Simbol Perlawanan

15 September 2007 (Diposting dari: Rumah Dunia)
SYEKH NAWAWI SEBAGAI SIMBOL PERLAWANAN
Oleh Aji Setiakarya

Nama Syekh Nawawi dilingkungan pesantren salafi tentu tidak bisa diragukan lagi keterkenalannya. Itu disebabkan karya-karya beliau banyak digunakan di pesantren. Sebut saja misalnya Syarah Al-Jurummiyah yang isinya tentang tatabahasa Arab, yang terbit tahun 1881 di Mekkah. Kitab ini menjadi kitab dasar bagi para santri yang masuk pesantren salafi. Selain Sarah Al-Jurumiyah ada pula Fathul Mujib, yang isinya uraian tentang lima bagian-bagian penting daripada hukum Islam dan lima rukun Islam.

Di kampung saya, nama Syekh Nawawi terkenal. Karena biasanya ibu-ibu di kampung saya mengikuti kajian kitab Syekh Nawawi ini. Nenek saya sering mengikuti kajian kitab Fathul Mujib dalam sebuah pengajian yang diselenggarakan oleh seorang kiayi. Dan yang saya kenal betul dari nenek saya adalah At-Tijanu Darari yang isinya tentang aqidah islam. Ya, di kalangan pesantren tradisional nama intelektual yang dijuluki Al-Alim di Mesir ini masih populer sampai saat ini, tulisan Djamal D Rahman di edisi Selasa lalu telah memberikan keyakinan jika buku karya Syekh Nawawi Banten masih laku hingga sekarang. Menurut Djamal dari 20 judul yang ia sebutkan di sebuah toko kitab di Sumenep Madura, 17 judul masih bisa didapatkan dengan mudah.

Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Penerbit; LP3ES mengutip Y.A Sarkis (1928), bahwa 37 karya Nawawi dianggap sangat penting yang menjadi refrensi studi Islam internasional dari sekitar seratus lebih karyanya. Kitab-kitab Syekh Nawawi diterbitkan di Mesir, Beirut , dan Libanon dan dibeberapa negara yang menganut imama Syafi’i.

***

Jujur, meskipun nenek saya suka menenteng Fathul Qorib dan Tijan Ad-durari pada setiap Minggu siang, saya tidak tahu bahwa Nawawi yang makamnya di Ma’la Mekka ini adalah pengarangnya. Perkenalan pertama dengan Syekh Nawawi adalah saat saya kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri Padarincang, secara tidak sengaja saya ikut saudara dalam sebuah pengajian rutin di sebuah pondok pesantren Bismillah yang letaknya tidak jauh dari rumah kakek saya. Saat itu saudara saya pergi belajar untuk Sarah Al-Jurumiyah oleh paman saya di pondok. Saya disuruh mengikutinya oleh kakek. Dengan agak terpaksa saya ikut.

Di pondok itulah saya mendengar nama Syekh Nawawi disebut pertama kali sebelum pengajian dimulai oleh seorang guru ngaji. Saat itu saya cuek saja dengan Syekh Nawawi. Karena saya tidak tahu mendalam soal Syekh Nawawi. Saat saya menginjak Madrasah Aliyah, saa mulai familiar dengan Nawawi lantaran banyak teman saya yang suka berziarah pada akhir bulan syawal, yang merupakan upacara peringatan wafatnya atau khaul Syekh Nawawi di Kampung Tanara Serang Banten. Saya sering mendengar cerita dari mereka, bahwa jika saat peringatan puluhan ribuan orang berkumpul di tempat yang sama untuk memanjatkan do’a. Sayangnya ribuan orang yang berbondong-bondong itu tidak tahu siapa Syekh Nawawi dan kiprahnya di dunia intelektual dan keilmuan Islam. Mereka tidak tahu bahwa K.H Hasyim As’ari adalah murid Syeh Nawawi Al-Bantani. Mereka tidak tahu jika Syekh Nawawi Al-Bantani Al-Tanari wafat di Mekkah Al Mukarromah. Kebanyakan dari mereka hanya tahu bahwa Syekh Nawawi adalah tokoh wali yang kramat yang harus diziarahi.

