Ikon Ilmu

19 Agustus 2007 (Diposting dari : Rumah Dunia)
NAWAWI JADI IKON KEILMUAN DI BANTEN
Oleh Gola Gong

“Keranda Merah Putih”, 15 – 26 Agustus 2007 yang digagas Rumah Dunia, Forum Kesenian Banten, dan Komunitas Perupa Banten tidak hanya menampilkan pameran lukisan, pertunjukan teater, pembacaan puisi, bimbingan melukis untuk guru dan murid, serta lomba melukis tingkat SD saja, tapi juga dua tuntutan penting, yaitu Taman Budaya Banten/gedung Kesenian dan Perpustakaan segera dibangun. Itu terus mengerucut dalam menu disuksi-diskusinya.

BUTUH GEDUNG
Pada hari pembukaan, Rabu 15 Agustus, bekerjasama dengan Humas Pemprov Banten dan Depkominfo (Departemen Komunikasi dan Informasi) menghidangkan menu diskusi “Jangan Jadikan Korupsi Budaya Kita” dengan nara sumber Mufti Ali, MA, Muhyi Mohas, MH, Abdul Malik, Neng Nurcahyati, dan Ruby Ach Bhaedawy. Justru setelah usai disuksi, ada informal meeting, muncul dugaan, andai pembangunan Taman budaya Banten tidak sarat dengan kepentingan proyek semata, mestinya Taman Budaya Banten sudah selesai. “Indikasi korupsi ada,” kata Ruby, Ketua FKB. “Masak, sekitar dua milyar lebih hanya jadi pondasi saja?” Saat berdialog dengan seniman di acara pembukaan, Atut menjanjikan, “Hingga masa jabatan saya selesai pada 2012, Taman Budaya Banten akan selesai dibangun.”

Bergeser ke Sabtu pagi, 18 Agustus 2007 pukul 11.00 WIB, ada diskusi film. Hilman “Lupus” Hariwijaya memutar promo-air film horror “The Wall”. Para artis pendukungnya diboyong. Sayang, karena di areal terbuka, pemutaran film jadi terasa hambar. “Filmnya nggak kelihatan! Coba kalau ada gedung perpustakaan yang representative, kita bisa pinjem ruangan diskusinya! Makanya, cepet bangun gedungnya! Kami butuh, nih!” kata Ali, peserta diskusi dari Fakultas Teknik Untirta.

Masih hari Sabtu yang sama, pukul 14.00 WIB, diskusi menyuguhkan tema yang renyah, yaitu “Kita dan Perpustakaan: Berkaca Pada Syekh Nawawi al-Bantani”. Pembicaranya mumpuni; Prof. Dr. HM Tihami (rektor IAIN SMH Banten) dan Jamal D. Rahman (Redaktur majalah sastra Horison, Jakarta). Bagi orang Banten, nama Syekh Nawawi tidak asing. “Malah sudah jadi mitos,” kata Wan Anwar, peserta diskusi. Hanya saja, tidak semua orang tahu siapa Nawawi, apalagi membaca buku-bukunya.

TRADISI ILMU
Jamal D. Rahman mengaku, baru sadar kalau selama ini Nawawi adalah gurunya. “Ketika saya berhaji di Mekkah, saya baru sadar kalau Nawawi dimakamkan di Ma’la. Dan ternyata kitab-kitab yang saya pelajari adalah karya Nawawi. Saya sekarang baru meiliki 20 buku karyanya,” Jamal, santri Madura, menunjukkan buku-buku itu, yang sengaja dibawanya untuk diperlihatkan ke peserta diskusi. Jamal berencana menejemahkan buku-buku Nawawi ke dalam bahasa Indonesia. “Nawawi adalah orang pertama Melayu yang menulis tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Arab.”

Tihami yang desertasinya tentang Nawawi merasa prihatin ketika ada orang mengatakan, bahwa buku-buku Nawawi sudah ketinggalan zaman. “Saya tekankan, tidak. Buktinya, ada sebuah buku Nawawi yang membahas tentang zakat. Nawawi mengusulkan, agar zakat dibayarkan ke mustahiknya bukan dalam bentuk uang, tapi misalnya dibelikan bibit tanaman. Lalu tanamn itu akan tumbuh, besar, dan berbuah. Sehingga zakat tidak identik dengan memelihara kemiskinan, tapi justru memberi peluang pada umat untuk bangkit dari kemiskinan dengan cara bekerja.. Itu ‘kan tidak ketinggalan zaman, tapi justru masih kontekstual dengan kondisi zekarang.” Juga Tihami menambahkan, “Nawawi iuga dalam buku-bukunya selalu menyarankan menghindari konflik. Selalu ada kompromi di dalamnya, agar umat sejahtera.”

