Privatisasi PT.KS

Privatisasi PT. KS

Teguh Iman Prasetya

Hari ini saya membayangkan negara Bolivia yang kaya akan sumber daya alam terutama migas di Amerika Latin dan sektor produksi lainnya yang menguasai hajat hidup orang banyak, tetapi negara itu tidak memiliki sama sekali kekayaannya. Bahkan terjerat oleh kemiskinan dan korupsi yang merajalela sebelum Evo Morales kemudian menduduki jabatan presiden saat ini.

Dimasa lalu Bolivia adalah tempat pembantaian kaum komunis dan tokoh terkenal seperti Che Guavara yang terpancing untuk melakukan perang revolusi dinegara itu, sehingga mengundurkan diri dari jabatan kementrian di Kuba. Sukses di Kuba bersama Fidel Castro ketika menumbangkan rejim boneka Amerika ternyata malah berbuah hasil yang pahit, menemui ajalnya dalam pelariannya ditepi jurang.

Apa yang terjadi 30 tahun lebih kemudian rakyat Bolivia seperti mengakui kegagalan kapitalisme ketika negara tersebut tidak memiliki apa-apa lagi, hingga kemudian Evo Morales berhasil merebut simpati dan berjuang menasionalisasi aset-aset nasional mereka. Pertikaian yang kemudian memicu perang diplomasi dan tarik-menarik yang cukup panas dengan kolaborator para investor asing tersebut cukup lama. HIngga akhirnya titik temu sementara saat ini adalah hanya menaikan pajak perusahaan untuk para kapitalis tersebut demi pemasukan pendapatan negara Bolivia.

Berkaca dari situ saya khawatir imbas dari penjualan asset nasional kita akan memiliki nasib sama dengan negara Bolivia. Sudah cukup banyak asset nasional (sektor publik) yang tidak pernah lagi kita miliki. Berita terakhir penjualan asset PT. Krakatau Steel yang merupakan aset nasional yang sangat produktif dan selalu menguntungkan, bahkan nomor 6 terbesar didunia dengan pangsa pasar dalam negeri dan luarnegeri yang sangat luas, membuat saya khawatir kita semakin tergerus dan terjepit oleh paham kapitalisme yang memabukan seperti candu, dan dimasa datang kita hanya bisa bermimpi bahwa kita dahulu adalah negara yang sangat kaya.

MASA LALU YANG GEMILANG

Saya masih ingat betul dari orang -orang yang bekerja dipabrik itu (mamang, tetangga, dll) PT. KS itu dahulunya adalah bernama PT. TRIKORA didirikan oleh Ir. Soekarno pada saat menghadapi perang menghadapi Belanda dilaut timur pembebasan Irian Barat untuk memenuhi kebutuhan pasokan besi baja pembuatan mesin perang seperti kapal, pesawat tempur, dll.

Kemudian berubah nama menjadi PT. Krakatau Steel pada tahun 1971 hingga saat ini dan berubah fungsi menjadi mesin perang pemasukan devisa negara melalui produksi baja. Bagi masyarakat Banten kehadiran PT. KS membawa berkah bagi warga pribumi, karena membuka lapangan kerja, dan sektor lainnya yang berkaitan, bahkan sudah banyak yang disumbangkan oleh PT. KS dalam memberikan kontribusinya yang cukup besar bagi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dan lain-lain, sejak didirikan hingga saat ini.

Hasil kerja keras dan dedikasi dari para pekerjalah kemudian PT. Krakatau Steel hingga saat ini termasuk perusahaan BUMN yang cukup disegani dimanca negara bersaing dengan India, China, dan lain-lain sebagai produsen baja bahkan termasuk 6 besar didunia.

Hal itu pula yang membuat saya juga cukup tertarik untuk mengambil skripsi di Fakultas Ekonomi Unpas dari sampel PT. Krakatau Steel pada tahun 1997.

KAPITALISME ADALAH BAGIAN DARI KITA

Dahulu dikampus saya paling menyenangi diskusi tentang filsafat dan psikologi komunikasi karya Jalaluddin Rachmat, bahkan sebelumnya masa di SMAN 1 Serang saya termasuk kutu buku termasuk buku-buku kuno karya Tan Malaka dan berlangganan majalah Tempo. Tak heran kemudian saya menjadi sangat kritis dan pemberontak masa itu, selain mencari keseimbangan dengan buku lainnya yang sangat jernih dan tidak pernah tamat hingga saat ini.

