Indonesia Raya

Lihat mahasiswa dan rakyat demonstrasi. Lihat harga-harga mulai naik. Lihat supir-supir angkot protes minta harga BBM dikembalikan  seperti semula, begitupula aksi serupa lainnya dengan nada tuntutan yang sama. Kenyataan realitas sosial itu berbeda sekali, jika melihat pameran bergaya  profesional penawaran 25 blok migas kita saat ini, membuat kita semua bertambah khawatir seperti dimasa lalu. Sense of crisis ditakutkan semakin hilang dari pemerintah. Berdebat dalam mempertahankan prinsip dan dialog yang jernih hari ini, masih lebih baik dibandingkan masa datang yang gelap untuk kita semua.

Orientasi dimasa datang mengenai blok migas semakin tambah remang-remang dan tak pasti. Kepemilikan dan pengelolaan asset sektor publik strategis semakin menakutkan dan meragukan dengan akan dikuasainya 25 blok migas kita, menambah jumlah blok sebelumnya 10 blok pada tahun 2004 yang terbukti  kita kehilangan daya tawar, dan gagal meningkatkan pasokan kebutuhan dalam negeri yang hanya 1 juta bph. Yang tersisa cadangan sebesar 50 juta barel, mestinya ini dapat digunakan untuk menutupi kekurangan 200.000 bph hingga awal tahun 2009 dari blok Cepu 170.000 bph, dan blok lainnya yang mulai beroperasi. Jadi sebetulnya posisi pemerintah masih sangat aman untuk tidak menaikan harga BBM.


Apalagi ditambah dengan adanya alternatif solusi yang ditawarkan oleh banyak pakar. Amat sangat banyak sekali. Saya juga menawarkan jika subsidi BBM betul menguntungkan kelas ekonomi kaum kaya, baiklah kita stop mereka dengan kendaraan pribadinya pindah ke Pertamax. Asalkan tidak kendaraan umum yang sangat strategis bagi rakyat.

Harga BBM dinegara maju jelas berbeda dengan negara kita karena angka perbandingannya adalah tingkat GNP kita yang sangat rendah $USA 810/tahun. Dinegara manapun BBM disubsidi terutama bagi negara pengimpor minyak dunia.

Arogansi yang sangat kuat diawal akan naiknya harga BBM dengan asumsi yang keliru dan lebih termakan pada ketakutan (fluktuasi harga minyak mentah dunia sejak tahun 70-an selalu terjadi) sekaligus kesombongan, dengan sangat percaya dirinya akhirnya telah dijungkirbalikan dengan kemarahan rakyat yang ditunggangi oleh harga kebutuhan pokok yang mulai meroket, ongkos produksi yang naik, naiknya tarif angkot, angka kemiskinan yang akan naik diperkirakan 56 juta, turunnya laju pertumbunan ekonomi dari 6,4 %, sektor moneter naiknya tingkat inflasi 11 % dll.

Keresahan dan kegamangan dari efek domino tersebut membuat posisi pemerintah akhirnya akan semakin memburuk jika krisis kepercayaan tersebut semakin meluas. Ditambah puluhan BUMN dan 25 blok migas kita  yang akan dijual melalui sistem bagi hasil dan cost recovery juga insentif-insentif lainnya.

Pengalaman hari ini hampir 85, 4 % lebih migas dikuasai pihak asing dari 137 konsesi. Data tahun lalu cost recovery yang dikeluarkan pemerintah 93,2 Triliun. Mengurang penerimaan APBN 2007 menjadi Rp.148,2 Triliun dari total pendapatan kotor migas Rp.320 Triliun.

Perubahan yang terjadi dari 40% hingga 120% yang dikeluarkan pemerintah. Begitupula rasio sistem bagi hasil yang cenderung menurun untuk pemerintah dari 85 : 15 hingga 0 : 100. Lainnya insentif – insentif negatif seperti DMO (Domestic Market Obligation-Holiday) telah menyebabkan ketergantungan Indonesia terhadap minyak impor semakin besar (ketahanan energi sebagai aspek terpenting menjadi rentan.

