Hak Angket

BEREBUT PIMPIN ANGKET BBM

Setelah melalui proses berliku, DPR akhirnya berhasil memilih ketua panitia angket kenaikan harga BBM. Orang yang beruntung itu adalah Zulkifli Hasan. Bagi para politisi, terpilihnya Zulkifli itu tentu memiliki makna tersendiri. Bisa bermakna kemenangan, kekalahan, kesenangan, atau kekecewaan. Tapi tentu tidak demikian bagi rakyat.

Rakyat tidak akan merasakan makna langsung dari peristiwa tersebut. Sebab, bagi mereka, yang penting, kesengsaraan rakyat akibat kenaikan harga BBM tersebut segera berakhir. Kelihatannya, harapan itu tidak akan langsung terwujud begitu ketua angket BBM terpilih.

Kalau kita sekedar merekam statemen kalangan anggota dewan, khususnya yang mendukung pembentukan panitia angket memang akan mendatangkan manfaat yang besar bagi rakyat.

Namun, kalau kita menyimak perjalanan pembentukan panitia itu dan pemilihan ketuanya, sangat utopis bila harapan itu masih ditambatkan. Mengapa, sebab bau busuk yang tercium sekarang bukan lagi memperjuangkan kepentingan rakyat. Namun, lebih kepada kepentingan kelompok mereka sendiri.

Dari proses penentuan ketua panitia, DPR benar-benar menusuk ulu hati rakyat. Mereka menyuguhkan permainan politik yang samasekali tak etis, tidak pantas, dan melukai. Tampak sekali wakil rakyat itu tidak peduli samasekali terhadap penderitaan rakyat.

Dalam kasus ini, wakil rakyat dari Partai Golkar dan Demokrat sejak awal menolak angket dan berusaha keras menjegal terlihat ingin menjadi pemegang pengendali (tidak lucu).

Memang, seperti yang sudah-sudah, para wakil rakyat itu sangat lihai dalam dalam memberikan argumentasi untuk membenarkan tindakan mereka. Namun, hati nurani rakyat tetap bisa menilai bahwa argumentasi yang disampaikan itu hanyalah akal-akalan semata.

Rakyat tetap bisa menangkap bahwa upaya menjadi ketua panitia angket tersebut merupakan usaha terakhir setelah gerakan membendung pembentukan hak angket itu gagal. Golkar dan Demokrat sebagai partai pemerintah ingin panita angket yang sudah terlanjur dibentuk itu, menjadi JINAK dan tidak membahayakan pemerintah.

Syukur, upaya Golkar dan Demokrat “membelokan” angket BBM tersebut akhirnya gagal. Sebab, kemudi kemudian dikuasai oleh Zulkifli dari FPAN. Namun, dengan dikuasainya kemudi panitia angket itu oleh Zulkifli Hasan apakah keberadaan panitia itu akan bermakna bagi rakyat.? Jawabannya, waktu yang akan berbicara.

Tetapi, melihat perjalanan wakil rakyat selama ini, rasanya berlebihan jika harapan itu ditambatkan kepada mereka.Mungkin bagi kalangan “oposisi”, hal itu akan bisa mendatangkan keuntungan politis. Namun, bagi rakyat belum tentu.

Bisa jadi, rakyat akan tetap pada posisi tetap menderita dan susah akibat kenaikan BBM. Sedangkan para politisi asyik berbisik-bisik untuk menjadikan hal itu sebagai melanggengkan karir politik mereka.

Kecurigaan tersebut mungkin berlebihan. Namun, itu menjadi sangat wajar bila melihat pengalaman selama ini. Kini kembali kepada para politisi di Senayan, apakah mereka akan semakin menambah dan memperdalam apatisme rakyat atau sebaliknya.

Sumber : Editorial Jati Diri
Harian IndoPos 10 Juli 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s