Tolak Harga BBM Naik

KITA TIDAK PERLU NAIKAN HARGA BBM

Teguh Iman Prasetya

Hari ini naiknya harga bahan pokok sudah mendahului rencana kenaikan harga BBM. Masyarakat kembali antri minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya dengan harga yang sudah melambung tinggi. Kenaikan diperkirakan masih susul menyusul hingga hari h bulan Juni 2008, sembilan bahan pokok rakyat kembali melonjak tinggi.

Inflasi diperkirakan diatas 2 digit dan laju pertumbuhan ekonomi melambat dibarengi mulai terpukulnya sektor ekonomi riil masyarakat yaitu UKM-koperasi, pertanian, perindustrian, perkebunan, perikanan-kelautan dll.

Bagi masyarakat industri kenaikan BBM memicu harga bahan baku menjadi lebih tinggi yang berdampak pada harga jual ikut terdorong naik, belum lagi pengurangan pekerja dan jam kerja. Sedangkan bagi masyarakat nelayan kenaikan harga solar  akan memicu kaum nelayan semakin parah  lagi terjepit. Dan banyak lagi.

LOGIKA HARGA BBM TIDAK PERLU NAIK

Kenaikan harga BBM sesungguhnya tidak perlu jika kita tidak berpatokan pada harga pasar minyak mentah dunia $120/ barel dengan dimasukannya dalam indikator penyusunan APBN-P 2008. Dampaknya lebih besar menambah masalah bagi masyarakat, dan yang paling dirugikan adalah masyarakat miskin karena tidak memiliki proteksi khusus.

Asumsi lainnya bahwa kita memiliki kekayaan SDA minyak mentah itu benar, bahkan untuk mencukupi kebutuhan pada akhir tahun 2008 sudah tercukupi 1.170.000 barel/hari. Kekurangan 30.000 ribu dapat diupayakan dengan menghemat, meningkatkan kapasitas produksi, atau mengimpor dari negara OPEC karena sesama anggota lebih murah. Lainnya kerja keras mengeksplorasi dari temuan tambang minyak baru.

Informasi dari pemerintah BPH Migas disebutkan bahwa produksi minyak mentah kita 170.000 barel/hari  dari blok Cepu. Direncanakan bila telah mulai beroperasi Blok Cepu (akhir 2008 ) akan menghasilkan 170.000 barel/hari. Pembagian saham tersebut adalah 45 % PT.Pertamina, 45% PT. Exxon Mobil dan 10% untuk Badan Usaha Milik Daerah dengan asumsi untuk harga minyak mentah sama atau di atas 45 dolar AS per barelnya. Friksi sempat terjadi antara pemerintah dengan DPR RI yang tidak setuju sebagian saham diambil oleh Exxon Mobil sebesar 45%.

Blok Cepu diperkirakan mengandung minyak antara 600 juta – 1,4 miliar barel dan gas bumi sekitar 1,7 – 2 Triliun kaki kubik. Selain lapangan Banyu Urip, lapangan produksi lainnya adalah Alas Dara/Kemuning, Jambaran, Sukowati, Cendana dan Alas Tua.

Sedangkan pasokan minyak bumi dalam negeri selama ini berdasarkan data PT. Pertamina adalah Kilang Dumai dengan kapasitas 170.OOO barel/hari, Kilang Musi 130.000 barel/hari, Balongan 120 ribu barel / hari, Cilacap 300.000/hari, Balikpapan I 60.000 barel/hari, Balikpapan II 200.000 barel/hari dengan total 25% konsumsi minyak dalam negeri. Dengan demikian dari keseluruhan pasokan minyak mentah di Indonesia tahun 2010 sudah dianggap mencukupi kebutuhan masyarakat.

Sementara itu kapasitas produksi minyak mentah dalam negeri akan ditingkatkan pada tahun 2010 sebesar 200.000 barel perhari sehingga totalnya menjadi 1,2 juta barel perhari untuk mencapai konsumsi masyarakat, karena selama ini hanya 1 juta barel/hari. Tetapi jika menunggu hingga akhir tahun 2008 pasokan minyak mentah kita diperoleh dari 170.000 barel/hari dari blok Cepu.

Dengan demikian kekurangan 30.000 barel/hari dapat diperoleh dari hasil eksplorasi ditempat lainnya yang tidak terdata, atau dengan cara menghemat pasokan yang hanya 1.170.000 barel/hari. Untuk menutupi kekurangan tersebut sementara dengan mengurangi volume BBM bersubsidi, meningkatkan kapasitas produksi, atau mengimpor. atau pula menggunakan stok cadangan minyak kita sebesar 50 juta barel. Lainnya kerja keras mengeksplorasi dari temuan tambang minyak baru.

Semoga kita kembali sebagai negara pengekspor minyak pada tahun 2009 setelah berhasil mencukupi kebutuhan dalam negeri dengan ditingkatkan eksplorasi produksi tersebut dan ditemukannya sumur-sumur minyak baru.

Pencarian dan penemuan kembali minyak bumi seperti dugaan di Nanggroe Aceh Darusallam lebih besar dari Arab Saudi paska bencana Stunami baru lalu, telah membuka mata kita bahwa negara kita masih sangat kaya dengan potensi minyak bumi dan bahan tambang lainnya.

Mencari alternatif solusi yang terbaik adalah tidak menaikan harga BBM masih sangat terbuka lebar bahkan paling mungkin dilakukan oleh pemerintah, karena kebutuhan pasokan dalam negeri masih dapat diatasi. Dengan demikian maka dunia usaha dan masyarakat sekaligus dapat membangun solidaritas sosial yang sangat kuat untuk bekerja keras bahu membahu dengan pemerintah.