Perkenalan saya dengan Syekh Nawawi semakin akrab saat saya mondok di Rumah Dunia. Gola Gong, Toto St Radik, Ibnu Adam Aviciena juga beberapa teman yang lain sangat sering memperbincangkan Syekh Nawawi yang telah lama wafat itu. Apalagi kami sering mengundang tokoh dan akademis yang berkompeten dalam mempelajari karya-karya Syekh Nawawi. Dengan suasana dan ruh yang berbeda. Syekh Nawawi tidak hanya diposisikan sebagai wali yang kramat yang harus kita ziarahi, tapi syeh Nawawi adalah seorang tokoh intelektual, mahaguru, seorang pemuda yang briliant yang sudah berkarya dan tekun berdiskusi dan mengkaji ilmu. Nawawi adalah sosok yang harus kita jadikan figur anak muda yang dijadikan simbol keintelektualan untuk mengangkat peradaban manusia.

***

Bagaimana dengan kaum akademisi dengan tokoh yang bergelar Al-‘Âlim (Ilmuwan), yang menjadi teman berdebat para maha guru di Universitas Al-Azhar Cairo, ini? Bagaimana dengan putra Banten yang cerdas menulis ini?. Sepertinya di kampus saya nama Syekh Nawawi kalah populer dengan Che Guevara, Marx, Saddam Husein atau Fidel Castro yang seringkali diidentikan dengan simbol perlawanan terhadap penindasan. Syekh Nawawi juga kalah terkenal dengan Yoyo Mulyana sebagai rektor Untirta.

Teman-teman saya di kampus baru sekedar tahu Syekh Nawawi sebagai nama mesjid di kampus, bukan nama tokoh, intelektual muslim apalagi seorang mahaguru yang diakui kecerdasannya secara internasional dalam studi islam. Karya-karya Syekh Nawawi memang terkenal luas mendunia di kalangan pesantren. Santri-santri di pesantren banyak yang mengenalnya. Namun ada yang mengganjal dalam diri saya, kenapa ruh keilmuan Nawawi tidak menjalar kepada para mahasiswa. Mengapa para mahasiswa, beberapa aktivis misalnya, senang mengenakan kaos, pin dan atribut Che Guevara atau Fideral Castro yang jauh disana? Apa yang dilakukan Che Guevara terhadap bangsa ini?

Sementara Syekh Nawawi adalah orang Banten yang telah mengobarkan dunia keintelektualan di dunia internasional dan memberikan ruh semangat kepada ulama terdahulu untuk menjajah kolonialisme. Nawawi tidak suka kebodohan itu tergambar dalam kitab Nashaihul Ibad. Dia menganjurkan kita untuk mencari ilmu sebanyak-banyak sebagai keutamaan bagi seorang muslim. Selain itu Nawawi juga tidak suka penindasan, itu juga masih tertera dalam buku Nashaihul Ibad, bahwa menurutnya sepuluh orang yang dikutuk Allah salah satunya adalah penguasa otoriter. Bukankah itu sesuai dengan semangat anak muda, para aktivis yang tidak berkompromi dengan kekuasaan yang dzolim dan korup? Jadi Syekh Nawawi menurut saya sangat layak untuk dijadikan figur generasi muda Banten sebagai simbol intelektualisme sekaligus simbol perlawanan terhadap kebodohan dan kekuasaan yang dzolim. Bagaimana menurut Anda?

*) Aji Setiakarya, Relawan Rumah Dunia, aktivis Tirtayasa Reseach And Academic Society (TRAS) Untirta.
*) Foto Nawawi muda, sekitar umur 50 tahunan, hasil olahan Indra Kesuma
*) Banten Raya Post, Selasa 18 September 2007

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s