Buku Sejarah Banten Terbaru

Buku Sejarah Banten kini bertambah lagi setelah Lukman Hakim menelaah Sejarah Banten dari perspektif sebagai seorang jurnalis, kini lahir dari seorang perempuan berpendidikan tinggi asal Banten yaitu Dr. Titik Pujiastuti, Ketua Departemen Ilmu Sastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas  Indonesia. Buku setebal 377 halaman diselesaikan dalam waktu dua tahun dengan mengumpulkan bahan-bahan dari Perpusatakaan Jakarta, Museum Leiden Belanda dan London berjudul, “Perang, Dagang, Persahabatan,: Surat-surat Sultan Banten ”  

Surat-surat Sultan Banten ini berjumlah 54 surat dari tahun 1605-1819. Selain itu buku ini juga  menyertakan 26 naskah sejarah Banten yang merupakan karya fiksi. Kajian yang digunakan berdasarkan kodikologis, filologi, dan historis. 

Buku ini terbagi 5 bab. Bab satu, “Menoleh Kebelakang Menggapai Pemahaman Baru” memberikan gambaran Banten abad 16-17, tentang kerajaan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar  di Nusantara.

Bab dua, “Pesan Dari Masa Lalu ” , surat-surat Sultan Banten tentang hubungan dengan kerajaan luarnegeri Denmark, Inggris dan penguasa lainnya  pada abad  17-19 masehi.

Bab tiga, “Warna Sejarah dan Sastra  Klasik Banten”, memberikan naskah-naskah karya sastra dimasa lalu yaitu, “Babad Banten” dan  “Sedjarah Banten”.

Bab ke empat, “Antara Fakta dan Cerita” ; Relevansi Surat-Surat Sultan Banten dan Teks Sejarah Banten. Peristiwa disusun berdasarkan dongeng dan legenda  sehingga tidak jelas lagi mana yang fakta dan fiksi.

 

Sumber Berita ; Gito Waluyo (wartawan Fajar Banten)

Dari Hasil Diskusi Buku di Gedung Kopri Serang pada tanggal 24 April yang menghadirkan pembicara pembanding; Prof. Dr. Tihami, Dr. Tubagus Najib dan Dr. Mu’jizah

 

 

 

About these ads

26 thoughts on “Buku Sejarah Banten Terbaru

  1. saya juga lagi cari buku juga tentang sejarah banten nih… dan buku karangan halwany michrob yaitu cerita masa lalu banten juga bagus dan saya cucu dari alm mayor KH.Tb.syamsudin Nur bin KH. Tb. Muhamad nur (komandan bagian siasat /pasukan 1001 tirtayasa serang ajudannya KH. sam’un banten )…tolong beri penjelasann tentang buku yg baru ini yah…!!!

  2. Ass. wr wb
    Pak, saya membutuhkan buku Sejarah Banten dan sudah saya cari di gramedia juga. Tolong saya dikabari juga, karena sejarah banten menyangkut tentang bahan dari Tugas Akhir kuliah saya.
    Terima kasih banyak
    Wass. wr wb

  3. Ass. Kang kula butuh silsilah tubagus buang sing kasihe syech abdusshomad. Menawi wentenn jujutan sampe kangjeng sultan hasanudin. Htrnhn. Asmuni gunungsari

  4. Yth, Pak Teguh Iman Prasetya

    Pak saya sangat membutuhkan Buku Sejarah Banten tersebut saya udah cari digramedia tapi ngak ada, tolong ya pak kalau ada mohon dikhabari. terima kasih.

    salam, dunan

  5. Saya kerja di bidang kurikulum, saya juga mgister pengembengan kurikulum, dan sendang berpikir bagaimana sejarah Banten ataupun sejarah Islam Banten bisa menjadi salah satu mata pelajaran tersendiri bagi sekolah-sekolah ataupun madarasah-madarasah yang ada di Banten. ini penting saya kira, agar anak didik tidak tercerabut dari akar budayanya…momentumnya cukup tepat dengan adanya kurikikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang memungkinkan satuan pendidikan bisa menyusun kurikulumnya sendiri…kira2 literatur apa saja yang perlu saya baca selain buku mas teguh ini…

