Eksotisme Salakanagara

Hasil Penelitian Kerajaan Salakanagara

O l e h :

Dani Prayudhi, Maslim Lesmana, Nurhaedi,

Renny .Y. Adystiani, Vinchentia RH

SALAKANAGARA

Pandeglang menyuguhkan banyak sejarah yang sangat menarik untuk di teliti. Salah satunya sejarah Kerajaan Salakanagara. Cihunjuran, Citaman, Pulosari dan Ujung Kulon merupakan tempat-tempat yang menyimpan banyak situs tentang Salakanagara. Di Cihunjuran misalnya, di tengah hamparan pesawahan terdapat beberapa batu-batu purba serta kolam-kolam pemandian purba tepatnya zaman Megalitikum.

Bukan hanya batu-batuan dan kolam-kolam purba yang menambah menariknya Cihunjuran, pemakaman Aki Tirem Luhur Mulia atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Angling Dharma dalam nama Hindu dan Wali Jangkung dalam nama Islam yang ukurannya tidak seperti pemakaman pada umumnya semakin menambah eksotisme sejarah di tempat tersebut.

Batu Dolmen, tumpukan menhir yang dikumpulkan oleh warga setempat, Batu Dakon dan Batu Peta yang sampai saat ini belum ada satu orang pun yang dapat menerjemahkan isi peta tersebut semakin menambah eksotisme nilai sejarah yang ada di situs Cihunjuran.

Ditengah rasa kekaguman dan keingintahuan terhadap eksotisme sejarah peninggalan Salakanagara rasa keingintahuan itu pun terpuaskan dengan adanya keterangan dari salah satu narasumber sekaligus tokoh masyarakat setempat. Bapak Entong begitulah panggilan akrab bapak yang diperkirakan umurnya diatas 60 tahun itu. Berikut beberapa keterangan dari beliau.

1. Kerajaan Salakanagara Ada Sejak Abad Ke 1 (satu)

Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan tertua yang ada di Nusantara. Raja pertama Kerajaan tersebut adalah Dewawarman. Dewawarman merupakan duta dari Kerajaan India yang diutus ke Nusantara (Pulau Jawa), kemudian Dewawarman dinikahkan oleh Aki Tirem Luhur Mulia dengan Putrinya yang bernama Larasati Sri Pohaci, maka setelah Dewawarman menjadi menantu dari Aki Tirem Luhur Mulia diangkatlah Dewawarman menjadi Raja I (pertama) yang memikul tampuk kekuasaan Kerajaan Salakanagara. Saat menjadi Raja Dewawarman I dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Kerajaan Salakanagara beribukota di Rajatapura yang sampai tahun 363 menjadi pusat Pemerintahaan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I-VIII).

2. Nama lain Aki Tirem Luhur Mulia Aki Tirem Luhur Mulia yang merupakan mertua dari penguasa pertama kerajaan Salakanagara. Dewawarman lebih dikenal oleh masyarakat setempat (Cihunjuran) dengan nama Prabu Angling Dharma dan Wali Jangkung.

Nama inilah yang kemudian menjadi sebuah pertanyaan apakah Angling Dharma/Wali Jangkung hanya sebuah cerita rakyat biasa tanpa fakta ataukah nama Angling Dharma/Wali Jangkung memang benar-benar nama lain dari Aki Tirem Luhur Mulia? Tapi kalau ini memang benar adanya, lalu samakah Angling Dharma yang ada di Jawa Tengah dengan Angling Dharma versi masyarakat Cihunjuran?

Ada satu lagi hal yang menarik yang harus dipertanyakan. Kalau memang Angling Dharma itu nama lain dari Aki Tirem Luhur Mulia, lalu bagaimana dengan Wali Jangkung. Bukankah sebutan Wali hanya untuk orang-orang yang memeluk agama Islam? Lalu apa sebenarnya agama yang dianut oleh Aki Tirem Luhur Mulia? Islam kah atau Hindu? Apakah Aki Tirem Luhur Mulia (nama asli) beragama Islam atau Hindu? Tapi dari ritual yang dijalankan oleh masyarakat setempat dapat diartikan bahwa Aki Tirem Luhur Mulia telah di-Islam-kan oleh penduduk setempat.

Hal tersebut bisa terlihat dari ritual-ritual, yang dijalankan oleh masyarakat setempat terhadap situs kerajaan Salakanagara diantaranya: ziarah yang dilakukan di makam Aki Tirem Luhur Mulia yang menggunakan tata cara Islam mulai dari berwudhu dan bacaan-bacaan Ziarah.

3. Bukti-bukti Sejarah Peninggalan Salakanagara:

a.) Menhir Cihunjuran; berupa Menhir sebanyak tiga buah terletak di sebuah mata air, yang pertama terletak di wilayah Desa Cikoneng. Menhir kedua terletak di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari. Menhir ketiga terletak di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang.

