Kisah Cinta Komik Indonesia

 

ADAKAH CERGAM INDONESIA?

oleh Ifan Adriansyah Ismail
dipublikasikan di harian Media Indonesia, Rabu, 20 Februari 2008

“Jepang banget!”
“Gaya Amerika tidak masuk akal di sini. Mana ada orang
Indonesia
posturnya seperti itu?” “Bikin cergam yang meng-Indonesia dong.”“Blablabla…”

Dari penikmat musiman sampai yang mbahurekso dunia cergam Indonesia agaknya kenyang mendengar kalimat-kalimat itu (catatan: cergam, sebutan untuk komik asli Indonesia). Apakah cergam Indonesia? Perdebatannya tak kunjung usai. Sampai sebuah suara pragmatis muncul, “Sudahlah, komik memang sudah medium Barat. Yang penting bagaimana memanfaatkan mediumnya.”

Demi menjaga kewarasan berkarya, mungkin sikap itu patut ditiru. Tapi, jika memerhatikan betapa karakter sebuah bangsa bisa begitu menonjol dalam cergamnya tetap saja memancing pertanyaan. Kenapa kita bisa membedakan cergam Amerika, Eropa dan Jepang? Lalu, kenapa Indonesia tidak juga bisa ‘dikenali’?

Cergam di Amerika yang dimulai dari komik humor memang tak diniatkan serius. Sementara di Eropa cergam justru dinobatkan sebagai seni kesembilan. Jadi apa rahasia ciri khas cergam Amerika dan Eropa? Karakter!

Di Jepang, kasusnya lebih unik. Lewat semangat memodernisasi diri dengan Restorasi Meiji-nya, Jepang pernah me-reset kebudayaannya. Jepang mengejar hal-hal berbau Barat. Tapi, proses selanjutnya selalu mengejutkan karena yang muncul adalah j-rock dan Harajuku.

Demikian juga dengan cergam. Komik guyonan pendek khas Amerika disintesis. Bahkan Jepang lalu mengekspornya ke seluruh dunia. Apa rahasianya? Lagi-lagi karakter!

Maka jangan-jangan kegamangan mencari identitas cergam Indonesia sebetulnya juga keraguan dalam mengartikan ‘Indonesia? Karena itu untuk menjawab, “Apa itu cergam Indonesia?”, juga harus memnuntaskan, “apa itu Indonesia?”

Cergamis Indonesia dan kebanyakan orang di negeri ini kerap terjebak pada pandangan Indonesia berarti visualisasi candi atau adopsi gaya wayang di tempat yang keliru. Setelah ini apa, robot berbaju batik?

Baiklah, memang bukan sepenuhnya kesalahan cergamis. Karena itulah yang mereka dan kita tahu tentang Indonesia.

Sudah saatnya, aspek budaya lebih diperhatikan dalam pendidikan. Selama ini kurikulum banyak dijungkirbalikkan untuk memenuhi kebutuhan pabrik dan mesin uang.

Belajar dari kasus Jepang, bukankah yang namanya budaya tidak pernah bersih dari pengaruh luar? Justru sintesis terus-menerus dari yang telah ada, itulah pergerakan budaya yang sesungguhnya dan yang seharusnya.

Tak kurang bukti menunjukkan bangsa-bangsa yang terkumpul menjadi Indonesia ini memiliki dasar budaya visual yang kuat. Kita bisa menyodorkan relief Borobudur, wayang beber, atau lontar Arjuna Wiwaha. Tak beda dari Jepang, kita pun sebenarnya memiliki dasar budaya bercerita visual yang kuat. Apa yang kemudian melenyapkannya? Untuk sementara, kita dapat menimpakan kesalahan pada kolonialisme atau pada budaya baca kita yang memang.

Tapi, bukankah proses naratif visual kita yang miskin teks tapi diperkaya budaya oral, justru memungkinkan munculnya genre cergam baru?

Ramaikan saja dunia cergam kita dengan karya-karya baru nan segar. Jangan-jangan, seperti juga dunia film, yang kita butuhkan hanyalah perintis yang berani duluan!

Semoga, seiring dengan proses perkembangan kedewasaan khayalak cergam, akan ditemukan karakter cergam negeri ini.


Jika setelah beberapa generasi, upaya itu tak membuahkan hasil, kenyataan itu pun sudah mencerminkan karakter kita yang sesungguhnya. Seberapa pun menyedihkannya!