BLT-JPS dan SMART CARD

Pencabutan subsidi dengan cara melalui program BLT (Bantuan Langsung Tunai)-JPS (Jaring Pengaman Sosial) dan Smart Card hingga hari ini masih cukup meragukan dan meyakinkan masyarakat.

Bantuan Langsung Tunai yang dikoordinir oleh pihak Kantor Pos hingga hari ini masih belum siap dengan data akhir dari BPS 2005. Program JPS ini  sangat  meragukan  bersifat sesaat dan sementara hanya bertahan beberapa bulan.

Sedangkan Smart Card potongan harga untuk BBM dengan kartu diskon ini juga diperkirakan akan memboroskan anggaran dalam hal pengawasan dan monitoring penggunaan kartu tersebut. Jauh dari harapan penghematan dari kartu tersebut 6 triliun rupiah. Semoga ini tidak terjadi.

Jika perencanaan tersebut cukup matang, bagus dan murah, maka dengan kartu ini juga dapat digunakan untuk tidak jadi naiknya BBM, terutama untuk awal Juni hingga akhir tahun 2008 blok Cepu beroperasi 170.000 barel/hari, dan tahun 2010 peningkatan kapasitas produksi 200.000 ribu barel/hari untuk mencukupi pasokan kebutuhan dalam negeri 1.200.000 barel/hari.

Mengenai BLT-JPS semestinya data penduduk miskin menggunakan data terakhir dari BPS tahun 2007 bukan data BPS tahun 2005 dan 2006. Setiap tahun angka kemiskinan selalu berubah disebabkan adanya naik turunnya antar kelas sosial-ekonomi (climbing class) dan bertambahnya kelas miskin baru (sinking class).

Climbing class terjadi disebabkan jumlah kelas menengah merosot turun kebawah dan begitu juga sebaliknya kelas bawah naik kekelas menengah. Sedangkan bertambahnya kelas miskin baru seperti kemungkinan yang akan terjadi umumnya dari kelas menengah yang merosot semakin kebawah bertambah, dan kelas miskin dari kelas bawah tetap tidak berubah dan semakin bertambah pula (misalnya; PHK, angka kelahiran dan angkatan kerja baru).

Maka dari itu selain data BPS tahun 2007 yang terbaru untuk lebih memastikan agar tepat sasaran masih dibutuhkan lagi adanya data kualitatif dari bawah (grass-root), yaitu; laporan aparat desa/kelurahan, atau dengan musyawarah warga desa/kelurahan.

DAMPAK NAIKNYA HARGA BBM

Apa yang terjadi pada tahun 2005 jumlah pengangguran terbuka dan angkatan kerja baru semakin bertambah banyak dari akibat kenaikan harga BBM tersebut.

Pengalaman tahun 2005 ketika BBM dinaikan 50% pada bulan Maret hingga bulan Oktober lebih dari 100%. Dampak kenaikan tersebut menimbulkan jumlah penduduk miskin meningkat sebelumnya 35 juta menjadi 39,05 juta jiwa naik 4,05 juta jiwa, sekaligus menaikan pula laju inflasi 17,11% pada tahun 2005. Menurut pakar ekonomi kita kenaikan BBM kali ini juga akan menaikan jumlah pengangguran bertambah sebesar 56 juta jiwa.

Bagi masyarakat kenaikan harga BBM telah memukul daya beli semakin rendah dengan turunnya pendapatan dan karena harga kebutuhan pokok semakin naik. Yang paling terpukul juga adalah dunia usaha ketika BBM non subsidi naik 21% pada bulan Desember 2007 terutama kelompok usaha kecil-menengah.

Kelompok UKM ini adalah sektor  riil yang paling banyak menyumbangkan penyerapan tenaga kerja sebesar 98% dari 108,13 juta jiwa angkatan kerja tahun 2007. Sementara itu bagi perusahaan besar bahan baku yang naik telah membuat hasil produksi yaitu harga jual semakin ikut pula merambat naik, selain itu yang akan terjadi adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).Jumlah  penduduk menganggur menurut data BPS awal tahun 2007 mencapai 10,55 juta jiwa dan angkatan kerja baru tahun ini 2,1 juta jiwa.

Sektor Perikanan dan Kelautan diperkirakan juga ikut terpukul dengan naiknya harga solar, ini juga akan membuat kehidupan kaum nelayan semakin terjepit, jika tidak dibantu dengan solar bersubsidi.  Dan banyak sektor lainnya akan terkena dampak dari naiknya BBM tersebut

PENUTUP

Dari uraian diatas kenaikan harga BBM jelas tidak diperlukan saat ini, apabila kita mau menggunakan banyak solusi alternatif, melakukan penghematan dan mengurangi kebocoran yang terjadi, serta mendayagunakan SDA kita,  baik yang ada maupun yang akan dilakukan.

Dengan cara lain mengurangi volume konsumsi BBM bersubsidi, menaikkan penerimaan pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan deviden BUMN, serta memangkas belanja lembaga, kementerian, dan belanja lain-lain.

Diharapkan solusi jalan keluar lainnya lebih banyak lagi untuk memecahkan situasi ekonomi saat ini. Misalnya mengaudit sektor-sektor lainnya yang dianggap tidak berguna dan memboroskan keuangan negara untuk dihentikan, begitupula masalah korupsi. Dengan begitu skala prioritas pembangunan diharapkan lebih membawa dampak bagi sektor rill ekonomi masyarakat.

Dengan demikian harapan memicu pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan dan keadilan ekonomi bagi rakyat, serta mengingat persaingan global dari hasil produksi kita yang murah dan berkualitas dapat terjadi. Dan banyak lagi.

Iklan