TRAGEDI UNAS

« KOMPAS (sebar) BOHONG!

Dalih ‘Penyebab Kematian’ Maftuh Fauzi

“Ada kemiripan perilaku berbohong oleh pihak berwenang; Dokter (RSPP) dan Aparat (POLRI) dalam kasus penyebab kematian Maftuh Fauzi (Mahasiswa Unas) dan Irfan Maulana (Joki 3 in 1); Dokter (Puskesmas) dan Aparat (Pol.PP) sebagai perilaku pembohongan publik yang terus menerus digunakan”.

KENAIKAN HARGA BBM

SEMULAberawal dari kebijakan SBY-JK yang dinilai tidak Pro Rakyat. Yaitu menaikkan harga BBM sebesar 28.7% yang berakibat bertambahnya beban hidup, bertambahnya jumlah warga miskin. Berangkat dari keprihatinan dan empati kepada sesama tersebut, buruh, tani, mahasiswa dan rakyat miskin, bergerak bersama-sama menolak rencana kenaikan harga BBM tersebut. Karena kelompok masyarakat inilah yang memang menderita dan terkena dampak langsung kebijakan pro neoliberal.

Pergerakan (penolakan) ini bukan sekedar basa-basi atau rasa marah sesaat kepada pemerintah saja. Bahkan solusi pun sempat ditawarkan, yaitu cobalah menasionalisasi perusahaan-perusahaan tambang asing, berani-menolak hutang luar negeri, menyita harta koruptor-koruptor yang dianggap bisa menjawab masalah keterpurukan ekonomi dan politik Indonesia saat ini. Bahkan celoteh Kwik Kian Gie, kebijakan kenaikan BBM omong kosong. Menurutnya pemerintah tak harus memilih (ada alternatif) menaikkan harga BBM, lanjutnya lagi, jujur-kalau pemerintah memang memihak rakyat-sebagai pengahasil minyak bumi, Indonesia bisa menghindari harga krisis minyak dunia yang disebabkan oleh krisis ekonomi global, perang, dan krisis politik dalam negeri Amerika.

Bagi Maftuh Fauzi (almarhum) dan seratusan mahasiswa Unas (Universitas Nasional Jakarta) yang menolak rencana kenaikan BBM tersebut adalah sebuah perjuangan senyatanya. Bukan teori atau sekedar retorika belaka tapi aksi yang ditunjukkan melalui solidarita melalui Aksi Massa. Mereka orang-orang yang membuat pilihan secara sadar, berada diposisi bersama rakyat miskin, menolak kebijakan yang menyengsarakan dan menyesatkan itu.

‘INSIDEN UNAS’

BERMULA dari ujuk rasa disertai orasi-orasi. Hingga pemblokiran jalan didepan kampus sebagai bentuk ‘protes keras’ kepada kebijakan SBY-JK tertangal 23 Mei 2008. Sikap penolakan tersebut benar-benar ditunjukkan oleh Maftuh Fauzi dan Mahasiswa Unas hingga berwujud ‘bentrok’ yang tidak bisa dihindari. Bentrok fisik antara Mahasiswa Unas dan anggota pengendali Massa (Dalmas) Polres Jakarta Selatan.

Bentrok tersebut pun berakhir dengan drama penyerbuan oleh pihak Polisi. Ditangkapnya 114 Mahasiswa. Ditemukannya ‘seonggok daun ganja’ dan Granat (!). Korban berjatuhan dari kedua belah pihak yang terluka.Menurut para wartawan yang meliput pada tanggal 24/05/08 sekira pukul 06.30 pagi itu, Polisi dianggap telah berlaku diskriminatif semisal melarang sebagian wartawan untuk ikut meliput prosesi penyerbuan dan penangkapan kedalam kampus. Sehari sesudahnya berita pun tersiar. Publik dipaksa menerima kejadian tersebut sebagai ‘Insiden Unas’. Tidak hanya penangkapan dan penahanan. Kerugian materi pun turut ditanggung pihak warga kampus Unas. Dari hancurnya beberapa motor, mobil, kaca-kaca berserakan, bahkan rung koperasi ikut menjadi sasaran penyerbuan, hancur berantakan mirip kondisi paska perang.