Tanpa memberikan presisi dimensi dan lokasi administratif, tetapi dalam peta tampak berada di lereng sebelah barat laut gunung Pulosari, tidak jauh dari kampung Cilentung, Kecamatan Saketi. Batu tersebut menyerupai batu prasasti Kawali II di Ciamis dan Batu Tulis di Bogor. Tradisi setempat menghubungkan batu ini sebagai tempat Maulana Hasanuddin menyabung ayam dengan Pucuk Umum.

b.) Dolmen; terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Berbentuk sebuah batu datar panjang 250 cm, dan lebar 110 cm, disebut Batu Ranjang. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus dengan permukaan yang rata dengan pahatan pelipit melingkar ditopang oleh empat buah penyangga yang tingginya masing-masing 35 cm. Di tanah sekitarnya dan di bagian bawah batu ada ruang kosong. Di bawahnya terdapat fondasi dan batu kali yang menjaga agar tiang penyangga tidak terbenam ke dalam tanah. Dolmen ditemukan tanpa unsur megalitik lain, kecuali dua buah batu berlubang yang terletak di sebelah timurnya.

c.) Batu Magnit; terletak di puncak Gunung Pulosari, pada lokasi puncak Rincik Manik, Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Yaitu sebuah batu yang cukup unik, karena ketika dilakukan pengukuran arah dengan kompas, meskipun ditempatkan di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu tersebut.

d.) Batu Dakon; Terletak di Kecamatan Mandalawangi, tepatnya di situs Cihunjuran. Batu ini memiliki beberapa lubang di tengahnya dan berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan

e.) Air Terjun Curug Putri; terletak di lereng Gunung Pulosari Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, air terjun ini dahulunya merupakan tempat pemandian Nyai Putri Rincik Manik dan Ki Roncang Omas. Di lokasi tersebut, terdapat aneka macam batuan dalam bentuk persegi, yang berserak di bawah cucuran air terjun.

f.) Pemandian Prabu Angling Dharma; terletak di situs Cihunjuran Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, pemandian ini dulunya digunakan oleh Prabu Angling Dharma atau Aki Tirem atau Wali Jangkung.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan tertua yang ada di nusantara. Hal itu dapat dilihat dari situs-situs peninggalan kerajaan tersebut. Kerajaan Salakanagara terdapat di Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang, dan situs-situs peninggalannya tersebar di Cihunjuran, Citaman, Gunung Pulosari, dan Ujung Kulon.

Iklan

37 responses

  1. Seharusnya dibuatkan sebuah penelitian yang komprehensif untuk mendalami Kerajaan Salakanagara, dan kalau memang Salakanagara adalah kerajaan Tertua di Nusantara, karena dimulai dari awal abad masehi, maka seharusnya Kemendiknas mengubah atau merevisi kurikulum Sejarah Nusantara, karena selama ini para siswa baik dari tingkat SD, SMP maupun SMA, diajarkan bahwa kerajaan tertua adalah Kerajaan Kutai di Kalimantan.

    Untuk Saudara Ferry Femil, kalau anda tidak mengetahui tentang Sejarah Dunia, mohon tidak mengomentari tulisan diatas, karena jelas sejarah dunia jauh lebih tua dari sejarah Nusantara. Seperti kerajaan Mesir kuno (3100 SM), Persia (3200 SM), China (220 SM), dll.

    Kamis, September 6, 2012 pukul 11:04 am

  2. Salim Saputra

    Asslm ‘alaikum wr wb.
    Saya memang tdak bnyak mengetahui asal mula bangsa di Nusantara ini terbentuk, justru saya sangat ingin tau akan perihal itu.
    Sedikit dari saya sebagai pandangan.
    Dengan beragamnya suku bangsa yang ada di Nusantara bahkan di dunia, semuanya memiliki keterkaitan, sebagaimana dengan cerita atau legenda Anling Dharma yg memiliki beberapa versi bahkan sampai ada yg mengislamkannya sebagai Wali Jangkung.
    Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa Allah telah menjadikhan 124000 Nabi dan mengutus 313 Rasul atau dalam riwayat lain 315 Rasul, dan Allah juga menjadikan seorang Pemuka dari setiap kaum atau bangsa. Tidak menutup kemungkinan Allah jadikan Nabi dan mengutusnya menjadi Rasul kepada setiap suku bangsa, sebagai misal di Cina atau India dan kepada suku Jawa. Dalam sebuah hadist yg di riwayatkan Imam Ahmad dari Abu Dzarr RA “Allah tidak mengutus seorang Nabi kecuali dengan bahasa kaumnya”.
    Anling Dharma atau Aki Tirem bahkan di sebut Wali Jangkung adalah seorang tokoh yang memiliki tingkat Spiritualitas dan Religiulitas yang tinggi sebagai Pemuka di tanah Jawa atau Nusantara pada saat itu adalah benar adanya sebagai apa yang telah tersebut hadist di atas.
    Maha Suci Allah dari prasangka hambaNya.

    Jumat, Desember 31, 2010 pukul 12:25 am

  3. gugun gundewa

    Terimakasih atas tulisannya, sehingga dapat memperkaya khasanah pengetahuan tentang kekayaan budaya banten.

    Saya adalah warga Banten yang juga tertarik pada nilai kehistorisan gunung pulosari.
    Namun ada hal yang membuat gundah dan menggelitik berkaitan dengan mitos yang berkembang mengenai keterkaitan AKI TIREM sebagai pendahulu Salakanagara dengan ANGLING DHARMA.

    Saya kira perlu penelitian yang lebih lanjut, seurius dan mendalam dari dinas terkait atau ahli sejarah dan kepurbakalaan untuk semakin memperkuat eksistensi sejarah salakanagara.

    Alangkah bijaksananya apabila kita tidak hanya bersandar pada cerita turun temurun ‘ceuk ceunah’ yang sangat lemah kekuatan argumentasinya. Meskipun tidak bisa dipungkiri jika sejarah lekat dengan cerita turun temurun. Namun hal tersebut juga harus diperkuat oleh bukti-bukti otentik dan referensi dari sumber lainnya sebagai pembanding.

