaatkan atau dihindari, berdasarkan sistem konstruksi yang beredar di kalangan warga masyarakat.

‘Tugas’ cultural studies adalah membongkar dan memaparkan unsur-unsur penyusun konstruk tersebut dan cara kerjanya, agar manusia sebagai subyek dapat melibatkan diri secara aktif dalam dunia konstruksi.

Dalam era teknologi informasi dewasa ini perhatian cultural studies terhadap masalah konstruksi sosial atas realita telah mengarahkan perhatian mereka pada media komunikasi massa, khususnya televisi – namun, sebenarnya juga pada film, internet, handphone, radio, koran, majalah, poster, kotbah/pidato, gosip, dan sebagainya. Persoalan yang diajukan adalah perihal kaitan antara representasi dan media yang digunakan.

Di samping itu, perspektif atau cara pandang cultural studies juga ditandai dengan adanya kesadaran tentang kehadiran relasi kuasa (power relations) tak berimbang di antara para pelaku budaya, yang terwujud melalui relasi kuasa ekonomis, politis, ideologis, keagamaan, pendidikan, magis; di samping jasmaniah. Perhatian cultural studies terutama diberikan pada kelompok atau individu pelaku budaya yang terpinggirkan (marginalized), yang suaranya tidak didengarkan, yang kehadirannya diabaikan. Berkaitan dengannya, beberapa konsep terpenting dalam pendekatan konstruksi sosial atas realita adalah hegemoni dan identitas. Selanjutnya pemihakan pada yang terpinggirkan membawa cultural studies pada pemikiran, strategi dan praktik resistensi.

Dalam hal metodologi, cultural studies secara garis besar ditandai dengan gabungan antara metode dekonstruktif (mengurai unsur-unsur pembentuk struktur) dengan analisis teksutal (membedah struktur teks/bentuk ekspresi), metode etnografi (penggambaran rinci berdasarkan kacamata pemilik budaya), analisa respesi (komunikasi dipahami sebagai peristiwa interaktif antara sender dan reseptor yang dijembatani oleh media tertentu dalam konteks tertentu), dan meletakkan teori pada tingkatan praxis (‘teori’ yang dipraktikkan – theory of practice).

Dari Persamaan/Perbedaan ke Penyamaan/Pembedaan

Di antara ilmu-ilmu kemanusiaan lain, antropologi mempunyai posisi khusus dalam perbincangan seputar keragaman budaya. Kekhususan posisi yang dimaksud adalah bahwa antropologi merupakan ilmu yang sejak awal pertumbuhannya di akhir abad 19 hingga awal abad 21 ini menempatkan perbedaan dan keragaman budaya manusia sebagai fokus kajiannya.

Dalam rentang waktu lebih dari dua abad antropologi berusaha mencerna others (orang lain), yang di awal abad 20 dipahami secara sederhana sebagai orang non-Eropa-Amerika atau lebih tepatnya orang-orang kulit berwarna (merah, kuning, coklat, hitam), beserta cara hidup mereka yang berbeda dari cara hidup orang kulit putih. Bukti-bukti keberadaan orang-orang kulit berwarna dan cara kehidupan mereka dikumpulkan dari keempat penjuru dunia, dikelompokkan, untuk akhirnya dimaknai. Seiring dengannya dikembangkan pula metode-metode keilmuan yang dipandang tepat untuk mencerna others dan difference, dan pemikiran tentang perbedaan cara hidup mereka pun dirumuskan dalam bentuk teori-teori (dari teori evolusi, difusi, fungsional, fungsional-struktural, struktural (Perancis), hingga teori-teori interpretative-kritis dan pos-struktural).

Namun perhatian antropologi pada others, difference, atau keragaman budaya tidak serta merta ilmu ini membawa pada pemahaman tentang multikultural sejak dari awal. Pemahaman tentang multikultural berjalan seiring dengan gerak persebaran manusia di permukaan bumi yang menunjukkan gejala peningkatan sejak jaman kolonialisme, dan terus meluas saat bangsa-bangsa di daerah jajahan meraih kemerdekaan, hingga kini – saat jaring-jaring ekonomi, komunikasi dan transportasi melintasi dunia dan mempermudah orang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tidak seperti pada masa sebelumnya, yaitu saat others dan difference berciri spasial – yakni dijumpai di luar wilayah sendiri; saat ini others dan difference ada di dalam wilayah spasial sendiri, di halaman depan rumah kita.