Insiden Unas pun dinilai sebagian pihak masyarakat-telah terjadi pelanggaran HAM. Pelanggaran tersebut berupa penangkapan dan penahan tanpa prosedur yang berlaku, pemukulan, penganiyayan, perlakuan kasar dan intimidasi, kepada mahasiswa-mahasiswi Unas yang ditangkap. Digelandanglah seratusan mahasiswa-mahasiswi Unas yang dianggap telah melakukan Kejahatan dan perbuatan meresahkan masyarakat karena melakukan upaya penolakan protes kenaikan BBM yang dinilai anarkis.

Beberapa hari kemudian para mahasiswa-mahasiswi yang ditahan tersebut diduga kuat, dicap dalam setiap kening, sebagai pengguna Narkoba. Ini dibuktikan dari hasil tes urin-55 mahasiswa adalah pengguna narkoba. Walaupun bentuk pemeriksaan tersebut dinilai tidak independen dan terkesan dipaksakan. Dan meskipun penahanan para mahasiswa-mahasiswi ini bukan lantaran terjerat razia Narkotik–namun akibat aksi unjuk rasa penolakan kenaikan BBM. Dengan dalih ditemukannya ‘seonggok daun ganja’ pihak Polisi merasa berhak untuk memeriksa urin para mahasiswa tanpa menunggu proses penyelidikan darimana barang bukti—ganja tersebut berasal, tanpa menghormati hak-hak tersangka (dalam hal ini para tersangka mahasiswa) untuk mendapatkan perlakuan adil (a.l. adanya bukti permulaan yang cukup, bukti permulaan yang cukup terkandung dalam: laporan polisi, BAP TKP, Laporan hasil penyelidikan, Keterangan Saksi Ahli dan Barang Bukti). Prosedur terpenting dalam Insiden Unas yakni Polisi harus memperlihatkan surat penangkapan pun tidak dilakukan. Dengan dalih kondisi pada saat itu Polisi berhak menggunakan wewenangnya didasari KUHP dan UU Kepolisian.

Ketidakadilan itu juga muncul bagi para Mahasiswa yang mengalami luka (robek dikepala, patah, lebam dan trauma) dibiarkan, seperti disengaja tidak memberikan layanan medis untuk dua hari lamanya. Meskipun pada akhirnya diberikan dan asal-asalan. Hal ini bukan lantaran Pihak Polisi menyadarinya sebagai sikap profesional menjunjng tinggi dan menghormati hak-hak asasi manusia dalam setiap individu tersangka, melainkan takut karena kondisi yang terluka bertambah parah (Infeksi, bernanah pada luka robek dan menganga, serta kondisi muntah-muntah, dll).

Maftuh Fauzi adalah termasuk salah satu korban terluka yang mengalami perilaku pembiaran tersebut.

TIM PENCARI FAKTA

Insiden Unas kemudian mendapatkan perhatian dari berbagai pihak dan media. Termasuk anggota-anggota DPR, Komnas HAM, LBH Jakarta, PBHI, KONTRAS (Komisi untuk orang hilang dan korbn tindak kekeasan), dan tentu saja gerakan-gerakan mahasiswa dan rakyat lainnya. Desakan untuk mencari kebenaran pun melahirkan pembentukan Tim Pencari Fakta yang diketuai oleh Yoseph Adi Prasetyo koordinator TPF Komnas HAM. Dalam temuannya tersebut diungkapkan fakta dan kesimpulan antara lain:

– Ditemukannya Granat dan proyektil peluru karet sebanyak delapan belas butir. Tidak diakui sebagai proyektil yang biasa digunakan oleh Dalmas.
– Polisi tidak menggunakan Prosedur Tetap (Protap) Yang diterbitkan pada 5 Desember 2006, oleh Kapolri Jenderal Pol Sutanto. (a.l. Pasal 14 menyatakan Dalmas tidak boleh arogan dan terpancing oleh perilaku massa. Dalmas juga tidak perlu bertindak keras yang tidak sesuai dengan prosedur. Tindakan keras jika dalam kondisi yang proporsional –apakah hijau, kuning, atau merah).