    Biasanya dari ‘Ceuk ceunah’ itu kerap dikreasikan dengan bumbu-bumbu pemanis, dan saya khawatir apabila terlalu jauh dibumbui akan semakin menggiring pada kesumiran dan mengikis kekuatan nilai historis salakanagara. Seperti halnya keberadaan ANGLING DHARMA dan situs cihunjuran di katakan sebagai makamnya.

    Mungkin akan lebih tepat jika ANGLING DHARMA tidak perlu dikait-kaitkan dengan AKI TIREM dan situs cihunjuran bukan suatu makam, tetapi merupakan tanda petilasan dari suatu peradaban yang pernah berkembang di tempat tersebut. Karena bukankah pada umumnya makam-makam ‘keramat’orang-orang ‘besar’ yang dikaitkan dengan kesakralan gunung, berada di puncak-puncak gunung bukan di kaki gunung seperti di cihunjuran???

    apalagi jika cerita ‘ceuk-ceunah’ yang dibuat itu sudah di kontaminasi oleh motif untuk semakin membuat pengunjung tertarik dan ramai mendatangi lokasi tersebut, dan ujung-ujungnya keuntungan ekonomi bagi pihak tertentu,ditambah dengan diperparah jika harus menggadaikan ketauhidan saudara-saudara kita muslim karena mitos dari ‘ceuk ceunah’ tersebut yang mengatakan makam tersebut dapat memenuhi hajat seseorang.

    Jika kita menggali beberapa referensi yang dipublikasikan berkaitan dengan sejarah Pulosari, diantaranya Guillot dkk (1996) dan Iskandar dkk, (2001) atau dari artikel-artikelnya M.Ali Fadilah, tidak menyebut adanya hubungan nilai-nilai kepurbakalaan pulosari dengan ANGLING DHARMA. Begitu juga apabila kita mencari referensi pembanding dari sumber lain (selain dari juru pelihara cihunjuran), ternyata masyarakat desa cikoneng (desa tempat keberadaan situs cihunjuran) juga sangat meragukan keberadaan ANGLING DHARMA dalam sejarah Salakanagara, dan begitu juga meragukan situs cihunjuran dikatakan sebagai Makam.

    Oleh karena itu, sangat perlu dilakukan upaya koreksi terhadap mitos yang dari mitos ‘ceuk-ceunah’ dari yang dihembuskan pihak tertentu, demi pelurusan sejarah Pulosari, sehingga tetap menjaga keharuman Sejarah Banten.

    Terimakasih dan Salam
    GG

    Selasa, Oktober 19, 2010 pukul 12:00 pm

  4. Ferry femil

    Ass.wr.wb. Mohon maaf sbelum’y, saya ialah manusia paling bodoh, mungkin sebodoh-bodohnya manusia ialah saya. Yang sya tahu tntang kerajaan SALAKANEGARA, ialah kerajaan pertama, bukan hanya di INDONESIA tpi di DUNIA, pendiri pertama kerajaannya ialah MBAH TIREM, wilayah kekuasaan meliputi seluruh INDONESIA letak kerajaannya di bawah kaki gunung SALAK BOGOR s/d PANDEGLANG BANTEN.

    Selasa, Agustus 17, 2010 pukul 9:12 pm

  5. adriyanto

    aku bangga pada anak muda yang interest akan sejarah bangsa ini, ingin terus menggali lagi ? cari di p. handeuleum……

    Senin, Agustus 9, 2010 pukul 12:05 am

  6. prabu surya kancana

    untuk menambah ilmu dan pengetahuan jangan lupa dengan sejarah bangsa.ambil yang baiknya buangyang buruknya.

    Senin, Juli 19, 2010 pukul 3:47 pm

  7. sejarah adalah perjalanan bangsa yang harus kita gali untukanak cucu kita

    Sabtu, Juli 17, 2010 pukul 4:16 pm

  8. salam hormat

    Jumat, Juli 16, 2010 pukul 3:21 pm

  9. damsyik firdaus

    ternyata apa yg saya dapat dan saya pelajari dari sekolah dulu masih mentah, dan ini menjadi pelajaran buat kita semua, akan sebuah kesalahan, sehingga kita tidak mau melihat sejarah kita dengan teliti, dan menjadikannya sebagai kebanggan bagi kita semua

    terimakasih atas pelajarannya yg sangat berguna ini

    Kamis, Mei 20, 2010 pukul 8:46 pm

  10. Pyan Sopyan Solehudin

    terima kasih sudah berbagi tentang Salakanagara. Sunda kuno. Aki Tirem. by http://asicafe.wordpress.com

    Senin, Mei 10, 2010 pukul 3:10 pm

  11. Didin : Batu Qur’an ada di daerah Cikoromoy lebih jauh dibandingkan Aki Tirem di daerah Cihunjuran-Salakanagara di kaki Gunung Pulosari…….. Selamat berlibur dan berwisata anda akan banyak menemui keanehan yang langka yang tidak ada di daerah lainnya.

    Sedangkan kepada teman-teman lainnya diatas yang telah memberi komentarnya, saya berterimakasih, semoga dimasa datang kita dapat bekerjasama membuka banyak tabir misteri dan Sejarah Banten (Hp. 085920770007).