Pengubahan DMO Fee menyebabkan harus membeli minyak kita sendiri pasar internasional dengan harga sangat mahal. Akibatnya biaya produksi dan pengadaan BBM dalam negeri menjadi lebih tinggi sehingga harga BBM untuk rakyat relatif lebih mahal ( Sumber : LP3ES).

Platform Nasional

Hampir semua orang berpendapat sama pemerintah telah kehilangan daya nalar dan akal sehatnya juga pemikiran strategis dimasa datang. Penerimaan pendapatan negara kedua setelah pajak adalah PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) yaitu Penerimaan SDA (Migas dan Non Migas), Deviden/Laba dari BUMN, dan lain-lain.

Untuk kasus PT. Krakatau Steel yang telah meraup keuntungan 141 miliard, Jusuf Kalla menawarkan opsi keduanya melalui pembagian saham untuk menarik modal (IPO) kepada para investor dari dalam maupun luar negeri, dengan asumsi untuk menaikan kapasitas produksi dari 3 juta ton menjadi 7 juta ton. Inipun dirasakan akan tetap riskan, karena kepemilikan dibagi pada sektor swasta yang akhirnya tidak menutup kemungkinan sebagian besar akan dikuasai seluruhnya. Cara terbaik adalah pinjaman ke dunia perbankan dengan tetap mempertahankan kepemilikan dan strategis keuntungan yang lebih besar dimasa datang. Jadi sekali lagi tidak perlu bagi hasil dengan pihak lain.

Sedangkan dengan adanya penawaran 25 blok migas ini rakyat masih bingung dan tambah khawatir pemerintah tidak berorientasi pada kepentingan nasional, tidak seperti sebagian besar negara Timur Tengah.  Mereka kini justru meraup untung besar dari gejolak harga minyak mentah yang naik. Apalagi kekayaan blok migas kita tak lebih sama dengan negara Timur Tengah saat ini. Sedangkan sekarang saja perusahaan asing sudah terlalu sangat dominan pada kilang-kilang migas kita. Contohnya perpanjangan kontrak blok Cepu hingga 20 tahun menunjukan posisi kita semakin terjepit dengan mereka. Seperti sistem ijon,  kita menarik sewanya dari lahan yang mestinya dapat kita garap sendiri.

Hapuskan hutang 1250 Triliun lebih  dan pinjaman kembali dari lembaga donor asing Bank Dunia, IMF, WTO dengan jaminan hutan dan dosa-dosa dimasa lalu mereka jika itu terpaksa dilakukan, karena dunia perbankan kita tidak sanggup menalangi untuk menasionalisasi dan mengelola asset strategis kita. Sedangkan pilihan kedua adalah dari hasil laba bersih migas dengan melakukan  penghematan dan kemandirian serta menaikan sektor tertentu penerimaan pendapatan negara sektor lainnya tanpa hutang.  Kepemilikan dan keuntungan serta jaminan ketahanan sektor ekonomi nasional akan lebih menguntungkan bagi generasi dimasa datang.

Kebijakan yang sangat sulit saat ini bagi pemerintah adalah menarik kembali naiknya harga BBM ditengah strategi yang dipasang dengan cara secepat kilat Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diantaranya ada yang sudah diterima masyarakat. Tidak ada salahnya ini dicoba oleh pemerintah, sebelum terlanjur BLT itu mubazir dengan semakin parahnya kondisi perekonomian kita dimasa datang dan tingkat kemiskinan yang bertambah besar  56 juta jiwa, lebih rendah dibanding data Bank Dunia 109 juta tahun 2006.

Jika ini berani dilakukan oleh pemerintah dengan bijaksana akan meredakan ketegangan nasional berdimensi sangat luas saat ini.  Strategi kemudian yang harus dipasang adalah intervensi pasar, terutama menurunkan harga bahan kebutuhan pokok yang pasti dengan sukarela akan dibantu oleh seluruh elermen rakyat.

Ayolah !!! saya pikir logika rakyat hendaknya menjadi cerminan bagi kita semua saat ini.

Serang 31 Juni 2008

Teguh Iman Prasetya – Forum  Sawung Rakyat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s