Dalam situasi sekarang ini, yang oleh seorang antropolog Amerika berdarah India disebut global ethnoscape, budaya-budaya memang tetap memuat perbedaan; namun perbedaan tidak lagi bersifat taksonomis, melainkan interaktif (Appadurai, 1991). Perbedaan lebih dilihat sebagai hasil tindakan interaktif membedakan daripada sebagai sebuah esensi. Dengan kata lain, perbedaan (seperti halnya kesamaan) lebih dipahami ibarat sebuah titik pada seutas tali yang dapat digeser ke kanan atau ke kiri.

Demikianlah terjadi perubahan cara pandang dalam antropologi, misalnya, dari pemahaman suatu kelompok budaya sebagai ethnic (etnik, suku-bangsa) menjadi ethnicity (etnisitas, kesuku-bangsaan); dari Batak menjadi ke-Batak-an. Namun perlu ditambahkan, bahwa pada perspektif konstruktif ini perlu ditambahkan catatan bahwa ‘penggeseran’ titik pembatas kesamaan atau perbedaan hanya dapat dilakukan sepanjang utas tali tempat titik itu berada. Lebih jelasnya: pembedaan dan penyamaan dua atau lebih entitas hanya dapat dilakukan di atas landasan substansi yang nyata-nyata ada pada entitas-entitas tersebut. Implikasi lebih lanjut dari perspektif konstruktif seperti di atas berupa pemahaman tentang dimensi power relation (relasi kuasa) dalam tindak pembedaan/penyamaan (Eriksen, 1993). Dengan demikian, sifat multikultur atau keragaman pun – sebagai akibat dari tindak pembedaan dan penyamaan – berdimensi kuasa.

Perubahan tata pergaulan masyarakat dunia dan perkembangan pemikiran antropologis mengenai perbedaan/persamaan dan keragaman seperti digambarkan singkat di atas membawa problematika pada bidang etik ilmu ini. Permasalahan etik yang terimbas adalah persoalan relativitas budaya dan etnosentrisme. Etnosentrisme, suatu cara penilaian others berdasarkan sistem nilai sendiri, pada umumnya dipandang sebagai salah satu ‘dosa besar’ yang harus dijauhi antropolog.

Kritik tajam yang dilancarkan para antropolog pada pendiri ilmu ini antara lain berupa tuduhan sikap etnosentris para pencetus teori evolusi waktu itu. Dalam pandangan mereka, budaya seharusnya dinilai dengan menggunakan ukuran yang dipakai pemilik budaya itu sendiri, bukan hanya dalam persoalan penilaian moralitas, tetapi juga dalam cara pemahamannya. Sebagai tandingan atas etnosentrisme, dilancarkan pandangan relativitas (kenisbian) budaya.


Pada umumnya, antropolog berpegang teguh pada pendirian tentang sifat relatif dari budaya. Namun, seiring dengan meluasnya proses global ethnoscapes, ketika others hidup bersama di antara us, tampak adanya pemikiran ulang mengenai etnosentrisme dan relativitas budaya. Persoalannya adalah ternyata tindak penyamaan dan pembedaan yang dilakukan dalam masyarakat dengan keragaman budaya mengalami benturan-benturan yang berarti. Haruskah orang tetap bersiteguh pada relativitas budaya terhadap tetangganya yang berasal dari suku lain (other) yang mempekerjakan anak perempuannya sebagai pelacur? Apakah bila orang tersebut bersikap negatif terhadap tetangganya itu lantas dapat dicap sebagai etnosentris? Banyak permasalahan serupa muncul dalam masyarakat multikultur yang membawa Clifford Geertz berpendapat “Ethnocentrism … is not only not in itself a bad thing, but, at least so long as it does not get out of hand, rather good one” (Geertz, Clifford, 2001: 70). Lebih lanjut dikatakannya,“The trouble of ethnocentrism is not that it commits us to our own commitments. … The trouble with ethnocentrism is that it impedes us from discovering at what sort of angel … we stand to the world; what sort of bat we really are” (Geertz, 2001: 75).

Perkembangan pemikiran tentang perbedaan dan persamaan telah membawa pada pemahaman bahwa pada taraf tertentu perbedaan memang tidak dapat dielakkan dan kesamaan tidak dapat ditumbuhkan. Ada suatu bahaya bila etnosentrisme sangat ditekan dan kenisbian budaya sangat dijunjung tinggi, sebagaimana dikemukakan berikut ini

By trying too hard to avoid ethnocentrism, we have run the risk of removing all substance from the other’s reality, of remaining unaware that their questions are also our questions (and vice versa) and that their responses are therefore not arbitrary or exotic in a away that make them forever foreign or derisory to us (Auge,1999:34).