    Senin, April 12, 2010 pukul 10:37 pm

  12. DIDIN HARYONO

    Saya sangat suka dengan sejarah kerajaan tertua di Banten ini…, terutama kerajaan salakanagara, paling tidak bagi saya yang awam menambah wawasan tentang sejarah kebantenan…, saya ingin mengucapkan kepada teman-teman siapapun yang memiliki referensi, tulisan, penemuan tentang sejarah banten dapat dituangkan dan diinformasikan kepahalayak. siapa tahu betul-betul bermannfaat…, sukses ya mas…. telah menulis sejarah “kerajaan salakanagara” dengan AKI Tirem mulya nya…., o ya…., kalau kami mau wisata ke daeraha pandeglang…, dari mengger kearah cikoromoy terus ke mana…., kearah batu qur,an atau cikoromoy itu yang disebut pamandian aki tirem….? tks uya

    Senin, April 12, 2010 pukul 3:17 pm

  13. Saya baru saja baca buku “Sejarah Jawa Barat” yg diterbitkan CV. Geger Sinten di Perpustakaan Palagan Bojong Kokosan.

    Minggu, April 11, 2010 pukul 2:24 pm

  14. Fitri Suciwiati

    sebagai urang pandeglang asli, tentu saya merasa bersyukur Salakanagara telah menjadi bagian sejarah Pandeglang. saya berniat menggoreskannya ke dalam ” Imaji Pandeglang Dalam 136 Teks” berkenaan dgn HUT Pandeglang yang ke-136 tahun. Hatur nuhun. Salam,,

    Senin, April 5, 2010 pukul 6:56 pm

  15. sikapsamin

    Penulisan Sejarah yang sangat berharga karena menelusuri Asal-Usul keberadaan suatu Bangsa.
    Saya sangat menghargai uraian2 ini, termasuk para komentator yang lebih memberi pencerahan terutama kpd saya pribadi.

    Saya berharap, semoga nantinya bisa ditemukan BENANG-MERAH dg Situs SANGIRAN dan PATIAYAM yg sdh diakui dunia sbg WORLD’S HERITAGE yg fokusnya adalah: http://en.wikipedia.org/wiki/Java_Man

    Salam…Hormat Penuh Penghargaan

    Senin, Januari 11, 2010 pukul 7:59 am

  16. Anonim

    mas,kalau wali jangkung itu dari PATI jawa tengah. Atau lebih dikenal dengan saridin ( syech jangkung ). Beda dengan Prabu Angling Dharma.

    Selasa, Juni 2, 2009 pukul 9:01 am

  17. Salam,

    Dari milyaran tulisan yang tersebar di dunia maya, jarang sekali yang membahas tentang eksistensi salakanagara. Sebagai negara cikal bakal di ujung barat Jawa Dwipa, salakanagara bagai muksa di telan jaman. Tulisan ini tentu akan menggugah sukma para pemerhati, yang kunjung tak puas dengan keterbatasan temuan maupun literatur. Semangat pencarian jati diri Salakanagara patut di acungkan jempol, walau belum dapat dikatakan sempurna karena masih di dominasi prediksi; tapi begitulah sejarah, selalu tenggelam, terkubur, punah dan akhirnya hilang ditelan jaman. hanya segelintir kisah yang dapat dijadikan pembuka mata yang sejak dulu tertutup. sekali lagi saya sampaikan rasa salut saya atas segala upaya pengungkapan jati diri bangsa.
    Lestari Pusaka Indonesia

    Rabu, Maret 11, 2009 pukul 9:01 pm

  18. zulfikar

    yang saya tahu bahwa salakanaga dulu berdiri di daerah jawa paling barat. tetapi saya kemudian membaca versi lain tentang sejarahnya yang sama sekali berbeda. pak prasetya bisa kunjungi situs yang saya temukan ini,http://www.kampungbetawi.com/gerobog/sohibul/sohibul7.php.
    terimakasih.

    Sabtu, Februari 14, 2009 pukul 1:26 pm

  19. RUDIYAWAN, SH

    Saya sangat mendukung ekspedisi ilmiah tersebut kalau bisa…di seminar ilmiahkan dan mengundang pakar-pakar arkeologi bail lokal maupun Internasional…agar bukti sejarah tersebut mendapat pengakuan baik di Indonesia maupun di dunia Internasional…apabila Mas. Tegus Iman Prasetya membutuhkan tambahan org tim Ekspedisi lagi…saya siap menjadi relawan…selamat berjuang semoga sukses
    Rudiyawan, SH Hp. 0813.8719.0707 Pengurus BAMUS Betawi Jakarta

    Sabtu, Oktober 4, 2008 pukul 2:36 pm

  20. RUDIYAWAN, SH

    Saya sangat mendukung ekspedisi ilmiah tersebut kalau bila…di seminar ilmiah dan mengundang pakar-pakar arkeologi bail lokal maupun Internasional…agar bukti sejarah tersebut mendapat pengakuan baik di Indonesia maupun di dunia Internasional…apabila membutuhkan tim Ekspedisi saya siap menjadi relawan…selamat berjuang semoga sukses
    Rudiyawan, SH Hp. 0813.8719.0707 Pengurus BAMUS Betawi Jakarta

    Sabtu, Oktober 4, 2008 pukul 2:33 pm

  21. Terimaksih. Literatur kebenaran sejarah hingga saat ini masih sulit dibuktikan karena lebih banyak bersifat foklore (cerita rakyat) dan kurangnya bukti tertulis berupa naskah dan prasasti (epigraf).

    Semester nanti kami akan menggelar semiloka dan pameran foto dan film dokumenter benda purbakala Banten.

