Aviliani: Inflasi 2009 bakal lebihi asumsi APBN

Aviliani: Inflasi 2009 bakal lebihi asumsi APBN
Jumat, 15 Agustus 08

Jakarta, Koran Internet: Pengamat ekonomi Aviliani memperkirakan inflasi tahun 2009 bakal di kisaran 8-9 persen, lebih tinggi dari asumsi tingkat inflasi pada APBN 2009 sebesar 6,5 persen menyusul bayang-bayang dampak kenaikan harga minyak.

“Saya tidak yakin dengan asumsi pemerintah yang mematok inflasi pada kisaran 6,5 persen karena tingkat suku bunga di dalam negeri juga masih cenderung tinggi,” kata Aviliani di Jakarta, Jumat (15/8), menanggapi asumsi indikator makro ekonomi Indonesia RAPBN 2009.

Selain dampak kenaikan harga minyak, Menurut dia, inflasi masih dipengaruhi efek lanjutan krisis sektor kredit perumahan (suprime mortgage) di AS yang telah meningkatkan kredit bermasalah (NPL) di perbankan.

“Hampir dipastikan hingga pertengahan 2009 Fed Fund (Bank Sentral AS) menaikkan bunga. Saat seperti itu tingat bunga di dalam negeri seharusnya diturunkan bukan justru naik untuk meredam inflasi,” tegasnya.

Dalam lima bulan terakhir Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dan mencapai level 9 persen, demi meredam tekanan inflasi akibat gejolak harga minyak dan melonjaknya harga komoditas di pasar internasional.

“Kenaikan BI Rate cenderung tergesa-gesa, sehingga pada posisi yang tinggi saat ini sulit untuk diturunkan secara drastis. Ini mengakibatkan dampaknya terhadap inflasi masih akan besar,” katanya.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi Juli 2008 mencapai 1,37 persen, inflasi tahun kalender (Januari-Juli) mencapai 8,85 persen, dan inflasi tahunan (year on year) 11,9 persen.

Meski begitu, Aviliani mengatakan, memasuki semester II 2009, tekanan inflasi kemungkinan menurun seiring perkiraan membaiknya kondisi ekonomi AS pasca terpilihnya Presiden di negara itu.

Upaya untuk meredam inflasi di dalam negeri tergantung keberhasilan pemerintah mengatur distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan mengawasi harga pangan, katanya.

“BBM jelas memberi tekanan, tetapi pangan juga karena bahan makanan merupakan salah satu komponen tertinggi penyumbang inflasi,” ujarnya.

Menurut Aviliani, inflasi bukan semata bagaimana mengatur harga barang dan jasa, tetapi bisa juga akibat penggunaan subsidi yang tidak tepat sasaran, sehingga memicu inflasi.

APBN jangan sekedar bernilai besar

Aviliani juga mengatakan, struktur APBN 2009 yang pertama kali tembus di atas Rp1.000 triliun seharusnya diikuti pengelolaan anggaran belanja yang efisien sehingga menggerakkan ekonomi. “Ibarat perusahaan, prinsipnya ada tambahan pendapatan, tetapi pengeluaran harus dapat ditekan seminimal mungkin.”

Ia mengharapkan struktur APBN 2009 yang mencapai Rp1.122,2 triliun jangan sekedar nilainya yang besar, tetapi pemerintah harus mampu menekan pengeluaran sehingga memiliki daya dorong untuk pertumbuhan ekonomi.

“Selama ini, belum terlihat langkah konkrit ke arah pengelolaan pengeluaran, sehingga jangan sampai anggaran ditingkatkan tetapi tidak berdampak apa-apa terhadap perputaran ekonomi,” katanya.

Pada RUU APBN 2009 pemerintah menganggarkan total subsidi sebesar Rp227,2 triliun atau 27,8 persen dari total anggaran belanja pemerintah pusat pada 2009.

Subsidi dialokasikan untuk bahan bakar minyak (BBM) Rp101,4 triliun, subsidi listrik Rp60,4 triliun, serta subsidi pangan, pupuk dan benih Rp32 triliun.

Menurut Aviliani, subsidi untuk sektor pangan, pupuk dan benih menurut terlalu kecil dibanding subsidi BBM dan listrik, padahal sektor pangan memiliki daya kompetisi yang besar, dan masyarakat miskin banyak bekerja di sektor pertanian.

Dijelaskan, kalau pemerintah jeli mencermati peluang dan tantangan yang dihadapi dalam jangka menengah sudah seharusnya mempercepat mengurangi subsidi energi dan mengalihkannya ke subsidi yang menunjang sektor pangan.

Dia menyoroti program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan program anggaran berbasis masyarakat, yang diwadahi dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri hingga kini belum memberi dampak positif.

“Program ini (BLT dan PNPM) bisa dibilang sia-sia karena tidak memberdayakan masyarakat tetapi hanya sekedar menengadahkan tangan. Sebaiknya dana itu dialihkan ke usaha mikro terutama terkait pengembangan sektor pengembangan pangan,” katanya. (Mnr/Ant)

 

Iklan

One response

  1. merespon dari komentar anda saya tidak setuju dengan pendapat anda yang mengatakan kalau program BLT dan PNPM sia-sia.Menurut saya program pemerintah yang satu ini perlu diacungi jempol karena dengan adanya PNPM maka masyarakat kecil bisa memperoleh pinjaman untuk modal dalam membuka suatu lapangan pekerjaan.PNPM ini sangat membantu masyarakat kecil dan itu tidak bisa kita pungkiri.tergantung pada imdividunya saja apakah program ini dapat melepaskan penderitaan masyarakat kecil.terimakasih.tetaplah berkarya.GBU

    Jumat, Maret 6, 2009 pukul 1:06 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s