Kepala Bagian Operasi Polres Jakarta Selatan, AKBP Elbin Darwin mengakui bahwa dalam menangani kasus unjuk rasa Unas dimengerti sebagai bukan kondisi kekacauan, sepengetahuan Kapolersta Jakarta Selatan Kombes Chairul Anwar, Protap tidak digunakan sebagai acuan. Diperjelas bahwa tak perlu ada alih komando Dalmas Lanjut kepada Brimob (PHH).

Berdasarkan temuan TPF dilapangan telah terjadi pemukulan oleh para Dalmas dan Polisi yang berseragam preman yang memang tidak diatur dalam protap (sumber: Hukum Oline.Com) Temuan ini juga diperkuat oleh hasil pemeriksaan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) penyerbuan 24/05/08 memang melanggar prosedur tetap ujar Pandu Praja. Secara prosedur yang bisa melakukan penindakan aksi massa adalah Brigade Mobil (brimob). Contoh lain pelanggaran Proptap yakni kasus penembakan petani Alas Tlogo oleh pihak TNI-Al.

DALIH ‘PENYEBAB KEMATIAN’

Adalah Mahasiswa Akademi bahasa asing angkatan 2003. Ia termasuk 31 Mahasiswa yang dibebaskan paling akhir. Menurut rekan satu sel Maftuh Fauzi sering mengeluh karena menderita luka dikepala. Selama dua hari sejak ditahan Maftuh Fauzi tidak mendapatkan pengobatan. Luka dikepala semakin terasa. Bahkan karena terpaksa, Ia mengikat paksa kedua lengannya agar tak memukul-mukul kepala karena sakit yang maha hebat itu.

Berikut adalah kronologi meninggalnya Maftuh Fauzi (sumber: Solidaritas Mahasiswa Unas)
– Tanggal 2 Juni 2008 Maftuh dibebaskan pada pukul 08.00 WIB dan dirawat inap tanggal 10-17 Juni 2008 di RS UKI Cawang. Sebelum dibebaskan, ia sempat mengeluh sakit kepala hebat selama beberapa hari di tahanan Mapolres Jaksel. Kepala bagian belakang sobek dan beberapa bagian tubuh memar akibat pukulan benda tumpul.
– Tanggal 17-20 Juni 2008 Maftuh dipindahkan ke RS Pusat Pertamina Jakarta karena kurang mendapat perawatan yang memadai. Atas desakan beberapa rekan mahasiswa Unas meminta pertanggungjawaban pihak rektorat untuk merawat Maftuh di RSPP. Maftuh dipindahkan ke RSPP pada 17 Juni 2008 pukul 23.00 hingga akhirnya tanggal 20 Juni 2008 mengembuskan napas terakhir pukul 11.20 wib.

Yang menjadi pangkal persoalan kini Maftuh Fauzi telah meninggal dan diagnosa para dokter RSPP karena menderita HIV–hingga infeksi menyeluruh, sistemik, tidak berfungsinya organ tubuh menyebabkannya meninggal dunia. Dokter RSPP tidak menemukan luka atau kelainan pada bagian kepala Maftuh Fauzi.