    Rabu, Juli 30, 2008 pukul 2:59 pm

  22. Supriyadi

    Salakanegara hanyalah kerajaan yang kesekian kalinya di bumi Nusantara karena Dewawarman hanyalah utusan dari negri India yang diutus ke bumi nusantara dan dinikahkan denga Putri dari AKI TIREM, jadi kesimpulanya sebelum salakanegara berdiri jauh sebelumnya sudah berdiri kerajaan di nusantara ini dan salah satu dari masyarakatnya adalah AKI TIREM.saya salut dengan hasil penelitian diatas semoga untuk selanjutnya dapat menemukan nama-nama kerjaan sebelum Salakanegara berdiri dan dengan didasari bukti-bukti yang kuat bukan hanya sekedar batu.

    Selasa, Juli 29, 2008 pukul 5:28 am

  23. Sampurasun Rampes,
    Assalamu’alaikum wr.wb

    Pak Iman,

    Berikut kami sampaikan tulisan tentang sejarah bumi nusantara yang mungkin menambah kepada kelengkapan data-data Bapak.

    Hormat kami,

    Sampurasun Rampes,
    Wassalamu’alaikum wr.wb

    Nata Kenanga
    Sekretaris Jenderal

    Yayasan Sri Bima Semar Jaya Prakosa
    Jl. Kp. Muara Tegal No.139 Rt.02/01
    Kel. Sindang Rasa Kec. Bogor Timur
    16143
    Tel. 0251 – 244 984

    SEJARAH TERJADINYA BUMI NUSANTARA (BUMI SHUNDAWARDATIKA)*

    Bermula dari Nagari Kahyangan dibawah Sunan Ambu. Abad ini tahun 104 Candra Kala, Zaman Megalitikum. Kemudian, Sunan Ambu mencipta seorang Prabu yang bernama Prabu Lutung Kasarung dan Budak Manjor.

    Di bumi sudah ada Negara Pasir Batangan disekitar Gunung Bundar berdekatan di kaki Gunung Salak, Bogor. Hal ini dalam pantun kuno disebutkan ada 7 putri nan cantik rupawan.

    1. Nyi Mas Purba Larang
    2. Nyi Mas Purba Endah
    3. Nyi Mas Purba Leuwih Ningsih
    4. Nyi Mas Purba Kencana
    5. Nyi Mas Purba Manik Maya
    6. Nyi Mas Purba Leutik
    7. Nyi Mas Purbasari

    Negara Pasir Batangan memiliki seorang Adipati yang bernama Lembu Halang yang sakti mandraguna dan dipimpin oleh Rajanya bernama Prabu Purba Kencana dengan permaisurinya Nyi Mas Larasarkati.

    Terjadilah perkawinan antara Prabu Indra Prahasta dengan Nyi Mas Purba Larang dan Prabu Lutung Kasarung dengan Nyi Mas Purbasari. Prabu Lutung Kasarung diasuh oleh Aki Kolot Penyumpit dan Nini Kolot Penyumpit.

    Dari perkawinan Prabu Indra Prahasta dengan Nyi Mas Purba Larang, melahirkan:

    1. Uyut Tirem
    2. Aki Raga Mulya

    Dari perkawinan antara Prabu Lutung Kasarung dan Nyi Mas Purbasari, melahirkan:

    1. Prabu Bathara Gung Binathara Kusuma Adjar Padangi
    2. Nyi Mas Ratu Banjaransari

    Kemudian Prabu Gung Binathara Kusuma Padangi membuat situs menhir sebagai tempat persembahan kepada leluhur Nagari Kahyangan yang terletak di Salaka Dhomas, Bogor. Kemudian Prabu Gung Binathara membuat istana kerajaan dari batu yang terletak di Gunung Padangi antara Cianjur dan Sukabumi, yang disebut Batu Menhir Megalitikum dengan nama kerajaannya adalah Medang Kamulan I.

    Prabu Bathara Gung Binathara mempunyai putra dua:

    1. Prabu Angling Dharma Mandalawangi diperintahkan untuk membuat situs di Gunung Pulosari, Desa Mandalawangi Banten (Medang Kamulan II).
    2. Nyi Mas Nila Sastra Ayu Jendrat ditugaskan untuk membuat kitab para Dewa Nila Sastra Ayu Jendrat (Kitab aturan dewata yang memuat Pituduh, Pitutur, Pibekaleun).

    Tahun 78 M, Prabu Gung Binathara menciptakan Aji Purwa Wisesa sejumlah 18 huruf yang berbunyi:

    HA NA CA RA KA DA TA SA WA LA PA JA YA NYA MA GA BA NGA

    Pada tahun 130 M, Prabu Angling Dharma membuat wilayah kekuasaan dan keraton sampai ke pedalaman Banten (Lebak) dan Ujung Kulon. Di kemudian hari terkenal dengan nama HYANG SIRA atau EYANG JANGKUNG; disebut Eyang Jangkung karena memapas gunung Pulosari yang menghalangi penglihatannya dimana kuncup Pulosari dibuang ke laut sehingga menjadi gunung Krakatau.

    Pada tahun 170 M, Ratu Gung Binathara Kusuma Adjar Padangi mencipta batu sebesar rumah (jika diukur sebesar rumah tipe 200) yang berlokasi di desa Cibulan, Cisarua yang saat ini dikenal dengan sebutan Maqom (petilasan) Wali Cipta Mangun Negara dan Nyi Mas Cipta Rasa.

    Antara Salaka Dhomas dengan Situs Magalitikum Gunung Padang di Cianjur dengan batu menhir Megalitikum di Pulosari dan dengan Batu di Wali Cipta Mangun Negara, semuanya memiliki satu kesatuan dan kesamaan masa.