  6. Assalamu’alaikum Wr.Wb,
    Kang Teguh Iman Prasetya yang selalu dirahmati Allah SWT, Amien
    Saya sangat berbahagia sekali bila Kang Teguh dapat membantu saya untuk memberikan “cerita/hikayat yang lengkap tentang sosok tokoh KI MAS JONG, sehubungan sayapun pernah berburu GOLOK kepunyaannya namun saya detik ini belum berhasil. Salam buat keluarga dan sahabat semuanya
    Wassalamu’alaikum Wr.WB,
    dedi juanda

  7. mang teguh ……..
    kula niki lagi giat2te ning studi ngbahase masalah kmasarakatan banten, lan kula lagi ngilari buku atanapi sing mampu-mampu banten literatur jurnal delele drbe tah….mang?

    oya sampun kawin tah mang???? ngilkari gh hehehe

    salutlah kulamah ning mang teguh dosen trebaik anging untirta…..

    oya kula seneiki tinggale ning bogor…. doaaken nggeh supaya slsai tahun 2010 amin..

    salam
    kandjeng gusti kelepoh ganteng

  8. Klik
    http://kolomsejarah.wordpress.com/
    http://id.wikipedia.org/wiki/Multatuli
    http://www.goodreads.com/book/show/2598549.Max_Havelaar_atau_Lelang_Kopi_Maskapai_Dagang_Belanda

    Max Havelaar – Multatuli

    Thomas Rafles pernah memuji karya Douwes Dekker ini dalam bukunya History of Java

    Pemerintah Belanda mulai sadar kondisi rakyat jajahannya dan masyarakat Eropa tercengang dengan karya tsb. Berpijak pada kebenaran dan kemanusiaan tidak peduli bangsa dan negaranya. Orang besar yang tidak terpengaruh oleh lingkungan dan karirnya (revolusioner adalh kaliber para nabi)

    Dari sinilah kemudian bibit baru lahir dari kemarahan Ratu Wilhelmina utk mengeluarkan kebijakan politik Etis (irigasi, pendidikan, transmigrasi ) untuk mengurangi dampak dari kolonialisme sehingga atas jasa Douwes Dekker maka lahirlah Budi Utomo dan Sumpah Pemuda kemudian menjadi starting poin untuk kemerdekaan Indonesia.

    Karya ini juga termasuk karya sastra yang memiliki sentuhan cukup bagus
    dan langka menyoal kritik sosial masa itu Diterjemahkan kembali oleh HB. Yassin dengan cukup menarik

  9. Saya mau tanya nih…
    Tiga akibat Eksploitasi SDA indonesia oleh Jepang itu apa saja ya?? Tolong di jawab…Soalnya saya lagi bingung…dapat tugas di sekolah. Makasih

  10. Mohon informasi, seandainya ada yang pernah dengar tentang raden Santri Pangeran Perwiro Purbo atau Mbah Ky Klangsi. beliau adalah penyebar agama Islam di wilayah selatan prambanan hingga piyungan. Dalam cerita yang beredar di tengah masyarakat konon belaiu adalah keluarga/kerabat P. Diponegoro dan masih ada hubungan dengan P.Purboyo Wotgalih. Informasi ini sangat kami butuhkan dalam rangka untuk penyusunan buku cerita rekyat dan untuk menambah khasanah budaya di wilayah kami. sementara makam beliau di Sentul Kwasen Srimartani Piyungan Bantul DIY. trims

  11. Bicara kejayaan Kerajaan Hindu Sunda sudah habis masa sejarahnya ditanah Banten ketika Pada tahun 1525-1526 Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati berhasi menguasai Banten dan terakhir pada fase kedua kejayaan Panembahan Yusuf meluluh lantakan Pajajaran sebagai kerajaan tak bersisa (sirna ing bumi).

    Lebih jelasnya saya ambil dari ensiklodia sejarah dibawah ini silahkan anda baca.

    Sebelum Banten berwujud sebagai suatu kesultanan, wilayah ini termasuk bagian dari kerajaan Sunda (Pajajaran). Agama resmi kerajaan ketika itu adalah agama Hindu.

    Pada awal abad ke-16, yang berkuasa di Banten adalah Prabu Pucuk Umum dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang (Banten Hulu). Surosowan (Banten Lor) hanya berfungsi sebagai pelabuhan. Menurut berita Joade Barros (1516), salah seorang pelaut Portugis, di antara pelabuhan-pelabuhan yang tersebar di wilayah Pajajaran, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten merupakan pelabuhan yang besar dan ramai dikunjungi pedagang-pedagang dalam dan luar negri.