Jika dahulu dimasa orde baru tirani yang berkuasa dan mulai tumbuhnya kroni kapitalisme seputar Cendana yang menguasai sektor strategis seperti Pertamina, Freeport, tepung terigu dll., kini kapitalisme global yang kita hadapi saat ini dan mulai merambah seperti gurita pada sektor strategis publik dengan kemasan yang sangat menarik serta membius publik.

Saya teringat bukunya Kang Jalal dulu semasa di Bandung, untuk memahami manusia terdiri dari 4 pendekatan yaitu ; psikoanalisa, behaviour, rasionalitas kognisi-afeksi, kebutuhan. Yang menarik adalah teori Freud yang membagi manusia menjadi 3 elemen dasar yaitu ; id, ego, super ego. Ini bagi saya seperti paham dan ideologi besar saja.

Bayangkan jika “id” adalah nafsu primitif manusia termasuk diantaranya libido sex, homo homini lupus-manusia memakan manusia lainnya, barbarisme, keserakahan dan menguasai kepemilikan manusia lainnya,dll. Ini bagi saya seperti kapitalisme itu sendiri yang berpaham pada survival of the fittess, siapa yang kuat maka dia yang akan menang dan bebas tanpa batas (dalam konteks modern saat ini). Maka kemudian terbukti kapitalisme-neoliberal gagal diberbagai negara termasuk memicu adanya krisis ekonomi disebabkan keterkaitan dan ketergantungan serta pengaruh yang terlalu sangat dominan pada mekanisme pasar bebas yang menabrak kepentingan publik.

Sementara itu “super ego” adalah pembatasan yang sangat ketat dan kuat dari lingkungan untuk membelenggu kebebasan manusia oleh berbagai aliran / mahzab yang dianut manusia, baik itu atas nama agama, paham atau ideologi, termasuk tirani penguasa seperti Orde Baru dimasa lalu. Pengikut mahzab fanatik ini disebut parokhialisme/ pengikut yang setia membabi buta dengan aturan yang sangat ketat. Ini pula bagi saya seperti paham negara tiran dan korup juga mirip dengan contoh dari negara komunis Uni Sovyet sebelum bubar tahun 1989, dikuasai oleh tirani partai dan pemerintah komunis. Kebebasan manusia untuk berkreasi dimatikan bahkan sektor privat dikuasai oleh negara.Umumnya dibentuk pula dengan pendekatan behaviourisme (perilaku) yang sangat ketat dan tidak pada tempatnya, contohnya seorang anak sejak lahir dibentuk menjadi anak asuh negara.

Sedangkan elemen “ego” adalah penyeimbang atau justifikasi dari kedua elemen tersebut, bagaimana rasionalitas dan spiritual berperan besar untuk melakukan perubahan dan keseimbangan. Terbukti kemudian ideologi kita Pancasila secara normatif dan falsafah menyeimbangkan hal tersebut dan memformulasikan berbagai ideologi serta menggali dari khasanah yang ada dibumi Indonesia.

Jadi dengan demikian Psikoanalisa Freud sedikit banyak bukan hanya bicara memetakan memahami manusia tetapi juga memahami ideologi manusia.

Kembali pada PT. Krakatau Steel yang akan dijual seluruhnya dan dengan cara IPO penjualan saham untuk menarik modal. Keduanya tetap saja tidak masuk akal.  Dijual seluruhnya jelas sama dengan menghilangkan deviden/laba BUMN PT KS sebesar 140 miliard yang dikategorikan masuk dalam penerimaan pendapatan negara dalam penyusunan APBN.

Sedangkan cara kedua dengan upaya meningkatkan produksi dari 3 juta ton menjadi 7 juta ton maka akan dijual dengan sistem pembagian saham, juga tetap riskan dalam kepemilikan asset tersebut dimasa datang. Solusi yang termudah ialah dengan cara pinjaman di Bank dengan asumsi kepemilikan tersebut tetap dimiliki oleh negara. Saya pikir ini cara yang paling aman.

Maka saat ini tetap tidak perlu lagi mengorbankan untuk kepentingan jangka panjang dengan menjual PT. KS karena bukanlah solusi yang tepat bagi kesejahteraan rakyat dimasa datang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s