Persoalannya sekarang, bagaimana para pemimpin di Banten? Terutama yang bekerja di dinas terkait, seperti Kantor Perpustakaan Daerah, Dinas Pendidikan dan Departemen Agama? Mengenalkan mereka kepada Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar di Arab yang berasal dari Tanara, Banten? Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa S2 di Leiden, asal Cibaliung, Banten Selatan menulis di Radar Banten, “Sebaiknya ada Nawawi corner di Perpustakaan Daerah Banten.”

Masyarakat Banten tidak semua tahu siapa Nawawi. Ibnu AA dalam tulisannya membandingkan Nawawi dengan Multatulli. Kalau Multatulli memiliki website dan museum, sementara itu Nawawi tidak dan asing di kampong halamannya sendiri. “Hanya setiap kelahirannya saja, masyarakat nge-hol. Biasanya tahlilan dan yasinan.” Sedangkan ilmu-ilmu yang dimiliki Nawawi tidak dipelajari secara mendalam.

Dalam sebuah diskusi di Radar Banten, saya pernah menyindir, bahwa keterpurukan Banten bukan hanya karena hegemoni sebuah kelompok dan korupsi saja, tapi juga dikarenakan tradisi keilmuan yang tidak dikembangkan oleh dunia pesantren. Para kiyainya lebih asyik membuat padepokan silat dan vetikal; nge-wirid ke gusti Allah saja. Lebih asik sembunyi di bilik santri. Tihami membetulkan hal ini. “Tradisi di pesantren-pesantren Banten, justru lebih kuat ke tarekatnya. Ilmu-ilmu kedigjayaan lebih dipelajari, karena saat itu rakyat Banten ingin keluar dari kungkungan kolonial. Syekh Abdul Kareem, temannya Nawawi di Mekkah, lebih banyak diikuti oleh santri-santri serta ulama di Banten, sehingga tradisi keilmuan di Banten kurang.

Wan Anwar juga menyayangkan, kenapa Nawawi tidak dijadikan ikon keilmuan di Banten. “Saya pernah mengusulkan, agar nama Untirta diganti jadi Universitas Syekh Nawawi. Tirtayasa imejnya lebih cocok untuk nama markas militer. Tapi, di Untirta jusru dijadikan nama mesjid, sehingga Nawawi semakin kuat imejnya sebagai ulama saja. Padahal, dia itu dosen, professor, dan kriikus sastra.” Tihami sependapat. “Cara berpikir Nawawi itu sistematis. Setiap hendak menulis buku, selalu ada uji kelayakan dulu dengan santri-santrinya. Semuanya berdasarkan riset. Sayang, hal itu tidak dijadikan tradisi keilmuan di Banten, sehingga yang muncul kuat adalah kejawaraannya di Banten.”

GERAKAN NAWAWI
Nawawi adalah potret warga Banten yang maju di negeri orang, tapi karena tekanan Belanda, dia lebih memilih tinggal di Mekkah hingga ajal mnejemputnya. Dia hanya pulang sekali ke Indonesia, setelah tiga tahun belajar di Mekkah. Tihami juga membnarkan ini. “Nawawi tidak tahan dengan kondisi Banten yang tidak kondusif. Terutama tekanan Belanda.” Ibnu menanggapi lewat emailnya, ” Nawawi kerasan di Mekkah, karena istrinya dua.”

Pada massa kekinian, banyak warga Banten yang kecewa melihat iklim yang tidak kondusif, lalu memilih pergi dari Banten unutk mencari ilmu dan harta. “Susah, jawara sudah keluar dari jalur, tidak melindungi rakyat lagi. tapi meres,” kata beberapa orang. Kalau versi H. Embay Mulya Syarief, “Jawara yang meres duit bukan jawara yang tukang sholat. Saya jawara sholat.”

Sudah rahsia umum, orang-orang Banten setelah sukses, dia memilih menetap di luar Banten. Beberapa orang yang sukses; Tryana Sam’un, Muchtar Mandala, Aryudi Pudri, pernah mencoba pulang mengadu nasib dalam pemilihan gubernur Banten. Tapi setelah kalah, mereka memilih hengkang lagi. Rata-rata dari mereka beralasan, bahwa tinggal di Banten sangat sulit untuk maju, karena Banten dikuasi oleh sekelompok orang dan sekelempok kepentingan. “Terutama, hegemoni jawara yang tidak lagi membela kepentingan orang banyak.”