Searah dengan pendapat Auge, Melani Budianta juga mencatat bahwa“[…] multikulturalisme sangat rentan terjebak dalam politik identitas. Dalam memperjuangkan pengakuan atas keragaman budaya, orang berbicara atas nama suatu kelompok budaya tertentu, antara lain yang mengacu pada etnisitas, ras, agama, atau daerah. Karena perjuangan untuk mendapatkan hak terkait dengan identitas budaya tertentu, maka dengan sendirinya muncul persoalan mengenai kepemilikan terhadap identitas tersebut: siapa yang berhak bicara atas namanya.

Di Indonesia dalam era otonomi daerah, misalnya, orang mulai bicara tentang “putra daerah”, mulai mencari unsur-unsur daerah masing-masing yang paling asli dan otentik untuk dihidupkan kembali atau diangkat untuk mewakili kedaerahan tersebut. Eksklusifisme kelompok, “pengusiran” atau diskriminasi terhadap warga yang tidak dianggap memiliki hak atas identitas tersebut dapat terjadi sebagai eksesnya. Politik identitas semacam ini justru menghadirkan kembali esensialisme perspektif monokultural yang justru ingin didobrak oleh ideologi multikulturalisme (Budianta, 2003).


Lalu, bagaimana sikap yang seyogyanya diambil terhadap karakter keragaman masyarakat multikultural seperti itu? Geertz (2001) menawarkan jawaban berikut,

The uses of cultural diversity … lie less along the lines of sorting ourselves out from others and others from ourselves so as to defend group integrity and sustain group loyalty than along the line of defining the terrain reason must cross if its modest rewards are to be reached and realized.

Bagi saya jawaban Geertz menyarankan penerapan beberapa sikap dan kesadaran tertentu dalam kehidupan multikultural. Kesadaran utama yang diperlukan adalah kesadaran akan adanya perbedaan dan kesamaan, dan bahwa realitas perbedaan dan kesamaan tersebut merupakan konstruksi sosial. Sementara itu, interaksi dalam masyarakat multikutural menghendaki pengembangan sikap inklusif di atas sikap eksklusif, dengan mengupayakan ditemukannya titik-titik kesamaan pada tingkat transenden (bukan hanya pada level imanen), serta menuntut kesediaan warga untuk bersifat reflexive (reflektif).

Oleh: G.R. Lono Lastoro Simatupang (Dosen Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, UGM) Disampaikan dalam Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat, kerjasama Lafadl dan Desantara, di SAV PUSKAT Sinduharjo, Sleman, 25 Juli 2006.

–RANCANGAN–

METODE KERJA KAJIAN BUDAYA–

Materi ke-1

Budaya dan Integrasi Sosial

Menelusuri jejak Talcot Parson, Karl Marx (budaya adalah anti kebudayaan) dimana masyarakat dibingkai oleh proses-proses liberalism-kapitalisme akan mengalihkan pada kebudayaan humanis menjadi semata-mata materialis yang memunculkan kelas-kelas kontradiktif.

Talcot Parson, menyusun teori yang mampu menjelaskan ; kebudayaan, kepribadian, struktur social, sekaligus memunculkan fungsionalisme sebagai paradigma berfikir.

Analisis social mengalami kekeringan pada awal abad 20 (positivism, materialistis, dan rasionalistis)

Parson menawarkan sesuatu yang baru yaitu tindakan manusia yang bersifat sukarela (melampaui ranah sosiologi).

MATERI KE 2 (DUA)

Transformasi dari teori-teori abstrak ke dalam konteks Indonesia.

Transformasi budaya terjadi dalam masyarakat Indonesia.Tranformasi structural sama pentingnya dengan transformasi budaya menurut karya Mudji Sutrisno.

Kebudayaan sebagai perilaku, Andjar Dwi Astono dan Ario Soembogo menegaskan interaksi simbolik dijalani manusia melalui pola-pola relasi-relasi social. Pola-pola itu akhirnya dilembagakan menjadi system sehingga mengorbankan peran subyek pelaku, dan kurang member perhatian peran-peran konkrit.

