LP3ES

MENYOAL INSENTIF  SISTIM  BAGI HASIL
DAN POLITIK MIGAS INDONESIA

20 September 2007

Oleh: Pri Agung Rakhmanto  Divisi Penelitian LP3ES

LATAR BELAKANG (1)

Migas merupakan sumber daya alam strategis bagi politik dan ekonomi negara dan kemakmuran rakyat tetapi pengelolaannya masih jauh dari optimal.

Beberapa kondisi yang jauh dari optimal:

Lebih dari 60 tahun merdeka tetapi industri migasnya masih      sangat tergantung pada dominasi asing (sekitar 90% produksi migas                 dihasilkan kontraktror asing).

Penghasil minyak tetapi juga tergantung dari minyak dan BBM                 impor (energy security sangat rentan).

o APBN sangat dibebani subsidi BBM, patokan harga BBM mengikuti harga internasional

o Eksportir LNG terbesar tetapi justru mengalami defisit gas di dalam negeri.

Dengan sumber daya migas yang dimiliki, sampai saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum   sejahtera (Data Bank Dunia 2006: 109 juta jiwa penduduk                 Indonesia miskin).

o sering terjadi kelangkaan BBM, minyak tanah khususnya.

o dll.

LATAR BELAKANG (2)

  • Dalam hal kinerja umum, indikasi dari tidak optimalnya pengelolaan industri migas nasional salah satunya ditunjukkan dengan produksi dan cadangan migas yang kecenderungannya terus menurun, sementara cost recovery meningkat.
  • Bagi Indonesia, produksi migas sangat menentukan penerimaan negara dan cadangan migas sangat menentukan ketahanan supply migas negara.
  • Implikasinya: penerimaan negara dari sektor migas berkurang dan ketersediaan supply migas nasional makin mengkhawatirkan.
  • Kebijakan yang selama ini ditempuh pemerintah untuk meningkatkan produksi dan cadangan adalah dengan memberikan insentif-insentif dalam pengusahaan migas kepada kontraktor bagi hasil/KPS (sekarang istilahnya adalah Kontraktor Kontrak Kerja Sama, KKKS).

BEBERAPA INSENTIF UTAMA

  1. Perubahan pola bagi hasil migas, dari 85:15, 70:30, 65:35, 51:49, hingga 0:100.
  2. Perubahan batasan Cost Recovery, dari 40%, 100%, hingga 120%.
  3. Penambahan komponen-komponen yang dimasukkan ke dalam Cost Recovery.
  4. Peniadaan kewajiban menyediakan/menjual minyak untuk keperluan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO Holiday) untuk kategori minyak tertentu dan untuk jangka waktu tertentu.
  5. Perubahan DMO Fee yang dibayarkan pemerintah kepada kontraktor.
  6. Diberikannya Investment Credit bagi barang capital (production facilities).
  7. Insentif-insentif tersebut diberikan melalui sistim bagi hasil (PSC) yang diberlakukan

P E R T A N Y A A N

  1. Apakah insentif-insentif yang diberikan tersebut benar-benar memberikan manfaat positif bagi Indonesia? (secara spesifik, produksi dan cadangan meningkat?)
  2. Apa implikasi dan konsekuensinya bagi negara dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan,ditinjau dari aspek politik migas Indonesia?
  3. Apa implikasi dan konsekuensinya bagi negara dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, ditinjau dari aspek politik migas Indonesia

INSENTIF vs PRODUKSI & CADANGAN MINYAK
(sumber data produksi dan cadangan: OPEC)

A N A L I S I S

Dalam perkembangannya, sejak 1970an hingga saat ini, Indonesia cenderung kian ‘bermurah hati’; memberikan insentif-insentif yang semakin besar/banyak dan longgar bagi para kontraktor migas.

Insentif-insentif tersebut dari mulai yang terkait dengan aspek finansial saja (CR, perubahan pola bagi hasil, investment credit, pajak, DMO fee), hingga yang terkait dengan aspek jaminan ketahanan migas nasional (DMO holiday, DMO fee).

Di satu sisi hal itu merupakan daya tarik bagi investasi, namun disisi lain hal itu mencerminkan bargaining position dan sikap politik pemerintah Indonesia, di bidang migas khususnya,yang semakin hari terlihat semakin menurun/mundur.

Dari data yang ada, terlihat bahwa dari berbagai insentif yang diberikan tersebut ternyata kecenderungannya tidak selalu berkorelasi positif terhadap hasil yang diharapkan (produksi dan cadangan tidak semakin meningkat dengan peningkatan insentif yang diberikan).