    *Bahan ini dikutip dari Kitab Nila Sastra Ayu Jendrat yang mulai rusak dan ditemukan di pematang sawah di Ujung Kulon

    Kisah ini nantinya berlanjut kepada cikal bakal Raja- Raja dan Ratu-Ratu di Bumi Nusantara yang kami bagi menjadi tiga fase:

    1. Fase Pertama (Tahun 1 M – 700 M) yang disebut Galuh I
    2. Fase Kedua (Tahun 701 M – 1400 M) yang disebut Galuh II
    3. Fase Ketiga (1401 M – 2100 M) yang disebut Galuh III

    Semoga bermanfaat.

    H. Muhammad Said Kusuma
    Ketua Dewan Pembina

    Kamis, Juli 24, 2008 pukul 1:31 pm

  24. kiki

    di pandeglang memang pernah ada kerajaan salakanagara yang besar. yang merupakan tonggak bagi mulainya awal peradaban di tanah jawa. tetapi sayang kita tidak pernah bisa mangambil hikmah dari keberadaan dan kebesaran kerajaan tersebut. jika kita mau mengambil manfaat dari mempelajari sejarah masa lalu barangkali daerah banten khususnya tidak akan memiliki pemerintah dan birokrat yang kerdil seperti yang kita saksikan saat ini. dari gubernur, walikota, bupati sampai pemerintahan terkecil seperti desa yang ada di Banten saat ini menurut saya merupakan bagian yang menjadi penyebab makin mundurnya peradaban bangsa banten. kenapa? harus kita akui secara jujur bahwa kondisi psikologis, kultural, dan sosiologis masyarakat banten saat ini sedang dididik untuk sumuhun dawuh pada harta dan tahta, bukan sumuhun dawuh pada agama dan ilmu pengetahuan (sains) seperti halnya pernah dipraktekan oleh bangsa jepang pada masa restorasi meiji. menurut saya dimasa yang akan datang masyarakat kita bukan mengelami kemajuan dalam peradaban tetapi akan menjadi korban dari peradaban yang salah dikembangkan oleh manusia-manusia beperadaban kerdil saat ini. tetapi sayangnya seolah-olah saat ini mereka menjadi pemenang dan menjadi orang-orang yeng telah benar tindakannya oleh karena opini saat ini dikuasai oleh mereka. sementara orang-orang benar dan pintar, cendekiawan, intelektualis (kaum cerdik pandai) saat ini telah kalah sebelum bertanding dan seolah-olah merasa diri tidak punya tanggungjawab moral, sosial, dan agama untuk melakukan perubahan dan perlawanan secara ksatria. kita kehilangan kepahlawanan pada jiwa-jiwa orang pandai saat ini. semua orang hanya hidup dalam rangka menyelamatkan diri masing-masing. padahal kalau kita berpegang teguh pada agama maka kita telah berdosa meninggalkan saudaranya sendiri telah dijajah oleh orang-orang berpikiran kerdil dan jahat seperti para politisi dan birokrat bangsa banten. semoga orang-orang yang membaca surat ini mengerti apa yang saya maksud.

    Jumat, April 11, 2008 pukul 1:55 pm

  25. kiki

    di pandeglang memang pernah ada kerajaan salakanagara yang besar. yang merupakan tonggak bagi mulainya awal peradaban di tanah jawa. tetapi sayang kita tidak pernah bisa mangambil hikmah dari keberadaan dan kebesaran kerajaan tersebut. jika kita mau mengambil manfaat dari mempelajari sejarah masa lalu barangkali daerah banten khususnya tidak akan memiliki pemerintah dan birokrat yang kerdil seperti yang kita saksikan saat ini. dari gubernur, walikota, bupati sampai pemerintahan terkecil seperti desa yang ada di Banten saat ini menurut saya merupakan bagian yang menjadi penyebab makin mundurnya peradaban bangsa banten. kenapa? harus kita akui secara jujur bahwa kondisi psikologis, kultural, dan sosiologis masyarakat banten saat ini sedang dididik untuk sumuhun dawuh pada harta dan tahta, bukan sumuhun dawuh pada agama dal ilmu pengetahuan (sains) seperti halnya pernah dipraktekan oleh bangsa jepang pada masa restorasi meiji. menurut saya dimasa yang akan datang masyarakat kita bukan mengelami kemajuan dalam peradaban tetapi akan menjadi korban dari peradaban yang salah dikembangkan oleh manusia-manusia beperadaban kerdil saat ini. tetapi sayangnya seolah-olah saat ini mereka menjadi pemenang dan menjadi orang-orang yeng telah benar tindakannya oleh karena opini saat ini dikuasai oleh mereka. sementara orang-orang benar dan pintar, cendekiawan, intelektualis (kaum cerdik pandai) saat ini telah kalah sebelum bertanding dan seolah-olah merasa diri tidak punya tanggungjawab moral, sosial, dan agama untuk melakukan perubahan dan perlawanan secara ksatria. kita kehilangan kepahlawanan pada jiwa-jiwa orang pandai saat ini. semua orang hanya hidup dalam rangka menyelamatkan diri masing-masing. padahal kalau kita berpegang teguh pada agama maka kita telah berdosa meninggalkan saudaranya sendiri telah dijajah oleh orang-orang berpikiran kerdil dan jahat seperti para politisi dan birokrat bangsa banten. semoga orang-orang yang membaca surat ini mengerti apa yang saya maksud.