Saat diskusi, saya mengusulkan agar ada gerakan “Baca Nawawi’. Harus dimunculkan ikon baru di Banten lewat Nawawi. Tihami setuju dan siap berada di barisan terdepan. Saya berandai-andai, Tihami adalah jawara keilmuan dan saya beserta teman-teman adalah para pendekarnya, balatentaranya. Tapi, senjata kami adalah pena, bukan golok. Maka kredo dari Toto ST Radik terasa pas, “asah penamu, simpan golokmu”.

Gerakan “Baca Nawawi” adalah berupaya merubah citra Banten, yang identik dengan kekerasan. “Tarekat itu kedigjayaan. Dan kedigjayaan itu adalah kekerasan,” tegas Tihami. “Maka Nawawi sangatlah cocok untuk kita usung sebgai tradisi keilmuan.”

Rencananya kami akan mensosialisasikan Nawawi seperti halnya Che Ghuevara, Bung Karno, Chairil Anwar, atau Soe Hok Gie yang wajahnya disablon di kaos-kaos serta anak-anak muda bangga mengenakannya. Kami akan mencari foto wajah Nawawi. Lalu menyablonnya di kaos dan stiker, agar anak-anak muda di Banten memiliki idola seperti mereka. Persepsi Nawawi yang hanya berkutat di bidang agama harus ditambahkan dengan tradisi keilmuan yang lain.

Nawawi harus gaul, istilah kerennya. Anak-anak muda Banten akan bangga mengenalnya. Tentu saja kami akan menuliskannya di koran-koran. Banten Raya Post sudah menyetujui hal ini. “Setiap Selasa, akan ada rubrik ‘Baca Nawawi,” Si Uzi, Direktur/Pemred Banten Raya Post menegaskan lewat komunikasi SMS.

Saya, Prof. Dr. Tihami, Wan Anwar, Ruby Ach Bhaedawy, Toto ST Radik, Firman Venayaksa, Jamal D Rahman, siap menuliskannya. Bahkan siapa saja yang peduli dengan mengembangkan tradisi keilmuan lewat Nawawi di Banten, mari bergabung. “Baca Nawawi” tujuan besarnya adalah, merubah imej Banten dari budaya kekerasan ke budaya keilmuan.

Kalau perlu, gedong Negara yang sekarang jadi pusat pemerintahan provinsi dan gubernuran, kita rebut jadi Pusat Penelitian Banten dan kita namai “Syekh Nawawi al-Bantani.” Bahkan para petinggi di Kantor Perpusda Banten; Sudiyati dan Yaya Suhendar, sudah meniatkan nama gedung Perpustakaan Banten yang pembangunannya dibatalkan bernama “Perpustakaan Syek Nawawi al-Bantani”. Partai Keadilan Sejatera Banten saja sudah memberikan Nawawi Award kepada almarhum Uwes Qorny, pendiri Provinsi Banten asal Lebak, pada ulangtahun Banten ke-6, Oktober 2006 lalu di Mesjid Banten lama. Dengan begitu, masyarakat Banten akan keluar dari cengkraman cap jelek sebagai daerah terbelakang, warganya senang nyantet dan selalu menyelesaikan segala permsalahan dengan kekerasan alias golok. Itu akan kita ubah dengan sesuatu yang baru: Nawawi. Dan Banten masa depan adalah sebagai pusat tradisi keilmuan! Hidup Nawawi! Insya Allah! (*)

*) Pemulis adalah penasehat Rumah Dunia

Rubrik ini kerjasama antara Banten Raya Post dengan Rumah Dunia, Forum Kesenian Bnten, Komunitas Perupa Banten, Universitas Tirtayasa Serang, IAIN SMH Banten, STIE Serang, STIKOM Wangsajaya, STIE Banten, Sanggar Sastra Serang, Forum Lingkar Pena, Gesbica, Cafe Ide, Sigma, Top FM, Kubah Budaya, Kelompok Pemusik Jalanan, Belistra, Teater Studio Indonesia. *) Foto saat diskusi di Rumah Dunia; Prof. Tihami dan Jamal D Rahman; Nawawi, go, Nawawi!

One response

  1. Selamat pagi,
    Salam kenal dari Dayu di Bali.

    Blog anda cukup bagus, semoga selalu diupdated infonya. Mungkin kita bisa share informasi dimasa yang akan datang.
    Thanks
    Bali tour guide.

    Kamis, Desember 18, 2008 pukul 8:06 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s