Beberapa implikasi dan konsekuensi yang ditimbulkan dari berbagai insentif tersebut justru cenderung negatif, diantaranya

  1. DMO Holiday menyebabkan ketergantungan Indonesia terhadap minyak impor semakin besar (ketahanan energi, sebagai aspek terpenting, menjadi rentan)
  2. Pengubahan DMO Fee menyebabkan Indonesia harus   membeli minyaknya sendiri dari pasar internasional dengan   harga lebih mahal. Implikasinya, biaya produksi dan         pengadaan BBM dalam negeri juga menjadi lebih tinggi, harga   BBM untuk rakyat relatif menjadi lebih mahal.
  3. Cost Recovery sejak 2001 hingga kini terus meningkat,    mengurangi porsi pemerintah dalam bagi hasil. Data Panja Anggaran DPR 2007 menunjukkan bahwa cost recovery diperkirakan mencapai Rp. 93,2 triliun, sehingga                penerimaan Migas di APBN 2007 diperkirakan hanya 46,3% (Rp. 148,2 triliun) saja dari total pendapatan kotor migas yang mencapai Rp. 320,4 triliun.
  4. Pengubahan porsi bagi hasil pemerintah yang semakin lama semakin kecil menyebabkan semakin banyak sumber daya migas Indonesia ibaratnya secara ‘ijon’ telah dikuasai

Dengan kata lain, dapat dikatakan disini bahwa disamping mengalami kemunduran/penurunan dalam hal bargaining position dan sikap politik migas, Indonesia juga cenderung sudah banyak mengorbankan kepentingan politik migasnya sendiri untuk sesuatu yang tidak optimal.

Ketahanan supply migas yang semakin bergantung pada impor dan digunakannya acuan harga internasional untuk BBM dalam negeri adalah beberapa diantaranya.

  1. Harga minyak dunia, yang notabene sangat dipengaruhi oleh perilaku ekonomi-politik perusahaan-perusahaan minyak dunia yang besar (yang juga mendominasi produksi migas Indonesia) justru terlihat menjadi driving faktor lebih berpengaruh terhadap pergerakan produksi minyak Indonesia.
  2. Dengan kata lain, pemerintah sebaiknya mewaspadai kemungkinan konspirasi global akan hal ini, sehingga tidak serta merta menggunakan insentif sebagai instrumen untuk memacu peningkatan produksi dan cadangan migas nasional.

REKOMENDASI 1

  1. Pemerintah hendaknya menjalankan sikap politik migas yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan finansial jangka pendek saja (yang juga cenderung tidak optimal tadi), tetapi lebih mengedepankan aspek ketahanan dan kemandirian migas untuk kepentingan nasional/rakyat yang lebih besar.
  2. Pada tataran operasional, pemerintah hendaknya lebih berani untuk tidak begitu saja menuruti keinginan-keinginan investor migas terkait dengan pemberian insentif-insentif migas.

REKOMENDASI 2

  1. Pemerintah hendaknya mengkaji dan meninjau ulang insentif-insentif dan kontrak yang telah diberlakukan selama ini, dan bilamana memungkinkan melakukan perubahan-perubahan terhadapnya. Sehingga dapat lebih mengakomodir kepentingan politik migas nasional yang lebih mendasar, khususnya peningkatan ketahanan/ security of supply migas, dan agar migas benar-benar dapat menjadi salah satu sumber kemandirian dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
  2. Khusus terkait masalah Cost Recovery yang ada, pemerintah hendaknya lebih selektif dalam pemberian approval investasi yang diajukan kontraktor dan lebih ketat dalam pengawasannya.
  3. Produksi minyak yang selalu dibawah target dengan Cost Recovery yang semakin meningkat adalah suatu indikasi bahwa banyak investasi/project yang telah disetujui dengan banyak insentif diberikan berjalan tidak sesuai dengan rencana (gagal). Peningkatan kemampuan teknis dalam pengawasan mutlak diperlukan.

REKOMENDASI 3

  1. Ke depan, sebaiknya pemerintah lebih berani merumuskan dan memberlakukan format kontrak bagi hasil/kontrak kerjasama yang baru yang lebih mengedepankan kepentingan nasional dan politik migas Indonesia, bukan kepentingan kontraktor semata. Misal: kembali menerapkan batasan maksimum dari Cost Recovery, perumusan kembali jenis-jenis biaya yang termasuk/tidak termasuk Cost Recovery, peniadaan aturan DMO holiday, pemberlakuan local content bagi industri pendukung migas. Dalam bahasa yang lebih sederhana:  Jangan “obral” migas kita !

One response

  1. Artikel di Blog ini bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!!

    http://nasional.infogue.com/
    http://nasional.infogue.com/menyoal_insentif_sistim_bagi_hasil

    Jumat, Mei 30, 2008 pukul 2:43 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s