Pak Profesor

Catatan untuk Seorang Intelektual Bebas bernama
“ M. AL FARIZ “
Profesor Masyarakat Kota Serang

 

MANUSIA KAMAR
Menjadi manusia kamar artinya kembali menekuni buku-buku, bahkan hasil thesispun ikutpula untuk direvisi dan dibongkar, karena ada pengembangan penemuan baru tentang struktur bertingkat partisipasi politik secara kuantitatif dilihat dari intensitas dan frekwensinya (atas jasa bimbingan pakar sosiolog UI Soelaiman Sumardi yang saya hormati), serta revisi sejarah gerakan mahasiswa pada dekade 80-an. Diantaranya kawan-kawan UGM yang belum saya tulis dan sebutkan yaitu, M. Al Fariz. Senior saya yang satu ini sangat luar biasa selain M. Torik pendiri Tabloid Bulaksumur dan Majalah Balairung yang pernah saya kenal di Yogya. Saya mengenalnya justru ketika kami sama-sama kembali pulang kampung ke Kota Serang dan bertemu tahun 2005 dikampus Untirta (di UPM Jumpa Bandung kami tidak pernah bertemu), adiknya adalah kawan saya sejak SD dan ibundanya termasuk salah satu guru saya ketika di SMPN I Serang.

Tema partisipasi politik mahasiswa yang saya ambil cukup berat saat itu di MPS UI Jakarta, mungkin tidak semua orang berani mengambil karya ilmiah seperti yang saya lakukan. Pengamat social politik dalam hal partisipasi politik mahasiswa dan masyarakat jika tidak salah mungkin baru Arbi Sanit dan Iwan Gardono yang sudah kawakan dari UI Jkt, selain sosiolog terkemuka Tamrin Amal Tomagola dan Imam Prasodjo yang juga mengamati kecenderungan perilaku social masyarakat.

INTELEKTUAL BEBAS

Seorang intelektual yang cerdas tidak selalu sama dan kadang berbeda dari hanya sekedar prosedur meraih gelar kesarjanaan serta kepangkatan. Ia boleh lahir dari jalanan dan proses diskusi yang sangat panjang serta tidak kurang habisnya menimba ilmu. Ia juga seperti avatar, kadang menguasai banyak ilmu. Otodidak dan minat terbesar adalah semacam daya dorong seseorang memiliki energy yang tidak tak terbatas. Dan ia tidak butuh dengan formalitas gelar Ijasah yang dapat dibeli dan berderet title yang hanya menunjukan status social dan kehormatan semu.

Saya mengenalnya kemarin hingga hari ini bernama Al-Fariz, seorang intelektual bebas, sering disapa dan biasa dipanggil oleh masyarakatnya, “Pak Professor”, tanpa diminta.Garis pemikirannya lebih cenderung sebagai intelektual kampus yang sejati. Kekuatan penalaran (reasoning power), kecermatan pengamatan, dan idealismenya, serta ide-idenya menunjukan eksistensinya sangat berhak sebetulnya berada didunia kampus sebagai dosen. Dan ia juga adalah tipikal seorang budayawan yang disegani ditengah masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s