APBN 2009 Masih Bergantung pada Utang

JAKARTA – Kredibilitas RAPBN 2009 dipertanyakan. Pasalnya, selain penyusunan asumsi makro maupun alokasi anggaran dilakukan secara tergesa, pembiayaannya juga masih sangat bergantung pada utang.

Ekonom Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, RAPBN 2009 masih tidak jauh berbeda dengan APBN tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, defisit pembiayaan anggaran masih sangat tinggi, yaitu 1,9 persen terhadap PDB atau Rp99,6 triliun dari total belanja pemerintah.

“APBN kita masih sama dengan tahun-tahun lalu dengan defisit yang besar, apalagi ditambah dengan anggaran pendidikan, pembayaran utang. Risikonya, kita akan sangat tergantung dari utang baik dalam maupun luar negeri,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/08/2008).

Menurut Erani, bila kondisi tersebut tidak berubah dalam jangka panjang, dikhawatirkan bakal menjadi beban pembiayaan pemerintah. “Dan ini artinya, siklus gali lubang tutup lubang masih akan terus terjadi,” kata dia. ?

Sementara itu, Ekonom Universitas Gajah Mada Revrisond Baswir berpendapat, penyusunan defisit dilakukan secara main-main, diputuskan dalam detik-detik terakhir.

“Begitu pun asums-asumsi-asumsi makro seperti pertumbuhan ekonomi terlihat seperti dipaksakan,” ujar Revrisond.

Revrisond menyebutkan, target pembiayaan defisit APBN sebesar Rp99,6 triliun atau 1,9 persen terhadap PDB. Padahal beberapa hari sebelumnya, Departemen Keuangan sudah menyatakan bahwa defisit APBN 2009 diusulkan sebesar 1,5 persen terhadap PDB.

Menurutnya, meski kemudian perubahan target defisit pembiayaan dilakukan guna memenuhi kuota alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total APBN, namun tidak seharusnya dilakukan beberapa saat sebelum RAPBN dan nota keuangan disampaikan ke DPR. “Kalau itu dilakukan untuk itu (pendidikan) itu, OK. Tapi yang saya sesalkan dilakukan secara tiba-tiba. Seolah-olah tidak dilakukan secara terencana,” tandasnya.

Keraguan terhadap kredibilitas RAPBN 2009 juga ditandai dengan perubahan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sebesar USD100 per barrel. Sebelumnya, pemerintah telah mengatakan, bahwa asumsi harga minyak akan diusulkan pada level USD130 dengan cadangan resiko USD160 per barel.

Bahkan perumusan proyeksi sejumlah asumsi makro, kata dia, terkesan dipaksakan. Revrisond mencontohkan pada target pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi masing-masing pada 6,2 persen dan 6,5 persen. Menurutnya, situasi ekonomi yang berkembang saat ini masih terlalu rentan untuk mengejar asumsi-asumsi makro tersebut.

Pendapat senada diungkapkan Peneliti Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam. Latif menilai, manajemen penganggaran dan penentuan RAPBN 2009 belum cukup komprehensif dan masih terkesan tidak terencana secara matang.

Senada dengan Revrisond, Latif melihat penentuan defisit pembiayaan yang terkesan tergesa-gesa dengan diputuskan hanya beberapa sebelum nota keuangan disampaikan kepada DPR. “Ini yang mungkin harus terus kita kritisi. Jangan sampai pemerintah terus-terusan dibebani tanggung jawab penutupan defisit pembiayaan,” ujarnya.

Kepala Ekonom BNI A Tony Prasetiantono mengatakan, pemerintah harus mewaspadai defisit pembiayaan pada RAPBN 2009. Pasalnya, target defisit sebesar 1,9 persen terhadap PDB sudah berada pada ambang batas maksimum yang bisa ditoleransi.

“Ambang toleransi defisit APBN untuk emerging country seperti kita adalah 2 persen. Karena itu, dengan defisit 1,9 persen tersebut pemerintah harus berhati-hati,” ujarnya.
Tony mengungkapkan, berdasarkan pengalaman, daya serap APBN kurang besar. Bila hal itu terjadi pada tahun 2009, maka defisit APBN bisa diturunkan pada kisaran 1,6-1,7 persen. Menurutnya, angka ini cukup aman bagi sustainabilitas fiskal pemerintah. (Zaenal Muttaqin /Sindo/rhs)

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/08/19/20/137889/20/apbn-2009-masih-bergantung-pada-utang

Iklan

2 pemikiran pada “APBN 2009 Masih Bergantung pada Utang

  1. menurut saya,, Apbn 2009 ini, belum bisa berjalan dengan sebagaimana yang dikehendaki oleh pemerintah,, kita lihat saja dari judulnya di atas, “APBN 2009 Masih Bergantung pada Utang”, nah dari situ saja kita sudah dapat mengatakan bahwa APBN pada tahun 2009 ini masih sama kayak APBN pada tahun yang sudah-sudah, diharapkan manajemen penganggaran dan penentuan RAPBN 2009 melakukan perbaikan-perbaikan agar RAPBN dapat berjalan lebih baik dari tahun yang sudah-sudah., terima kasih.

  2. Menurut saya,, Apbn pada tahun 2009, masih belum berjalan sebagaimana mestinya dikarenakan defisit pembiayaan yang sangat besar, takut nya akan mengkhawatirkan beban pembiayaan yang ditanggung oleh pemerintah.
    penentuan defisit ini dilakukan tergesa.gesa,, oleh karena itu sangat saya sesalkan, seharusnya dilakukan secara terencana agar Apbn bisa berjalan dengan sebagaimana mestinya,, agar tidak terjadi lg pada tahun yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s