Sebagai alternative jawaban melalui pendekatan-pendekatan Interaksi Simbolik, Fenomenologi, Ethnomethodologi. Model jawaban lain juga ditawarkan yaitu; Model E.Durkheimian yaitu simbolisme, klasifikasi, dan moralitas yang keramat (The Sacred) – yang profane (The Profane).

MATERI KETIGA

Strukturalisme dan Analisis Semiotika atas Kebudayaan (Guidarmo Carmo da Silva)

Strukturalisme Levi Straus dalam kajian budaya (Dwi Kristanto) VS. Eksistensialisme dan Fenomenologi (kebebasan manusia dan kejeniusan subyek pelaku tindakan)

Arus pemikiran strukturalisme Levi Strauss dalam Kajian Budaya oleh Dwi Kristanto. Tekanan pada hubungan struktur terhadap manusia yang sangat berpengaruh. Kejeniusan dan kebebasan manusia yang melewati batas dapat dikendalikan oleh system budaya. Sistem cultural lebih berpengaruh daripada kesadaran dan kejeniusan subyek pelaku tindakan.

Sejarah Perkembangan aliran strukturalisme beserta tokoh-tokoh kunci dan gugus kunci pemikiran.

Aliran ini kemudian mengalami masa radikalisme yang disebut Pasca Strukturalisme pada decade 1980-90 an. Kesamaan pokok ada pada pendekatan lingustik dan tekstual dan sama-sama menyatakan kematian subyek, namun pada paska strukturalisme yang menjadi trend pemikiran ini adalah relasi kekuasaan dan epistimologi.

Pasca strukturalisme Michael Foucalt dan gerbang menuju dialog peradaban,” Alexander Aur mencermati Michael Foucalt, filsuf Prancis, yang mengupas tema wacana secara mendalam. Bagi Foucalt wacana sangat penting bagi hidup social. Wacana berkaitan dengan relasi kekuasaan. Kekuasaan bukanlah monopoli Negara melainkan tersebar dimana-mana.

Kekuasaan menyangkut soal mekanisme dan regulasi. Kekuasaan juga berkaitan dengan pengetahuan. Pengetahuan mengandung kekuasaan dan kekuasaan mengandung pengetahuan.

Wacana, pengetahuan, dan kekuasaan adalah fakta sejarah yang dapat dipahami melalui analisa arkeologi. Jaques Derrida akan memperkaya kemudian dengan perayaan kemajemukan. Derrida menyajikan keberanian yang tidak asal berbeda tetapi keberanian filosofi berangkat dari kesadaran akan sifat terbuka realitas serta beragamnya cara dan sudut pandang dalam membaca realitas yang secara logis menghasilkan makna yang beragam pula. Keberagaman atau pluralitas bias dikatakan kata kunci aliran pasca strukturalis.

MATERI KE EMPAT

Budaya , Struktur, Dan Pelaku

Pendekatan yang digunakan adalah Marxisme, Fungsionalisme, Durkheimian, Fenomenologi, Ethnometodologis, Strukturalisme dan Pasca Strukturalisme dengan pendekatan lain hermentika, psikoanalisis dan paska modern.

Diharapkan menjadi jembatan diantara dua system yang ekstrim, makro, system, subyek pelaku.

MATERI KE LIMA

Budaya sebagai Teks dan Pendekatan Psikoanalisis Terhadap Budaya Dan Diri Manusia.

Budaya sebagai Teks oleh MH. Nurul Huda dan Psikoanalisa terhadap budaya dan diri manusia.

MATERI KEENAM

Analisa Budaya dari Pasca Modernisme dan Modernitas

MATERI KETUJUH

Tubuh dan kesadaran imajinasi.

Gading Sianipar mencoba bersikap kritis terhadap budaya media visual dan imajinasi yang mencitrakan tubuh dalam iklan – iklan diruang publik.

MATERI KEDELAPAN

Cyber – Culture

MATERI KESEMBILAN

Identitas Budaya Indonesia sebagai wacana menghadapi tantangan perubahan sosial yang cepat dan dahsyat.