    Dari sanalah sebagian lada dan hasil negri lainnya diekspor. Oleh karena itu, Banten pada masa lalu adalah potret sebuah kota metropolitan dan menjadi pusat perkembangan pemerintahan Kesultanan Banten yang sempat mengalami masa keemasan selama kurang lebih tiga abad.

    Menurut Babad Pajajaran, proses awal masuknya Islam di Banten mulai ketika Prabu Siliwangi, salah seorang raja Pajajaran, sering melihat cahaya yang menya-nyala di langit. Untuk mencari keterangan tentang arti cahaya itu, ia mengutus Prabu Kian Santang, penasihat kerajaan Pajajaran, untuk mencari berita mengenai hal ini.

    Akhirnya Prabu Kian Santang sampai ke Mekah. Di sana ia memperoleh berita bahwa cahaya yang dimaksud adalah nur Islam dan cahaya kenabian. Ia kemudian memluk agama Islam dan kembali ke Pajajaran untuk mengislamkan masyarakat.

    Upaya yang dilakukan Kian Santang hanya berhasil mengislamkan sebagian masyarakat, sedangkan yang lainnya menyingkirkan diri. Akibatnya, Pajajaran menjadi berantakan. Legenda yang dituturkan dalam Babad Pajajaran ini merupakan sebuah refleksi akan adanya pergeseran kekuasaan dari raja pra-Islam kepada penguasa baru Islam.

    Sumber lain menyebutkan bahwa ketika Raden Trenggono dinobatkan sebagai sultan Demak yang ketiga (1524) dengan gelar Sultan Trenggono, ia semakin gigih berupaya menghancurkan Portugis di Nusantara.

    Di lain pihak, Pajajaran justeru menjalin perjanjian persahabatan dengan Portugis sehingga mendorong hasrat Sultan Trenggono untuk segera menghancurkan Pajajaran. Untuk itu, ia menugaskan Fatahillah, panglima perang Demak, menyerbu Banten (bagian dari wilayah Pajajaran) bersama dua ribu pasukannya. Dalam perjalanan menuju Banten, mereka singgah untuk menemui mertuanya, Syarif Hidayatullah, di Cirebon.

    Pasukan Demak dan pasukan Cirebon bergabung menuju Banten di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, Fatahillah, Dipati Keling, dan Dipati Cangkuang. Sementara itu, di Banten sendiri terjadi pemberontakan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin melawan penguasa Pajajaran.

    Gabungan pasukan Demak dengan Cirebon bersama laskar-marinir Maulana Hasanuddin tidak banyak mengalami kesulitan dalam menguasai Banten. Dengan demikian, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah berhasil merebut Banten dari Pajajaran. Pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di Banten Girang dipindahkan ke Surosowan, dekat pantai.

    Dilihat dari sudut ekonomi dan politik, pemindahan pusat  pemerintahan ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir Sumatra sebelah barat melalui Selat Sunda dan Selat Malaka. Situasi ini berkaitan pula dengan situasi dan kondisi politik di Asia Tenggara. Pada masa itu, Malaka telah jatuh di bawah kekuasaan Portugis, sehingga pedagang-pedagang yang enggan berhubungan dengan Portugis mengalihkan jalur perdagangannya ke Selat Sunda. Sejak saat itulah semakin ramai kapal-kapal dagang mengunjungi Banten.

    Kota Surosowan (Banten Lor) didirikan sebagai ibu kota Kesultanan Banten atas petunjuk Syarif Hidayatullah kepada putranya, Maulana Hasanuddin, yang kelak menjadi sultan Banten yang pertama.

    Atas petunjuk Sultan Demak, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin diangkat sebagai bupati Kadipaten Banten. Pada tahun 1552 Kadipaten Banten diubah menjadi negara bagian Demak dengan tetap mempertahankan Maulana Hasanuddin sebagai sultannya. Ketika Kesultanan Demak runtuh dan diganti Pajang (1568),

    Maulana Hasanuddin memproklamasikan Banten menjadi negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak.Sultan Maulana Hasanuddin memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570).

    Ia telah memberikan andil terbesarnya dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara sebagai salah seorang pendiri Kesultanan Banten. Hal ini telah dibuktikan dengan kehadiran bangunan peribadatan berupa masjid dan sarana pendidikan islam seperti pesnatren. Di samping itu, ia juga mengirim mubaligh ke berbagai daerah yang telah dikuasainya.

