Seleksi Calon Hakim Konstitusi

Dicecar Pertanyaan, Ahmad Ali Setujui Hukuman Mati

Jumat, 08-Agustus-2008

 

 

 

Melihat Seleksi Calon Hakim Konstitusi

Panitia Seleksi hakim konstitusi melakukan wawancara terbuka untuk menjajaki kenegarawanan 15 kandidat yang telah ditetapkan. Mereka dicecar pertanyaan seputar pemahaman hukum sampai dengan kinerjanya saat masih menduduki jabatan lama.

Hari pertama kemarin, panitia menyeleksi mantan hakim konstitusi Abdul Mukti Fadjar, Prof Dr Achmad Sodiki (Universitas Brawijaya), Prof Dr Ahmad Ali (Universitas Hasanudin). Hari ini (Jumat, 8/8), wawancara akan dilanjutkan dengan menjajaki calon lain seperti Fajrul Falaakh (UGM), Harkristuti Harkrisnowo (Dirjen HAM Depkumham) serta Todung Mulya Lubis (praktisi).

Dalam wawancara itu mereka harus menjawab panelis yang terus-terusan melancarkan pertanyaan berat, seperti Prof Dr Satjipto Rahardjo, Prof Dr Soetandyo Wignjosoebroto, Dr Franz Magnis-Suseno, serta mantan hakim konstitusi Prof Dr Laica Marzuki. Mereka dicecar pertanyaan berdasarkan makalah ketatanegaraan yang telah dibuat serta rekam jejak masing-masing calon yang telah dikumpulkan panitia.

Salah satunya seperti yang ditanyakan kepada Achmad Sodiki, Prof Soetandyo mempertanyakan konsistensi Guru Besar Hukum Universitas Brawijaya Achmad Sodiki yang bersedia dijagokan hakim konstitusi. ”Mengapa Anda justru memilih menjadi hakim konstitusi, bukankah sebagai guru besar Anda bebas mengeluarkan pendapat hukum,” tanya Guru Besar FISIP Unair tersebut.


Menjawab pertanyaan ini, Achmad Sodiki menyadari bahwa dengan menjadi pengadil dirinya memang menjadi tidak bebas. Apalagi kepada media
massa

. ”Saya paham tidak bisa berkomentar dengan bebas. Tapi saya ibaratkan saya punya ilmu berenang namun tidak pernah masuk kolam. MK itulah kolamnya,” ungkap Achmad yang mendapatkan giliran kedua dalam wawancara terbuka itu. Sebelumnya, para panelis lebih dulu ”menguji” Abdul Mukti Fadjar. Dia lebih banyak ditanya terkait makalahnya yang membahas Pemilu.

Saat tiba giliran Ahmad Ali, pertanyaan panelis makin gencar. Pemicunya, adalah makalah Ahmad Ali yang mendukung pelaksanaan hukuman mati. Dalam wawancara tersebut, Ahmad sempat berdebat dengan Prof Laica Marzuki yang kontra hukuman mati. ’’Saya mendukung hukuman mati untuk kejahatan berat. Hakim harus yakin bahwa putusannya benar,” jelas Ahmad yang kemarin mengenakan setelan jas tersebut.

Menurutnya, hukuman mati pantas dijatuhkan dengan alasan mewujudkan rasa keadilan bagi para korban. Bahkan, apabila terpilih sebagai hakim konstitusi, Ahmad juga bersedia mengeluarkan disenting opinion (pendapat berbeda) apabila para hakim mayoritas menolak hukuman mati. ”Berbeda itu hak konstitusional saya,” ujarnya.

Saat wawancara terbuka itu, panitia juga meminta klarifikasi terhadap sikap Ahmad. Dia dinilai berkali-kali terlibat dalam berbagai macam seleksi. Di antaranya, hakim agung, hakim konstitusi pilihan DPR hingga komisi kepolisian. Namun, dia tak mau memberikan jawaban karena merasa tak pernah mengajukan diri sebagai calon hakim. ”Saya ini diajukan tidak pernah melamar,” ujarnya.

Anggota panitia seleksi Deny Indrayana juga menanyakan status hukum Ahmad yang pernah menghadapi perkara korupsi senilai Rp 26 juta di FH-Universitas Hasanudin. Dia menerangkan bahwa dalam persidangan kasus itu, hakim menyatakan bahwa dakwaan jaksa batal demi hukum. ”Saya ditahan jaksa. Tapi saat sidang dakwaannya dinyatakan batal demi hukum,” jelasnya.

Deny juga mempertanyakan kinerja Ahmad yang dinilai tidak pernah bersuara saat menjadi anggota Komnas HAM dan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP). Menanggapi ini, dia menyatakan bahwa saat menjadi anggota Komnas HAM banyak berbeda pendapat soal hukuman mati. ”Di sana saya menjadi minoritas,” ucapnya. Sementara sebagai anggota KKP, dia menyatakan telah menyelesaikan laporan. ”Saya telah rampung. Pemberi mandat juga menerima baik laporan itu,” ujarnya.


Sementara itu, Prof Laica Marzuki mengatakan bahwa hakim konstitusi yang dicari harus mempunyai dua sifat pokok. ”Kenegarawanan dan kejujuran. Itu yang pokok,” jelasnya. (jpnn) Sbr : Radar Banten

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s