 

Monday, 25 February 2008

Klik Beli Komik Indonesia Disini

Sejarah baru komik lokal

Oleh Surjorimba Suroto
Dipublikasikan di harian Koran Tempo, suplemen Ruang Baca, 24 Februari 2008

Sebuah layanan baru dari operator telepon seluler Telkomsel belum lama ini diluncurkan dan ditujukan terutama bagi mereka yang menyukai komik. Dengan layanan yang dinamai M-Komik (http://www.m-komik.co.id) itu, kini para pelanggan operator yang bersangkutan dapat membaca komik melalui layar ponsel. Layanan yang terbilang baru di Indonesia ini didukung oleh inTouch sebagai penyedia perangkat lunak dan tiga komunitas komik: Akademi Samali, Splash, dan KomikIndonesia.com.

Acara peluncuran M-Komik ketika itu dipimpin langsung oleh Kiskenda Suriahardja, Direktur utama Telkomsel, dan dihadiri pula oleh sang legenda komik nasional, R.A. Kosasih. Selain mengundang sambutan meriah, banjir pertanyaan perihal prospek masa depan M-Komik menjadi topik utama. Apakah masyarakat tertarik membaca komik di layar ponselnya? Bukankah layar ponsel memiliki ukuran terbatas? Masih ada belasan pertanyaan lain seputar komik ponsel ini.

Semua pihak yang terlibat menyatakan optimisnya. ”Saya yakin komik ponsel ini akan membangkitkan lagi gairah membaca komik di kalangan pembaca,”ujar R.A. Kosasih saat dimintakan pendapatnya. Mengapa tokoh yang oleh banyak pihak dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia berharap seperti itu? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sejak awal dekade 1990-an, komik nasional seakan tak mendapat tempat di hati pembaca komik.

Banjir komik terjemahan asal Amerika, Jepang dan Eropa sejak satu dekade sebelumnya membuat komik Indonesia bertarung head-to-head di pasar. Pilihan menjadi semakin beragam, dan kondisi pasar akhirnya berbicara. Para seniman komik pun satu per satu mengendor atau beralih profesi, termasuk sang legenda, R.A Kosasih, yang menutup perjalanan karirnya. Bahkan industri penerbitan, distribusi dan toko buku tak banyak mendukung. Perlahan komik nasional pun memudar dari pentas dunia gemerlap.

Memang komik lokal tidak mati atau kalah begitu saja. Secara sporadis komikus generasi muda lahir dan melahirkan karya dengan cara-cara baru. Go Indie, begitu istilah yang populer bagi para seniman yang secara independen mencoba untuk terus melawan dominasi komik terjemahan. Namun terjangan badai sangat kuat, dan sulit rasanya untuk kembali menjadi raja di negeri sendiri.

Situasi inilah yang melatarbelakangi lahirnya M-Komik. Satu pihak mengajak pihak lain bekerja sama, dan kini lahirlah era baru dalam komik nasional. Tak banyak riwayat masa lalu tentang cikal bakal komik ponsel di Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan negara lain. Di Amerika dan Jepang, contohnya, komik ponsel sudah sangat populer dan mempunyai pasar sendiri.

Sudah satu dekade yang lalu komik sebenarnya memasuki era digital. Di banyak negara sebagian artis sudah memulainya dengan memproduksi komik yang hanya bisa diperoleh secara digital-artinya, tidak tersedia dalam media kertas. Komik digital ini hanya bisa dinikmati melalui layar komputer.

Tak lama pembaca pun bisa berlangganan komik secara online, gratis, ataupun bayar. Sepanjang anda terhubung dengan dunia maya, anda sudah dapat menikmatinya. Dimanapun dan kapanpun anda berada.

Tentu saja komik digital memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda dengan komik kertas. Tapi pembaca mulai terbiasa dan bukannya tidak mungkin dalam waktu dekat akan lahir sebuah revolusi: anda tak dapat lagi mendapatkan komik tercetak di kertas. Isu pengrusakan lingkungan, pemanasan global, semakin berkurangnya bahan baku kertas, dan makin berkurangnya luas hutan di seantero dunia menjadikan harga kertas tidaklah murah seperti dulu. Dunia membutuhkan alternatif.

Komik digital tidak luput dari kekurangan, termasuk pula komik ponsel. “Kesulitan utama adalah media yang terbatas, sementara komikus harus dapat menyampaikan gagasan dalam ruang yang terbatas tersebut,“ begitu diakui oleh Beng Rahadian dari Akademi Samali.