    Usaha yang telah dirintis oleh Sultan Maulana Hasanuddin dalam menyebarluaskan Islam dan membangun Kesultanan Banten kemudian dilanjutkan oleh sultan-sultan berikutnya. Akan tetapi, pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Kesultanan Banten mengalami kehancuran akibat ulah anak kandungnya sendiri, yaitu Sultan Haji, yang bekerjasama dengan kompeni Belanda. Ketika itu Sultan Haji diserahi amanah oleh ayahnya sebagai Sultan Muda yang berkedudukan di Surosowan.

    Akibat kerjasama kompeni Belanda dengan Sultan Haji, akhirnya terjadilah perang dahsyat antara Banten dan kompeni Belanda. Perang berakhir dengan hancurnya Keraton Surosowan yang pertama.

    Meskipun keraton tersebut dibangun kembali oleh Sultan Haji melalui seorang arsitek Belanda dengan megahnya, namun pemberontakan demi pemberontakan dari rakyat Banten tidak pernah surut. Sultan Ageng Tirtayasa memimpin Perang gerilya bersama anaknya, Pangeran Purbaya, dan Syekh Yusuf, seorang ulama dari Makassar dan sekaligus menantunya.

    Sejak itu, Kesultanan Banten tidak pernah sepi dari peperangan dan pemberontakan melawan kompeni hingga akhirnya Keraton Surosowan hancur untuk yang kedua kalinya pada masa Sultan Aliuddin II (1803-1808). Ketika itu ia melawan Herman Willem Daendels.

    Setelah Kesultanan Banten dihapus oleh Belanda, perjuangan melawan penjajah dilanjutkan oleh rakyat Banten yang dipimpin oleh para ulama dengan menggelorakan semangat perang sabil. Keadaan ini berlangsung sampai Negara Republik Indonesia diproklamasikan kemerdekannya.

    Hal ini terlihat dari berbagai pemberontakan yang dipimpin oleh para kiai dan didukung oleh rakyat, antara lain peristiwa “Geger Cilegon” pada tahun 1886 di bawah pimpinan KH Wasyid (w. 28 Juli 188 dan “Pemberontakan Petani Banten” pada tahun 1888.

    Keberadaan dan kejayaan kesultanan Banten pada masa lalu dapat dilihat dari peninggalan sejarah seperti Masjid Agung Banten yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Seperti masjid-masjid lainnya, bangunan masjid ini pun berdenah segi empat, namun kelihatan antik dan unik. Bila diamati secara jelas, arsitekturnya merupakan perpaduan antara arsitektur asing dan Jawa. Hal ini dapat dilihat dari tiang penyangga bangunan yang jumlahnya empat buah di bagian tengah; mimbar kuno yang berukir indah; atap masjid yang terbuat dari genteng tanah liat, melingkar berbetuk bujur sangkar yang disebut kubah berupa atap tumpang bertingkat lima.

    Di dalam serambi kiri yang terletak di sebelah utara masjid terdapat makam beberapa Sultan Banten beserta keluarga dan kerabatnya. Di halaman selatan masjid terdapat bangunan Tiamah, merupakan bangunan tambahan yang didirikan oleh Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memluk agama Islam dengan gelar Pangeran Wiraguna.

    Dahulu, gedung Tiamah ini digunakan sebagai majelis taklim serta tempat para ulama dan umara Banten mendiskusikan soal-soal agama. Sekarang gedung tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda purbakala.

    Selain itu, di Kasunyatan terdapat pula Masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari Masjid Agung. Di masjid inilah tinggal dan mengajar Kiai Dukuh yang kemudian bergelar Pangeran Kasunyatan, guru Maulana Yusuf, sultan Banten yang kedua.

    Bangunan lain yang membuktikan keberadaan Kesultanan Banten masa lampau adalah bekas Keraton Surosowan atau gedung kedaton Pakuwan. Letaknya berdekatan dengan Masjid Agung Banten. Keraton Surosowan yang hanya tinggal puing-puing dikelilingi oleh tembok tembok yang tebal, luasnya kurang lebih 4 ha, berbentuk empat persegi panjang.

    Benteng tersebut sekarang masih tegak berdiri, di samping beberapa bagian kecil yang telah runtuh. Dalam situs (lahan) kepurbakalaan Banten masih ada beberapa unsur, antara lain Menara Banten, Masjid Pacinan, Benteng Speelwijk, Meriam Kiamuk, Watu Gilang dan pelabuhan perahu Karangantu.***(Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam I, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet-11, 2003. pp 236-239.)

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s