Diambil dari Teori-Teori Kebudayaan

ed. Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto

dan berbagai sumber

—0—

C y b e r C u l t u r e

Oleh: ANTARIKSA

Term cyberspace diperkenalkan tahun 1984 oleh William Gibson dalam novelnya Neuromancer (sebelumnya cyberspace disebut sebagai the Net, the Web, the Cloud, the Matrix, the Metaverse, the Datasphere, the electronic frontier, the Information Superhighway, dll.). Cyberspace menjadi setting utama novel-novel Gibson selanjutnya, Count Zero (1986), Mona Lisa Overdrive (1988), dan Virtual Light (1993). Belakangan karya fiksi yang memakai gaya Gibson disebut cyberpunk. Tokoh utama cyberpunk, selain Gibson, adalah Pat Cadigan yang menulis Patterns (1989), Synners (1991), dan Fools (1994). Dalam Neuromancer Gibson menjelaskan cyberspace sebagai “pamandangan yang dihasilkan oleh komputer-komputer yang ‘ditancapkan langsung’—kadang juga dengan langsung memasukkan elektroda-elektroda ke dalam soket-soket yang ditanamkan di otak”.

Yang dijumpai dalam cyberspace adalah representasi 3 dimensional semua informasi yang ada dalam “setiap komputer dalam sistem manusia”—sebuah gudang yang sangat besar dan sebuah lautan data. Atau dalam penggambaran Gibson, “…sebuah tempat dengan kompleksitas yang tak terpikirkan, dengan kelompok garis-garis cahaya dan merupakan konstelasi-konstelasi data. Seperti sebuah kota cahaya…”

Apa yang paling penting dari cyberspace sebenarnya bukanlah kabel-kabel, telepon, atau komputer jaringan. Sebab semuanya itu hanyalah menunjuk pada kendaraan, hanya menunjuk jalan raya informasi, dan bukannya tujuan yang disebut Gibson: kecemerlangan kota cahaya di akhir jalan itu. Lebih dari sekedar “wiring system” ataupun internet, cyberspace adalah sebuah pengalaman, adalah tentang masyarakat yang memakai teknologi baru untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya secara genetis sudah mereka programkan, yaitu berkomunikasi.

Kajian ‘Cyberculture’ dalam Kajian Budaya

Dalam kajian budaya, cyberspace didekati melalui kritik yang lebih luas (semua ini bisa dimasukkan dalam ranah kajian cyberculture), yang meliputi aspek-aspek sosial, ekonomi, dan terpenting adalah aspek ideologi politik dari cyberspace. Alasannya, menurut Krista Scott, karena revolusi digital sesungguhnya adalah tentang kekuasaan.

Sherry Turkle mungkin bisa disebut sebagai pelopor kajian cyberculture dalam kajian budaya. Ia sudah mulai meneliti hubungan antara manusia, komputer, dan kepribadian sejak awal ‘80-an. Dalam buku mutakhirnya, Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet (1995) ia mengatakan bahwa dulu komputer merupakan metanaratif modernisme yang terbesar, komputer adalah kisah bagaimana pekerjaan dibuat menjadi lebih ringkas dan menarik. Sekarang, di era postmodern, dengan komputer yang mampu menciptakan “budaya simulasi”, konstruksi ideologi modernisme tentang komputer mulai bergeser. Komputer bahkan memberikan jalan untuk berpikir lebih konkret tentang krisis identitas.

Menurut Turkle, dalam dunia simulasi identitas dapat mencair dan menjadi multi-identitas. Internet adalah contoh yang paling eksplisit tentang multi-personalitas. Cyberspace memungkinkan pemakainya untuk menggunakan identitas yang diingininya. Seseorang bisa dengan mudah mengasumsikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan (“dalam cyberspace tak ada yang tahu bahwa Anda adalah seekor anjing”). Jenis identitas seperti ini membuat orang merasa lebih memahami aspek-aspek tersembunyi dari diri mereka sendiri lewat merayakan kebebasan dalam dunia anonimitas. Ia menyim-pulkan bahwa internet telah menjadi laboratorium sosial yang penting dalam percobaan mengkonstruksi dan merekonstruksi diri yang mencirikan kehidupan postmodern. Dalam cyberspace, self menjadi self-fashion dan self-create.

Teoritisi lain—seperti Stephen Levy, John Markoff, Hugo Cornwall, dll.—mengembangkan konsep tentang identitas dan anonimitas ini ke wilayah politik. Dalam cyberspace sesungguhnya sejarah manusia telah memasuki sebuah era akhir sosial.