Hal serupa juga diakui Ariela Kristantina dari Splash.”Keterbatasan pada layar ponsel membuat komikus terpaksa mengurangi text balloon pada setiap panel gambar. Bahkan tidak ada sama sekali, karena teks pada balon sulit dibaca,” katanya. Padahal, menurut dia, komik ponsel mensyaratkan teks berjalan di setiap panel sebagai pengganti balloon text. Bentuk panel pun harus seragam, yaitu landscape semua atau portrait semua. Tidak bisa bervariasi sebagaimana buku komik. Belum lagi pewarnaan secara digital, bukan dengan kuas dan cat”

Namun semuanya menjadi tantangan bagi komikus. Tidak ada kata menyerah sebelum mencoba. Prinsip ini yang diusung para komikus senior seperti Hans Jaladara, Mansjur Daman, Armin Tanjung, Djair Warni, dan lainnya saat ikut terjun meramaikan M-Komik. Mereka tak mau kalah bersaing dengan semangat komikus muda seperti Zarki, Wahyu Hidayat, Vanessa Maryanto, Olivia Twilanda, Diyan Bijac, dan puluhan lainnya.

Karya-karya Teguh Santosa, Wid NS dan Ganes Th pun ikut berpartisipasi, walaupun terpaksa ’disesuaikan’ agar memenuhi syarat komik ponsel. Semua komikus itu yakin bahwa komik ponsel menjadi alternatif yang menjanjikan, baik dari segi kreatif maupun segi komersial. Keyakinan ini seakan jawaban atas keraguan sebagian komikus yang belum yakin dengan manfaatnya serta awam dengan media dan persyaratan teknis.

Pembaca dapat menikmati pula berbagai efek melalui ponselnya, seperti suara bom atau pistol meletus, derap langkah kaki, atau jeritan korban. Sensasi berupa audio dan getaran pada ponsel tentunya tak didapat pada buku komik. Tetapi untuk bisa menikmati M-Komik ada beberapa persyaratan teknis pada ponsel anda. Mulai dari kapasitas memori, GPRS dan bluetooth, serta operating system berbasis Java atau Symbian. Terdengar eksklusif dan njlimet, memang, tapi teknologi yang dibangun dirancang untuk mendekati imajinasi tim kreatif. Bukannya tidak mungkin dalam perkembangannya, semua menjadi lebih mudah.

Era baru dalam sejarah komik nasional telah lahir. Sudah siapkah anda dan pesawat telepon seluler anda?

 

Iklan

4 responses

  1. nampaknya diperoleh terdapat keasyikan tersendiri bila kita membicarakan komik Indonesia. senikmat anak-anak mengunyak pemen karet, senikmat pegawai negeri membicarakan kenaikan gajinya. tapi apa hasilnya? sementara waktu terus berjalan, maukah terus hanya bicara? bagi saya, untuk menupkan kembali nyawa pada KI yang sudah mati itu, diperlukan seorang Nabi Isa pada seseorang yang memang punya niat baik untuk membangkitkan kembali salah satu bentuk kebudayaan Indonesia itu dan juga dia punya duit. dengan duitnya itu, lebih dulu ia kumpulkan para hamba KI (kreator-pelukis-pencerita, kritikus-peneliti-ahli budaya, penjual-toko buku, ahli hukum-hak cipta, peminat-penggemar-pembeli, + lain-2), lalu mereka bicara apa yang pertama dan selanjutnya harus dilakukan. tapi bicaranya jangan lama-lama, kan yang paling perlu bertindak? jangan lupa juga berdoa! jadi begitu, menurut saya. wasssalam …

    Kamis, November 12, 2009 pukul 9:09 am

  2. Ping-balik: Recent Faves Tagged With "komik" : MyNetFaves

  3. sudah seriang lihat
    dulu kita memiliki majalah humor yang menampung para kartunis termasuk Lat dari malaysia yang sering mengambil icon dan makna dari budaya dan peradaban indonesia.

    dlu majalah humor kita memiliki
    sawung kampret ….
    bagus sekali sayang tidak dilanjutkan dan krg peminat jika saja di jadikan tersendiri semodel komik khusus seperti Tintin karangan herge atau asterix mungkin hebat dan legendaris.

    komik kreatif belum muncul dan pabrik ide ada di indonesia bahkan dora emon (kompas)
    awalnya adalah dari script gbr dari bali
    dan banyk lagi

    khasanah budaya kita sangat banyak semodel sawung kampret atau lain-lain masih belum kita eksplorasi dengan bagus.

    barangkali anda ada ide, naskah dan jago gambar
    ayo teruslah maju
    siapa takut !!!!!!!!!!!!!!!!

    Jumat, September 12, 2008 pukul 8:11 pm

  4. kemaren ku liat kartun malaysia judulnya “bola kampung”. sakit hati sih… soalnya banyak adegan dan gambar yang menurutku Indonesia banget… contohnya: motor vespa, dan becak…

    Jumat, September 12, 2008 pukul 4:58 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s