Berbeda dengan pernyataan dokter rumah sakit fakultas kedokteran UKI Cawang, MIftah Fauzi dinyatakan menderita trauma terbuka dikepalanya. (lihat rekam medis sumber: Media Bersama)

Bahkan dalam blog ondosupriyanto (lihat disini) melaporkan dari Desa Adikarto Kecamatan Adimulyo, Kabumen, Sabtu (26/6) pukul 01.30 saat jenazah Maftuh Fauzi (27) mahasiswa Universitas nasional (Unas) Kebumen dimakamkan. Ondo menyatakan, Dalam keterangan kepada wartawan, ketua tim forensik RSU Margono Purwokerto, dokter M Zaenuri Samsul Hidayat didampingi Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Drs Syahroni dan Kapolres Kebumen AKBP Triwarno Atmojo mengatakan, hasil sementara dari pemeriksaan luar dan dalam, telah ditemukan luka memar akibat bersentuhan dengan benda tumpul di kepala bagian belakang. Namun luka tersebut telah mengalami kesembuhan. Tim forensik belum bisa mengambil kesimpulan penyebab kematian Maftuh Fauzi. Untuk mengetahui penyebabnya, tim forensik mengambil sampel otak, hati, darah, untuk dikirim ke lab FK Undip Semarang. “Hasilnya baru akan diketahui seminggu mendatang,” katanya.

Cukup jelas, dengan membandingkan keterangan dari beberapa pihak Rumah sakit dan dokter yang berbeda, Miftah Fauzi, memang menderita luka dibagian kepala. Meskipun keterangan ini dianggap tidak pernah ada oleh pihak dokter RSPP. Wajar saja jika keraguan dan sikap penolakan penyebab kematian Maftuh Fauzi oleh pihak dokter RSPP ditolak mahasiswa Unas, cukup beralasan, karena Fakta telah dikesampingkan.

Bentuk kebohongan publik oleh Dokter (kaum profesional) bukan baru sekali ini terjadi. Pada kasus penganiayaan hingga meninggalnya Irfan Maulana (14) tanggal 8 Januari 2007 oleh Sembilan orang oknum Pol.PP juga berakhir dengan diagnosa dokter yang menyatakan Irfan Maulana ditemukan tak bernyawa ditengah jalan dan menderita Epilepsi.

Meskipun keterangan saksi (kawan Irfan) bertentangan, kini kebohongan publik tersebut terlanjur dipercaya, lantaran argumentasi para Dokter lebih dipercaya daripada keterangan saksi-bocah ingusan-yang selalu terpingirkan. (Baca disini: Kasus Irfan Maulana)

SEJAK SUHARTO dan Orde Baru berkuasa, sejak itu pula tatanan masyarakat dibangun dengan pondasi tulang belulang dan darah rakyat yang dihilangkan. Dusta menjadi hal yang teramat sering digunakan disemua aspek kehidupan. Kebohongan muncul dari para intelektual, kaum profesional dan tentu saja aparat. Kehidupan masyarakat tak ubahnya hidup dalam gelembung kebohongan yang diciptakan sejak awal pada tahun 1965.

Dalih penyebab kematian oleh pihak dokter RSPP sungguh memungkinkan kebohongan belaka karena kekuasaan memang berada dibelakangnya. Fakta telah membuktikan dalam kasus Irfan Maulana (14) Joki 3 in 1 seorang dokter mampu berbohong dan membuat kebohongan umum. Tak terkecuali dalam kasus Maftuh Fauzi dokter RSPP juga mungkin dan mampu melakukan hal yang sama, karena telah terjadi pelanggaran HAM.

Sumber artikel : http://andricahyadi.wordpress.com/2008/06/23/dalih-penyebab-kematian-maftuh-fauzi/

2 responses

  1. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

    Rabu, Desember 31, 2008 pukul 9:54 pm

  2. Malaka

    tragedi UNAS adalah salah satu bukti bahwa aparat kepolisian adalah sebuah momok baruu bagi dunia demokrasi di Indonesia, mereka mengganti peran saudara tuanya yaitu TNI yang pada rezim orde baru juga sering menggunakan senjata sebagai alat penyelesaian masalah. ini

    Kamis, Juni 26, 2008 pukul 12:40 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s