    Jumat, April 11, 2008 pukul 1:50 pm

  26. Runno Tanwir Elalby

    Sampurasun
    Menarik sekali…..saya juga pernah membaca buku “Sejarah Banten” yang ditulis Prof. Yoseph Iskandar, dan katanya sebuah lembaga yang eksis soal budaya dan sejarah Banten yang bernama “Banten Heritage” terus menelusuri keberadaan Salakanagara dengan ibu kotanya Rajatapura. Jika benar terbukti bahwa Salakanagara kerajaan tertua di nusantara, maka ini sesuatu yang menggemparkan dan memutar balik sejarah nusantara yang selama ini kita pelajari.

    Minggu, April 6, 2008 pukul 9:18 am

  27. syamsudin

    Menarik saya juga berasl dari Pandeglang. Dari semula segala sesuatu yang terkait dengan kerjaan salakanegara yang konon di sinyalir tertua di nusantara sudah sangat menarik, hanya saja saya sependapat dengan yang lainnya keberadaan salakanegara perlu di luruskan, apalagi masih banyaknya nya cerita dari berbagai versi sehingga hal ini akan menjadi sangat sumir dan simpang siur, mengingat sebelum Islam masuk di nusantara terlebih dahulu kerjaan Hindu dan budaha sudah berkuasa, jadi bnetulkah salakanegara tertua di nusantara? karena konon saya pernah mendengar raja Kutai merupakan salah satu keturunan dari kerajaan Salakanegara, betulkah itu? jadi semua ini perlu di uruskan, dari muali pusat ibukota salakanegara pun apakah ada versi lain?

    Senin, Maret 24, 2008 pukul 9:35 am

  28. zikry z

    hmm menarik, tapi kalau menjadikan naskah wangsakerta sebagai rujukan utama rasanya kurang bijak. Bukankah naskah tersebut masih menjadi polemik, lebih jelasnya silahkan baca bukunya Edi S. Ekadjati ‘Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta’. Lebih lanjut Dewawarman I bertahta dari 130-168 M, jd mustahil mertuanya yg bernama Aki Tirem beragama Islam. Kebetulan saya juga orang Mandalawangi (namun besar di Tangerang&Bandung), jadi sedikit banyak penasaran tentang ‘mitos’ adanya kerajaan Salakanegara. Kakek dan Ayah saya juga sering bercerita tentang situs2 peninggalan yg tersisa, namun semua itu masih misteri bagi saya, krn belum ada pengkajian yg spesifik dan serius thdp situs2 tsb. Baik kiranya kita mendorong pemerintah untuk mengkaji situs2 tersebut scr ilmiah dgn berbagai bidang keilmuan yg dimiliki dinas kepurbakalaan, hingga nantinya didapat fakta2 ilmiah dr sejarah salakanagara. Karena fakta itu lebih berfaedah daripada ‘sekedar mitos ceuk-ceunah’. haturnuhun.

    Senin, Maret 17, 2008 pukul 1:23 pm

  29. Asep Kususanto

    Mengacu pada informasi Wikipedia tenang periodesasi kerajaan-kerajaan sunda, sejarah Aki Tirem berada dalam kurun tahun 100 sampai dengan tahun 300 Masehi. Sedangkan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW ke permukaan bumi ini berada pada 600. Jadi mungkin silahkan untuk disimpulkan sendiri.

    Dimungkinkan terjadi pengaruh islam dalam kebudayaan yang telah berkembang setelah melewati abad 100 hingga saat ini. Namun jika ditanyakan adakah pengaruh Islam dalam kurun abad 100 – 300 (konon, era Aki Tirem), jawabannya terpulang dari sudut masing-masing penjawab. Dapat saja Islam dalam arti TAUHID sudah ada. Sebab 2 kalimah Syahdat kan sudah tertulis di Lauh Mahfuzh, Bukan….?

    Rabu, Maret 5, 2008 pukul 8:07 am

  30. Saya juga tahu mengenai kisah anglingdharma sejak dulu cerita rakyat (folklore) Bojonegoro. Anglingdharma di Salakanagara diabadikan juga sebagai nama kolam pemandian sangat purba dan eksotis di situs Cihunjuran, Mandalawangi Kab.Pandeglang, jika tidak percaya anda harus datang ke daerah kami. Anda akan lihat banyak pemandangan sangat purba dan aneh, dolmen, batu peta, batu-batu purba ditengah sawah, dll.

    Aki Tirem bukan hanya nama lain dari Anglingdarma tetapi juga disebut Wali Jangkung karena kuburannya sangat panjang (peralihan evolusi adaptasi manusia abad 1 masehi).

    Versi Salakanagara yang benar menurut saya adalah aki Tirem atau aki luhur mulya.

    Pengaruh Hindu yang kuat sehingga diberi nama Anglingdarma, dan masa Islam disebut Wali Jangkung.

    Anglingdarma bagi saya kisah yang sangat legendaris menyebar ke seluruh nusantara dan mungkin juga sangat tua, seperti halnya kisah aji saka (kisah dan huruf ha na caraka data sawala pajayanya maga banga yang sangat legendaris) Ajisaka, Dewawarman, Jayeng singawarman, Mulawarman adalah satu saudara wangsa warman yang sangat berpengaruh ditanah Jawi dan Kutai-Borneo pada masa awal kerajaan Hindu.

    Ada satu cerita kisah anglingdarma mengapa dikutuk menjadi burung belibis putih, yaitu menyaksikan kanibalisme masih ada waktu itu.

    Anglingdarma dalam versi yang lain juga terkenal sangat sakti melewati dimensi waktu yang lain bahkan bergabung dengan para wali, seperti halnya jayabaya mampu meramalkan.