Transparansi sosial memuncak, ditandai dengan lenyapnya kategori sosial, batas sosial, dan hierarki sosial yang sebelumnya membentuk suatu masyarakat. Pemikir Perancis Jean Baudrillard menyatakan bahwa dalam cyberspace yang berlaku bukanlah hukum kemajuan—sebab kemajuan selalu berarti ekspansi teritorial—melainkan hukum orbit. Lewat hukum orbit segala sesuatu berputar secara global, berpindah dari satu tempat ke tepat lain, dari satu teritorial ke teritorial lain, dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Dalam proses perputaran itu semua wujud berubah menjadi virtual.

Mengikuti teori Michel Foucault tentang hubungan kekuasaan dan pengetahuan, beberapa pemikir sampai pada kesimpulan bahwa era cyberculture adalah era matinya politik. Kesimpulan ini berangkat dari asumsi bahwa cyberspace adalah dunia informasi. Informasi berbeda dengan pengetahun (knowledge), sebab informasi tidak membutuhkan basis pengalaman.

Cyberspace hanyalah lalu lintas informasi, data-data yang bersliweran. Sebagai konsekuensi pemikiran semacam ini, maka kekuasaan menjadi tidak ada. Sebab bagaimana mungkin kekuasaan bisa bekerja tanpa pengetahuan? Wajar jika kemudian Dan Thu Nguyen dan Jon Alexander mendeklarasikan sebuah era berakhirnya politik.

Nicholas Negroponte, pendiri MIT Media Lab, mengajukan sebuah “metafisika cyberspace“. Menurutnya dalam cyberspace partikel fundamental bukanlah atom—sebagaimana dalam “dunia nyata”—melainkan bit (digit biner). Bit merupakan unsur atomik terkecil dalam DNA informasi. Bit disimbolkan sebagai 1 atau 0 (menunjuk keadaan dua keadaan: on-off, atas-bawah, hitam-putih, dst.).

Bit selalu menjadi partikel dasar komputasi digital. Ciri utamanya: tidak mempunyai berat dan mampu bergerak dalam kecepatan cahaya. Dalam cyberspace, semua produk kebudayaan selalu berbentuk bit (prinsip sebenarnya: bentuk atomis yang dimampatkan menjadi digital). Dulu untuk mengirim lukisan Andi Warhol dari Amerika ke Indonesia dibutuhkan kemasan yang besar dan bisa makan waktu berminggu-minggu. Untuk hal yang sama, dalam cyberspace hanya dibutuhkan waktu sepersekian detik saja tanpa butuh jasa FedEx.

Jika kebudayaan lama digerakkan oleh atom, kata Negroponte, maka cyberculture digerakkan oleh bit. Ekonomi lama yang mengandalkan industri benda-benda, dalam cyberspace digantikan oleh industri informasi/industri bit. Nilai sebuah bit ditentukan oleh kemampuannya untuk dipakai secara berulang-ulang (karenanya bit Mickey Mouse lebih mahal ketimbang bit Forest Gump). Logika ekonomi lama (semisal teori bahwa pabrik dan toko yang besar adalah modal yang amat berharga) dijungkirbalikkan dalam cyberspace (karena yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah sebuah homepage, dan sebuah pabrik atau toko yang besar justru adalah pemborosan).

Dalam perkembangannya yang mutakhir, studi cyberculture sudah meliputi tema-tema yang amat luas. Donna Haraway misalnya, menulis feminisme dengan basis technoscience dalam sebuah buku unik: Modest_Witness@Second_Millenium. FemaleMan©_Meets_OncoMousetm: Feminism and Technoscience (1997). Maurice Estabrooks menulis tentang masa depan kapitalisme dalam cyberspace, Programmed Capitalism: A Computer Mediated Global Society (1988).

Tema-tema yang membahas tentang yang virtual dan yang nyata juga sangat populer, misalnya Jean Baudrillard menulis Hyperreal America (1993), Michael Heim menulis The Metaphysics of Virtual RealityData Trash: The Theory of the Virtual Class (1994). (1993), atau Arthur Kroker yang menulis Ada juga kelompok ilmuwan inter-disipliner dan para partisipan, misalnya mahasiswa, operator komputer, profesor, dan konsultan komputer. Para anggota tetap kelompok yang bernama Interrogate the Internet ini terdiri dari Heather Bromberg , Marco Campana, Wade Deisman, Reby Lee, Rob Macleod, Thomas Pardoe, dan Marc Tyrell.

Termuat di Newsletter KUNCI No. 2, September 1999

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/nws/02/cyberculture.htm

Iklan

2 pemikiran pada “Ranc SAP Cultural Studies (Metode Kerja)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s