    Saya pikir yang benar adalah cerita rakyat itu versi milik daerah anda.

    Selebihnya Walahu’alambissawab.

    Selasa, Maret 4, 2008 pukul 1:43 pm

  31. Ping-balik: Angling Dharmo « Sumbangsih Untuk Indonesiaku

  32. wied

    Membaca nama lain dari Aki Tirem adalah Prabu Anglingdharma, saya langsung teringat dengan kampung halaman. Di Bojonegoro (Jatim) masyarakatnya percaya bahwa petilasan kerajaan Malawapati yang moksa, berada di wilayah yang saat ini disebut dengan Bojonegoro. Pendapa kabupaten Bojonegoro pun salah satu ruang pertemuannya di namakan Angling Dharmo. Nama kerajaan (Malawapati),istri (Setyowati) serta patihnya (Batik Madrim) diabadikan menjadi nama jalan. Disamping itu pula, jelmaan Angling Dharmo berupa burung belibis putih diabadikan menjadi salah satu tujuan wisata dengan nama Taman Meliwis Putih.

    Adakah link antara Angling Dharmo versi Bojonegoro dengan Angling Dharmo versi Salakanagara? Dan sampai sekarang pun saya masih bertanya-tanya apakah Angling Dharmo ini hanya sebuah legenda atau tokohnya memang pernah eksis ?

    Senin, Maret 3, 2008 pukul 10:02 am

  33. Triana Syamun seorang yang terobsesi sejarah banten terutama salakanagara, beliaulah yang pertama memfasilitasi pertemuan dan dialog juga membuka babad naskah wangsakerta abad ke 16 di rumahnya mengundang edi s ekadjati dan ayatroehedi (pengarang buku sunda kala) pakar sejarawan pada tahun 2001

    Sabtu, Februari 16, 2008 pukul 2:07 pm

  34. Lukman Hakim,S.Pd

    Secara tak sengaja, saya diajak mr Mulyadi jalan2 sore, ketika itu ada kegiatan Kemah di KKM MIN Pari.ada satu obyek wisata pemandian yang memiliki nialai sejarah tinggi yaitu pemandian Cihunjuran, tepatnya di tengah pesawahan Jl. Gima Pari Carita Km 27 Carita Pari Mandalawangi. saya takjub, senang, dan bangga. kemudian ingatan saya, saya sambungkan bahwa disekitar kampung dekat cihunjuran juga ada sebuah bangunan rumah cukup megah bertuliskan Angling Dharma.Keingintahuan saya makin termotivasi untuk menggali informasi kaitan antara Cihunjuran, bangunan Anglingdharma, dan nama Salakanagara. hanya timbul pertanyaan dalam diri saya ” mengapa yang menggunakan nama ” Salakanagara ” untuk sebuah lokasi peristirahatan seorang tokoh sesepuh Banten Tryana Syam’un. yang beralamat di Cadasari Pandeglang. Apa hubungannya ?

    Kamis, Februari 14, 2008 pukul 12:23 pm

  35. Lukman Hakim,S.Pd

    Saya sangat merespon, atas sejarah singkat kerajaan Salakanagara. saya warga Pandeglang, mengusulkan untuk diexpose lewat seminar tentang Salakanagara. sebagai aset sejarah yang perlu dan harus ketahui generasi pandeglang khususnya dan banten umumnya.
    lanjutkan

    Kamis, Februari 14, 2008 pukul 12:09 pm

  36. Peninggalan diatas lebih banyak unsur masa purbakalanya, tetapi tidak apa-apa setidaknya masa itu adalah pembuktian adanya aki luhur mulya yang merupakan masa peralihan kemasa Hindu. Dan lebih kuat lagi, konon adalah peninggalan arca Wisnu dan Ganesha yang ditemukan di Gunung Pulosari, juga di Pulau Panaitan Ujung Kulon sebagai bukti adanya Kerajaan Salakanagara. Baca kembali epistimologi, masih lebih banyak dari sumber buku sejarahnya Yoseph Iskandar.

    Mengenai mithos, ritus religi, sinkretisme (percampuran budaya-spiritual) dan relativisme budaya dengan mengikuti perkembangan jaman pada masanya, (purba, Hindu,Islam melalui 3 nama 1 orang) sudah saya antarkan ketika ceramah umum tinggal dikembangkan, dipertajam kembali sebagai evaluasi dan mapping berikutnya.

    Contohnya bagi kaum spiritual – kebatinan, esensi ketiganya adalah diakui sama yaitu sebagai orang suci (berbudi baik), atau mungkin orang yang ada (atau mampu membaca tanda-tanda) ditiga masa sepertihalnya legenda Kresna dan cerita rakyat Anglingdharma, atau pula menyimpan hawa aura yang sangat tinggi dan purba (dituakan) misalnya, sehingga mengundang para peziarah secara naluriah batiniah (irasional) datang berkunjung. Hal yang mungkin diluar akal sehat dan nalar manusia, tetapi tidak dapat diterjemahkan secara ilmiah.

    Dan banyak lagi yang dapat dikembangkan dari berbagai sudut kajian budaya yang sangat beragam dan kemungkinan multitafsir dari wilayah tersebut.

    Karya ini cukup bagus sebagai laporan hasil perjalanan dengan gaya penulisan feature yang sangat menarik, juga banyak menyimak dan mendengarkan, tinggal mengembangkan lebih tajam lagi. Ok maju terus lebih bagus.

    Senin, Februari 4, 2008 pukul 5:54 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s